Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
435: Suprise


__ADS_3

Episode 435: Suprise


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Di kamar ruangan dengan dekorasi yang cukup mewah, sudah terlihat sepasang suami istri dengan satu anaknya. Mereka tampak berdebat kecil karena sang ibu yang tak setuju dengan keputusan sang anak yang akan pergi dari rumahnya.


Mereka adalah Mayang, Angga, juga Elvan. Ya, niatnya Elvan hendak memberikan rumah sebagai hadiah pada sang istri. Sayangnya saat dia hendak meminta izin pada orang tua yang sudah membesarkan dirinya dari bayi hingga dewasa, justru keinginannya ditolak mentah-mentah oleh sang bunda.


Niatnya Elvan ingin memberi kejutan pada kelulusan. Sayangnya dekorasi rumah masih belum terselesaikan dengan baik. Dan kebetulan dua hari yang lalu, dia mendapat kabar jika rumah yang hendak dia hadiahkan pada sang istri sudah selesai. Dan sang bunda yang mendengar jika anak dan menantunya akan pergi, dengan segera menggeleng juga menolak keras keinginan putranya.


"Bunda, aku juga mau hidup berdua sama Lesya! Kita mau mandiri, kalau dulu kita masih kecil, masih perlu bimbingan kalian. Masalahnya sekarang kita udah besar, Bun, udah bisa ngatasin masalah kita tanpa perlu bantuan Bunda juga Ayah, please ya Bun?" ucap Elvan yang masih kekeh untuk hidup berdua tanpa gangguan siapapun termasuk dengan kedua orang tuanya.


"Enggak Vano! Kalau kamu pindah, kamu sama Lesya gimana makannya? Nanti siapa yang siapin? Siapa yang bangunin kalian kalau telat bangun? Siapa yang temanin kalian juga? Jangan ya Nak! Bunda bukan gak izinin kalian hidup mandiri, tapi Bunda cuman gak izinin kalian pindah tanpa pengawasan Bunda."


"Bunda, Vano udah besar, bukan anak kecil lagi! Coba Bunda hitung, Vano udah umur 19 tahun, bukan 5 tahun! Vano juga bisa jaga diri, Bunda jangan khawatir masalah makan-minum, Lesya juga bisa masak, Bun! Kalau kita telat bangun, kita juga bisa pasang alarm, Bun!" kata Elvan meninggikan nadanya karena alasan Mayang yang terlampau mengkhawatirkan seperti mengkhawatirkan anak kecil.


"Vano, jangan pernah tinggiin nada bicara kamu di depan orang tua! Ayah pernah bilang, jangan coba-coba tinggiin nada bicara kamu sama perempuan! Dia ini istri Ayah, orang yang lahirin kamu juga besarin kamu, Vano!"


Akhirnya Angga angkat suara setelah mencoba menenangkan sang istri yang masih menolak keras permintaan anaknya. Mayang terdiam mendengar nada tinggi sang putra bungsunya.


Mayang juga duduk di sofa dan mencoba berpikir positif mengenai sang anak. Bulir bening jatuh dari pelupuk mata karena memang Mayang tak pernah dibentak atau dapat dibilang jarang dibentak.


Jika mendengar bentakkan suaminya, Mayang dapat menahan. Namun, jika dia yang dibentak rasanya sangat sakit. Pada dasarnya keluarganya dahulu sangat menyayanginya bahkan hingga saat ini. Keluarga, anak-anaknya juga suaminya bahkan sangat jarang meninggikan nada jika sedang berbicara atau berdebat dengannya.


"M-maaf Bunda,"


Elvan menghampiri Mayang dan berlutut. Mengusap cairan bening yang keluar di pelupuk mata wanita yang melahirkannya, Elvan merasa jika perlakuannya kelewat batas. Mayang tersenyum dan mengangguk seraya mengusap rambut sang putra.


"Jangan ya Nak, Bunda takut aja kalau kesepian! Gak ada kamu, Elena, juga Lesya, Ayah kamu sibuk kerja sama kamu. Kalau Lesya dibawa Bunda sepi di sini, 'kan butik Bunda udah dialihin sama Kakak kamu." ucap Mayang lembut.


*Bunda, please ya? Cuman kali ini doang aku minta, aku mau mandiri Bun," lirih Elvan yang masih saja tetap mempertahankan pendiriannya.


Lawan bicara Elvan kini terdiam dan menghela nafas kasar. Akhirnya Mayang mengangguk dan menyetujui permintaan anak bungsunya walau terasa berat baginya. Elvan menampakkan senyumnya dan memeluk wanita yang melahirkannya karena bahagia.

__ADS_1


Angga yang melihat tampak menghela nafasnya kasar. Alasan dari sang istri bukanlah takut merasa kesepian, bisa saja istrinya pergi menemui Mily atau Sella atau juga Lesya atau Elena. Ada satu alasan yang membuat Mayang berat harus mengizinkan anak dan menantunya pergi dari rumah mereka.


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Mayang dan Angga kini mengantarkan anak dan menantu mereka hingga depan gerbang rumah saja. Mereka memiliki urusan pribadi hingga tak bisa ikut datang mampir ke hadiah baru yang sudah sang putra siapkan.


"Emang kita mau kemana sih nyampe bawa koper segala? Liburan itu 'kan udah lewat tau!" ucap Lesya yang bingung di kala koper-koper dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Elvan hanya tersenyum simpul mendengarnya. Baginya, saat ini Lesya belum tahu apa hadiah yang akan dia berikan padanya.


"Lesya nanti jangan lupain Bunda ya? Jangan lupain Ayah juga! Kalau ada waktu, sering-sering mampir ke sini ya?" pesan Mayang mengelus rambut panjang menantunya.


Lesya menautkan alisnya sok bingung. Fyi, dia hanya berpura-pura tak tahu saja. Perdebatan ibu anak itu terdengar di telinganya saat dia tak sengaja hendak menemui mertuanya. Tampaknya, mereka belum sadar jika dia sudah mengetahui hadiah apa dan bagaimana obrolan mereka semalam.


"Bunda, kayak orang mau pisahan aja ih! Enggak ya, aku gak bakal lupain Bunda, nanti aku balik lagi kok Bun, gak usah sedih ya?" hibur Lesya melihat wajah murung Mayang yang tampak sangat berat melepaskan mereka.


Mayang mengangguk-angguk saja dan menampilkan senyumnya. Letha yang duduk di sebelah Mayang pun merasa iri dengan kedekatan keduanya. Jujur saja, Letha masih menyimpan rasa walau sama sekali tak dibalas oleh suami dari kakaknya. Sulit melupakan sosok idola yang selalu nampak di pandangannya.


"Kak, mau pindah ya? Kok bawa koper sih?" tanya Letha bingung. Matanya masih sembab karena menangis. Rasanya tak kuat mengetahui kabar dirinya yang tengah berbadan dua.


Lesya menoleh lalu menggedikkan bahunya seolah tak tahu dengan pertanyaan Letha. "Enggak tau tuh! Rempong banget emang nyampe bawa koper segala emang. Oh iya, jangan lupa sama pesan gw kemaren ya, Tha!" peringat Lesya was-was dengan adiknya.


Letha hanya diam dan berdehem pelan saja. Dalam hatinya, tersimpan rasa cemas besar karena takut dengan apa yang terjadi di esok hari. Mayang yang melihat kekhawatiran Letha, segera mengelus punggung kembaran menantu kecilnya. Dia paham akan kekhawatiran yang dirasakan oleh Letha saat ini.


"Gak usah cemas, Tha! Kita di sini ada kok, kita rawat bareng-bareng ya? Jadiin semua pelajaran bukan musibah. Lain kali kamu juga harus hati-hati sama orang-orang yang ada di luar sana, mereka mungkin bisa jadi teman atau musuh kamu." nasihat Mayang diangguki paham oleh lawan bicaranya.


"Makasih- Tante," lirih Letha.


Mayang mengangguk saja. Ketiganya berpelukan layaknya teman yang mendukung yang lainnya. Dalam hati Lesya sangat bersyukur dipertemukan oleh Mayang yang sangat baik padanya. Lesya juga merasakan diperhatikan ini-itu jika bersama dengan Mayang.


...***...


Lesya membuka matanya di kala penutup mata kini sudah terlepas dari matanya. Hari sudah berganti dan kini dia menatap takjub dengan mewahnya rumah di depannya. Ya, Lesya sekarang sedang diberikan kejutan dari Elvan, katanya ini hadiah kelulusan yang telat diberikan karena desain bangunannya masih belum sepenuhnya jadi.


"Suka gak?" tanya Elvan.

__ADS_1


Lesya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Elvan yang menyadari perubahan raut wajah Lesya merasa tak senang. Senyum yang dia lukis kini luntur karena menyadari perubahan raut wajah sang istri. Jika suka, seharusnya heboh masuk ke dalam bukan? Biasa begitulah sikap wanita seharusnya, termasuk Lesya.


"Kenapa? Ada yang kurang ya?"


Lesya menggeleng dan menggandeng Elvan masuk ke dalam. Jujur saja Lesya berdecak takjub dengan desain interior baik bangunan di dalam juga di luar rumah. Mereka duduk di halaman belakang rumah yang ternyata sudah diisi oleh Lion, Tiger juga anaknya.


Fyi gays, Tiger adalah nama harimau milik Elvan di markasnya. Setelah mempertemukan Tiger dengan Lion, tampaknya mereka berdua dekat hingga saat ini memiliki anak. Tiger harimau yang berjenis kelamin jantan semetara Lion harimau yang berjenis perempuan.


Kedua sepasang harimau itu kini sudah memiliki keturunan dengan diberi nama Liger yang berjenis kelamin perempuan oleh kedua majikan mereka. Usianya masih muda alias masih bayi.


"Gw liat lo murung mulu, kenapa? Ada masalah atau gak suka sama rumahnya? Mau gw minta dekor ulang?" tanya Elvan membuat Lesya tergelak kaget. Segera dia memberikan tepukkan pada Elvan dan meminta agar lelaki di sebelahnya mendengarkannya dengan baik.


"Begini Bapak Elvano, rumahnya bagus, gw suka pake bangett! Tapi gw lebih gak suka kalau Bunda liat kita kayak berat gitu." ucap Lesya yang merasa tak enak saat mengingat wajah muram mertuanya saat mengantarkan mereka berdua hingga depan rumah.


"Gak usah diingat, gw tau mereka ngelakuin apa yang baik, tapi mereka gak tau kalau gw di sini juga ngerasa terkekang sama larangan mereka."


Lesya mengelus punggung Elvan yang tampak murung setelah mendengar curahan hatinya. Dia juga sebenarnya kaget dengan kemauan Elvan yang ingin pindah. Walau dia tahu untuk surprise, seharusnya memberitahukannya atau mendiskusikan dengannya adalah hal yang utama agar tak berdesakan begini.


"Gw bukan gimana-gimana ya Pan, tapi menurut gw kenapa kita gak temanin mereka dulu? Gw juga pengen liat Bunda sama Ayah bahagia. Untuk kedua kalinya gw gak mau jadi anak yang gagal buat mereka." ucap Lesya.


"Kak Elen udah pergi, kalau Bunda kesepian itu wajar karena Kak Elen juga sekarang gak bisa kemana-mana 'kan dia berat, nanti dia kecapekan." timpal Lesya dibalas anggukan paham dari Elvan.


Jujur saja, Elvan juga tak tega melihat raut wajah muram kedua orang tuanya. Namun, dia juga ingin menjadi pribadi mandiri tanpa mengandalkan kedua orang tuanya. Selama ini dia merasa selalu bergantung kedua orang tuanya. Rumah saja harus menumpang, dia ingin membeli sendiri dengan kerja kerasnya.


"Gw tau maksud lo baik, tapi jangan sampai kita juga nyakitin perasaan orang tua demi tujuan lo! Udah mending sekarang kita siap-siap, bentar lagi si Luna sama wakil lo bakal nikahan." ucap Lesya mengalihkan pembicaraan mereka agar tak kembali merenggang.


Elvan mengangguk dan tersenyum tipis. Kaki jenjang mereka kini beralih melangkah menuju kamar utama yang disediakan khusus untuk mereka.


Keduanya memang mengambil jadwal lebih dahulu untuk pergi ke rumah pribadi mereka sebelum pergi ke acara Luna juga Valen yang akan segera berhubungan resmi.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<

__ADS_1


Bentar lagi, tapi author gak tau kapan ;)


__ADS_2