Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
411: Kepergok


__ADS_3

Kedua gadis yang berada di tempat yang menurut mereka sangat familiar, akhirnya berjalan masuk ke dalam tanpa harus menunjukkan kartu identitas mereka. Tempat itu adalah milik mendiang sahabat mereka dan para pekerja di sana tahu siapa mereka.


Luna juga Lesya, sepasang sahabat itu sangat disegani di sana. Walau bukan pemilik tempat malam ini, para pekerja tahu siapa mereka di dalam dunia gangster. Dan juga mereka sama sekali tak mengganggu atau membocorkan identitas kedua sahabat itu karena mereka tahu bagaimana kejamnya mereka pada seseorang yang mengusik ketenangan sepasang sahabat itu.


Saat mereka datang, sudah ada satu lelaki yang menunggu mereka dengan meneguk langsung satu botol ditangannya. Racauannya terdengar tak jelas walau kesadarannya masih terkumpul dengan jelas.


"Bang Cak?! " kompak mereka.


Sang empunya nama menoleh dan menguap sejenak sebelum kembali meneguk botol di tangannya. Keduanya segera memberi tempat agar bok*ng mereka terduduk di atas kursi tegap di sana.


"Bang, kita ke sini bukan buat nangis."


Luna yang memang mudah berperasaan beralih memeluk tubuh sang abang angkatnya yang kini hanya menatap kosong arah depannya. Jujur mereka masih belum ikhlas menerima kepergian pemilik tempat malam ini.


"Gw masih belum ikhlas Lun, Sya." lirih Cakra menundukkan kepalanya kecil. Sepasang sahabat itu saling menatap satu sama lain. Lesya hanya mengangguk saja seolah tahu jika Cakra membutuhkan sandaran.


"Jadi sementara lo yang urus usaha Leon bang? " tanya Lesya menepuk dari belakang pundak Cakra. Pemuda itu hanya mengangguk kecil saja.


"Syukur deh, lagian Leon balik ke Pencipta malah ngasih beban. Pusing gw mikirnya." kata Lesya yang secara langsung dihadiahi bogeman pelan dari Luna yang tak peduli dengan pelototan sahabatnya yang tak terima.


Cakra terkekeh pelan dan menganggukkan kepalanya setuju. Kini pemuda itu tak lagi memeluk Luna namun menyenderkan kepalanya di bahunya. Jika bersender pada Lesya sudah pasti gadis itu tak mau alias risih. Toh juga Luna sama sekali tak masalah!


“Tapi gw cuman sementara karena Vay atau si Feli lebih pantes nerusin usaha Leon.” kata Cakra dengan nada paraunya karena dalam pengaruh alkohol walau setengah sadar.


Lesya yang mendengar hanya mengangguk paham menanggapi ucapan Cakra. Memesan beberapa minuman pada bartender, mereka sama-sama meminum karena ingin menjernihkan pikiran.


Cakra memang sudah bicara dengan Felicia mengenai usaha kecil-kecilan mendiang adiknya. Felicia yang tak mengerti dengan pekerjaan itu hanya menyerahkan pada Cakra lalu saat Vay sudah siap, mereka akan menyerahkan usaha mendiang Leon pada Vay.


Tentunya semua itu masih dalam pengawasan Cakra tentunya. Vay hanya menyetujui saja karena memang dia sedikit tahu-menahu mengenai laporan sebuah usaha dari gerak-gerik mendiang papanya dahulu yang lumayan giila kerja.


"Kak Feli kan mantan lo, baru ketemu mantan gebetan lo Bang? "


Luna yang baru saja meminum tiga gelas dengan segera berada di lingkup setengah sadarnya. Gadis bernama Aluna itu cukup anti dengan minuman keras. Jika lebih dari tiga gelas, mungkin kesadarannya perlahan menghilang.


Lesya yang minum langsung dari botol tampak geleng-geleng kepala melihat sahabatnya juga abang angkatnya yang membahas mengenai masa lalu mereka. Mungkin masa lalu mereka terlalu pahit bagi keduanya hingga membutuhkan penanganan minuman berbau alkohol.


"Felicia? Haha… Cewek sebrengsyek dia gak pantes gw inget di hati gw. Selama ini gw bersikap manis sama dia karena gw ngehargain dia sebagai kakak kandung Leon, gak lebih Lun."

__ADS_1


"Huweee… Gw sakit Bang! Kak Feli dulu baiiikkk banget sama gw, tapi Vion dating terus pergi rasanya dia menghiang gitu huhu… Miris kita berdua Bang ditinggal pas disayang." ledek Luna menertawakan dirinya juga Cakra dengan suara parau.


"Bod*amat gw sama si Feli-feli. Sya, kasih gw tips dong biar siapa tau gw bisa ngerelain kepergian Leon kayak lo." serak Cakra dengan nada pelannya.


Lesya tak menanggapi. Dia yang sibuk melihat semua orang yang begitu menikmati alunan music DJ di bar milik sahabatnya. Tanpa sengaja dia melihat di satu kursi ada seseorang familiar di pandangannya. Seketika terlintas sebuah ide cermerlang di dalam benaknya yang ingin sekali membalas perbuatan orang itu yang merendahkan dirinya.


"Kali ini lo mamp*s! "


Tangan Lesya terulur mengeluarkan ponselnya dan merekam semua kelakuan musuh yang ingin sekali dia labrak namun tertahan. Lalu Lesya sedikit berjingkat kaget di saat Cakra memanggilnya dengan suara yang cukup keras juga didominasi suara khas lelaki.


"LESYA WOY DENGER GAK SIH LO?! "


"MUSICNYA LUMAYAN KENCENG, LO NGOMONG APAAN TADI? "


Tanpa mempedulikan rekaman video yang masih menyala dan merekam tingkah seseorang di aplikasinya, dengan cerobohnya Lesya ikut berteriak. Cakra yang masih dalam keadaan mengantuk hanya mendengus kasar saja.


"LUNAA.. JANGAN NGILER LO! "


"MAAP, KELEPASAN! "


"Oh? LUNA BANGS*T JANGAN MINUM LAGI LO, MABOK KAN LO! "


Lesya menahan tangan hendak kembali meminum minuman dengan kadar sedang. Tentu dengan bantuan Cakra yang tiba-tiba langsung sadar mendengar ucapan panik Lesya. Tangan Lesya yang memvideo hanya oleng sedikit saja namun tetap mengawasi kelakuan liar musuhnya itu.


Hueeekkk..


Luna yang tiba-tiba muntah membuat Lesya mau tak mau menghentikan video dan menutup ponselnya. Memasukkan kembali ke dalam saku celananya, Lesya beralih ikut mengelus kepala Luna di saat muntahan gadis itu sudah mereda.


"Bau, kayak kecoa yang dimasukin ke dalam kaos kakinya Leon sama Bang Cakra yang pake sumpit waktu itu." ngawur Luna kembali meracau. Lesya menautkan alisnya bingung dan menatap tajam Cakra yang terlihat melotot mendengar ucapan Luna.


"A-anu… Mbakkk, tolong bersihin ya soalnya saya mau bawa pulang dulu dianya." kata Cakra mengalihkan pembicaraan. Lesya tampak kembali dan meneguk minumannya. Jujur saja dia sama sekali tak penasaran. Toh dia tahu jika kejadian itu sudah lama berlalu.


"Woy bagi tips dulu baru gw balik bawa Luna."


"Pajang foto aja, kalau kangen kan bisa liat. Ingat kenangannya bukan kesedihannya. Semua orang pasti bakal ngalamin hal yang sama. Itu hal yang susah banget manusia lakuin, kalau udah takdirnya ya kita bisa apa sama Sang Pencipta? Kayang? Gak mungkin Bang. Gw juga sedih tapi gw tahu Leon pengen bahagia bareng keluarganya di sana makanya gw nyoba iklhas."


Cakra mencerna perkataan Lesya yang kali ini berbicara panjang kali lebar. Dia perlahan mengangguk pelan seolah mengerti. Dia menggendong Luna yang kini tertidur pulas di pangkuannya. Sejenak Cakra terdiam dan menoleh pada Lesya yang kembali angkat suara seraya meneguk minumannya.

__ADS_1


"Leon pesan ke gw waktu operasi, ‘jangan berhenti kejar cita-cita lo jadi pembinis handal hanya karena ngerasa kehilangan dia!’ calon Pak pembisnis," kata Lesya melanjutkan ucapannya.


"Pembisnis? Cita-cita lo mau sejalan sama Bang Alam, Bang? Baru tau gw tentang cita-cita lo Bang, tetap semangat!" sambung Lesya memberi bogeman pelan di lengan kekar Cakra yang masih berdiam diri di tempatnya.


Cakra terdiam dan mengembang senyumnya. Dia mengangguk dan hendak membalas pukulan bogem Lesya namun terhenti mendengar suara yang berasal dari belakang mereka. Menoleh, Lesya hampir tersedak alkohol karena kedatangan dua orang yang menghampiri mereka.


"A-Uhukkk… Anjyengonghasego... "


Hampir saja Lesya mengumpat kasar di hadapan lelaki yang menurutnya memiliki tatapan mengintiminasinya. Oh no, siapa lagi kalau bukan Elvan? Terlebih dengan alis terangkat satu dan kedua tangan yang diletakkan di sakunya membuat kasan lelaki itu bagaikan singa yang menatap mangsanya.


"Ahaha… Halloww gays? "


"Pulang! "


"Tapi mi---


"Pulang sayang," ucap Elvan dengan senyum penuh maknanya. Sontak Lesya hanya diam tak membantah saja. Tak lupa menghabiskan satu gelas di tangannya sebelum ikut kembali ke rumah walau secara reflek Elvan menjewer telinganya. Cakra yang melihat tertawa menyaksikannya. Dia juga tak lupa menyerahkan Luna pada Valen yang dia tahu statusnya dengan Luna.


Setibanya di mobil navy kesayangan Elvan, Lesya hanya diam seraya memegangi satu telinganya yang memerah. Hawa dingin masih dia rasakan hingga membuatnya enggan menatap manik mata Elvan. Seatbeltnya juga kini sudah terpasang rapat.


"Katanya di tempat aman? "


"Y-ya di situ aman! Biasanya bar punya Leon banyak pengawasannya."


Elvan menghela nafasnya mendengar cicitan suara Lesya. Mengelus pucuk rambut gadis di sampingnya, sontak Lesya mendongkak walau masih mengelus telinganya yang sakit.


Cup!


Lesya terdiam di saat Elvan mengencup sekilas telinga yang sempat lelaki itu jewer. Bukannya mereda, justru Lesya merasakan hawa panas di sekelilingnya. Tadi dingin eh sekarang malah panas. Lihat saja pipinya yang sudah memerah menahan malu.


"Jangan minum lagi! "


"Hm."


Lesya sengaja menjawab dengan deheman karena tak mau Elvan tahu jika dirinya sedang menahan rona malu. Bahkan kini Lesya duduk membelakangi wajah lelaki di sampingnya seraya memejamkan matanya yang sedikit sayu. Mungkin dia tertidur karena efek dari minuman yang dia konsumsi.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2