Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
17: Alam


__ADS_3

Cincin yang bertengger manis dijari Lesya membuat jantungnya berdebar. Dia hafal betul dengan pesan pendeta sebelum dipersilahkan pulang.


'Ingat, jangan pisahkan sesuatu yang sudah menjadi satu dihadapan Tuhan kecuali maut!'


Selain itu, dia masih berharap jika maminya datang ke acara pentingnya.


"LESYA SASA! " Suara familiar terdengar di telinganya. Dia tersadar dan menatap tajam sahabatnya itu.


"Hehe, mangap Sa, lo tau gak? Bang Alam dateng ke sini loh. Waktu gw pengen datengin dia malah ngobrol ama cewek loh, jadi gw kagak datengin" bisik Luna.


Lesya melotot. Sejak kapan abangnya itu berselera dengan perempuan? Bahkan menikah saja dia takut. Takut berpisah seperti orang tuanya.


Beruntung dia mempunyai ibu tiri yang baik dan perhatian dengannya tulus dari hati. Tak seperti ibunya yang kejam bak ibu tiri.


"Serius lo? Dimana? Bukannya dia anti sama cewek ya? " Luna menunjuk Alam dengan jari telunjuknya.


Lesya mengikuti tunjukkan Luna. Benar saja, Alam sedang bercanda dengan perempuan yang familiar.


"Kak Elena! " Luna terkejut. Dia mengingat siapa Elena.


"What?! Elena yang kakaknya si ketos? " Lesya mengangguk.


"Fck! Gw ganggu ah kikiw! " Sontak Lesya memukul bahu Luna sedikit keras.


"Aww, canda Sya gak usah nabok kali! Kagak mungkin gw ngegangguin abang gw yang mau PDKT-an" Lesya melotot.


"Tauk ah, selamat buat lo jangan lupa besok traktir gw" Lesya mengangguk saja.


"Permisi ketos, jagain sahabat gw ya. Jangan nyampe nangis dan makannya diperhatiin" Elvan menganggukkan kepalanya saja.


Luna mendengus, tak pengantin perempuan dan lelakinya membuat kepalanya pusing.


"Dasar pasangan yang irit bicara! Mudah- mudahan jodoh gw gak kayak mereka, huh?! " Luna melahap makanannya sambil mengoceh tak jelas.


...—...


Elena mengajak Alam bertemu orang tuanya. Alam setuju saja, dia sudah dua tahun berpacaran dengan Elena. Namun dia menyembunyikan statusnya.


Kini dia ingin bertemu dengan orangtua pacarnya sekaligus bertemu adiknya yang baru saja menikah. Dia ingin melihat siapa wanita yang menikah dengan adik pacarnya Elena.


Dia baru saja datang dan mengobrol kepada Elena, sang kekasih. Dia memutuskan untuk mengajak Elena ke jenjang lebih serius.


Keputusannya sudah bulat untuk menikahi Elena. Rasa trauma nya akan pernikahan sudah hilang begitu berpacaran dengan Elena.


Lesya dan Mayang yang sedang berbincang terhenti karena panggilan Elena. Angga dan Elvan yang sedikit berbincang juga terhenti saat mendengar suara Elena.

__ADS_1


"Bunda, liat aku bawa siapa? " Lesya dan Mayang menoleh ke arah Elena yang tengah menggandeng seorang pria.


Alam dan Lesya terkejut. Ralat! Hanya Alam, Lesya sudah tahu Alam akan segera ke sini. Luna yang ingin berbalik kepada Lesya terhenti karena terhalang oleh Alam.


"Bang Alam minggir dong! " Alam berpindah posisi ke samping. Luna menghampiri Lesya dan membisikkan sesuatu.


"Benerkan gw " Lesya mengangguk saja. Dia akan berpura-pura mengenal Alam sebagai abang kandung dari Luna saja.


"Kalian kenal? Lam, ini siapa? " tanya Elena curiga.


"Bang Alam itu abang sepupunya Luna kak" jawab Lesya terlebih dahulu.


"Kenalan dong dek! Elena, pacar Alam" Luna terkejut.


"Pa-pacar? Sejak kapan lo punya pacar bang? " tanya Luna.


"Kepo lo kek dora" Luna mengerucutkan bibirnya kesal tak dijawab.


"Oh, selama ini kamu punya pacar Len? Kenapa gak dari dulu kenalin ke bunda hem? " Elena menyengir.


"Namamu siapa nak? " tanya Angga mengulurkan tangan berniat menjabat Alam.


"Alam om, salam kenal" ramah Alam membalas jabatan Angga.


"Haha, nama lengkapmu maksudnya nak" Alam menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal.


"Saya ayahnya Elena, udah berapa lama pacaran sama Elena? " tanya Angga.


Alam mengangkat kedua jarinya, telunjuk dan tengah. "Dua tahun om" jujur Alam.


Luna yang sedang malahap sepotong kue ditemani Lesya tersedak. Dua tahun? Mulus ya bund! Kenapa dia dan Lesya tak tahu? Pikir Luna.


Lesya berhenti melahap sepotong kue pemberian Luna. Dia tak ada niat untuk memberikan botol aqua kepada Luna. Teman laknat!


"Uhuk, ohok! " Mayang menyodorkan botol aqua kepada Luna.


Luna mengambil dan menghabiskannya perlahan. Dia tahu cara menyikapi orang yang lebih tinggi kastanya. Tak seperti Lesya, menurutnya semua orang satu derajat.


"Huh! Makasih Tan" Mayang mengangguk sebagai jawaban.


Mereka berbincang-bincang santai. Kecuali Elvan tentunya. Dia tipikal orang yang tak peduli akan sekitarnya.


...~o0o~...


Setelah menggantikan bajunya, Lesya membaringkan tubuhnya di atas king size milik Elvan. Dia kecewa, harapannya pupus begitu saja. Maminya menjodohkannya tetapi dia sendiri tak kunjung hadir dalam acara.

__ADS_1


Karena terlalu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya membuatnya pusing tak terasa dia tertidur. Posisinya sangat acak-acakan.


Elvan yang baru saja membersihkan tubuhnya terkejut dengan posisi tidur Lesya. Bantal sudah tergeletak di bawah. Sementara kakinya ditempelkan di tembok. Dan kepalanya hampir jatuh dari kasur. Ditambah mulutnya yang sedikit terbuka.


Elvan geleng-geleng kepala. Dia heran akan sikap Lesya yang berbanding balik dengan wanita umumnya. Wanita umumnya sangat menjaga sikap dengannya. Tapi Lesya?


Mari tepuk tangan dengan sikap Lesya!


Dia perempuan atau laki sih? Gak tau malu! Di depan orang lain sopannya selangit, di depan gw? Tauk lah! —batin Elvan.


Elvan terus menggerutu di dalam hatinya. Seraya membenarkan posisi tidur Lesya. Dari wajahnya terlihatlah ekspresi datar seolah biasa saja. Namun siapa sangka, dari lubuk hatinya terus menggerutu.


Jangan salah dengan sikap orang lain ya gaess! Bisa saja itu tipu muslihat nya dan bisa saja dalam hatinya punya niat lain.


Lesya yang anti akan sentuhan orang lain, perlahan membuka matanya. Hal yang pertama dilihatnya adalah wajah datar Elvan. Dia terkejut bukan main.


"Argh! Ngapain lo disini hah?! " Elvan terdorong ke belakang karena tak siap dengan serangan Lesya.


Dirinya bangkit dan menatap tajam Lesya. Lesya membalas tak kalah tajam. Dia sendiri bingung mengapa dia bersama Elvan? Pikirnya.


"Ngapain lo di sini? Jangan-jangan lo nguntit gw ya? Ngaku lo?! " Elvan terus berjalan menuju king sizenya.


Dia mengambil laptopnya dan mengerjakan aktivitasnya seolah tak mempedulikan keberadaan Lesya.


Lesya menoleh ke kanan kiri. Dia lupa akan kejadian tadi. Lesya merasa aneh karena dia tak sedang di kamarnya.


"Eh tapi gw dimana ya? " Lesya mengingat kembali kejadian yang tadi. Malu? Tidak! Justru Lesya tampak biasa saja setelah mengingat hal tersebut.


Dia pergi ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Tak lupa dia membawa pakaian dan handuknya sebelum masuk. Itu kebiasaanya sejak kecil.


"Sinting! " gumam Elvan pelan.


Dia memang tak mempedulikan Lesya. Tapi dia sangat memperhatikan keadaan sekitar. Hanya saja dia mendiamkannya seolah tak ada sangkutan paut dengannya.


Sepuluh menit kemudian Lesya keluar dengan rambut acak-acakan. Rambutnya tak basah karena dia sudah mengeringkan rambutnya terlebih dahulu.


Pakaiannya sudah berubah dengan piyama tidur kotak-kotak hitam biru. Tangannya terulur mengambil satu bantal saja.


"Gak usah lebay! " langkah Lesya terhenti. Dia menoleh ke arah Elvan.


"Maksud lo? Klo ngomong panjang dikit bisa kagak sih? Gw gak mudeng dengernya" Elvan menatap Lesya sekilas.


"Tidur di situ! Kasur lebar dan itu bisa kepisah" Sembilan kata membuat Lesya paham maksud Elvan.


"Wokeh, ashoy. Awas klo lo sempet nyentuh gw! Gw multilasi lo! " ancam Lesya.

__ADS_1


Elvan mengabaikan ancaman Lesya. Dia tetap fokus dengan layar laptopnya. Lesya tertidur pulas mengabaikan keberadaan Elvan.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2