
Lisa mengerang kesal melihat satu baksonya diambil. "Heh! Bakso gw ya! " Lesya melahap tanpa dosa bakso Lisa yang dia ambil.
"Kalo mau beli! Punya tangan dan kaki kan?! " Lesya memamerkan kedua tangan dan kakinya yang ada. "But* mata lo? Lagipula satu doang gak usah pelit! "
Ddddrrrttt!
Di saat Lesya ingin mengangkat telepon, dengan cepat orang yang di seberang memutuskan sambungannya sepihak kembali. Lesya yang sudah tersalut emosi kesal sendirinya. "Lah?! "
Pyaarrr!
Lesya dengan kesal membanting ponselnya itu. Secara sontak banyak mata mengarahkan kepadanya. "Mony*t kodok! Njer, kaget gw! " latah Luna terkejut. Lesya mengacak rambutnya frustasi. "Boleh gw cekek kagak sih leher dia?! "
"Ngapa lo Sya? " Lesya menatap Leon yang bertanya kepada dirinya. "Lo tau kagak?! Gw mau angkat, dia malah riject! Tau ah gw sebel make hape! "
Luna yang mengambil kembali ponsel Lesya yang sudah hancur belebur menatap Lesya. Pasang mata sudah tak melihat Lesya kembali karena sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Sudah biasa jika Lesya tiba-tiba berulah.
Lisa yang melihat pecahan layar kaca Lesya bergidik ngeri sendiri. "Apa kabar tuh hape? " Lesya tak mempedulikan pertanyaan Lisa. Toh semua berkas penting bukan ada di situ kan? Pikirnya.
"Beri barulah! Gw kan anak Sultan! " bangga Lesya percaya diri. Luna dan Leon terkikik kecil mendengarnya. "Emang lo bisa beli lagi? "
Lesya mengangguk penuh percaya diri. Dia mengeluarkan black card dari sakunya dan menunjukkan kepada Lisa yang menatap dirinya remeh. "Tada! Gimana? Pingsan lo? "
Uhuk!
Lisa tercekat sejenak. "Heh! Atas nama siapa tuh kartu? " Lesya membolak balikkan kartu dan mendapatkan nama Gregorius yang tertera di sana. "Gregorius! Kenapa iri lo ya? "
Lisa menatap tak percaya ke arah Elvan yang tak sengaja melihat perdebatan dari meja Lesya dkk. Tak hanya itu saja! Empat kawan Elvan juga sama terkejutnya dan menatap Elvan yang terlihat biasa saja. "Van? "
Elvan menatap Ken yang menatap dirinya seolah meminta penjelasan diikuti ketiga temannya yang lain. "Gimana ceritanya? " Elvan menggedik-kan bahunya acuh.
__ADS_1
Hanya orang-orang terdekat saja yang tahu jika kata Gregorius itu adalah nama yang digunakan Elvan di kartunya. Mereka menghela nafas malas karena tahu tak akan mendapat jawaban dari Elvan.
Kembali kepada Lisa yang masih tak paham. "Bohong! Coba liat! " Lesya menunjukkan kartu hitam itu di depan mata Lisa hingga Lisa tampak tak percaya. "Omaigad! Leon coba pukul gw! "
"Buat apa? Ntar sakit loh! " Luna memutar bola matanya malas. "Lebay lo njer! Nih gw kasih! " Luna yang menggantikan Leon segera memukul lengan Lisa keras.
Pluak!
"Aw! Sakit! Apa-apaan sih lo?! " Lisa melotot dan menatap Luna dengan tatapan sengitnya. Berbeda dengan Lesya yang menyimpan kembali kartu di dompet dan meletakkan di saku celananya.
Dengan santainya dia duduk bahkan menghabiskan siomay milik Lisa yang ada. Mumpung orangnya gak tau ye kan! Leon geleng-geleng saja melihatnya.
"Lah-lah... Lo yang minta ngapa jadi gw yang di salahin! " Lisa melotot tak terima. Pandangannya teralih dengan Lesya yang memakan siomay nya tanpa izin. "Heh! Somay gw! "
"Bagi! Kalo bagi gw jelasin gimana? " Lisa dengan berat menyetujui kesepakatan Lesya. Dia cukup penasaran dengan alasan Elvan yang pastinya dia tak tahu. "Jadi? "
"Siapa? " Lisa menjitak dahi Luna. "Elvan lah! Siapa lagi?! " Luna meringis kecil merasakannya. "Ouch! Ya maap gw kan gak tau! " ringis Luna.
Kringgg....
Siswa-siswi berhamburan masuk ke kelas mereka masing-masing. Bagitu juga dengan Lesya, Luna, Lisa, Leon alias Lesya dkk berjalan menuju kelas. Namun, sebelum tiba di kelas, mereka dipanggil menghadap bu Lina.
...~o0o~...
Lesya dkk terkejut dengan kehadiran Elvan dkk dan Letha dkk di ruang guru. Eum, lebih tepatnya, di depan meja bu Lina yang berada di ruang guru. "Kalian sudah datang? Lengkap bukan kelompoknya sekarang? "
Lesya berdiri dengan santai di sebelah kanan Elvan dkk sementara Letha berada di sebelah kirinya. Tiba-tiba saja Amanda datang dengan membawa tas Lisa, Leon, dan Luna. "Permisi bu.. "
"Eh, iya! Kasih tasnya sama mereka masing-masing! " Amanda menurut saja. Dia meletakkan tas-tas yang dia bawa kepada pemiliknya masing-masing.
__ADS_1
Amanda yang memberi tas kepada Luna yang dibelakang Lesya, menatap tajam bahkan benci ke arah Lesya. Luna yang menyadari diikuti Lisa yang terus melihat gerak-gerik Amanda paham dengan tatapan Amanda.
Lesya yang ditatap menatap datar saja orang yang di depannya itu. "Awas lo nanti! " bisik Amanda tanpa suara menatap Lesya penuh amarah dan bencinya. Lesya menyenye saja melihatnya. "Nye nye nye.. "
Elvan dkk dan Letha dkk sudah membawa tas mereka masing-masing karena memang disuruh oleh bu Lina. Bu Lina menyuruh Amanda membawa keempat tas Lesya dkk agar tak kabur saja.
"Udah! Kalian tau mengapa saya panggil kalian ke sini? " Dengan cepat Luna, Lesya dan Leon kompak menjawab. "Enggak! "
Mencoba sabar, bu Lina menghembuskan nafasnya panjang. "Luna, Leon, dan terutama kamu Lesya, kalian bisa diam tidak? " tanya bu Lina tersenyum manis dan menekankan kata 'Lesya'
"Oke! " jawab mereka serempak. Bu Lina mengelus dadanya sabar lalu menatap mereka semua. "Kalian liat? Hanya kalian saja tugas kelompoknya yang belum selesai! Kenapa? "
Mereka semua terdiam tak menjawab. Jika Letha dkk tak berani menjawab pertanyaan dari salah satu bu killer, sementara Elvan dkk malas menjawab saja saat ini. "Jawab-!! "
"Monyo bangs*t! " latah Lesya terkejut dengan gebrakkan meja yang disebabkan oleh salah satu gurunya itu. "Ibuk bikin jantungan aja! Untung saya masih sehat tanpa riwayat penyakit apapun! "
"Kamu gak jawab pertanyaan saya! " Luna yang dibelakang menongolkan kepalanya di belakang Lesya. "Ibuk sih! " Tak terima, bu Lina menunjuk dirinya sendiri dan membantah. "Kok saya?! "
"Ya ibuk nyuruh kita diem! Harusnya suruh kita jangan diem biar dijawab! " Bu Lina tercengang dengan jawaban nyeleneh sepasang sahabat yang kompak itu. "Kalian?! Haiss... "
"Sekarang keluarkan buku kalian dan kumpulkan di sini! Kalo satu belom selesai tugasnya, satu tim tidak akan saya nilai! "
Sontak empat kawan, Letha dkk, Lisa, Leon, Luna mengarah kepada Lesya. "Kenapa? Gw cantik yah?! "
Luna memasang tampang eneg-nya. "Iya! Cantiknya nyampe lupa kalo ada tugas! " Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal.
Satu per satu buku sudah terkumpul dan tersisa Lesya saja yang belum. "Sya, lo kerjain kagak? " Lesya mengangguk lalu menggeleng.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1