Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
16: Orang misterius


__ADS_3

Elvan dan Angga hanya manjadi penonton setia saja. Dengan muka yang tak mengekspresikan sesuatu sama sekali. Ayah anak ini seperti manusia berketurunan kutub.


"Kalian ke sini? " tanya Mila basa basi. Mayang mendengus.


"Klo kami gak kesini, ngapain kami ada di sini? " Mila tertawa garing.


Sementara Lesya menjauh dan duduk di bangku pojok dekat bi Ana. Satu kakinya berada dipangkuan kaki satunya lagi. Tangannya terus menari di layar ponselnya. Satu telinganya tersumpal earphone hitam sementara yang satunya tak ada.


Cool! Penampilan Lesya saat ini. Walau terlihat seperti orang yang cuek akan sekitar, dirinya terkesan kece.


Elena yang malas mendengar obrolan para ibu-ibu hanya menatap Lesya. Mulutnya menganga kagum. Tangannya bertepuk tangan tanpa dia sadari. Semua pasang mata tertuju padanya. Termasuk Lesya.


Lesya masih bisa mendengar suara tersebut. Dia melirik sekilas dan kembali kepada aktivitasnya.


"Sehat? " tanya Mayang. Elena tak menjawab. Mendengar saja tidak.


Mayang menepuk pundak Elena. Dia sebagai ibu, takut jika anaknya tak waras. Elena sontak menoleh kepada bundanya.


"Kenapa bund? " tanya Elena.


"Harusnya bunda yang nanya, kamu kenapa tepuk tangan? " tanya Mayang balik.


Elena menyengir kuda. Dia menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal.


"Enggak kenapa-kenapa kok bun" jawab Elena.


Mayang melihat Lesya yang penampilannya bak model. Dia tersenyum melihat Lesya yang memancarkan muka cerah walaupun tak berekspresi. Berbeda dengan yang tadi pagi. Masam!


"Lesya sini nak! " panggil Mila. Lesya mendongkak dan menghampiri Mila tanpa satu patah kata pun.


"Iya mi? " tanya Lesya setelah berada di samping Elena dan Mayang.


Dia berada di samping brankar Mila dan berdiri di tengah-tengah Mayang dan Elena. Lesya menyimpan ponselnya dan menatap ke arah Mila.


"Kamu gak papa kan besok klo mami gak datang? " Lesya mengangguk.


Jujur saja dia bukannya gak papa tapi dia paham kondisi Mila yang kurang menentukan. Wajahnya menerbitkan senyuman palsunya namun tersirat kesedihan di matanya.


"Gpp kok mi, yang penting mami harus sembuh dulu" Mila tersenyum, dia tahu Lesya tak bisa menolak jika bersangkutan dengannya dan Letha.


drrrttt...


Ponsel Lesya berbunyi. Lesya pamit mengangkat telefon ke luar. Saat sudah diluar ruangan Mila, dia mengangkat telefon tersebut.


Tertera disitu dengan nama 'Bu bunga BK'. Lesya memang mempunyai nomor telefon para guru-guru di sekolahnya. Dan terkadang dia bercanda dengan guru lewat aplikasi komunikasi di ponselnya.


📲 Halo ibu bunga, ada gerangan apa anda menelefon saya? Apakah anda kangen dengan saya?


📲 Brisik! Saya cuman nanya tadi kenapa kamu ngechat saya dan kamu hapus?


📲 Mau tau atau mau tau banget nih bu?


📲 Mau saya skors?


📲 Bercanda bu, mangap elah. Jadi gini bu, lusa klo saya bawa wakil menggantikan ortu saya gimana?

__ADS_1


📲 Emang orangtua kamu gak bisa datang?


📲 Mami sakit bu, ini aja saya lagi di RS.


📲 Lalu papa kamu kan ada, dia gak bisa datang semenit aja gitu?


📲 Gak bisa bu, papa sekarang lagi jagain mami dan lusa berangkat ke Paris "bohong


📲 Haiss, yasudahlah! Nanti saya bilang ke pak Rio dan pak Kevin, ah sakit.


📲 Bukannya pak Rio serumah sama ibu? Itu suara apaan bu? Jangan-jangan pak Rio sama ibu–


📲 Iya, sudah saya malas ngomong sama kamu.


tuutttt...


"Xixixi, enak juga ya klo ngegodain bu bunga. Malu tuh ke ubun-ubun" Lesya tertawa setelah telefon ditutup oleh bu bunga.


Pak Rio dan bu bunga sudah menikah. Hanya saja mereka belum dikaruniakan keturunan. Lesya tahu bu Bunga dan pak Rio sedang menikmati surga dunia.


Tiba-tiba saja tawanya terhenti mendengar deheman bariton yang familiar. Dia menoleh dan memasang muka kesal saat tahu siapa dia.


"Ekhem! " Lesya mendengus kesal mendengarnya.


"Kenapa? Ganggu tau gak! " Elvan berdecak malas.


Dia sebenarnya menghampiri Lesya karena mau bertanya. Namun melihat Lesya saja Elvan merasa ingin menenggelamkan Lesya ke lautan ke tujuh.


"Kenapa lo terima? " datar Elvan. Dalam batin, Lesya terus menggerutu.


Elvan menggerutu. Kenapa dia harus dijodohkan dengan rival di sekolahnya? Masih banyak wanita di dunia, kenapa harus dia? Pikirnya.


...~o0o~...


Jantung Lesya berpacu lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Dia sudah menarik nafas dalam dan mengeluarkan nya selama beberapa kali. Dirinya sangat ingin kabur dari kenyataan, tapi tak bisa.


ceklek...


Lesya mendongkak dan mendapati Luna yang baru saja merias dirinya. Luna melongo atas penampilan feminim Lesya. Selama dia bersahabat dengan Lesya, Lesya sangat jarang menggenakan make up dan rok.


"Sya, ini beneran lo kan? Lesya sahabat gw? " Lesya memutar bolanya jengah.


"Iya, kenapa jelek ya? " tanya Lesya was-was. Dia takut mempermalukan keluarga Fyo atas tampilannya.


"Gil*! Lo cakep banget Sya, kenapa gak dari dulu aja lo kayak gini? Pasti fans lo makin nambah" cerocos Luna.


"Lebay bin alay lo! Udah lah, lo juga cantik kok" balas Lesya.


"Gw gitu loh! Wkwk, gugup gak? Guguplah masa enggak! Aye aye" canda Luna.


"Nanti nangess! " Luna tertawa melihat raut wajah Lesya.


"Udahlah lo udah perfect kok, yuk keluar ketemu sama babang Elvan " goda Luna.


"ALUUNAA MARGARETHAA! " Wajah Lesya merah padam.

__ADS_1


Bukan karena malu, tapi dia jengah digoda oleh Luna. Rasanya dia ingin mensleding muka Luna dengan sepatu high heels nya. Namun tak mampu karena roknya yang panjang membuatnya ribet sendiri.


"Berat banget sih gaunnya, boleh kagak sih gw ganti? " Luna yang mendengar itu melongo.


"Gak bisa lah! Klo nikah tuh pakaiannya kayak gini beb! " Lesya mendengus sebal.


Dia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya setelah menikah. Pasti dia harus menghadapi cobaan-cobaan dari Elvan.


...—...


Acara pemberkatan sedang dilaksanakan. Satu pengantin wanita yang membawa sebuket bunga di tangannya terlihat sangat cantik, namun wajahnya menampilkan wajah datar.


Sementara pengantin pria-nya menampilkan wajah tegas, berwibawa dan dingin. Sorot matanya membuat para kaum hawa yang hadir terpana.


Banyak yang memuji penampilan kedua mempelai. Walaupun acara digelar secara tertutup, kemewahan dan desain acara sangat terlihat.


"Tuan muda Zioner Elvano Gregorius Grey, apakah engkau bersedia menjadikan nona muda Zelyra Aleesya Michella Fyo sebagai pendamping hidupmu? Bersediakah engkau mencintainya dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, dalam susah maupun senang dan menjaganya sampai akhir hayat? " , .


Semua orang menunggu jawaban dari pengantin pria, Elvan.


"Saya Zioner Elvano Gregorius Grey, menyatakan di hadapan Tuhan bahwa saya bersedia menjadikan Zelyra Aleesya Michella Fyo sebagai pendamping hidup saya. Menerima dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, dalam susah dan senang, menjaganya dengan jiwa dan ragaku seumur hidupku dan mencintainya dengan tulus seumur hidupku! " tegas Elvan.


Sedetik Lesya terdiam dengan ketegasan Elvan. Dia sadar pernikahan ini hanya terjadi sebentar saja jadi tak perlu dibawa dalam perasaan.


"Nona Lyra apakah anda siap? ",.


Lesya mengangguk sebagai jawaban. Dia terlalu malas untuk berbicara. Biar saja bicaranya saat mengucapkan janji suci.


"Nona muda Zelyra Aleesya Michella Fyo, apakah engkau bersedia menerima tuan muda Elvan sebagai pendamping hidupmu? Bersediakah engkau menemaninya dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, dalam susah maupun senang, mendampingi dan mencintainya hingga akhir hayat? " ,.


"Saya Zelyra Aleesya Michella Fyo, bersedia menerima tuan muda Zioner Elvano Gregorius Grey sebagai pendamping hidup saya. Menemaninya dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, dalam susah dan senang, mendampinginya hingga akhir hayatku dan mencintainya dengan tulus seumur hidupku " jawab Lesya.


Mata Lesya terpejam setelah mengungkapkan janji suci. Dia menarik nafas dalam dan mengikuti acara seperti biasa saja.


"Dihadapan Tuhan dan para saksi, hari ini engkau tuan muda Zioner Elvano Gregorius Grey dan nona muda Zelyra Aleesya Michella Fyo resmi menjadi suami istri. Untuk mempelai pria di persilahkan untuk mencium pucuk kepala mempelai wanita",.


Semua sorak kan tepuk tangan terdengar di telinga Lesya dan Elvan. Lesya menutup matanya perlahan dan membukanya kembali. Hidup yang baru sudah menantinya kali ini.


Jauh diluar acara, terlihatlah satu pasangan yang tampak lusuh. Mereka dijaga oleh pengawal karena mereka berdua adalah seorang tawanan.


Mereka bertepuk tangan setelah sahnya Lesya dengan orang yang mereka nantikan itu. Mereka tersenyum kecut mengingat tak dapat mengucapkan selamat kepada Lesya.


" Ekhem, gimana? Sudah bukan? " tanya seorang wanita sinis.


Dia adalah orang yang menawan pasangan tersebut. Dia duduk di kursi roda karena dia sedang sakit walau sudah lumayan pulih.


"Mengapa kamu tega memisahkan orangtua dan anaknya? " tanya wanita lusuh itu.


"Mengapa? Jawabannya akan kau ketahui nanti kakakku sayang" jawabnya.


"Selamat sayang, maaf kita tak bisa datang ngucapin selamat padamu sayang" Pasangan tersebut pergi dikawal oleh pengawal.


"Malang sekali nasibmu Lesya" wanita yang merupakan penawan berpura sedih dan meninggalkan tempat.


Dari kejauhan Lesya melihat wanita yang pulang dengan kursi roda. Dia seperti kenal dengannya tapi otaknya lupa siapa dia.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2