Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
292: Anak?


__ADS_3

Lesya dkk sedang berada di kantin sekolah. Raut wajah Lesya berubah dratis mendengar pertanyaan Lisa yang terlontar. Pergerakan tangan mereka terhenti kecuali Lisa yang bingung mengapa mereka yang hendak makan tiba-tiba mendadak hening. Luna dan Leon berpandangan dan memberi kode agar tak membuat Lesya kembali teringat kembali tentang hal sensitif itu.


"Sya, gw bingung deh! Waktu tawuran kemaren itu kata-kata lo beneran? Emang dia bokap kandung lo? " tanya Lisa.


Dengan cepat Leon yang paham menutup mulut Lisa dan berbisik kecil agar tak menyalakan api marah terpendam Lesya. Bisa gempar sekolah dijadikan pelampiasan Lesya mungkin. Karena Leon dan Luna tahu menjadi Lesya membutuhkan mental anti meteor karena tak mudah menjadi Lesya. Tekanannya sangatlah besar dan mereka menghargai tekanan batin Lesya. Itu sebabnya mereka selalu melindungi ataupun Lesya yang melindungi mereka. Mereka menjaga rahasia dan juga menjaga perasaan Lesya mengenai hal sensitif itu.


"Jangan tanyain itu beb! Bisa ngamuk nanti Lesya! " bisik Leon.


"Emmmphh! "


Akhirnya Leon melepas saja dan membantu Lisa memperbaiki penampilannya. Lisa hanya menghela nafas nya. Mendengar bisikan Leon membuat dia merasa bersalah dengan Lesya. "Sorry, gw gak bermaksud Sya! Gw cuman--- "


"It's oke, no problem! Mungkin ini saatnya gw mulai jujur tanpa rasa bohong apa lagi lo yang mulai masuk geng gw, Luna sama Leon! " ucap Lesya lebih dahulu menyela ucapan Lisa. Ini sudah jadi tekadnya. Dan jika Lisa berkhianat, mungkin nyawa urusannya. Pengkhianat harus lenyap—itu salah satu prinsipnya yang lain.


Lesya menghela nafasnya dan mulai bercerita dengan suara kecilnya. Matanya menandakan dia. sudah tak sanggup bercerita begitu juga dengan hatinya. Namun tidak dengan pikirannya yang masih ingin melanjutkan hingga tuntas.


"Jadi gini, dari kecil gw penasaran kenapa mendiang mami gw sering ngumpet soal gw pembawa si*l di rumah. Karena gw penasaran banget, akhirnya gak sengaja gw baca-baca artikel tentang cara kerja, tujuan, pokoknya hal-hal yang berbau darah. Tanpa sengaja juga terlintas di otak gw buat iseng-iseng aja tes darah sama mendiang papi diem-diem lewat rambut. Hasilnya negatif, gw kaget dong! "

__ADS_1


Lisa tergelak mendengarnya. Seusia itu pintar sekali membaca lancar dan juga berpikir sejenius itu. Sebenarnya memang keturunan Galang lah Lesya dapat berpikir demikian. Sangat diluar dugaan bukan? Anak kecil loh! Tak menyangka bukan Lesya sejenius itu saat masih kecil!


"Sampai dimana gw liat mendiang papi gw ditusuk, gw panik! Tapi gw gak tau harus gimana! Denger kabar kalau papi gw udah gak ada itu buat gw terpukul! Dan setelah 5 tahun kejadian itu, gw gak sengaja nabrak bokap kandung gw! Awalnya gw penasaran juga kaget karena wajahnya mirip kayak gw! Setelah gw ajak kenalan dan diem-diem ngusap kepalanya trus cabut beberapa rambut, gw tes DNA lagi. Hasilnya. . . Positif! " lirih Lesya pada akhir katanya. Dia melirik arah langit-langit atas kantin agar tak terlihat lemah oleh yang lainnya.


"Ya. . . Jadi deh gitu! Dan yang paling gak gw sangka, waktu gw cari tau indentitas bokap kandung gw, gw kaget ternyata dia abang dari papa tiri gw, Gilang! Gw gak nyangka aja sekarang gw memang punya 3 ayah kan? Tapi salah satunya, udah gak ada! " ucap Lesya mengakhiri ceritanya. Lisa melotot terkejut dengan cerita Lesya. Begitu dengan Luna dan Leon yang memilih melihat sekeliling saja.


Tanpa sengaja hal itu terdengar hingga Letha dkk yang berada di sebelah meja mereka. Dan juga bahkan, terdengar hingga Elvan dkk yang berada di belakang meja mereka. Letha hanya diam saja mendengarnya. Walau cukup terkejut, dia tak tahu harus merespon bagaimana.


"Sorry gw gak bermaksud. " ucap Lisa sedikit bersalah. Lesya hanya menggedikkan bahunya tak tahu. Semua sudah terjadi, biarkan lah! Suasana tampak hening setelah Lesya bercerita. Atau lebih tepatnya hanya terdengar suara ricuhan kantin saja.


"Psst, lo sih Lis! " bisik Luna tanpa suara.


"Udah-udah kalian berdua mending mingkem bentar deh! Tuh muka dah bonyok-bonyok gak sakit apa kalau tambah ribut?! " kesal Leon yang jengah menyaksikan sahabat perempuannya dan sang kekasih kembali bertengkar.


Luna meringis dan mengusap pelipisnya. Memang dia sempat terkena luka gores di bagian lengan dan untung tak parah. Sementara keadaan Lisa baik-baik saja walau sedikit memar di bagian kening dan sudut bibirnya. Berbeda dengan Leon yang kemarin sempat tertendang di bagian punggung dan perutnya hingga mengeluarkan sedikit darah. Dan kemarin setelah mengantar Vayleen, Leon juga sudah diberikan perawatan baik oleh Candra, Sarah dan Cakra di markas.


"Gw bingung dah, tuh kemaren ngapa banyak sandera ya? Bingung gw sama pikiran otak dangkalnya! Satu aja cukup gak sih? " tanya Luna merasa aneh. Lesya memutar bola matanya malas dan menoyor kepala Luna pelan.

__ADS_1


"Yee.. Lo kayak gak tau aja tuh isi otak dangkal tuh anak cumen mau buat bikin bawang doang! Dan kalaupun salah satu dari sandera ketembak, dijamin lo-lo pada nanges kejer di tempat tuh! Untung gw datengnya tepat waktu, coba kalau enggak? Habis lo pada sama mereka! " bangga Lesya pada dirinya sendiri.


Luna hanya menyenye kecil saja. Dia meringis kecil juga saat Lesya menoyor kepalanya. Dia juga teringat tentang bagaimana dengan sadis Rio dibakar queen kebanggaannya itu. Keren!


"Eh bentar kemaren juga lo bakar Rio, keren weh! Masalahnya yang gw bingungin dari semalem lo ngapain aja sama si teh Rio? " tanya Luna bingung. Leon dan Lisa juga mengangguk setuju dengan pemikiran Luna. "Nah bener, habis ngapain lo sama Rio? " tanya Leon.


"Gw sama dia? Sebenarnya sih ya waktu gw mau pulang, dia nyegat gw! Nah karena tuh anak batu, yaudah gw ladenin nyampe bonyok! Habis tuh gw ke parkiran nyeret dia, trus dia gw iket di ban motor gw! Nah, waktu gw mau nyusul kalian, dia keseret trus gw tendang palanya nyampe gak punya bentuk! Gitu deh kurang lebih ceritanya! " cerita Lesya dengan entengnya. Namun perkataan enteng Lesya itu membuat merinding ketiga temannya. Santai amat ngomongnya tapi berasa mereka yang disiksa! Pikir mereka.


"Santai bener ngomongnya, merinding gw weh! " ucap Luna bergidik ngeri. Leon mengangguk setuju dan kembali menyahut. "Udah gw duga begini alurnya! Gak majikan, Lion pun jadi! " sahutnya.


"Lion saha teh? " tanya Lisa tiba-tiba. Memang dia tak mengenal siapa Lion. Dia kira Lion adalah seseorang yang sama seperti Lesya. Apa itu nama orang? Bingungnya bertanya.


"Anak Lesya! " kompak Luna dan Leon bersamaan.


Prutttt!


Lisa menyemburkan air yang dia minum ke arah bawah lantai. Sementara Lesya menepuk jidatnya pelan. Apalagi ucapan Luna dan Leon cukup kertas hingga membuat beberapa murid melotot tak percaya ke arah mereka. Terutama Elvan dkk dan Letha dkk. Hah anak?

__ADS_1


"Gw tandain muka lo berdua! " kesal Lesya menunjuk ke arah Leon dan Luna secara bergantian.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2