
Letha mendongkak dan menatap Lesya dengan pandangan yang sulit di artikan. Dengan cepat dia menggeleng menanggapi ucapan Lesya namun tidak dengan sorot matanya yang memancarkan wajah sendu.
"Bilang sama gw lo kenapa? Lo diganggu? Sama siapa? Bilang sini biar gw tonjok mukanya nyampe bonyok! " desak Lesya.
Letha yang ditarik perlahan ke arah pelukan Lesya membalas pelukan hangat itu. Akhirnya tangisnya pecah begitu saja di pelukan kakaknya itu. "Kak, tadi gw ke rumah mampir bentar buat ambil buku sekolah yang ketinggalan! A-aku. . . "
"Kenapa? Papa apain kamu? " desak Lesya mengelus pucuk kepala letha. Letha terisak-isak karena tak sanggup berkata lagi. "Pa-pa ngomong sama abangnya kalau. . . Ka-kalau, kita bukan anak kandung papi... Hikss! " tangis Letha.
Deg!
Lesya tak sanggup lagi berkata. Elusan tangannya terhenti mendengar cerita pengakuan Letha. Apalagi dia sudah sangat lama tahu jika dia bukanlah anak kandung Arga. Namun, dia tak sanggup jika Letha mengetahui hal itu seperti ini.
Letha beralih melepas pelukannya dan menatap sang kakak yang terdiam. "Waktu aku masuk ke dalam rumah, papa juga jujur sama aku kalau aku bukan anak kandung dari papi! Dia bilang papi cuman hanya pelampiasan mami! A-aku. . . Langsung pergi ke sini setelah denger itu! Ta-pi. . . Gak mungkin kan kak kalau papi cuman jadi pelampiasan mami? "
Lesya hanya diam saja beberapa detik dan tersenyum pahit. "Jangan sedih gini ih! Gak cocok sama muka lo yang cantik! Kalau pun papa bilang gitu, apa ada bukti kalau papi cuman pelampiasan mami? Enggak kan? Jadi, jangan mau gampang percaya gitu aja sama ucapan dunia, termasuk papa! Tunggu bukti kuat keluar, kamu akan tahu semua jawabannya Tha! "
Letha mengangguk saja dan menatap kosong arah depannya. "Tetap aja, gw gak nyangka kalau kita berdua ternyata bukan anak kandung papi! Bahkan papa sempat kasih surat ini! " Lesya menatap adiknya yang mengeluarkan surat dari saku kantung baju tidur Letha sendiri.
Lesya dengan cepat menerima dan membuka surat dari tangan Letha. Dia membaca dan menajamkan pandangannya karena sedikit syok dengan isi surat itu. Jika kalian mau tahu, isinya tentunya hasil tes laboratorium yang berisi data jika hasil tes DNA antara Letha dan Arga adalah 15% cocok. Whatt?!
__ADS_1
* Apaan nih?! Gw tau kali kalau papi sama Ara 15% cocok! Tapi dari mana ceknya? Gak mungkin kan dua kembaran itu bongkar makam papi buat tes DNA? Waitt, bener dari mana dapat tes ini?! Mana tanggal yang di surat hari ini lagi?! Itu artinya. . . Gak bisaaa?! Keterlaluan mereka?!! * batin Lesya geram.
Jangan tanyakan lagi dengan wajah Lesya. Sudah merah padam menahan amarah. Sementara satu tangannya terkepal kuat di balik badannya. Lesya beralih menatap Letha dan menggeleng kuat. "Coba kamu pikir Tha, apa mungkin papa bisa cek DNA dengan adanya papi? Bukannya papi udah tenang di sana? " lirih Lesya kembali beralih menatap air mancur.
Letha tersentil mendengarnya. Mengapa dia tak terpikir hal itu? Bod*h, mengapa dia juga langsung mempercayai ucapan orang saja! Seharusnya dia berpikir kedepan bukan tetap di situ!
"Lo benar kak.. Papi udah tenang! Mungkin saja papa salah ambil surat atau semacamnya! Padahal, papa salah kira! Papi udah tenang bareng-bareng sama mami dan semoga saja kenyataannya begitu! " ucap Letha akhirnya terhenti menangis. "Kalau gitu, ini udah malam kak! Mau ke kamar langsung? "
Lesya menggeleng kepalanya saja. "Gak akh! Masih betah gw di sini! Duluan aja, nanti gw nyusul! " ucap Lesya diangguki oleh Letha. Letha tentu saja mengusap pipinya dan pergi dari taman belakang karena malam yang mulai dingin.
Lesya menghela nafasnya melihat kepergian Letha dari tempat duduk itu. Dia menatap langit malam tanpa bintang itu dan kembali lagi menghela nafasnya panjang. Akhir-akhir ini sudah tak ada lagi masalah yang terjadi namun semua hanya sementara karena dirinya pasti akan kembali dengan membuat perhitungan antara dia dengan Gilang tentunya!
"Loh, Sya kamu ngapain malem-malem gini di sini? "
Lesya menoleh ke arah sumber suara. Rupanya itu adalah Mayang yang tak sengaja hendak lewat di taman belakang itu. Mayang saat ini justru membawa pot bunga di tangannya. "Bunda? Lesya di sini cuman cari angin doang kok! " ucapnya tersenyum tipis.
"Mau ngapain bun malem-malem gini? Bawa pot bunga lagi! " tanya balik Lesya menunjuk ke arah pot bunga yang Mayang bawakan. Mayang melihat ke arah tunjukan Lesya yang tak lain adalah apa yang dia bawa. "Ouhh, ini bunda mau naro bunga di sana Sya! " ucap Mayang menunjuk ke arah satu sudut taman belakang itu dengan dagunya.
Lesya mangut-mangut paham dan beranjak membantu Mayang mengangkat satu pot yang lumayan besar. "Sini bun, Lesya bantu bawain! " ucap Lesya menyimpan surat yang Letha berikan padanya di sakunya setelah melipat-lipat surat itu menjadi bagian kecil.
__ADS_1
Setelah membantu Mayang sejenak, Lesya ikut berjongkok saat Mayang berjongkok melihat tanamannya. "Bunda, kenapa bunda suka sama bunga? " tanya Lesya.
"Karena bunga itu lambang diri mereka sendiri! Ada bunga yang bau contohnya bunga raflesia, ada juga bunga yang cantik contohnya bunga matahari, ada juga bunga berduri contohnya bunga mawar! Mereka hidup sesuai kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing! "
Lesya yang masih tak paham, bertanya kembali kepada Mayang. "Maksud dari kelebihannya bun? " tanyanya. Mayang melirik sekilas Lesya dan beralih melihat bunga anggrek kesukaannya itu.
"Kalau bunga raflesia bau, dia punya kelebihannya tersendiri yaitu, unik! Mulai dari bentuknya, aromanya, tempat tinggalnya juga harus khusus! Begitu juga dengan bunga mawar contohnya! Cantik tapi berduri! Makanya mereka semua harus dirawat baik-baik! " jelas Mayang.
Lesya mengangguk walau dirinya hanya sedikit paham dengan penjelasan Mayang. Jangan tanyakan lagi perkara itu! Lesya yang memiliki IQ tinggi saja percuma jika hanya sedikit paham. Karena dia sendiri malas berpikir keras apalagi di saat malam-malam begitu!
"Jadi kalau kamu ada masalah, cerita sama bunda! Semampu mungkin bunda berusaha bantu kamu untuk selesaiin masalah kamu! Dulu bunda cuman punya Elena sebagai bunga khusus bunda! Sekarang, ada kamu dan Elena! Tanggung jawab bunda untuk mendidik dan merawat kalian! " lanjut Mayang beralih menatap Lesya. Begitupun sebaliknya Lesya ikut menatap Mayang.
"Kalau gak mau cerita juga gak papa kok! Tapi ingat, dimana pun, kapan pun, jam berapa pun kamu butuh bunda, datang aja sama bunda yah! Kamu tuh bagaikan bunga mawar sementara Elena bunga matahari buat bunda! Elena itu orangnya ceria, manja, dan cantik! Kalau kamu cantik tapi cerdik! " ucap Mayang.
Lesya tertawa receh mendengarnya. Walau menyentil hati, dia berusaha agar tetap ceria di hadapan mertuanya itu. "Ahaha.. Apa sih bun, aku gak gitu tau! " Mayang terkikik kecil. "Hihi, lucu kamu! Udah bunda mau ke kamar dulu! Dan kalau ada masalah, selesaiin baik-baik! Semua pasti indah pada waktunya! Bunda pamit ke kamar, jangan terlalu larut di sini ya! Gak baik buat kesehatan kamu, dinginnn tauk di sini! " gurau Mayang.
Lesya hanya mengangguk patuh saja dan menatap kepergian sang bunda. "Beruntung banget gw bisa ketemu bunda walau dari perjodohan tanpa rasa dengan orang asing! Dan keluarga Grey bagaikan cahaya kebahagiaan! Pemberi gw warna kehidupan yang begitu besar dan banyak selama ini! " gumam Lesya tersenyum.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1