Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
383: Need a Support


__ADS_3

Berbeda dari pada yang lainnya, justru di dalam sebuah ruangan hanya terdapat keheningan saja. Kedua pasutri enggan seperti membuka mulut mereka. Lelaki remaja yang sudah mengobati luka sang istri, akhirnya meletakkan kotak P3K di atas lemari kecil yang ada.


Dinginnya penyejuk ruangan atau dapat di sebut Air Conditioner sama sekali tak mempengaruhi mereka. Dibalut oleh pikiran mereka masing-masing, wajah mereka juga sama-sama menampilkan ekspresi datar khas mereka masing-masing.


"Kalau udah keluar! "


Tiga kata yang terlontar dari mulut Lesya membuat Elvan menoleh dan mengangkat satu alisnya. Menatap lekat wajah di depannya, Elvan sama sekali tak dapat paham bagaimana lika-liku jalanan hidup perempuan di depannya.


"Gw masih mau di sini."


Tampak kening seorang gadis berkerut bingung dengan kata-kata yang dilontarkan sang lawan bicaranya. Dia terkekeh pelan lalu beralih memeluk lututnya sendiri. Bukan karena dingin namun karena itu sebuah kebiasaan saat hendak menutupi wajahnya sendiri.


"Emang lo mau sama perempuan yang baru aja keguguran, buta, bahkan punya sakit mental? Modelan kayak gw? "


Elvan terdiam. Dia memilih duduk di salah satu kursi yang ada dan melipat kedua tangannya di dada. Lelaki itu tampak memperhatikan setiap gerak-gerik bahkan memperhatikan kata demi kata yang terlontar di setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya.


"Andai gw gak pergi ke rooftop tadi, pasti gw gak bakal diculik dan perang tadi gak bakal terjadi! Gw bisa liat dunia, gw bisa pertahanin janin gw, dan bahkan gw gak perlu masuk rumah sakit gini."


"Andai gw nurut gak keluar rumah lewat jendela, pasti kaki gw yang mau loncat gak kesleo kena besi di bawah."


"Andai gw gak pernah hidup dan menghilang dari dunia, pasti gw gak perlu ngerasain kejamnya dunia sama hidup gw. Kerasa dimainin tau gak! "


"Andai gw gak pernah ngangkut dan nerima Vion di hidup gw, gw gak perlu ngerasain gimana sakitnya dikhianati sama orang yang gw percaya selama ini! "


"Andai papi masih hidup, Lyra jadi anak yang paling beruntung di dunia ini! "


"Andai daddy gak ngelakuin hal int*m sama mami, Lyra gak akan pernah hidup sebagai anak pembawa sial! "

__ADS_1


"Andai mami gak pernah kerja di bar dan gak satu sekolah sama daddy, mungkin pertemuan mereka yang gak sengaja bisa ketuker! "


"Tapi, kalau mami gak sekolah di sana, gak bisa ketemu papi juga! Huffttt, kacau banget sih hidup gw?! "


Lesya membenamkan wajahnya di dalam lututnya dan memeluk lututnya. Perlahan isakan-isakan kecil kembali terdengar di ruangan itu. Dan secara sengaja Elvan tak angkat suara ataupun menenangkan Lesya. Tujuannya agar semua yang dirasakan tercurah tanpa sembunyi. Elvan paham itu.


"Haha.. Lucu ya hidup gw? Arghhh?! "


Lesya kembali mencakar lengan atasnya sebagai bentuk pelampiasan dirinya. Elvan yang kaget pun akhirnya menghentikan tangan Lesya yang membuat goresan walau bagian lengan atas ditutupi baju seragam. Ahh, iya mereka masih menggunakan seragam saat ini. Namun seragam mereka kotor.


"Lepas?! Lepasin gw?! "


Lesya memberontak meminta dilepaskan. Lagi, secara tak sengaja Lesya mencakar tangan Elvan hingga menimbulkan bekas luka gores. Elvan yang merasakan hanya meringis pelan tanpa suara. Sadar dengan siapa dia berhadapan di ruangan, Lesya akhirnya terdiam setelah menyadari kukunya yang asal menggores dengan mudahnya.


"Jangan sakitin diri sendiri! Semua yang lo alamin udah terjadi, makin lama lo mendem, makin besar rasa yang lo simpen! " kata Elvan tiba-tiba entah dari mana kata-kata pengucapan nya itu.


"Gak mauuu.. Pergi?!! "


"Oke, tapi nanti gw ke sini bawa baju baru buat lo ya? Lo masih pake baju seragam." lembut Elvan pasrah. Lesya mengangguk pelan lalu beralih menutup kedua telinganya dengan ttangannya


Lesya merasakan elusan di kepalanya. Bahkan keningnya terasa hangat saat merasakan sebuah kecupan sedikit lama dari bibir seseorang. Diam tak bergeming, Lesya hanya tak tahu jika dia harus berekspresi bagaimana sekarang.


Setelah merasakan dari telinganya mendengar pintu yang sudah terkunci, Lesya menutup matanya. Rasa menyalahkan dirinya sendiri menyelimuti nya. Memeluk erat lututnya, wajahnya disembunyikan di antara kedua lututnya. Tak lama dari sana dia memejam seolah ingin memasuki alam mimpi hingga tertidur.


...〰〰〰〰〰〰〰✍...


Seseorang yang keluar dari ruangan putih beralih mendudukan dirinya di salah satu bangku di sana. Lorong itu tampak sepi tanpa satupun orang selain dia. Mengusap wajahnya kasar, dia tak tahu harus berbuat apa selain berdo'a dan pasrah. Pertama kalinya dia mengalami goncangan hidup sebesar ini.

__ADS_1


Memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lelaki itu tak dapat berpikir jernih. Baju seragam yang kotor masih melekat di tubuhnya. Bahkan bau darah dari tubuhnya tak dia pikirkan.


Puk!


Tepukan pelan dari seseorang yang familiar rasanya membuat lelaki itu mendongkak pelan. Mengacak rambutnya, dengan segera lelaki itu beralih memeluk sang bunda yang merupakan pelaku dari penepukan pelan di bahunya. Hanya ada mereka berdua saja di lorong sepi itu. Elvan, lelaki itu mencurahkan rasa putus asanya dengan memeluk sang bunda tanpa suara.


"Sabar Van, coba ikhlas nerima. Lebih berat sakitnya sama Lesya dibandingkan kita karena dia yang ngerasain. Kamu di sini tugasnya support dan dukung di setiap kondisi Lesya. Jangan terlalu nekan dia karena semakin di tekan, semakin berontak dia, paham Vano? "


Elvan menganggukkan kepalanya paham saja. Pelukan hangat dari seorang bunda itu hanya terkadang dia rasakan. Dan jika dia membutuhkan seperti ini, hanya pelukan sang bunda saja yang dapat meringankan sedikit beban pikirannya. Ingat ya, hanya sedikit saja!


"Terus gimana ujian nanti bun? "


Mayang terdiam. Benar juga jika dipikir-pikir. Lesya juga tiga minggu lagi akan melaksakan ujian akhir kelulusan. Tak mungkin diundur karena jika demikian, maka Lesya akan tinggal kelas.


"Kalau Lesya membaik mentalnya, dia bisa ujian langsung tanpa lisan. Makanya do'ain aja biar makin baik. Tadi liat kan? Sekedar buat berdiri dia bisa walau dipaksa. Itu artinya, dia mau sembuh cuman syok karena keguguran sama gak bisa liat lagi." ujar Mayang mengelus anak rambut sang putra.


"Bunda pulang aja, kasian Ayah."


"Gak papa, bunda udah izin kok nginap kali ini aja sama Ayahmu! Lisa juga tadi pamit ke toilet sekalian mau ke ruangan Leon jengukin pacarnya. Ganti baju gih, bau darah! " kata Mayang memberikan dua paperbag yang sempat dia ambil di bagasi mobilnya saat pergi tadi.


Elvan melepaskan pelukannya dan baru saja menyadari jika dia masih menggunaan almamater OSIS nya namun berjaket kebanggaan King Tiger Wong. Menerima paperbag yang dibawa oleh bundanya. Pamit ke toilet untuk berganti baju, Mayang yang melihat sang anak sudah pergi hendak memasuki ruangan menantunya. Sebelumnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu agar penghuni tak kaget.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


Oke, just fun gayss..

__ADS_1


First, sorry btw Lesya nya dibikin sakit mental dulu. And, sorry because pertanyaan kalian tentang kehamilan Lesya bikin bingung tapi okelah, mungkin ini konsekuensinya buat author. Jangan bosan yaa baca novel Lesya ini! I'm need you all and you need me. Hargai pliss🙏🏻


Finally, thanks for your support gays!!


__ADS_2