
Episode 431: Duo Bucin
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Hari demi hari pun berlalu dengan damai hingga tak terasa sudah dua bulan kini waktu berlalu begitu saja. Beberapa bulan ini juga Lesya terkadang bolak-balik mengunjungi kediaman Fyo, tempat Letha tinggal saat ini.
Lesya sendiri juga sudah berbaikan dengan keluarga Grey dan Grizi walau sedikit tak akur jika bersama Elita—kakak dari Lisa. Menjalani hidup normal tanpa halangan juga rasa mengganjal dalam hatinya membuat Lesya merasa lega sekaligus memiliki semangat hidup yang tinggi saat ini demi keluarganya.
Sudah beberapa bulan ini juga berlalu akhirnya mereka diperhadapkan dengan acara kelulusan. Sekolah mereka juga menyuruh siswa-siswi menggunakan seragam agar dapat dicoret-coret sebagai momen kenangan masa abu-abu mereka di masa depan.
Lesya dan kawan-kawan, Elvan dan kawan-kawan, juga Letha dan kawan-kawannya kini sedang duduk setelah menyatukan tiga empatnya meja kantin. Bahkan murid-murid yang lain juga terkejut melihat keakraban dan mendengar tawa melenggar mereka.
"Susu-susu apa yang bikin nyeri?" tanya Luna mengangkat sumpitnya ke atas dan menatap dengan penuh tanya juga senyum khasnya. Semua terdiam dan saling berpandangan karena memikirkan jawaban dari pertanyaan konyol Luna.
"Orang yang susu nya diperes."
Luna menggeplak keras punggung Valen dengan tangannya secara reflek. Jawaban dari tunangannya itu mengandung kata-kata ambigu. Sudah tahu lah mereka tak polos semua saat ini. Hal seperti ini mudah sekali terkoneksi dengan otak mereka.
"Haha… Anj*ng gitu amat jawaban lo Len-len,"
Valen mendelik tak terima dengan panggilan namanya yang di sebut oleh Ken. Aih iya, anyway gays, Letha dan Lesya juga sudah memaafkan kelakuan rekan Elvan sebelumnya. Kan mereka anak baik dan sangat pemaaf.
"Susu dancow?" jawab Nayla menyahut.
"Tetottt!" ucap Luna menggeleng seraya menahan tawanya melihat raut bingung teman-temannya. Tak lupa Luna juga memberikan tanda silang di kedua jarinya tepat pada Nayla.
Lesya kini juga ikut terdiam dan memikirkan jawaban yang tepat dari pertanyaan melantur Luna. Aih, sekarang dia sudah paham ke mana arah jalannya pembicaraan Luna. Pasti jauh dari ekspetasi.
"Terus apa dah jawabannya?" tanya Lisa yang saat ini sedang malas berpikir. Sang pemberi pertanyaan mengulum senyum dan berdehem menetralkan wajahnya menjadi serius.
"Jawabannya … susulan!"
"BISULAN BOD*H" Lesya menggebrak meja dan begitu lantangnya mengumpat kasar. Luna tertawa terpingkal-pingkal melihat sahabatnya yang hanya diam setelah bibirnya dipukul pelan oleh Elvan. Oke, Luna puas sekarang!
"Eh tapi emang nyeri anj*r, kalau bisulan di pantat terus mau duduk susah." kata Amel membenarkan. Luna mengangguk setuju. Itu sebabnya dia menjadikan bahan candaan untuk kata 'bisulan' itu.
"Tapi nyeri juga lah kalau ujian susulan! Dada, hati, otak, ginjal, jantung, kabas rasanya. Mana soalnya beda lagi sama soal ori, ya gak?" dramatis Ken menyahut. Semua mengangguk setuju dengan ucapan Ken yang masuk di akal.
Nayla sedikit mengerutkan keningnya melihat Letha yang belum menghabiskan satu mangkuk siomay. Biasanya butuh tiga mangkuk Letha melahap baru kenyang setelah kabar saat itu. Dia dan Amel juga sudah membelikan Letha banyak makanan seperti permintaan wanita yang mudah lapar akhir ini.
"Loh gak lanjut lagi, Tha? Masih ada dua mangkok loh yang pengen gw pesen?"
Nayla bertanya membuat yang lainnya mengalihkan intensi pada mereka berdua. Letha hanya menggeleng pelan seraya mengunyah siomay yang masih tersisa di dalam mulutnya.
"Mau diet soalnya waktu gw ngaca, gw liat tambah gemuk! Nanti jadi jelek, gak cantik lagi." kata Letha.
Semua saling berpandangan menatap Lesya bergantian. Sudah mereka duga jika kabar ini pasti tak berlangsung tertutup lebih lama karena Letha lah orang yang mengalaminya.
Ken, Farel, juga Frans sudah tahu dari cerita Revan mengenai kondisi Letha yang kini berbadan dua. Mereka juga sudah tahu mengenai rencana Lesya dan ikut andil dalam menuruti beberapa keinginan bumil muda itu.
"Enggak kok, Tha! Lo itu lucu kalau gemuk begitu kan jadi makin kiyowo diliat, iya gak gays?" tanya Amel meminta persetujuan teman-teman yang ada di sana. Mereka mengangguk kompak walau dengan raut wajah sedikit tegang.
"Eh iyakah? Oh iya gw mau curhat!" antusias Letha yang tiba-tiba saja ingin bercerita. Semua hanya menatap dan mendengarkan dengan baik curhatan Letha. Walau yang lelaki tampak sedikit meringis dengan curhatan Letha.
"Gw sebenanarnya kenapa sih?" tanya Letha. "Setiap pagi muntah terus, tapi cuman cairan putih yang ada. Terus---"
"Ayo ke lapangan, bentar lagi katanya mau pengumuman!" sela Lesya cepat
Setelah mendapatkan balasan pesan dari wali kelasnya, Lesya menjadikan hal tersebut alibi agar menghindaIya, bu Bunga maksud Lesya. Lesya kan bertanya dengan ponsel pintarnya kapan dimulai acaranya pada wali kalas. Dan kata guru BK akan dimulai sebentar lagi, hanya perlu berkumpul saja.
"Tapi--
"Ceritanya nanti aja, gw gak sabar denger pengumuman." sela Lesya lagi dengan cepat dan menarik yang lain agar pergi dari sana. Bisa hancur solusinya jika Letha bercerita dan di antara teman-temannya yang membocorkan. Kan mulut mereka lemes seperti belum diservis oleh montir profesional!
"Yah, kenapa sih setiap gw mau tanya begitu Kakak selalu potong?" gumam Letha yang mulai merasa aneh. Dia akhirnya berjalan dan menurut saja saat diajak ke lapangan sekolah.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Suasana tampak tegang saat acara sudah dimulai. Setiap kelas diharuskan berbaris rapi dengan seragam lengkap mereka. Tak ada yang berbicara selain guru yang melantunkan pidato singkat. Acara tampak tegang mendengar pengumuman kelulusan mereka.
"Dan semua dinyatakan … lulus!"
WUUU…
Sorakan begitu menggema saat ini. Semua memeluk temannya satu sama lain karena terharu. Namun, ada pula yang tak memeluk temannya karena takut disangka belok. Guru-guru juga memberikan selamat dan tepuk tangan yang meriah untuk siswa-siswi yang selama ini mereka didik.
"Yeyyyyy lulus woyyy!! KITA LULUS GAK NYANGKA GW!!" heboh Luna hendak memeluk Lesya. Naas sayang, rupanya Lesya lebih dahulu menghindar dari serangan dadakan Luna itu. Tak ada orang tua saat ini karena acara khusus pemberitahuan untuk siswa-siswi saja.
"Tes-tes, diharapkan semua tenang! Saya hanya mau mengingatkan jangan lupa datang dan harap menggunakan baju wisuda kalian yang akan dibagi untuk datang ke acara nanti malam. Lebih tepatnya di aula sekolah akan diadakan pembagian nilai tertinggi di sekolah sekaligus pergantian pemilik sekolah."
__ADS_1
Suara pak Rio--kepala sekolah mereka terdengar setelah menyatakan kelulusan siswa-siswi didiknya. Semua orang masih belum tahu siapa pengganti pemilik sekolah karena saat carnaval hari itu, berlangsung gagal menyatakan.
"Gak cuman itu, kalian undang orang tua kalian untuk mewaliki kalian di acara resmi kelulusan kalian semua. Setelah acara, kalian juga boleh bebas melakukan atau menunjukkan bakat apapun yang kalian punya." jelas pak Rio.
"Sekali lagi saya ucapkan selamat karena kelulusan kalian, terlebih pada kamu Aleesya, akhirnya guru-guru bisa lepas kamu dari sekolah ini." ucap pak Rio dibalas kekehan dari semua muridnya.
"Dih Bapak, bilang aja kalau bapak gak rela lepas saya yang cakep ini, mau dikemanain Bu Bunga? Aduh Bapak udah tua masih aja genit sama saya!"
Lesya yang mendengar namanya disebut dari atas, segera angkat bicara dengan kepercayadirian yang tinggi. Semua sontak tertawa dengan penuturan mantan penguasa sekolah mereka. Iya, mereka sudah 'mantan' karena sudah lulus. Yeyyy akhirnya bisa lulus!
"Ya-ya, terserah kamu aja. Terpenting kalian jaga kesehatan buat acara nanti malem, paham anak-anak?" tegas pak Rio beralih meletakkan microphone yang dia pegang pada podium di depannya.
"Paham Pak!" kompak mereka.
Melihat guru-guru yang sudah kembali, acara kini diambil alih oleh para siswa-siwi. Mereka mulai menandatangani seragam satu sama lain juga menebar pilox mini yang ada untuk mereka semprot.
"Tanda tangan dong, Sya!" pinta Luna memberikan spidol hitam kepada sahabatnya. Lesya menoleh dan menandatangani seragam Luna namun dibagian punggung. Iya, dipunggung karena jika di dada katanya buat Valen.
"BTW, tanda tangan gw mahal anj*r, berani bayar berapa lo?" ucap Lesya setelah selesai menandatangani seragam Luna dengan namanya.
Luna mendengus malas, selain galak, kejam, humoris, juga setia, sahabatnya yang ini agaknya terlalu percaya diri dengan tingkat ketinggian.
Lesya terkekeh melihat raut wajah Luna. Dia menyuruh Luna balik menandatangani di ujung seragamnya saja. Kalau kata Lesya, sengaja disuruh di ujung seragam karena dia menghargai harga seragamnya itu.
"Udah, Lis mau gak lo?" tawar Luna.
"Sekalian nih, seragam gw penuh anjr gara-gara anak-anak Tiger minta nitip tanda tangan! Di kira gw tempat penitipan apa ya?" kesal Lisa sedikit menunduk hendak melihat tanda tangan Luna juga Lesya di seragamnya.
"Tanda tangan si Luna ngapa jadi ada huruf ‘y’ lah? Nama aja gak ada huruf 'y' nya juga." heran Lisa. Sang empu nama yang disebut hanya menyengir kuda saja. Sekedar iseng saja dan terbiasa meletakkan huruf ‘y’ di tanda tangannya.
"Kak, minta tanda tangan dong!" pinta Letha dan dituruti oleh sang empunya panggilan. Saling bertukar tanda tangan walau mereka agak kesal karena tanda tangan mereka hanya di ujung seragam Lesya. 'Kan rasanya ingin menggempar tapi tak bisa, takut diamuk pawangnya.
"Ngapain sih minta di ujung? Mending di punggung kalau gitu." sewot Lisa yang agak kesusahan saat menandatangani seragam Lesya. Sang lawan bicara hanya tertawa lucu. Hemat, katanya.
"Udah noh, Mel, Nay, harap maklum ya sama manusia satu ini, keberadaannya sangat dijaga karena hampir punah dari habitatnya." ucap Lisa tersenyum paksa kepada dua teman Letha yang sudah selesai bertukar tanda tangan.
"Kampr*t lo Lis," umpat Lesya.
"Eh liat noh laki lo digerubung cewek gara-gara minta tanda tangan! Gak yakin gw gimana caranya Kutub nolak ahaha…" Lisa tertawa lucu melihat raut wajah sepupu bungsu di keluarganya.
"Nyari mati mereka ya sama gw?"
Mereka berlima hanya dapat tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. Sontak terbubar saat satu orang menyuruh pergi setelah melihat tatapan tajam 'mantan' penguasa sekolah mereka.
Elvan menghela nafasnya karena merasa lega. Hanya dua orang saja yang dia tandatangani. Seragamnya juga hanya berisi tanda tangan teman-temannya saja. Lesya segera berhenti dan melipatkan tangannya di dada.
"Kenapa? Kecewa hah?" ketusnya sewot.
Elvan beralih merangkul pundak Lesya dan tersenyum simpul. Raut wajah sang istri yang cemberut menambah kesan lucu di mata Elvan walau tatapan tajam bak kucingnya tetap masih on.
"Enggak, soalnya yang pantes di samping gw kan cuman lo." kata Elvan. Lesya hanya memicingkan matanya curiga saja. Setelah melihat kekosongan dari seragam Elvan yang cukup banyak, kini dia berinisiatif untuk mengisinya.
"Mau tanda tangan? Jangan deh soalnya nama lo udah ada di hati gw, takut penuh jadinya susah buat nafas doang!" ucap Elvan serius membuat sudut bibir Lesya terangkat walau tertahan.
"Cieee… Kiw, lanjott Pak, jangan kasih kendor!" semangat Ken juga Revan bersamaan. Disusul oleh kelima teman-teman Lesya, sorakan terdengar begitu ricuh hingga membuat Lesya harus mau tak mau menahan senyum.
"Hatinya dibelah dulu biar gw buktiin bener atau enggaknya ada nama gw di sana!" ucap Lesya mengambil spidol dan menandatangani seragam Elvan. Sayangnya, tanda tangan Lesya agak melenceng karena ucapan Elvan lagi.
"Tapi nanti kasian gak ada yang jadi ayah dari anak-anak lo!"
"JIAKKKKHH!! CAPEEK-CAPEK JDERR!!"
Lisa yang tanpa sengaja melihat hasil tanda tangan Lesya bersorak lebih heboh. "Tanda tangan yang bener, Sya! Satu orang satu jatah tanda tangan." ledek Lisa bersorak dan tertawa lucu.
Lesya hanya diam saja dan segera melempar spidol ke sembarang arah. Tak peduli jika mengenai salah satu teman seangkatannya.
"Stoppp! Spidolnya yang kelempar duluan ya." elak Lesya tak mau disalahkan.
CUKUP, sudahi hal ini. Dia bisa sesak nafas mendenga godaan dari para manusia-manusia tanpa akhlak ini.
"Pake acara bo'ong lo, gw liat loh Sya!"
Luna kembali menyahut dengan menampilkan wajah tengil sekaligus alis yang naik turun. Lesya menatap datar yang lainnya dan segera merebut spidol yang berada di tangan sahabatnya.
Segera Lesya meletakkan tanda tangannya cukup besar agar tak kembali diledeki oleh teman-teman mereka.
"Ayo Pak tanda tangan balik di seragam Bu boss!" ucap Ken yang menjadi pembicara dalam acara dadakan di tengah-tengah kerumunan mereka.
Kelima teman Elvan tampak berseru heboh. Bahkan Farel dan Frans juga kini menunjukkan sikap humoris mereka.
__ADS_1
Para kelima teman Lesya juga sudah saling berbagi tanda tangan di seragam teman Elvan. Iya, Amel, Nayla, juga Letha sudah dianggap teman walau agak kesel dengan kejadian sebelumnya.
Mengangguk setuju, Elvan balik merebut spidol di tangan Lesya dan mencari tempat untuk dirinya tanda tangani.
Padahal masih banyak tempat yang tersisa karena Lesya menyuruh kelima temannya meninggalkan jejak di ujung seragam, bukan bagian lain seragam.
"Di mana ya?" menolog Elvan.
"Di hatiku, eaaa …" jawab Lesya yang ingin memutar balikkan suasana. Bukan mendapat seragan untuk Elvan, justru Lesya merasa geram dengan ejekan yang terlontar padanya. Memang aneh, selalu dia yang menjadi sasaran!
"GARINGG! Echa kalau ngengombal pake nada romantis anjr jangan datar begitu! Gak dapet feeling nya tau." ejek Luna memeletkan lidahnya. Lesya segera berbalik dan menginjak kaki Luna hingga sang empu hanya meringis sakit.
Elvan berbalik dan menahan Lesya dari belakang. Membalikkan tubuh gadis itu, Elvan segera menandatangani di bagian dada Lesya. Sudut bibirnya beralih mengulum senyum ketika mendengar ucapan sang istri setelah selesai meninggalkan jejak tangannya. Menggombal kah? Oke, Elvan ikuti.
"Permen apa yang manis?" tanya Lesya.
"Permen kiss." jawab Elvan.
"Salah, jawabannya candy!" ucap Lesya mengoreksi membuat alis Elvan menyatu karena bingung dengan maksud jawaban dari Lesya. Candy? Bukannya candy itu permen? Pikir Elvan bingung.
Namun, kebingungannya berubah menjadi gemes sendiri mendengar kelanjutan pembicaraan. Bahkan tak hanya Elvan, teman-teman mereka juga bersorak heboh dengan gombalan Lesya. Maksudnya, mereka juga cukup heboh karena suara lembut nan tulus milik ketua Lion Claws itu. Moment langka ini!
"Can I still be yours forever? (Bisakah aku tetap menjadi milikmu selamanya?)" polos Lesya sengaja melembutkan nada bicaranya dengan tulus.
"Whoooo …"
"Jago gombal juga lo, Sya!" kaget Luna.
"Woiya dong, gw gitu loh!" bangga Lesya mengibaskan rambutnya. Elvan mendadak diam sejenak karena cukup kaget dengan gombalan Lesya. Selama ini Elvan belum pernah merasakan perutnya seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu yang sedang berterbangan.
"Tau gak hal yang termanis dari lo?" tanya Elvan menangkup kedua pipi Lesya. Semua hanya diam menyimak dengan raut wajah memerah karena ikut baper dengan gombalan yang terdengar geli bagi duo es batu, maybe.
Sang lawan bicara mengangguk bangga seolah yakin dengan jawaban dalam benaknya. "My heart?" jawab Lesya meminta benar salahnya jawabannya.
"Itu salah satunya, tapi selain itu!" koreksi Elvan geleg-geleng kepala. Berbeda dari pasangan ini, teman-teman mereka hanya menggigit bibir bawah mereka dengan keromantisan duo es batu yang meleleh. Sekali meleleh sangat menggemparkan ya sobat!
"Apa dong?" polos Lesya bertanya.
Elvan tersenyum dan berbisik pelan. "Your lips, babe! May I touch it? (Bibir kamu, Sayang! Boleh aku menyentuhnya?)" bisik Elvan pelan membuat Lesya sedikit merinding. Namun, dia terkejut dengan hadirnya benda tak bertulang tepat di bibirnya.
Kesepuluh teman mereka melongo tak percaya dengan aksi 'mantan ketua OSIS' mereka. Beruntung mereka mengelilingi cukup rapat sehingga kejadian tersebut tak dapat dilihat teman-teman seangkatan mereka yang lainnya. Lagi pula Elvan dan Lesya juga sedikit menunduk, jadi tertutup.
"LIVE STREAMING WOY!!" heboh Revan.
Lesya agak tersentak saat dirinya tak kembali merasakan hal apapun lagi yang menimpa bibirnya. Itu artinya kejadian berlangsung selama 7 detik saja.
Beruntung hanya Nayla juga Amel yang masih rada-rada polos di sana, sehingga matanya harus ditutupi dengan telapak tangan Ken juga Frans.
"Enak gak Bos?" tanya Ken polos dengan tangan yang sudah menurunkan tangannya. Sang empunya nama hanya mengangguk saja mengiyakan ucapan teman gesreknya itu. Dia masih waras untuk sadar jika berada di lingkungan sekolah. Jika tidak, Elvan juga pasti tak akan akan tinggal diam begitu saja.
"$hit, kaget gw ya Pan!" umpat Lesya meninju lengan Elvan cukup keras.
Sang empu hanya mengulum senyum walau sedikit meringis dengan tinjuan Lesya. Lagipula, Lesya juga jujur kok kalau dia terkejut dengan tindakan Elvan. Dadakan, kayak ulangan senam jantung.
"Lagi dong!" pinta Luna polos.
"Luna, Sayangku, jangan sekarang ya cantik! Nanti gw kasih kalau udah halal, oke?" sahut Valen merangkul pujaan hati dan mengencup sekilas pipinya.
"Oke Sayang!" balas Luna menyengir.
"Nanti kita liat yang lebih hot di bar!" sahut Lesya menampilkan senyum aneh di bibirnya. Lisa dan Luna berpandangan dan mengangguk setuju dengan ajakan Lesya. Pada akhirnya ajakan tersebut dibatalkan karena tolakan keras dari Elvan juga Valen. Ketua juga wakilnya sedang mode posesif hari ini.
"Gw jomblo ya anjr, plis hargain!" sahut Ken mendrasmatir. Semua tertawa lucu dengan playpoy kelas teri yang saat ini sudah tobat. Sejenak Ken melihat Nayla, ide terlintas di benaknya.
"Nay, pacaran yuk! Kalau gak cocok, kita pisah baik-baik, tapi kalau cocok kita tunangan." lanjut Ken bernegoisasi.
"Kata lo kemaren gw pacar lo, gimana sih? Kita kan pacaran Kentang, nugget, jamal!" kesal Nayla menoyor pelan kepala Ken yang pelupa.
"Omaigad, gw lupa pula! Aduhh, iya Sayangkuu, iyaa..." Ken meringis pelan di kala Nayla berkali-kali beralih memukul pelan punggungnya.
"Busettt, tinggal gw yang jomblo!" lirih Lisa.
"Gw juga kali Lis," sahut Revan tersenyum tipis dari samping Lisa.
Sang empu menoleh dan tersenyum tipis. Selama ini dia sadar dengan sikap lembut Revan pasti ada maksud lebih dari lelaki itu. Lisa tak bodoh untuk membedakan teman yang sewajarnya dengan teman yang biasa saja.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
__ADS_1
Yang nunggu bucin angkat kakinya yokk🤙🏻