
Elvan berjalan menuju Lesya kembali dan mengambil ponselnya. "Kenapa? " tanya Lesya. Elvan memberikan ponselnya kepada Lesya.
Lesya membaca di dalam hatinya isi pesan dari grup sekolahnya. Karena banyak siswa-siswi yang ketakutan dengan kejadian tadi, guru dan pihak sekolah memutuskan meliburkan 3 hari para murid mereka.
"Libur? Yess! Asik libur! " girang Lesya. Elvan mengambil ponselnya kembali. "Lo mau gw hukum? " Lesya terhenti dan menatap Elvan malas. "Hoby bener lo ya ngehukum gw mulu! "
Elvan menaik turunkan alisnya. "Kenapa? Gak suka? " Lesya mencebikkan bibirnya. "Yaudah jangan yang berat-berat hukumannya! Sakit tangan gw" drama Lesya.
Elvan tersenyum tipis melihatnya. Dia tahu jika Lesya hanyalah sandiwara semata saja agar dirinya memberi hukuman yang ringan saja.
Lesya yang melihat Elvan tersenyum tipis mengerutkan keningnya. "Kenapa senyum-senyum? " Elvan menggeleng. "Gak papa! Kali ini Ayah yang turun tangan bukan gw! "
Lesya tercengang. Angga? Mengapa harus Angga? Apa Angga akan marah padanya dan membenci dia? Pikir Lesya menerka ke mana-mana.
"Kenapa Ayah harus turun tangan? " Elvan yang menyadari arah pikiran Lesya segera menjelaskan maksud dari ucapannya barusan. "Kebetulan tiga hari ke depan Ayah berkunjung ke sekolah sekaligus Ayah turun tangan dengan masalah kali ini! "
"Mat* gw! " gumam Lesya. Elvan memegang tangan Lesya dan melambaikan tangan satunya ke wajah Lesya. "Lele! " panggil Elvan.
"Ha? Apa? Bentar kalo misalnya Ayah turun tangan, apa Ayah bakal benci sama gw? " Lesya melepaskan genggaman tangan Elvan seraya memasang wajah seriusnya. "Tergantung! "
Lesya semakin tak paham dengan maksud Elvan. Leon, Lisa, Luna, Letha dkk, dan empat kawan Elvan tiba-tiba datang. "EYOO.. ECHA WU.. ganggu ya? " goda Luna.
"Brisik! " Lisa berjalan ke arah Lesya dan mengangkat tangan Lesya yang diperban. "Ngapa lo? " tanya Lesya menepis tangan Lisa.
"Gak papa, cuman... Bwahaha! Mamp*s lo! Sakit kan tangan lo! Kagak jadi taruhan kita! " Bukannya merasa kasihan, Lisa justru senang hingga tertawa terbahak-bahak. "Sial*n! Jadilah! Sesuatu yang sudah disepakati seorang Lesya harus dipenuhi! Emang elo! Bwahaha.. "
Skakmat! Lisa berhenti tertawa membiarkan Luna dan Lesya tertawa mengejek dirinya. "Sabar, orang waras ngalah! " gumam Lisa mengelus dadanya.
Di saat Leon ingin menyentuh tangan Lesya guna melihat luka di tangannya, Elvan menepis tangan Leon seolah tak mempersilahkan. "Kalem bro! Pengen liat doang"
"Liat apaan? " tanya Lesya menghentikan tawanya. "Luka lo noh! Pake ini aja! " Lesya dengan cepat menggeleng menolak memakai kain yang disodorkan Leon. "Ogah! Lo aja sono! "
__ADS_1
Leon memutar bola matanya malas. Dia justru membalut kain itu ke tangannya seraya mendengar percakapan yang lain. "Nyeh! " gumam Leon.
"Elo mana boleh ikut ke arena kalo tangan lo kek gitu Sya! " Lesya menyenye saja tak peduli dengan ucapan Luna. "Bod*amat gw tetap ikut jadi, bye saja! "
Luna bertolak pinggang mendengarnya. "Heh nantangin lo? " Lesya melipat tangannya di depan dadanya. "Harus nya gw yang nanya ibuk Luna! "
"Gw belom ibuk-ibuk ya! Jadi stop manggil gw ibuk! " Lisa yang mendengar nada jengkel Luna ikut menimpali. "Iya lo ibuk-ibuk buk Luna! "
"Kalo ada ibuk berarti ada bapak! Emang siapa bapaknya? " tanya Leon ikut menyahut. Selain dari Lesya dkk hanya menyimak pembicaraan saja. "Pak... Pak Palen! " ngawur Lisa.
"Heh! Enak aja! Gw bukan bapak lo! " sahut Valen tak terima. Lesya menepuk-nepuk bahu Luna. "Bener yang di bilang kutulisa! Noh bapaknya! "
Valen melotot di saat Lesya justru menunjuk ke arah dirinya. "Heh apa-apaan! Ogah gw jadi bapaknya alun-alun! " Lesya dengan polosnya bertanya. "Jadi lo mau jadi bapak dari anak-anak nya sahabat gw Luna gitu? "
Puuffftt!
Frans, Lisa, Leon, Farel, Amel, Nayla, Kenneth, dan Letha berusaha tak tertawa dengan celetuk kan nyeleneh Lesya. Berbeda dengan Luna yang kesal sendirinya. "Eh set*n! Kagak mao gw! " tolak Luna mentah-mentah.
"Ciee yang mau! Priwit! " Lisa bersiul dengan siulan andalannya seolah menggoda Luna. Berbeda dengan Leon yang justru bernyanyi. "Selamat.. Selamat pasangan baru! "
Lesya memukul tenguk leher Valen. "Diem dulu! Kalo gw nanya jawab iya ato enggak doang oke! " Valen meringis kecil. "Dasar cewe! " gumam nya kecil.
"Iya gak? " Luna menatap kesal sahabatnya itu. "Enggak Lyra Aleesya! Oh god tolong cekik leher sahabat saya! Kalo gak bor otaknya elah! "
"Gak sowan lo Lun! Tinggal jawab apa susahnya! " Luna melipat kedua tangannya di dadanya. "Lanjut dah! "
"Gw jamin iya! "
"Enggak! "
"Iya! "
__ADS_1
"Enggak! "
"Enggak! "
"Iya! Eh, sial*n lo Sya! "
Luna sudah angkat tangan mendengar banyak godaan entah dari Lisa, Ken, Amel, Leon, dan tentunya Lesya. "Ciee.. Kiw sahabat gw laku! '
"Gw gak denger! Bye gw mau ke RS mau ikut gak? Siapa tau kejiwaan kalian terganggu! " Lesya menatap kepergian Luna lalu kembali berteriak. "SALAM BUAT MAMA! "
"IYYA BAWEL LO! " Elvan menyodorkan ponselnya kepada Lesya. Baru saja ayahnya menghubungi dirinya agar dia dan Lesya cepat kembali pulang. "Apaan? "
Lisa menoleh dan mengintip sedikit. "Wayoloh! Gw denger kalo om marah satu dunia bisa gempar! " ucap Lisa sengaja menakuti Lesya.
Lesya tak bergidik ngeri mendengar ucapan Lisa yang sengaja menakut-nakuti dirinya. "Gw gak takut tuh! " Lisa menatap Elvan seolah meminta bantuan. "Vano yang baik hati dan tak sombong, gw nebeng ya"
Elvan mengambil kembali ponsel miliknya dan berdehem kecil saja. Dengan cepat dia pergi disusul ke empat temannya dan Letha dkk. "Gak sabar gw liat lo dimarahin sama om Angga! "
"Kalo kagak? " Lesya mengangkat satu alisnya menatap Lisa. "Kalo iya? " Mata antara Lisa dan Lesya saling beradu dengan sengit. Leon yang berada di tengah geleng-geleng kepala saja dan pergi membawa Lisa. "Ayok, udah! Bye Echa"
Lesya menyambar tas ranselnya dan bergegas keluar dari ruang UKS itu. Dapat dia lihat selama berjalan menyusuri koridor sekolah yang tampak sepi. "Sepi bener! "
Dia berjalan dengan santai menuju parkiran dan berniat mengambil motornya. Namun dia melihat jika Letha, adiknya memberikan kepada Elvan sebuket bunga mawar.
Lesya menghela nafas panjang melihatnya. Elvan yang sama sekali tak berniat mengambil sudah biasa dilihat oleh Lesya. "Hufft! Itu lagi! '
Lisa yang tak sengaja melihat Lesya berjalan menghampiri mereka karena memang motornya berada di belakang mereka. "Noh Leskacang! "
"Paan? " tanya Lesya memegang satu tas ranselnya di satu pundaknya. "Kunci motor lo! " Lisa mengulurkan tangannya berniat meminta kunci kepada Lesya. "Buat apaan? Malak gw lo ya?! "
Lisa memutar bola matanya malas. "Sial*n! Noh lo pulang bareng Elvan gw yang bawa motor lo elah! " Lesya menggeleng cepat. "No! Lebih baik gw naik motor ngueengg... "
__ADS_1
Di saat Lesya ingin pergi melewati mereka, tangannya dicekal oleh Elvan. "Apa lagi sih? " kesel Lesya menatap Elvan. "Masuk! "
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗