
Di sisi lain terdapat dua remaja yang masih sama-sama terdiam satu sama lain. Jika Luna dan Valen saling bertengkar dan digoda, berbeda dengan pasangan ini yang tak banyak berbicara justru menikmati semilar angin malam dan menatap langit malam yang bertaburan banyak bintang. Yah, itu Lesya dan Elvan! Elvan membawa Lesya ke tempat dimana mereka dapat melihat banyaknya bintang bertaburan dengan posisi duduk di beton.
"Indah ya? " ucap Lesya tiba-tiba.
Elvan melirik Lesya sekilas dan menggeleng kecil. "Enggak lebih dari pada lo! " jawabnya. Lesya menoleh dan tersenyum kecil. Tangannya dia gunakan memukul pelan sekali dada bidang Elvan. "Apaan sih lo? Ada-ada aja! " ujar Lesya sedikit salah tingkah.
Elvan tersenyum kecil dan membenarkan rambut Lesya yang tergerai sedikit berantakan. Lesya menatap manik mata Elvan yang entah mengapa sedikit candu saat melihatnya. "Kenapa liat-liat? Ada yang aneh? " tanya Elvan melihat Lesya yang terdiam memperhatikan dirinya.
Lesya menggeleng kecil dan beralih menatap langit malam yang bertaburan banyaknya bintang. "Kenapa sih lo akhir ini kelihatan perhatian sama gw? Biasanya juga lo boro-boro perhatian, nyari ribut mulu bawaannya! " tanya Lesya.
Elvan menautkan alisnya dan kembali melihat taburan bintang malam. "Mau tau alasannya? Kalau menurut logika, alasannya karena lo istri gw! Kalau menurut diri gw sendiri lo mau tau apa alasannya? " tanya Elvan kemudian kembali beralih menatap Lesya lagi.
Lesya menatap balik Elvan dan mengangkat satu alisnya bingung. "Apaan? " tanyanya. Elvan mendekatkan dirinya di telinga Lesya dan berbisik kecil. Tentu saja Lesya terdiam mendengar alasan itu. Geli menurutnya namun dia senang juga mendengarnya. Perasaannya dicampur aduk mendengar alasan yang dibisiki oleh Elvan di telinganya.
"Apa sih gak mungkin kali! " elak Lesya.
Elvan mengacak rambut Lesya gemes. Hal itu membuat Lesya mendengus sebal. Lagipula yang merapikan rambutnya siapa? Lalu diacak-acak lagi? Gak jelas!
"Masalahnya gw beneran serius Le! " ucapnya.
Lesya hanya diam dan menggedikkan bahunya tak tahu saja. Sedetik mereka sama-sama terdiam menikmati malam cerah dengan duduk di beton. Sementara Lesya dia mencerna maksud dari kata-kata bisikan Elvan. ‘Because I love you Aleesya!’ kata itu terngiang-ngiang hingga tanpa sadar Lesya mengukir senyum manisnya.
Elvan yang menyadari senyuman Lesya itu hanya geleng-geleng kepala. "Terus sekarang kalau lo gimana? " tanya Elvan. Lesya menoleh dan mengerutkan keningnya bingung. "Gimana apanya? "
__ADS_1
"Hati lo ke gw? "
Lesya terdiam sejenak dan menangkan bahunya tak tahu. What is love? Dia bahkan tak tahu makna ataupun arti dari kata ‘cinta’ itu. Namun dia tak pungkiri jika dia merasa nyaman dengan Elvan.
"Enggak tau! " jawabnya.
Elvan menghela nafasnya. Sudah dia duga tak semudah membalikkan telapak tangan jika membuat seorang Aleesya jatuh cinta. Okay, sepertinya dia akan memulai perjuangannya untuk mendapatkan hati gadis dingin itu. Mari berjuang!
Lesya mengangkat telapak tangannya ke arah langit dan tersenyum manis. "Lo tau gak? Kalau kita kangen sama seseorang, kita bisa liat bintang yang paling cerah sambil bayangin wajah dia! Lo pasti ngerasa kalau dia tuh senyum sama kita"
"Kangen sama siapa? " Lesya menurunkan tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. "Papi sama mami! Mereka bahagia gak ya kira-kira? " gumam Lesya.
Elvan menarik Lesya agar menyandar ke bahunya. "Kalau kangen bilang sama gw, kalau ada masalah juga bilang sama gw jangan dipendem sendiri! " kata Elvan. Lesya memainkan jarinya dan melirik sekilas Elvan."Apa untungnya? "
Lesya terkikik kecil mendengarnya. Hatinya sedikit tenang mendengarnya. "Terus kalau gw dikeroyok terus lo ngadepinnya gimana? " tanya Lesya akhirnya mengangkat wajahnya dan meletakkannya di atas pundak Elvan.
"Gw hajar lah nyampe bonyok! " enteng Elvan. Lesya terkikik kecil mendengarnya. "Umumu.. Ketos SMA Gregus cosplay jadi mak-mak haha.. Perhatian banget siih! " tawa Lesya kecil.
Elvan melirik Lesya dan merangkul pundak Lesya. Wajahnya sengaja dia dekati hingga kedua hidung pasangan itu saling bersentuhan satu sama lain. "Biarin, asal lo bahagia gw gak masalah kalau taruhan nyawa! " tulus Elvan.
Lesya memukul pundak Elvan dan mundur sejenak. "Jangan taruhan nyawa juga kali! Lo pikir gw mau apa jadi single parent muda-muda gini? Enak aja, kagak mau ya gw! " ketus Lesya. Elvan terkekeh kecil. "Perhatian nih ceritanya? "
"Perhatian dari mana coba?! Gw tuh ya cuman gak mau jadi single parent doang ya! Ya kali gw muda-muda gini udah nyandang status single parent, ogah gw mah?! " elak Lesya membantah.
__ADS_1
"Bilang aja kali kalau gak mau kehilangan gw kan lo? " goda Elvan lagi. Mata Lesya mendelik ogah dengan ucapan Elvan itu. "Idih! Kata si-siapa coba gw gak mau kehilangan lo? Lagian lo bawa-bawa masalah nyawa sih! "
"Ciee,
"Shutttt, diem! Gw ngantuk nih mau tidur, balik yok! " ajak Lesya mengalihkan pembicaraan. Kan malu kalau ditanyain begitu mulu! Dia memang gak mau kalau kehilangan orang yang buat dia nyaman sekali lagi setelah Arga. Sayangnya dia punya sifat gengsi tingkat tinggi!
Elvan hanya berbalik dan loncat dari beton saja. Tangannya terulur agar menangkap Lesya yang akan segera loncat. Karena pasalnya beton itu lumayan tinggi. Lalu bagaimana mereka naik? Di sana ada tangga kecil namun mereka harus berjalan dengan jarak lumayan jauh dahulu di atas beton. Karena mereka sudah berpengalaman naik dan turun dari gerbang ataupun kamar, alhasil mereka memilih untuk loncat saja.
Hap!
Tepat sasaran! Lesya turun dari gendongan Elvan dan berjalan menuju perkemahan diikuti Elvan di sampingnya. Posisi mereka adalah saling menggenggam satu sama lain. Beton dan langit malam adalah saksi bukti dari pernyataan cinta Elvan kepada Lesya.
~o0o~
Kemah saat ini sangatlah ramai. Sementara api unggun sudah habis. Para lelaki sibuk mencari kayu bakar di tengah-tengah desa hutan itu. Sementara para wanita sibuk mengoleskan cream pencegah nyamuk karena memang banyaklah nyamuk yang hinggap di badan mereka. Alhasil mereka yang melawan sudah berkali-kali mendepak banyak nyamuk namun masih banyak juga yang tersisa di perkemahan itu. Jelas saja masih ada karena mereka berada di luar tenda!
"Woy nih kita dapet! " ucap Ken menggelar agar para perempuan dapat mendengar suaranya. Valen menoyor kepala Ken agar tak berisik sementara Revan menginjak kaki Ken agar diam. "Diem woy! Kalau suara lo kedengeran sama tetangga auto diusir lo, mau?! " kata Valen.
Ken hanya meringis kecil. Sudah dapat toyoran dibonusi lagi dengan injakan kaki Revan. Beh, double kill dia mah! Revan menyetujui ucapan Valen. "Nah bener tuh kata wakil bapak ketua, berisik lo braderrr! Kalau warga demo nyebut nama lo gw gak ikut-ikutan aja! " ucap Revan.
"Widih, ini ceritanya kalian berdua baru balik dari mana nih? Pake acara pegang-pegangan segala lagi! Mau nyebrang lautan ya? " tanya Cakra berniat menggoda Lesya yang baru saja datang dengan Elvan dari arah samping mereka.
Sontak aja Lesya dan Elvan menjadi pusat perhatian di kawasan para lelaki yang masih memegang kayu bakar di tangannya. Pandangan para lelaki itu tentu saja ke arah tangan Lesya dan Elvan yang saling menggenggam erat. Maybe~
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗