
Episode 418: Peace Chapter
Hari libur yang biasanya digunakan untuk bersantai kini berubah. Sang pemilik nama tengah Aleesya yang dahulu penggemar bermalas-malasan kini berubah menjadi rajin. Baik pagi, siang, maupun malam selalu saja diisi dengan membaca buku dan buku.
Contohnya saja, saat bangun tidur tepat jam enam pagi, gadis itu justru sibuk berkutat menghafalkan dan memahami dasar pelajaran. Saat hendak mandi, Lesya juga harus dibopong paksa ke dalam, saat makan di ruang makanpun harus menggunakan buku. Ckck, mari beri tepuk tangan yang meriah dulu untuk perubahan sang pemeran utama kita!
Elvan saja menghela nafas melihatnya. Dia memang ingin gadis itu menjadi pribadi lebih rajin tapi-- BUKAN BEGINI RAJINNYA. Jika begini, sama saja artinya sedang merusak kondisi mata gadis itu. Untung saja sejak awal Elvan menyuruhnya menggunakan kacamata baca agar tak terlalu berbahaya.
Mayang dan Angga yang melihat menantu kecil mereka sibuk belajar dan terus belajar sama sekali tak mempermasalahkannya. Bagi mereka, sifat itu mengingatkan mereka pada sosok mendiang Mila yang selalu punya ambisi dan tekad kuat dalam suatu pekerjaan juga pendidikan.
Hari-hari telah berlalu hingga tak terasa ujian berlangsung. Selama ujian Lesya sama sekali tak merasa kesulitan. Otak cerdasnya itu hanya membutuhkan pengasahan sejenak. Karena dia dahulu merupakan salah satu juara hingga olimpiade mendunia, tak sulit untuk kembali mengingat pelajarannya.
Hari-hari sudah berlalu begitu banyak hingga tak terasa ujian akhir penentuan kelulusan sudah tiba. Para siswa-siswi sudah duduk dengan tenang sesuai nama abjad awal nama mereka. Selama ujian berlangsung, Lesya dan Luna tidak masuk dalam satu ruangan yang sama.
Menurut Lesya, hal tersebut pantas saja karena sahabatnya itu berawalan inisial 'A' sementara namanya diawali dengan inisial 'Z'. Lesya hanya satu ruangan dengan Elvan, Valen, juga adik kembarnya, yang tak lain adalah Letha.
Aih, berbicara mengenai sosok Letha, kembaran dari Lesya itu kini sudah terlihat lebih kalem. Bahkan dia sudah tak lagi mengganggu ketenangan kakaknya dengan idolanya.
Letha cukup kapok dengan pengajaran yang diberikan Elvan. Walau sudah diberi makan dan minum yang sangat bergizi, tetap saja Letha merasa cukup kapok.
Selain diletakkan di ruangan gelap dengan minim cahaya, dia juga saat itu juga Elvan melepaskan harimau kesayangannya agar dapat berkenalan dengan Letha. Namun, menurut pemikiran Letha, Elvan hanya mau dirinya merasakan sebuah ganjaran kuat.
Mengingat tentang hal itu, selama mengerjakan ujian Letha merasa adanya mata yang mengawasi. Dia cukup merinding bahkan hampir saja trauma jika Lesya tak segera membujuk Elvan untuk melepaskannya. Dia termenung sejenak. Ternyata benar apa kata pepatah: don’t judge a book by its cover.
Ternyata, idola yang selama ini dia bangga-banggakan tak sesempurna dia kira. Idola yang selalu dia idam-idamkan hingga dia rela bertengkar hebat dengan sang kakak kembarnya, ternyata tak sebaik yang dia kira. Dan pada nyatanya, saat ini sosok Elvan adalah sosok pemilik sifat sangat sadis untuknya!
Sebegitu cintanya kah idolanya itu pada kakaknya?
Ha-ha.. Dia bod*h rupanya karena rela terlihat rendah demi cinta seorang lelaki. Padahal selama ini jika dilihat, sang kakaknya itu cukup membantunya. Letha sudah tahu tentang semua perbuatan Lesya padanya. Semua itu dia ketahui dari Luna, sahabat sang kakaknya.
Ya, sebelum Lesya berkunjung, di hari-hari sebelumnya Luna, sahabat kakaknya itu mendatanginya yang masih terkurung di ruang bawah tanah markas Tiger Wong. Dan di sana Luna memarahinya bahkan menceritakan semua kelakuan Lesya dibalik semua suasana kedamaiannya selama ini.
Mulai dari blackcard yang dia kira dari Gilang. Semua penyelamatnya saat dia dalam bahaya. Bahkan dia juga sadar saat dirinya yang terkena bullying, tetap ada sang kakak yang melindunginya walau wajah kakaknya itu memar.
Dia tak sadar atau tak tahu diri?
__ADS_1
Diliriknya dengan kedua bola matanya ke arah meja sebelahnya. Walau meja mereka masing-masing diberi jarak, Letha dapat lihat wajah kakak kembarnya. Rupanya dibalik wajah sangar datarnya, Letha baru sadar jika sang kakak tak memoleskan diri dengan make-up. Wajah cantik dan natural.
Letha mendadak gugup dan berpura mengerjakan ujiannya saat mata tajam sang kakak mengarah padanya. Lesya memang melihat bagaimana tatapan sang adik padanya. Karena sedikit risih dan kurang focus pada soal matematika yang dia kerjakan, akhrinya Lesya balik menatap dengan pandangan datar.
Jujur Lesya tak berniat memasang wajah datar. Namun, karena memang sudah terbiasa menatap orang dengan pandangan datar, Lesya merasa aneh pada setiap orang asing yang dia tatap. Mengapa jadi takut? Pikir Lesya.
...✏♒︎♒︎♒︎♒︎♒︎...
"Oittt!"
Lesya tersenyum tipis dan mendudukkan dirinya di bangku kosong yabg berhadapan dengan Luna. Namun dia merasa sedikit terkejut sekaligus tak enak pada Lisa yang sejak kapan juga ikut bergabung dan duduk di sebelah Luna saat dia juga hendak duduk.
"Nah makan minum lo pada. Jangan lupa abisin mumpung gw traktir nih bosque!"
Lisa berkata demikian seraya meletakkan nampan di meja mereka. Alis Lesya terangkat satu saat melihat perubahan raut wajah Lisa yang lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya.
"Santai aja kali Sya, gak usah gitu natepnya! Jatuh cinta awas lo ya." canda Luna menggoda sahabatnya karena mengetahui kebingungan Lesya di depannya. Sang pemilik nama hanya menyentil pelan kening sahabatnya.
"Sembarangan lo."
Lisa sedikit tertunduk dan kembali melanjutkan ucapannya. "Selama ini juga gw sibukin waktu sendiri cuman bagi-bagi penenang pikiran aja. Dan setelah ujian MTK tadi, gw berasa dapet pencerahan. Kalau Leon emang takdirnya bukan bersatu sama gw di sini, berarti di alam sana gw yakin, kalau Leon jodoh gw." sambungnya tersenyum tipis.
Luna dan Lesya saling berpandangan melihat sosok Lisa yang mereka kenal kembali. Lisa yang selalu berbicara dengan tangan bergerak seolah mempraktekkan ucapannya, sekarang kembali. Tapi sedikit lucu bagi mereka.
"Udah, bagus kalau lo udah sadar."
"Ready? " semangat Luna.
"Cheers…" kompak mereka bertiga lalu sama-sama mengangkat jus jeruk yang dipesan dan menyatukannya bersamaan. Mereka meneguk setengah minuman mereka dengan penuh perasaan.
"Ah, mantap!" lega Luna.
"Wanjaay pawang Alien ngede$ah." ledek Lisa. Sang pemilik nama hanya menyatukan telunjuknya pada bibirnya.
"Shutt, diam dulu! Gw ke toilet dulu euy." pamit Luna lalu tergesa-gesa berjalan ke arah toilet yang berada di kantin.
__ADS_1
Entah mengapa perutnya itu mendadak sedikit sakit setelah memakan satu bakso cukup besar juga pedas. Aduhh, Luna lupa jika dia sendiri tak terlalu kuat makan makanan pedas. Dasar Luna..
"Gw masih bingung di balik perubahan lo Lis," gumam Lesya yang rupanya masih dapat didengar oleh Lisa. Gadis yang dibingungkan oleh Lesya itu tampak tersenyum tipis dan mendekatkan diri agar dapat berbisik pada Lesya.
"Waktu di pemakaman Leon, salahin laki lo yang buat gw sadar sekarang." bisiknya lalu tersenyum penuh makna. Lesya mengeryitkan alisnya bingung dengan bisikan Lisa. Di pemakaman Leon? Laki dia? Pikir Lesya bingung.
"Maksud lo Elvan?"
Lisa mengangguk sekilas saat melihat raut bingung Lesya. Fyi, dua orang yang ikut menguntit Lesya hingga berada di pemakaman Leon itu adalah Elvan dan Lisa. Buat yang ngerasa tebakannya benar sini angkat kakinya yukk…
Lesya membalikkan badannya dan menatap circle pertemanan Elvan. Dia masih bingung namun sedetik dia paham setelah mencerna dan memahami dengan baik satu demi satu ucapan Lisa sebelumnya. Jadi, dia dikuntit? Wah?!
"Dia sayang banget ya sama lo, Sya? Gw harap lo jangan kecewain dia! Sepupu gw cucu terakhir apalagi satu-satunya cucu laki-laki di keluarga Grizi juga Grey. Dia ngelakuin apa aja asal lo seneng, gw harap lo gak buat dia sakit hati."
Lesya terdiam mendengar ucapan Lisa. Benar, selama ini memang banyak sikap berkorban yang dilakukan lelaki itu untuknya. Dia sedikit tersentak kaget dengan kata-kata Lisa selanjutnya yang terdengar sedikit frontal baginya.
"Contohnya udah usaha kembang biak gak? Kasian amat sih sepupu gw gak pernah dibelai sama lo, ketemu cewek lain mamp*s lhoo…" goda Lisa lalu tertawa cekikikan melihat raut wajah galak Lesya yang menatapnya kesal.
"Lisa?!" peringat Lesya.
"Apa sih hem? Orang gw bener kok. Coba lo pikir, sepupu gw tuh ganteng, tajir, pinter, tinggi, putih, istilahnya mendekati sempurna lah. Gw sebagai sepupunya juga pengen punya pasangan yang sama levelnya kayak laki lo." ucap Lisa sedikit serius. Catatt, hanya sedikit gays!
"Di luar sana banyak cewek panggoda yang matanya hobby nyari cowok tipikal sepupu gw. Coba lo pikir, laki-laki normal gak semuanya bisa tahan naf$u nya. Kalau oleng dikit aja, posisi lo terancam, Sya." sambung Lisa lagi mulai serius.
"Gak mungkin!" bantah Lesya.
"Why impossible? Kedudukan aja dia punya, wajah juga gak diraguin lagi, pinter juga iya, body masih cukup loh, gimana yang gak mungkin kalau dia mendekati kata sempurna?" tanya Lisa membuat Lesya terdiam seribu bahasa.
"Saran gw ya, jaga baik-baik laki lo! Kecantol satu cewek aja bisa getar hati dia." ucap Lisa sedikit memberi nasihat. Lesya yang terdiam sedikit tersentak mendengar suara sahabatnya yang tiba-tiba ikut nimbrung dalam obrolan.
"Bener tuh, Sya. Apalagi zaman sekarang kalau cewek sama cowok berduaan, yang ketiga nya settan. Lebih parah settan panggoda di luaran sana noh." timpal Luna mengagetkan keduanya.
"Sejak kapan lo nguping?"
"Kalem sist, barusan sih sebenarnya."
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗