Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
392: Memories


__ADS_3

Sebuah kamar yang ditempati oleh seorang remaja tampak sangat besar. Kini dia bersandar di sebuah balkon kamarnya sendiri. Pikirannya merenungi mengenai semua alur jalan hidupnya. Miris, tapi mengapa dia masih dapat tertawa seperti tadi? Tak masuk akal!


Kamarnya sama sekali tak isi orang lain selain dia. Baru saja dia mengusir harimau kesayangannya agar bermain dengan majikan lainnya. Alhasil, di sini dia sekarang, duduk di kursi balkon setelah dipindahkan Elvan.


Sejujurnya dia bingung mengapa dia dibawa di tempat dia melimpahkan keluh kesahnya? Iya, keluhan-keluhan yang dia rasakan terkadang dia bagi di rumah mewah ini. Jika memiliki beban pikiran besar, dia pasti akan pergi ke satu ruangan khusus dirinya di rumah ini. Tapi, bagaimana caranya pergi?


"Lucu ya, tadi ribut sama aunty, sekarang udah melow lagi! Menurut kalian, apa yang harus gw lakuin? Karena gw, semua orang yang harusnya beraktivitas seperti biasa justru harus rela korbanin waktu mereka demi gw. Sombong atau egois gw? Ohhh, atau gw emang orang penyakitan ya? Gak guna, haha... "


Kembali bersikap layaknya sesorang yang bersalah, Lesya kembali tertawa miris dengan alur hidupnya. Jika bilang Lesya ini aneh, jawabannya memang benar aneh. Bahkan jika dilihat, dia sulit ditebak alias sering berubah-ubah.


Ini sisi terendahnya. Sangat rendah bahkan menurutnya, ini sisi terendah dia yang baru saja dia alami. Dia tak sekuat yang dikira. Dia tak sebaik yang dipikirkan. Dia tak sesempurna yang dibayangkan. Dia tak seliar yang dilihat.


Dia adalah manusia biasa yang memerlukan sebuah kehidupan. Namun kehidupannya sangatlah rumit. Dan hal itu membuatnya merasa hendak menghilang dari muka bumi. Sungguh, dalam dirinya bolehkah dia mengulang waktu untuk terlahir dari seseorang berkekurangan tanpa sepeser uang pun? Jika itu dia sama sekali tak keberatan.


Di saat dia menumpahkan keluh kesahnya, tanpa dia sadari Galang menguping sebagian pembicaraannya. Memang pintu tak dikunci oleh Elvan agar jika terjadi sesuatu hal yang buruk dapat segera ditangani.


"Kenapa gw harus lahir kalau ujungnya gw begini? Sedari papi pergi, seluruh masalah harus ge tanggung! Di mana usia 4 tahun anak lain sibuk belajar baca-tulis, dan gw sibuk bantu mami. Di mana usia 10 tahun orang lain sibuk belajar, gw sendiri focus dengan pembangunan gangster."


"Di mana-mana setiap ambil rapot ditemani orangtuanya, gw sendiri malah harus minta tolong bi Ana jadi wali. Kalau dia sibuk, ya gw gak ambil rapot. Haduhhh, mirisnya nasib lo Sya… " ledek Lesya pada dirinya sendiri.


Galang yang mendengar dari luar tampak tersentil dengan keluhan Lesya. Suara tepukan di bahunya membuat dia menoleh dan menutup mulut sang adik. Ya, rupanya Gilang yang ingin memanggil sang abang tak sengaja melihat Galang layaknya pencuri.


"Lo ngapain? " bisik Gilang tanpa suara.


"Shuut, diem! " tajam Galang.


Gilang menatap datar sang kembaran. Kedua pria itu sama-sama menoleh alias mengintip sedikit pintu kamar Lesya yang tak terkunci. Mereka juga sama-sama terkejut dengan keluh kesah yang diucapkan gadis itu.


“Haha… Iya Sya, lo miris pake komplit! Dan masih sempatnya lo ketawa? Ck, dulu di mana mami dilamar uncle, harusnya gw gak kasih restu aja ya biar hidup gw gak perlu dikelilingi 3 laki-laki yang jadi bokap gw. Dan waktu kecil juga gw ngapain sih nyari info bokap kandung gw?! " kesal Lesya mengetuk kepalanya keras berkali-kali dengan tangannya.

__ADS_1


Namun sekeras apapun dia berbicara, semua ucapannya hanyalah angin lewat oleh langit. Waktu tak bisa diputar kembali dan semua yang terjadi sudah terjadi. Mau dibuat apa? Mau beli waktu dengan uang? Beli ke siapa? Sungguh, dia tak tahu harus berbuat apa selain mencurahkan isi hatinya pada angin.


"Dulu ditendang, dulu juga gak ada yang belain. Papi udah gak ada dan gw selalu ngerjain semua sendiri. Dan sekarang? Giliran gw kasih tau ke yang lain tentang siapa Papi sebenarnya, gw juga yang disalahin! Hahaha... Miris banget sih.. Gilaa," tawa Lesya seraya kembali terisak.


"Gatara Charlie , alias Argantara Fyo, uncle sekaligus papi Lyra, apa kabar? Liat Lyra dari atas sana, apa papi tetap sayang Lyra walau begini? " oceh Lesya.


"Haha.. Papi tipikal orang setia. Gobl*k banget pertanyaan lo Sya! Tapi, papi di sana udah bahagia kah sama mami? Kalian bisa minta pemilik tempat buat nyuruh cabut nyawa Lyra gak? " tawa Lesya kini berganti menjadi sendu. Rasanya dia sangat ingin menyusul kedua orangtuanya. Namun tak mampu.


"Hem, kalau nanti gw ma-ti, enakan dijadiin Guci atau milih diem di dalem tanah aja ya? " monolog Lesya seraya mengetukkan jarinya di pelipisnya.


"Kalau di Guci, nanti gw dibakar dan kalau gw di tanah, nanti gw dikeroyok semut! Eihh? Mending pake peti bagus kali ya? Kayak papi, dibungkus peti pake jas, hoho.. kece ! " lanjut Lesya lagi.


Aneh memang dia. Tadi tertawa, lalu menangis dan kembali seperti biasa saja. Pertanyaannya barusan juga sama sekali tak berguna untuk disebut. Bahkan dia yang bertanya, dia juga yang menjawab.


"Nak, tunggu mama nanti nyusul kamu ya! Maaf, mama gak bisa lebih lama jagain kamu. Mungkin, mama masih belum pantas jagain kamu bahkan karena mama sendiri kamu udah gak ada di dunia." lirih Lesya lalu terisak sendiri.


Lesya mengangkat kedua kakinya dan membenamkan wajahnya di lututnya. Tangannya kini sudah melingkar memeluk erat kedua kakinya. Dan tangisnya pecah begitu saja. Rasanya dia ingin ikut menyusul calon anaknya saja dibandingkan harus di dunia yang diselipkan banyaknya rasa bersalah.


Galang dengan segera menarik Gilang pergi dari sana. Sungguh, hati Galang sangat tak tega. Tak mungkin bukan dia berjalan masuk dan mendekap tubuh putrinya? Pasti Lesya sendiri akan bersikap biasa saja dan menghentikan tangisnya. Itu sebabnya dia berjalan pergi saja dengan menarik Gilang juga.


"Apa sih Lang?! " kesal Gilang saat sudah tiba di ruang tamu. Ya, Galang menariknya ke bawah alias ruang tamu.


"Selama ini, kamu paling banyak apain Lesya? " tanya Galang dengan nada tajam. Gilang menautkan alisnya bingung. "Gw? Ya paling rendah gw bentak dan paling tinggi gw cambuk." jujur Gilang enteng tanpa beban.


Bughhh!


Dengan cepat Galang meninju Gilang dengan keras. "Gimana jadi bahan pelampiasan gw barusan? " tanya Galang dingin. Gilang meringis sakit. Kembali berdiri dan menatap nyalang kembarannya, Gilang seolah kini tak mempedulikan siapa Galang untuknya.


"Lo makin lama makin songong ya! Lo lebih milih Lyra dibanding adek lo ini? Anak siallan itu? Wah, kebangetan lo Lang! " sentak Gilang tak terima. Galang tak mempedulikannya. Galang langsung duduk dan mengusap wajahnya pelan.

__ADS_1


"Lo, duduk! Gw ceritain sesuatu! " kata Galang. Gilang dengan malas duduk bersebrangan dengan Galang. Mereka tak tahu di sana sudah ada satu harimau yang mengawasi mereka. Bukan harimau peliharaan. Tapi mata yang bagaikan seekor harimau. Dia Mily!


"Woy, lain kali liat dong di sini ada gw! " galak Mily. Mereka berdua sama-sama menoleh. Terkejut dengan adanya sosok wanita itu di sana, namun mereka sama sekali tak terganggu. Bahkan mereka masih menggunakan logat lo-gw bagaikan zaman SMA mereka.


"Eh, bentar! Katanya lo mau cerita, pending dulu. Nih lo sadar gak? Di sini banyaknya foto siapa aja? " kata Mily yang malah mengalihkan pembicaraan.


Mengedarkan pandangannya, benar saja mereka lebih banyak menemukan foto Arga di sana. Bahkan ada beberapa papan bukti mengenai siapa Arga yang seharusnya adalah Gatara, adik mereka.


"Awww kiww, banyak banget sih foto babang tampan! Kalau gini semua, betah terus gw lama-lama di sini." kata Mily tersenyum layaknya fans fanatik Arga.


Sontak Gilang menatap tajam wanita itu seolah tak suka dengan pujian yang dilontarkannya. "Heleh, masih cakepan juga gw! Lagian dia juga udah beda alam sama lo, halu-halu! " ucap Gilang dengan nada tak sukanya saat Mily memuji foto bingkai rival sekolahnya.


Mily menatap datar Gilang dan tertawa sumbang sejenak seolah mengejek. "HAHAHA... Cemburu lo karena gw lebih milih Arga ketimbang lo kan? Haduhh, sorry-sorry ya, Arga tuh baik gak kayak lo! " pedas Mily tanpa takut dengan Gilang. Toh jika dia dikasari, dia sudah biasa. Lagi pula ini rumah Lesya dan pengamanannya ketat, mudah saja jika dia dikasari dan meminta tolong.


Galang yang mendengar berpura tak mendengar saja. Keributan tak habis-habisnya antara adik dan adik iparnya tak membuat matanya menoleh sejenak. Pandangannya justru mengarah pada bingkai besar yang ada di sana.


Foto yang terbesar dibandingkan yang lainnya menampilkan gambar Arga yang sedang menggendong Lesya saat kecil. Hatinya tersentil melihatnya. Bibir mereka yang menampilkan tawa senyum di sebuah taman. Indah ya?


"Kenapa? Ini foto bingkai yang paling disayang Lesya, sampai kapan pun, gak bisa dipindah atau diganti."


Ucapan Luna yang baru saja turun dengan Valen dan Vay membuat mereka semua menoleh. Galang kembali bersikap biasa saja karena tak mau terlihat lemah pada sahabat anaknya. Pandangan Galang kini kembali teralihkan pada foto kecil yang berisi keluarga lengkap Lesya dahulu. Bahkan ada foto Mily yang sedang bersama Arga dan Lesya kecil.


"Ihhh, kece!! Ada juga ya foto gw sama Arga sama Lesya juga? Berasa keluarga harmonis."


Mily yang antusias berjalan dan mengambil foto tersebut. Sementara pandangan Luna mengarah pada foto bingkai yang menampilkan dia, Lesya, Leon, Alam, Vion, Felicia dan Cakra menggunakan jaket kebanggaan Lion Claws. Ya, rupanya Lesya masih menyimpan kenangan itu!


"Ini harusnya foto waktu baru-baru bangun gangster kan ya? " gumam Luna pelan. Vay yang di satu sisi melihat papan besar kini hendak ingin membuka papan tersebut. Karena tinggi, akhirnya Valen yang membuka sebagai ganti Vay.


Pandangan mereka beralih semua pada papan hitam itu. Ternyata itu berisi mengenai bukti-bukti bahwa Gatara adalah Arga. Banyak garis merah mengarah dari foto ke foto lainnya. Sontak Galang berjalan mendekat dan mencerna maksud dari papan itu.

__ADS_1


"Loh? Kok ada beginian sih? Emang Lesya pernah nyimpan ya? " bingung Luna bertanya. Pasalnya dia tak pernah melihat papan begitu di ruang tamu. Dan dia lihat posisi ruang tamu sedikit berbeda. Kurang lebih ada 3 papan di sana. Seharusnya di ruang rahasia dong? Mengapa jadi di ruang tamu? Pikirnya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2