
Setibanya di tempat yang mereka tuju, mata mereka menangkap seorang lelaki yang duduk dengan tangan yang dilipat di dada. Kepalanya menatap langit-langit walau matanya terpejam. Rambut hitam yang teracak hingga menutupi kedua mata lelaki itu. Dia adalah Elvan!
Penampilannya kacau dan sepertinya terjadi sesuatu dengan Lesya. Tak ada orang lain selain Elvan di sana. Lalu bertanya mengenai Mayang? Dia sudah kembali karena memiliki urusan penting yang tak bisa ditunda lagi. Toh sih sudah ada Elvan yang menjaga Lesya.
"Van? "
Sang empu nama menoleh. Mereka sama-sama terkejut melihat mata lelaki yang memiliki sikap dingin itu memerah. Terdengar suara pecahan dari ruangan Lesya. Seketika mereka menoleh dan berjalan masuk. Masih dalam posisinya, Luna yang didorong Valen masuk ke dalam. Sementara Elvan dan Vay berlari kecil masuk ke dalam.
Pyaaar!
"****?!! " umpat Lesya.
Lesya menoleh ke arah depannya. Dia tak tahu siapa yang datang di saat seperti ini. Namun pasti, dia mencoba turun dan memunguti serpihan kaca gelas yang jatuh akibat ulah dia sendiri.
Sebenarnya dia mencari keberadaan gelas itu agar dapat menyegarkan tenggorokannya yang tersedak. Dan karena tak sengaja menyenggol, gelas tersebut pun jatuh dan pecah. Namun tanpa sengaja saat dia hendak memungut, justru jarinya lah yang terkena ujung beling tersebut.
Elvan dengan segera menghampiri Lesya dan menjauhkan kedua tangannya dari serpihan kaca. Saat darah hendak menetes, dengan segera dia menghisap nya agar berhenti menetes. Lesya juga sudah tahu siapa orang yang lantang memegang dirinya. Aroma mint yang familiar baginya cukup memberinya petunjuk mengenai sang pelaku.
Kembali menggendong Lesya agar tetap di atas brankar, Elvan kembali beralih mengumpulkan serpihan kaca yang pecah akibat ulah Lesya sendiri. Tak tinggal diam, Vay mengambil sapu dan serokan yang memang di sediakan di sana dan memberikan kepada Elvan.
Berbeda dengan Valen dan Luna. Atas permintaan Luna yang berbisik, Valen mendorong kursi roda yang ditempati Luna ke arah seberang samping brankar Lesya. Seperti dugaannya, saat Luna hendak memegang tangan sahabatnya, dengan segera Lesya menepis kasar dengan raut wajah tak berekspresi.
"Pergi! " dingin Lesya.
Luna terdiam. Akhirnya dia menyenderkan diri dan sama sekali tak menyentuh Lesya. Helaan nafas terdengar di ruangan itu dan sepertinya Luna harus kembali menjadi pelari maraton untuk mendapatkan hati Lesya yang kembali beku. Yah, dia dapat rasakan kebekuan hati sahabatnya.
"Gw gak mau! Kita harus sahabatan biar gw berhenti gangguin lo! " balas Luna dengan senyuman khasnya.
Walau pun Luna tahu Lesya tak dapat melihat senyumannya, dia yakin Lesya dapat merasakan kehangatannya. Luna tahu jika hati Lesya sangat sensitif dan itu membuatnya harus lebih extra kembali mengejar hati sahabatnya.
Benar saja. Lesya terdiam mendengarnya. Sekilas bayang-bayang mengenai Luna yang selalu mengganggu dirinya terlintas. Dengan tampang tak peduli Lesya memegang kepalanya yang terasa berdenyut dengan ucapan Luna.
***
'Nama gw Luna, kalau lo?'
'Lo siapa gw?'
***
'Ayo sahabatan!'
'Ogah!'
***
'Lo gak punya orang tua ya makanya gak dijemput ya? Tapi adek lo dijemput tuh!'
'Bukan urusan lo!'
***
'Lo susah banget sih di deketin? Hati lo beku ya? Sini makanya kita temenan biar gw yang cairin!'
'Temenan aja sama kadal!'
***
__ADS_1
'Gw gak mau! Kita harus sahabatan biar gw berhenti gangguin lo!'
'Gak guna gw sahabatan sama lo!'
***
'Lesya? Nama lo Lesya kan?'
'Kita gak punya urusan!'
***
'Lesya ayo makan bareng!'
'Gak naf-su'
***
'Lesya, sakit!'
'Obatin lah!'
***
'Lesya, lo belom kerjain tugas ya? Nih nyontek aja!'
'Thanks!'
***
'Lesya, kita sekelompok kan?'
'Hm'
***
'Cemen!'
***
'Lesya, lo jadi nginap di rumah gw gak?'
'Hm'
***
'Lesya, ayo sahabatan! Nyampe kapan lo diemin gw begini?'
'Kapan-kapan!'
***
'Lesya ikut gangster ya? Ikutan dongg... '
'Bahaya!'
***
__ADS_1
'Lesya, lo kok nangis?'
'Bac*t lo!'
Bla.. Bla.. Bla...
Lesya yang terus mendengar namanya terus di sebut Luna dalam benaknya merasa pusing sendiri. Namun seketika dia tepis mengingat dia bukanlah pribadi Lesya yang kemarin. Semua berubah.
"Pergi! " dingin Lesya mengulang ucapannya yang semula. Luna perlahan memudarkan senyumnya. Seketika dia berpikir jika Lesya hanya belum siap menerima semuanya, dia kembali mengembangkan senyumnya. Mental dan mood sahabatnya mudah down jika disinggung.
"Sya, lo udah makan? " tanya Luna tak menanggapi ucapan Lesya yang menyuruhnya pergi. Lesya mengepalkan tangannya kuat. Bukan ini yang dia inginkan. Luna yang dahulu mengganggunya sebelum mereka resmi bersahabat kembali muncul.
"Urusan lo? " balasnya dingin.
Luna tersenyum kecil. Dia sudah tahu jawabannya akan begini. Dan menurutnya hal-hal konyol itulah yang membuat dia yakin jika sahabatnya akan kembali seperti semula. Oke, untuk kali ini dia turuti saja apa mau Lesya.
"Jangan nyakitin diri, lo gak sepenuhnya salah di sini! Gw juga salah karena biarin lo jadi umpan." kata Luna lalu mengisyaratkan agar Valen membawanya pergi. Valen menurut saja.
Vay yang sudah berdiri, membungkukkan badannya 90° menghadap Lesya. "Kak, maaf karena permintaan Vay akhirnya kakak sendiri yang luka nyampe keguguran! Vay minta maaf, kalau bukan karena Vay yang minta kakak gak begini"
Vay merasa bersalah. Jika saja dia tak meminta bantuan Lesya untuk tak menghancurkan Ice Blue, tak akan begini urusan nya. Setelah mengucapkan kata maaf, Vay segera keluar karena dia tahu Lesya tak menanggapi ucapannya.
Sementara Elvan yang sudah membereskan sisa pecahan gelas akhirnya perlahan mendekat ke arah Lesya. Dia sedikit khawatir dengan kondisi Lesya saat ini.
Tadi subuh, sekitar jam 4 pagi, dia yang iseng mengecek keadaan Lesya justru mendapati perempuan itu yang sudah tertidur di lantai dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya.
Dan sepertinya Lesya sengaja melakukan pencobaan bunuh diri dengan kaca beling yang tersembunyi di bawah laci. Entah bagaimana caranya dapat menemui beling, yang pasti keadaan Lesya semakin melemah dan perut yang kosong.
"Le, " panggil Elvan.
"Lo juga pergi! " lirih Lesya.
"Denger gw dulu! " sentak Elvan.
Lesya terdiam karena kaget dengan sentakan Elvan. Pandangan matanya tetap mengarah kedepan. Memang mau diarahin ke mana lagi? Toh dia tak dapat melihat apa saja yang dia lihat.
Elvan beralih memegang kedua bahu Lesya dan mengarahkan agar mata gadis itu menatapnya. "Denger, jangan bertindak bod*h lagi Le! Nyakitin diri lo sendiri sama sekali gak guna dan di kamus lo pasti gak ada kan kata ma-ti konyol? Jadi, jangan coba-coba! "
"Tenangin diri lo dan kendaliin emosi lo! Semua orang pengen lo yang dulu balik bukan yang begini. Jangan ngerasa bersalah dan jangan pernah berpikir embel-embel 'andai'! Kata 'andai' cuman bikin lo sakit Le, mending lo coba siapin hati sama mental buat nerima keadaan lo sekarang. Gw yakin, Lele yang gw kenal pasti kuat ngadepin cobaan di hidupnya! Dan gw juga pasti bakal cari pendonor mata yang cocok buat lo nanti. Jadi gw mohon, jangan sakitin diri lo sendiri lagi oke? " lanjut Elvan memberi pengertian sesekali mengusap pucuk rambut Lesya.
Lesya terdiam mencerna setiap kata demi kata yang diucapkan Elvan. Ada benarnya juga. Tapi terlalu lemah dia untuk kembali melihat dan merasakan hawa dunia. Lebih baik dia pergi abadi agar tak terlalu lama merasakan kejamnya dari ketidakadilan dunia.
Melihat raut wajah Lesya yang seperti menolak ucapannya, Elvan beralih memeluk Lesya. Dan kembali lagi. Tubuhnya sedikit bergetar karena isak tangis sang istri. Sungguh, Elvan tak kuat melihat orang yang dia cintai rapuh dan menangis begini. Alhasil tanpa sadar dia ikut meneteskan cairan bening walau hanya beberapa tetes saja.
"T-tapi gw gak se-sekuat lo bayangin Pan, hiks... Gw gagal jaga janin gw sendiri hikss... Gw juga gagal jaga mata gw hikss... Emang lo mau sama gw walaupun gw hiks, kayak gini? " isak Lesya dengan mulutnya yang bergetar.
"Mau! Mau banget, tapi gw gak mau lo nangis gini, je*lek! " kata Elvan. "Dan lo bukan gagal, tapi ini takdir lo dari Yang Kuasa Le, lo cuman harus jalanin dengan tegar. Lo boleh ngerasa gagal karena gagal itu selalu ada di dalam kehidupan. Tapi lo gak boleh nyerah, ada gw di sini dan gw bakal jagain lo, oke? " lanjutnya.
"Tapi gak selama nya lo bisa jagain gw Pan! Lo juga manusia dan yang bisa jagain gw cuman diri gw sendiri! Gimana gw mau jaga diri sendiri kalau mata gw aja gak berfungsi?! " kata Lesya setengah sebal setengah mengadu.
"Shuttt! Gw pasti bakal cariin donor yang pas buat lo, jadi jangan terlalu larut dalam kesedihan lo! Semua orang mau diri lo yang dulu balik. Bangkit, mana Queen Ellion yang selama ini kerjaannya menantang maut hem? Mana juga Lele troublemaker yang gw kenal? Tiga minggu lagi ujian loh? Gak mau niat lulus gitu? " ujar Elvan lalu mengecup pucuk kepala Lesya berkali-kali.
"Gak ada! Lulus atau enggak, sekolah atau enggak, gw gak bakal miskin! " balas Lesya yang sudah meredakan tangisnya. Sejenak dia terbatuk pelan dan meraba tenggorokannya yang benar-benar kering. Munafik kalau dia tak haus. Dia juga manusia biasa yang butuh minum. Jika makan, dia tak naf-su!
"Haus? Sebentar ya, gw ambil minum gw di luar" kata Elvan lalu berjalan cepat meninggalkan Lesya yang termenung mencerna setiap kata yang otaknya tolak.
* Lo gampang ngomong tapi semuanya gw yang rasain, susah Pan, capek! * batin Lesya lirih dan menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗