
Episode 396: Keputusan
"Jangan sombong kamu! Perusahaanmu bukan punyamu tapi punya orang lain." ledek Ben yang mendengar kabar jika perusahaan Fyo bukan milik Gilang. Mengepalkan tangannya erat, Gilang menunjuk ke arah Ben yang tersenyum seolah meledek dirinya.
"LO?!!! "
"Heh, setidaknya uncle ngambil alih perusahaan papi biar perusahaan papi gak down, stupid! " lantang Lesya membela Gilang hingga sang empu membulatkan matanya tak percaya.
"Hey, déchets(sampah) dari mana lagi ini! Kamu diam ya, saya tak memiliki urusan dengan kamu! " bentak Ben menunjuk ke arah Lesya namun dengan segera ditepis kasar oleh Galang.
"Sampah? " ulang Lesya dengan nada rendah. "SAMPAH LO BILANG HAH?!! " bentak Lesya tak terima dan melemparkan pisau lipat ke arah Ben.
Lesya berbalik membentak bukan karena tak terima dibentak. Namun karena dia tak suka jika harga dirinya diturunkan hanya dengan satu kata. Dia memang tak dapat melihat. Namun bukan artinya dia tak dapat merasakan dan mendengar dari mana bentakkan itu berasal. Dia tak bodoh dan setidaknya, pria tamak itu harus diberikan pelajaran kecil darinya.
[Btw, itu tanpa sengaja Lesya kecoplosan ngomong bahasa Indonesia ya gays].
"WAH BARU NYADAR GW YA KALAU ANJ*NG LEBIH PINTAR DARI LO YA TOL*L!! " emosi Lesya hendak kembali melangkah tanpa takut. Namun pergerakannya itu dihentikan oleh Sella yang lebih dahulu menariknya pelan agar kembali duduk di bangku sofa.
Ben yang merasakan pipinya tergores memekik kaget. Tak hanya dia namun yang lainnya juga ikut terkejut dengan tindakan Lesya. Ini pertama kalinya dia ditantang bahkan direndahkan begini.
"Père?! (Ayah?!) "
"Lesya?! "
Saat Ben hendak menampar Lesya, dengan tanggap Galang beranjak dan mempelintir tangan Ben. Tatapan elang nya membuat Ben sedikit gentar untuk melawan keluarga bermata elang itu. Namun karena dia harus tetap mempertahankan kedudukannya, dia harus siap menatap mata elang keluarga itu. Will sendiri saja yang duduk anteng di sana sama sekali tak dianggap oleh mereka. Padahal, dia lah yang akan menentukan pilihan peralihan warisan.
#poorWill
"Jangan coba-coba kamu ya, Ben! " tajam Galang lalu menghempaskan tangan Ben dengan kasar. Ben yang tersulut emosi hendak membalas balik serangan Galang namun sayangnya dihentikan oleh Will.
"Hey semua, duduk dan tenanglah! Di sini saya yang berhak menentukan." ucap Will dengan canggung. Mereka berdua kembali duduk seraya menepuk-nepuk pelan pakaian mereka seolah kotor.
"Oke back to topic, di mana Gatara, frère cadet(adik laki-laki) kalian Charl? " tanya Will beralih bertanya pada topic awal.
__ADS_1
"Indonesia." jawab Galang.
"Kenapa kau tak mengajaknya ke sini Charlos? Seharusnya kau ajak agar dia kembali ke rumahnya ini."
Pertanyaan Will itu membuat mereka terdiam. Dan keluarga Ben merasa kini mereka lah pemenangnya. Namun dengan cepat Lesya angkat suara karena tak ingin berlama-lama di tempat itu.
"Papi est mort(Papi sudah tiada), paham? " jawab Lesya dengan jarinya yang terkepal. Sungguh Lesya tak kuat jika harus dipertanyakan terus-menerus dengan topic sang papi. Bukan apa-apa namu seperti tak kuat saja.
Ruangan tampak hening setelah jawaban dari Lesya. Keluarga Ben tampak tersenyum lebar dibalik wajah tajamnya. Itu artinya mereka tak perlu letih-letih berdebat mempertahankan posisi mereka. Toh anak kesayangan keluarga Morvoull sudah tiada. Dan mereka yakin Will pasti tak akan membiarkan kedua kembar nakal itu mengambil alih.
"Kau siapa nya Gatara? "
Ben dan keluarganya mengeryit bingung di saat Will justru mengeluarkan kosa kata yang bukan berasal dari negara mereka. Yap, sekarang Will sengaja menggunakan bahasa Indonesia yang sempat dia pelajari sebelumnya sebagai jaga-jaga saat dibutuhkan seperti ini.
"Will tanya sama kamu Sya," kata Galang angkat suara yang melihat Lesya terdiam. Gadis itu tampak mengerutkan keningnya bingung. Dia akhirnya paham saja saat mendengar jika orang yang sama sekali tak dikenalnya dan Galang menggunakan bahasa gaulnya.
"Gw, Zelyra Aleesya Michella Fyo, anak papi Arga." jawab Lesya singkat. Will sontak menautkan kedua alisnya bingung dan menatap Gilang dan Galang seolah meminta penjelasan mereka.
"Ceritanya panjang, kalau kau mau tau faktanya tanya sama anak kesayangannya aja noh! " acuh Gilang. Lesya yang merasa dipanggil kembali mau tak mau menjelaskan saja.
Will tampak mengerutkan alisnya bingung dengan kosakata baru yang dia dapatkan. Dan mau tak mau Galang akhirnya menerjemahkan dengan bahasa kelahirannya sesuai dengan apa yang diucapkan Lesya. Sama sekali tak ada yang dia kurangi atau dia lebihkan.
"Lalu? " tanya Will lagi.
"Setelah saya beranjak 3 tahun, papi tiada selama-lamanya. Dan uncle Gilang nikah sama mami saya saat saya umur 4 tahun. Dan karena saya pernah gak sengaja denger obrolan uncle di telepon yang bilang saya bukan anak kandung papi gak percaya. Setelah dicari, kita pertama kali ketemu waktu saya hampir naik kelas 5 SD." lanjut Lesya memberi info dengan nadanya yang sedikit malas.
"Jadi kamu siapanya Gatara? "
"Anak! "
"Tapi katanya kamu anak Charlos? "
"Ya memang! Tapi sampai kapan pun saya tetap jadi anak papi walau bukan berhubungan darah." tegas Lesya.
__ADS_1
"Menarik! Lalu sedekat apa kamu sama Gatara? " tanya Will lagi. Lesya yang mendengar pertanyaan Will terus menerus yang tak akan habis pun mendengus jengah karena harus berlama di sana. Harus mengeluarkan jurusnya kalau begini terus percakapannya.
"Lo ini mau gw penyokin atau gw bogemin? Kenal kagak, nanya kek wartawan! " datar Lesya yang sudah malas dipertanyakan ini-itu oleh orang yang sama sekali tak dia kenal.
"Pffftt! "
Mily, Gilang dan Sella yang mendengar cara bicara Lesya hampir hendak tertawa. Terlebih saat Galang memberitahu terjemahannya dalam bahasa mereka pada Will. Ekspresi wajah pengurus kepala rumah itu tampak masam.
"Oke, maaf! Sesuai janji, saya sudah buat dokumennya. Mau tak mau kalian harus terima berapa pun itu," potong Will yang kini tak lagi bertanya-tanya. Dan kini Will sendiri sudah memiliki keputusannya. Dan suara bahasa asal negara itu pun mulai tedengar.
"Ben, kamu kembangkan perusahaanmu dulu. Untuk hadiah kerja kerasmu, perusahaan cabang yang baru dibuka untukmu,okey? Dan untuk Charles dan Charlos, kalian akan membagi dua secara rata perusahaan lainnya. Semua kalian dapat tapi hanya untuk pewaris selanjutnya saja, paham? " jelas Will.
"Okey," jawab mereka kompak.
Braaaakkk!!
Suara gebrakan yang berasal dari Ben kembali terdengar. Teriakan bentakannya membuat semua orang tutup telinga. Bahkan tanpa sadar Gilang saja menutup kedua telinga Mily karena kencangnya suara bentakan itu.
"SAYA TAK TERIMA?!! Will, mereka hanya datang beberapa menit lalu dan mengapa kamu dengan cepat memutuskan tanpa memberitahu kami hah?! Apa selama ini perjuangan keluargaku tak dapat kamu lihat di sini, hah?! Kita juga mau semua dibagi rata!"
"Anak anj*ng kalau ngonggong gak segini anj*r! Keselek toa di mana sih bapack satu?! " gumam Lesya mengumpat pelan dengan bentakan Ben. Lagi-lagi Mily, Gilang dan Sella menipiskan bibir mereka karena menahan tawa dengan umpatan Lesya yang menurut mereka lucu.
"Di got kali Sya, udah lah nyimak aja, kasian lagi galau dia! " balas Mily sedang menahan tawanya melihat komuk wajah Ben yang memerah menahan amarah.
"Oh iya, rumah ini sudah dibagi tiga dengan kalian dan Gatara, Charl." tambah Will tanpa mempedulikan amarah Ben yang memuncak. Bahkan dia kembali menggunakan bahasa keseharian Lesya dibanding bahasa asal kelahirannya agar tak didengar Ben. Bisa-bisa hancur lagi rumah nanti dibuatnya kalau dia sempat tahu.
"YAKKKK?! SAYA LAGI NGOMONG WILL?!! " ucap Ben yang merasa diabaikan oleh pengurus kepala rumah itu. Namun sayangnya, Will sama sekali tak mempedulikan teriakan Ben lagi.
"Nih bapack tua tinggal gali tanah gw ceburin ya ***! " umpat Lesya lagi seraya menutup telinganya. Beruntung Justine sedang tak ikut. Jika ikut pasti sudah ikut lomba teriak dalam keadaan menangis. Dan jangan sampai mereka collab untuk memecahkan rekor tertinggi. Ogah!
"Sudah jangan pedulikan! Dia memang sangat tamak makanya urat malunya putus! Oh ya, berhubung Gatara sudah tidak ada, maka dia saja yang menggantikan nama papinya itu." kata Will menunjuk ke arah Lesya.
"Mau tidak? " tanya Galang menyenggol sikut Lesya pelan. Gadis yang sedang menggerutu dalam hatinya tampak menganggukan kepalanya. "Ya udah sih, gak papa lah sekalian nambah-nambah! Asal cuman rumah doang bukan saham perusahaan! " jawab Lesya setuju.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗