Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
223: El-Sya!


__ADS_3

Elvan menatap gemes ke arah Lesya. Menurutnya, akhir ini sikap kekanakan Lesya mulai keluar. Dan, itu sangatlah imut di hadapannya. Yah, mungkin dia sudah jatuh cinta dengan rivalnya di sekolahnya itu! Maybe~ Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu isi hatinya. Termasuk author, haha!


"Kalau gw gak berhak hukum lo, kenapa enggak? " Lesya lagi-lagi membulatkan mulutnya tak percaya. Mudah saja jika dirinya kabur dari OSIS, asal yang mengejar bukanlah Elvan!


Cup! Staak!


"Iya-iya! " jawab Elvan. Lesya diam membeku. Bahkan sendok yang dia pegang jatuh ke bawah meja karena terkejut. Hah? Apa? Ada apa? Apa itu tadi? Pikir Lesya yang mulai nge-bug.


Ya gimana gak nge-bug, Elvan saja dengan cepat mengigit hidung mancungnya. Kan malu! Bahkan dia merasa, jika Elvan sedang dirasuki atau tersambar petir saat di luar tadi. Di luar? Dia mengingat pecahan beling itu!


"Hey? " panggil Elvan yang tahu jika Lesya salah tingkah karena dirinya. Dapat dibuktikan dari telinga dan hidungnya yang memerah. Tak hanya itu, pipinya juga ikutan merah!


Lesya tersadar dan menutup mulutnya yang sedikit terbuka. "Hah? " bingungnya. Matanya melotot saat menyadari sebuah pertanyaan konyol justru terlontar dari mulutnya. Menutup matanya dan memukuli mulutnya pelan, Lesya tak memberanikan dirinya menatap Elvan.


Lesya memilih mengambil sendoknya yang jatuh di bawah meja dan membatin kuat. Mengapa dirinya jadi malu-malu kucing? Biasanya juga malu-maluin!


* Aaaa... Ini ngapa sih?! Kek, orgil gw di depan ketbok! Ini juga jantung kek senam 7 putaran ngelilingin samudra! Aduh, jadi tremor gini kan! Keep calm Sya! Mana Lesya yang anti romantic? * batin Lesya.


Setelah mengambil sendoknya yang terjatuh, Lesya menatap tajam Elvan seraya mengelus hidung mancungnya. Elvan yang seolah tahu apa isi pikiran Lesya, menggodanya. "Mau lagi? " godnya menaik turunkan alisnya.


Lesya mengancangkan sendoknya ke arah Elvan. "Lama-lama kok lo makin nyebelin ya?! " cebiknya. Elvan hanya tersenyum kecil dan menyodorkan Lesya sendok yang berisi makanannya berniat menyuapi gadis yang tengah marah itu. "Aaa.. "


Lesya hanya menatap sendok sodoran Elvan sejenak lalu melahap isi sendok itu. "Tumben lo mau masak? Biasanya kan kebanyakkan cowok tuh rada malas! Apa-apa delivery! " ucap Lesya setelah melahap makanan di dalam mulutnya.


"Gw limited edition man! Lagi pula, kalau punya tangan buat masak kenapa harus delivery? " ucap Elvan santai. Lesya tersenyum simpul menanggapinya.


"Pernah gak sih lo ngerasa. . . Gw ngerepotin gitu? " tanya Lesya. Elvan menghentikan makannya dan menatap Lesya. "Pernah! " jawab Elvan.


Lesya mengangguk paham. "Ya mau gimana lagi? Udah termasuk tugas gw kan? " lanjut Elvan. Lesya hanya terdiam menanggapinya. Menurutnya, kata-kata itu sedikit ambigu! Kan geli!


Menyelesaikan makan mereka, Lesya kembali angkat suara. "Ketbok, bawa gw ke taman atau ke mana gitu! " pinta Lesya yang diangguki oleh Elvan. "Mau belajar jalan? " tanya Elvan diangguki oleh Lesya.

__ADS_1


"Ho'oh, gabut gw make kursi roda mulu! Kek orang lumpuh! " asal Lesya yang mendapatkan jitakan dari Elvan. "Ouch! "


Elvan menatap tajam Lesya. "Ngomong yang benar! " tajamnya. Lesya mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam balik Elvan. "Hemm! "


____________


Lesya memegang tangan Elvan dan perlahan mulai melangkahkan kakinya. Yah, dia sudah berada di taman yang sangatlah sepi karena letak taman itu hanya diketahui oleh Elvan saja. Dan sekarang, Lesya juga tahu letak taman yang berada di rooftop apart Elvan.


"Pelan-pelan! "


"Iya-iya! Udah seribu kali lo ngomong! Cerewet lo lama-lama! "


"Jangan dipaksain! "


"Kalau gak gw paksain gak bakal jalan beg*k! "


"Heh, ngomongnya! "


"Ngomong sama temen lo masih wajar! Lah ini? "


"Ya maap! Kelepasan gw nya! "


Begitulah kira-kira percakapan antara Elvan dan Lesya. Perlahan Elvan melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Lesya berjalan. "Gw lepas! " ucap Elvan diangguki oleh Lesya.


Sudah beberapa saat berjalan akhirnya Lesya sudah mulai dapat berjalan dengan normal walau dirinya merasakan sedikit nyeri di kakinya. "Udahan dulu! Sakit kaki gw nih! " ucap Lesya.


Lesya dan Elvan duduk di kursi bangku taman yang ada di sana. Meneguk air botol minum mereka, Lesya menatap banyaknya bunga di taman. "Lo tau? " ucap Elvan membuat Lesya menoleh.


"Tau apaan? " tanya Lesya.


"Ini pertama kalinya gw bawa perempuan ke tempat rahasia gw! " jawab Elvan.

__ADS_1


Lesya tersenyum simpul dan menatap arah depannya. "Kenapa gak sekalian bawa ke tempat rahasia lo yang lain? " tanyanya. Elvan mengacak rambut Lesya. "Kapan-kapan gw ajak! "


Lesya merapikan rambutnya dan mengerucutkan bibirnya. "Hobi bener lo rusakin rambut gw! " cebiknya. "Sunset nya mau tenggelem noh! " tunjuk Lesya ke arah matahari yang hampir tenggelam dari sana.


"Indah! " gumam Lesya. "Eh iya? Btw, sorry buat yang tadi! " ucap Lesya.


"Tadi? "


"Iya! Yang rusakin bingkai lo itu, sorry! Gw gak sengaja! "


Elvan terdiam sejenak dan menatap arah depannya. Lesya mengangkat kedua jarinya ke atas membentuk huruf 'V' dengan raut wajah seriusnya. "Gw bener-bener gak sengaja, serius deh! Gw gak tau kalau ada tuh bingkai di sana! "


Merasa kunjung tak mendapat jawaban, Lesya menambahkan satu jarinya hingga tiga jari sudah terangkat ke arah Elvan. "Yaudah deh, lo bisa minta 3 permintaan sebagai tanda permintaan maaf gw! "


"Deal! "


Mata Lesya melotot saat Elvan dengan cepat menyetujui ucapannya saat mengajukan persyaratan. "Ngerjain gw lo ya?! " ketus Lesya mendelik. Elvan menggedikkan bahunya tak tahu.


Dengan cepat Lesya mencubit perut sixpack Elvan hingga Elvan sendiri meringis. "Auu! " ringis Elvan menatap tajam Lesya. Sementara Lesya yang ditatap hanya tersenyum kemenangan. "Apa?! Mau gw cubit lagi lo?! " galaknya. Elvan menggeleng karena menurutnya cubitan Lesya bagaikan sambaran petir baginya. Sakit seperti dicapit kepiting!


"Ssttt, kembaran kepiting lo ya?! " ucap Elvan memegangi perutnya. Lesya kembali mendelik. "Enak aja kalau ngomong! Nih makan noh kepiting! " ketusnya mengangkat bogemannya.


"Tauk lah! Gw mau balik, lo mau ikut kagak? " tanya Lesya. Elvan mengangguk menanggapinya dan ikut menyusul Lesya yang perlahan mulai beranjak melangkah dengan pelan ke arah apart mereka.


Matahari sudah terbenam. Kedua pasutri itu sudah kembali dan melakukan aktivitas mereka masing-masing. Elvan yang mulai mengerjakan sebagian tugasnya sementara Lesya yang mulai mengerjakan data-data mengenai perusahaan milik keluarga Fyo.


Lesya juga sudah meminta izin dari Elvan jika dirinya akan ikut campur dalam masalah keuangan perusahaan keluarganya. Elvan menyetujuinya saja asal tak mengganggun kesehatan Lesya.


Sebenarnya mudah saja jika Elvan yang notabenya pewaris perusahaan group Grey memberikan dana bantuan karena dirinya juga termasuk pemegang saham 30% sementara perusahaan groub RVL memiliki 50% saham dan khusus pewaris—Lesya, memiliki 20% saham saja.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2