
Hatinya merutuki betapa bodohnya dirinya yang asal main bicara. Tanpa sengaja Mayang melihat surat di tangan Lesya. Dia mengambil surat tersebut dan membacanya. Lesya terkejut namun tak bisa menolak.
"Panggilan orangtua? " beo Mayang. Lesya menundukkan kepalanya dan matanya rapat-rapat.
"Kenapa di sini ditulis 'Mengapa orangtua tak datang ke sekolah? ' Memangnya saat kamu dipanggil sekolah Mila gak datang? " tanya Mayang.
Lesya mendongakkan kepalanya. Dia menghela nafas berat. Mayang semakin penasaran akan penjelasan surat tersebut.
"Huft, aku bakal cerita sama Tante tapi ada satu syaratnya dan Tante gak boleh ingkar janji"
"Syarat? Syaratnya apa? "
"Syaratnya, Tante gak boleh kasih tau ke siapa pun soal ini"
"Okeh, Tante janji gak akan cerita sama siapapun kecuali semua akan terungkap"
"Aku pegang janjinya Tan"
Sebelum Lesya bercerita, Lesya menghela nafas kasar.
"Jadi saat papi gak ada aku sempat jualan kue buatan mami keliling. Dan itu hanya berlangsung selama 2 bulan aja. Mami udah punya calon suami buat gantiin papi.
Aku sama Letha setuju aja demi mami bahagia dan bisa melupakan papi. Tapi saat mami nikah sama papa, aku sering diseret ke gudang dan disiksa di sana. Tapi kalo Letha ada, Letha dikurung di kamar sama papa biar gak tau ini semua"
Lesya tersenyum kecut mengingat itu semua. Mayang mengelus punggung Lesya memberikan kekuatan untuk bercerita.
"Mami selalu dikekang sama papa buat gak keluar rumah. Jadi karena papa gak ngasih uang buat kehidupan sehari-hari, aku memutuskan untuk bekerja di usia 4 tahun 8 bulan.
Mami sama Letha gak tau aku pulang malam buat kerja. Cumen yang mami tau waktu aku umur 16 tahun kerja di cafe. Jadi mami memutuskan untuk gak ngasih tau soal ini sama Letha"
Lesya menarik nafas kembali sebelum bercerita.
"Aku juga sempet kerja sembilan. Jadi aku suka bolos sekolah walaupun kadang-kadang kena tangkep. Di empat pekerjaan aku juga sering pura² bisu karena udah terbiasa. Yah jadi akhirnya Letha sama mami deket.
Aku juga sering bolos sekolah trus aku sendiri sering dijuluki badgirl kelas lagand. Setiap panggilan orangtua aku sering gak ngasih surat ke mami karena terhalang. Mami juga jarang ngambil raport aku karena harus ngambil raport Letha"
Mayang terkejut. Cerita itu hampir persis dengan cerita Mila dulu. Hanya bedanya dia tak kerja. Hanya disiksa di rumah oleh ayah tirinya dan sedikit nakal di sekolah. Tak sampai seperti Lesya yang bolos berkali-kali.
"Kamu mau tante jadi wakil kamu? " tanya Mayang.
"Wa-wakil? Gak usah Tan, lagipula tante gak perlu kasian sama aku. Aku udah terbiasa kok" tolak Lesya.
Mayang tersenyum. Dia mengelus punggung tangan Lesya , "Tante bukan kasian sama kamu, tapi tante cuman gak mau kejadian dulu terulang"
__ADS_1
Lesya mengerutkan keningnya bingung "Kejadian dulu? "
"Oh, bukan apa-apa. Pokoknya bilang tiga hari lagi tante ke sekolah jadi wali kamu" tegas Mayang.
Lesya mengangguk kikuk setuju saja. Rupanya Mayang cukup tegas dan beribawa pikir Lesya.
"I-iya Tan, makasih" Mayang pamit kepada Lesya untuk pulang ke rumahnya.
Lesya mengangguk. Dia sendiri akan pergi ke Marketing, tempat kerjanya. Setelah tiba di sana Lesya langsung mengganti bajunya dengan seragamnya.
Dia melakukan kegiatan kerjanya seperti biasa hingga pukul empat sore. Melayani pembeli tugas seorang kasir. Setelah selesai bekerja, Lesya segera menggantikan bajunya yang semula dan melihat jadwal nya.
Setelah menuliskan jadwalnya dihandphone miliknya, dia pergi menuju rumah sakit. Lesya membelah kerumunan kota dengan motor sport nya.
Namun, saat Lesya menghentikan motornya di lampu merah, seseorang diam-diam memperhatikannya tanpa sepengetahuan Lesya. Lesya memang tak sadar dirinya di perhatikan orang lain.
Sore-sore gini mau kemana dia? —batin orang itu.
Tiingg..
Lampu merah sudah berganti menjadi warna hijau. Pengendara terdepan melajukan kendaraan mereka membelah kota. Begitu juga dengan Lesya.
...~o0o~...
Setibanya di rumah sakit, Lesya langsung pergi ke ruangan Mila. Sebelumnya, dia sudah membelikan buah-buahan di supermarket dekat tempat kerjanya.
Setelah mengetuk pintu, Lesya membuka knop pintu dan masuk ke dalam. Bi Ana yang sedang membersihkan sisa makan dirinya sendiri menoleh ke arah Lesya.
"Halo bi, gimana keadaan mami? " Lesya menghampiri bi Ana yang selesai membersihkan sisa makannya.
"Baik kok Non, Nyonya sudah sadar kemarin subuh" Lesya mangut-mangut paham.
Lesya mendekatkan dirinya menghadap Mila. Dia menatap lekat Mila hingga ada yang merasa janggal di hati Lesya.
Kok gw ngerasa nyaman ya sama mami? Padahal waktu papi ada, gw ngerasa berjarak sama mami. Ada apa ini sebenarnya? —batin Lesya.
"Non, apa nona sudah makan? " tanya bi Ana.
Lesya tersadar. Dia sedikit mengulas senyum simpul. Dia mengangguk menoleh sekilas bi Ana, "Udah kok bi "
Bi Ana mengangguk. Dia tahu bahwa anak majikannya ini tak kelaparan walau tak makan. Sudah dibuktikan dengan bibirnya yang sedikit pucat.
"Non, tadi kata mang mamat Non Lara ke rumah" Lesya menoleh dan menatap serius bi Ana.
__ADS_1
"Serius bi? Tapi ngapain dia ke sana? " tanya Lesya.
"Katanya sih mau ketemu Nyonya, dia bilang sama mang mamat buat nyuruh nyonya ke sekolah" jelas bi Ana.
"Oh shitt! Gw lupa ada dia di sekolah" desah Lesya pelan.
Bi Ana tentu mendengar umpatan Lesya. Karena hanya mereka bertiga yang ada di sana. Mila masih tertidur sementara bi Ana terdiam, sudah pasti terdengar gumaman Lesya.
"Memang nona buat masalah lagi di sekolah? " tanya bi Ana.
Lesya mengangguk, "Lebih tepatnya difitnah bi. Lesya dituduh nyuri kunci jawaban ujian padahal waktu itu aku lagi nongki sama Luna di warjok"
"Wali atau orangtua Non yang diminta datang? " tanya bi Ana.
Bi Ana bertanya seperti itu karena terkadang dia menjadi wali Lesya. Dia tahu betul karakter anak majikannya itu.
"Orangtua bi, wajib banget malah" jawab Lesya.
Tiba-tiba saja suara serak orang khas bangun tidur terdengar. Lesya dan bi Ana menoleh mendapati Mila yang sudah membuka matanya.
"Mami? Mami udah sadar? Butuh apa mi? " tanya Lesya beruntun.
"Eungh? Rara? Kamu di sini nak? Tapi kenapa gak sama nak Elvan? Besok kan mau nikah" Lesya mengerucutkan bibirnya.
Dia lupa akan perjanjian itu. Lagi-lagi Mila mengingatkannya tentang itu.
"Kan besok bukan sekarang mi. Lagipula aku kemaren gak ke sini" jawab Lesya mendengus sebal.
Mila terkekeh melihat sikap Lesya yang sangat imut jika merajuk. Mila mengelus rambut panjang Lesya dengan kasih sayang hingga membuat Lesya terdiam.
"Kamu dulu masih kecil. Sekarang udah mau nikah aja" Lesya yang tak suka dirinya terlihat lemah, segera memeluk Mila.
Mila membalas pelukan Lesya. Bi Ana tersenyum akhirnya Lesya bisa dekat kepada majikannya. Tak hanya bi Ana yang menjadi saksi mata melihat kelakuan manis ibu dan anak. Tapi ada keluarga Elvan yang berdiri menyaksikan hal tersebut.
Mereka tersentuh. Apalagi Mayang, dia baru saja mendengar jalan cerita Lesya. Dan menyaksikan pertunjukan manis yang lama dinantikan Lesya. Padahal niatnya yang mengunjungi Mila dan asal masuk karena pintu sedikit terbuka.
Tiba-tiba saja Lesya menghapus satu air mata bahagianya mendengar suara seseorang. Mila membiarkan Lesya melepas pelukannya.
Elena adalah pelaku pemberhentian aksi manis Lesya dan Mila. Suara cempreng nya sangat merusak momen.
"Uh, co cwitt! Bunda anakmu minta dipeluk dong" Mayang menatap tajam Elena.
Elena kicep melihat tatapan tajam Mayang. Mayang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Elena yang memanyunkan bibirnya ke depan.
__ADS_1
"Dasar perusak suasana! " gumam Mayang.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗