
Elvan berdecak malas. "Gw bukan tipikal orang yang ninggalin perempuan sendirian! " Lesya mengerutkan alisnya bingung. "Maksud lo? "
"Kalau lo berangkat sama gw, pulangnya ya sama gw juga lah! " kata Elvan. Lesya berdecak malas dan dirinya tak ingin termakan dengan ucapan manis Elvan. "Terserah lo! " finalnya.
...※ ·❆· ※...
Setibanya di kediaman Grey, Lesya masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju. Saat dirinya bertemu Mayang di ruang tamu, Mayang menyuruhnya agar segera berganti baju dan turun ke meja makan nanti untuk melakukan acara makan siang.
Dirinya menepis pikiran anehnya yang berpikir yang tidak-tidak. Dia menghela nafasnya dan entah mengapa dia merasa gugup saat ini. Apa ini efek karena sudah lama tak bertemu Mayang? Entahlah!
Lesya duduk dan tersenyum tipis di kala dirinya melihat Mayang di ruang makan. "Kenapa bun? Tumben loh! Oiya, ayah mana? " tanya Lesya.
Mayang memegang tangan Lesya. "Gini, bunda sama ayah punya rencana buat bawa Letha ke sini! Ternyata sebelumnya mami kamu minta kami buat rawat Letha sementara, di sini! Tapi tenang aja, ini masih rencana doang, sekarang bunda minta persetujuan kamu! " jelas Mayang.
Lesya terdiam. Ada baiknya jika Letha tinggal di sini bukan? Ada juga dampak buruknya jika Letha terlalu lama di rumah ini. Dia juga merasa sedikit tak rela jika harus berbagi rumah yang dia anggap istananya.
"Bunda sama ayah kasih waktu sampai makan malam nanti buat mikirin ini semua! Oh iya, sekarang ayah lagi ngomong sama Elvan buat minta persetujuan ke luar negeri ngurus perusahaan cabang keluarga Grey yang harus ditangani segera! Kalau gak salah setelah ujian tengah semester nanti, dia bakal ke sana! " tambah Mayang lagi.
"Habis ujian? " ulang Lesya tak percaya. Mayang mengangguk saja. "Iya! Dan kalau gak salah, sekitar 5 hari buat selesaiin semuanya di sana! " lanjut Mayang.
Lesya hanya diam. Secepat itu? Dia sendiri hanya mengizinkan saja Elvan pergi karena dia tahu jika Elvan lah pewaris utama di keluarga ternama ini—keluarga Grey. Soal Letha, dia masih belum tahu!
Lesya dan Mayang menoleh di saat Angga dan Elvan perlahan mulai berjalan menghampiri mereka. "Ayah tunggu ya boy! " kata Angga menepuk-nepuk pundak anak bungsu sekaligus putra tunggalnya.
__ADS_1
Elvan hanya mengangguk dan mendudukkan bok*ngnya di kursi tepat di samping Lesya. Mayang melepaskan genggamannya dan mengambil makanan untuk Angga. Diikuti Lesya yang juga mengikuti Mayang untuk mengambilkan makanan untuk Elvan. Walau terkadang, dirinya merasa geli saat melakukannya.
Setelah makan siang selesai, Lesya menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan dirinya di ranjang, Lesya masih terpikir dengan ucapan Mayang sebelum makan siang tadi.
Apa dia harus mempersilahkan Letha berada di rumah ini? Namun, bagaimana jika Letha curiga? Bagaimana jika dirinya ketahuan? Bagaimana kediaman Grey menjadi sasaran musuhnya? Bagaimana juga jika keamanan kediaman ini terganggu? Bagaimana juga jika Letha sendirian di rumah? Bahaya! Hahh, benar-benar pusing dia memikirkannya.
Lesya membolak balikkan badannya di ranjang dan dikejutkan dengan keberadaan Elvan yang juga ikut merebahkan dirinya di ranjang. "Loh lo ngapain? Biasa juga mandi dulu baru ngerjain tugas! " heran Lesya.
Elvan menggeleng saja. Matanya dia pejamkan walau pikirannya terbang ke mana-mana. Dia bukannya tak mau menuruti permintaan ayahnya untuk mengurus perusahaan cabang keluarganya. Namun dia harus menyelesaikan hama yang menganggu kehidupannya. Contohnya Faris!
"Lo terima permintaan ayah? " tanya Lesya hati-hati. Elvan menggedikan bahunya tak tahu. "Lo sendiri emang terima permintaan bunda? " tanya Elvan berbalik tanpa membuka matanya.
Lesya mengedikan bahunya tak tahu. "Gw bingung! Hati gw nyuruh nerima tapi, my brain gak bolehin gitu! " keluh Lesya melengkungkan senyumnya ke bawah.
"Ikutin apa kata hati lo! " enteng Elvan. Lesya menoleh ke arah Elvan dan mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kalau seandainya kata hati gw salah gimana? "
Lesya mengangguk paham. "Keamanan di sini lumayan terjaga dan gw bisa tenang kalau Letha tinggal di sini! Tapi, kalau dia tau gw siapanya lo gimana? Bisa berabe urusannya nanti! " opini Lesya.
Elvan membuka matanya. "Sementara lo sekamar sama dia dulu sampai gw balik ke sini! " enteng Elvan. Lesya mengangguk setuju. "Iya juga sih! Letha rencananya bakal diajak ke sini waktu selesai ujian! "
"Nah, sekarang tinggal masalah lo! Lo mau gak terima permintaan ayah? Gw sih oke-oke aja! Biar Letha gak curiga, mending lo urus aja deh dari pada lo di sini! " saran Lesya. "Lagi pula nih ya, apa salahnya lo bantu ayah? Lagian tuh perusahaan bakalan jadi punya lo nanti! "
Elvan hanya mengangguk menyetujui ucapan Lesya. Dirinya melirik jam yang berada di dinding kamarnya dan beranjak. "Mau kemana? " tanya Lesya bingung.
__ADS_1
"Bersihin hama bentar! "
Mendengar sesuatu yang menarik dirinya, Lesya juga ikut beranjak dari tidurnya. "Ikuutt! " semangatnya. Elvan mengangguk saja menyetujui permintaan gadis yang berada di kamarnya itu.
Beberapa menit berlalu, mereka sudah memakai celana dan kaos hitam. Ditambah jaket mantel rocker yang digunakan Lesya, mereka tampak bagaikan pasangan yang menjalani misi mereka. Rambut mereka acak-acakkan hingga menutupi sebagian mata mereka.
"Btw kita mau kemana? " tanya Lesya yang tak tahu dirinya akan ke mana. Dengan entengnya Elvan menjawab. "Markas TW! Balas dendam sama Faris! " jawabnya.
Mata Lesya melotot tak percaya. "Kuy lah! Gw kira dia kabur, ternyata ada di markas lo! " cibir Lesya melipat dadanya. Elvan hanya mengangguk. "Mau pake motor masing-masing? " tawarnya.
"Woiya jelas dong! Tapi bunda sama ayah ada di bawah gak ya? " molog Lesya. Elvan menggeleng kecil dan mengambil kunci motornya. "Lewat jalan pintas! "
"Hah? " bingung Lesya. Elvan menyunggingkan senyum smirk nya. Melemparkan Lesya kunci motor untuk gadis itu sendiri, Elvan berjalan terlebih dahulu dari Lesya. Untung saja Lesya dengan sigap dapat menangkap dan mengikuti Elvan dengan gerutuan kecil.
...※ ·❆· ※...
Setelah keluar dari kediaman Grey dengan melalui jalan pintas yang Elvan tunjukkan yang tak lain berada di jalan kecil dapur. Mayang sebenarnya pernah menggunakan jalan ini. [Episode 163, ingat? ]
Lesya menghela nafasnya lega dan menaiki motornya diikuti Elvan yang berada di depannya. Mereka mengendarai motor mereka masing-masing menuju tempat dimana Faris berada.
"WOY!! " Tiba-tiba empat motor ikut berjajar di samping mereka. Dua di sebelah Lesya dan dua di sebelah Elvan. Rupanya itu ke empat teman Elvan yang memang hendak pergi ke markas TW.
Lesya menoleh ke sampingnya. Dapat dia tebak jika itu adalah Ken. Rupanya jika hendak ingin pergi atau pulang dari markas TW, mereka akan berjiwa badboy.
__ADS_1
Lesya yang ditengah jalan melihat Amanda yang menyetir tenang di jalanan yang cukup sepi, membuat tangannya gatal untuk membalaskan dendamnya. "I comeback Mandel! " smirknya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗