
Lesya tersadar dan kembali mengambil peralatan P3K yang ada di atas nakas kamar. Sementara saat Lesya berbalik, gadis itu terkejut melihat Elvan yang bertel*njang dada. Dan yang menjadi permasalahan Lesya adalah gizi mata yang mendapatkan penglihatan cerah tentang roti sobek milik lelaki secara langsung. Saat di club malam memang dia sudah biasa melihat namun yang kali ini luar biasa! Menutup matanya dengan reflek, Elvan menoleh ke arah Lesya dan menautkan alisnya bingung.
"Ada yang salah? " tanya Elvan.
"Kenapa lo gak pake baju lo sihh.. " cicit Lesya kecil seraya menggigit bibirnya. Elvan tersadar dan tangannya bergerak hendak membuka mata Lesya. "See me! " ucap Elvan dibalas gelengan kepala Lesya.
"Open your eyes Le! "
"No! "
"Yaudah, gw obatin sendiri aja! " final Elvan pasrah melihat Lesya yang terus menolak membuka matanya.
Lesya sontak membuka matanya dan menahan tangan Elvan. Akhirnya dengan pasrah dia mengobati sekitar luka Elvan. Bagaimanapun juga, Elvan begini untuk dirinya dan Lion Claws. Hingga Elvan yang terus menatapnya akhirnya angkat suara membuat keheningan pecah dengan aura yang dingin di sekitarnya. Namun Elvan tak peduli akan aura yang dipancarkan Lesya. "Do you hate your dad? "
"Yeah! I hate him. . . But, " jeda Lesya.
Elvan yang melihat perubahan wajah Lesya tetap memperhatikan gadis itu hingga melanjutkan pembicaraannya. Namun sayangnya tak ada tanda-tanda jika Lesya akan melanjutkan ucapannya. Hingga selesai mengobati, justru Lesya mengalihkan pembicaraannya tadi.
"Selesai, gw ke kamar dul--- "
__ADS_1
Belum selesai Lesya bicara, Elvan terlebih dahulu menyumpal bibir Lesya dengan dirinya. Dia sangat tak suka melihat orang yang mengalihkan pembicaraan penting dengannya. Jika bercandaan dia tenang-tenang saja. Yah memang, menurutnya pembicaraan itu penting!
Cuuupss!
Lesya tak mampu berkata-kata lagi. Matanya tak membesar ataupun mengecil namun justru salah satu matanya mengeluarkan cairan bening. Pipinya yang ditangkup Elvan dan dengan posisi dirinya dan Elvan sangatlah dekat apalagi mereka duduk di atas ranjang dengan kaki yang dilipat. Dia nyaman bahkan sangat nyaman rasanya. Itu sebabnya dia juga sadar jika dia ikut terbuai dengan permainan bibir Elvan dibuktikan dari dirinya yang memeluk pinggang Elvan.
Mata mereka saling beradu pandang dengan lekat. Sedari tadi, mereka tak melepaskan pandangan mereka satu sama lain. Menutup atau berkedip saja tidak! Hingga Elvan yang menyadari Lesya mengeluarkan cairan bening dengan segera melepaskan pautannya dan mengusap pipi Lesya yang sedikit basah.
"Tell me honestly baby! (Katakan jujur padaku sayang!) " ucap Elvan.
Lesya tak menjawab namun dia berhamburan memeluk Elvan seolah tak ingin melepaskan lelaki itu. Mungkin dia baru menyadari atau memang menyadari jika sebuah kenyamanan yang diberikan Elvan membuat dirinya perlahan sedikit terbawa perasaan. Yah, apa dia jatuh cinta dengan ketua OSIS di depannya? Orang yang sudah resmi menjadi suaminya dalam usia muda ini. Namun hal itu nampak tak mungkin bagi dia yang kaku dan beku lebih dari batu. Apa dengan dia bertanya Lisa atau teman-temannya yang lain tentang hubungan asmara akan membuatnya sadar jika dia hanya cinta atau sekedar nyaman. Mungkin dia akan bertanya khususnya kepada Leon yang mengalami hal ganjal yang dia rasakan.
"But, I can't do it! Gimanapun juga dia daddy gw, orang yang hadirin gw di dunia walau bukan dia yang ikut besarin gw! " lirih Lesya membenamkan wajahnya di dada bidang polos Elvan. Catatt, Elvan masih belum pakai baju di bagian atasnya yah tapi di mohon untuk jangan traveling pikirannya, wkwk yang keciduk🤣
Lesya hanya mengangguk-angguk paham saja tanpa mengubah posisinya. Selain dari alasan Elvan, dia juga tak mau rasa benci itu berubah menjadi rasa obsesi untuk melenyapkan ayah kandungnya. Selama ini dia selalu menahan rasa benci itu agar tak timbul di dalam hatinya. Dia juga tak punya hak untuk membenci Galang yang notabenya ayah kandungnya sendiri. Dia tahu itu bahkan dari usia 5 tahunnya! Sangat dini untuk menerima kenyataan itu. Apa boleh buat?
Seg*la-g*lanya Galang, sekasar-kasarnya Galang, sekejam-kejamnya Galang dan sejahat-jahatnya Galang padanya, tak dapat dipungkiri jika mereka masih berhubungan darah. Bahkan golongan darah mereka sama. Gilang saja berbeda golongan darah dengan Galang. Itu sebabnya Lesya sangat hati-hati saat berperang karena tak mau melibatkan ayah kandungnya itu. Sementara jika Letha, hanya pada Mily ataupun mendiang Mila lah persamaan darahnya.
Elvan merasakan pundaknya yang basah dan suara dengkuran halus menandakan Lesya sudah tertidur. Dengan cepat lelaki itu memindahkan Lesya ke posisi tidurnya dan menggunakan bajunya. Lukanya tak sebanding dengan luka gores tanpa darah yang tertanam dalam di hati Lesya.
__ADS_1
Saat Elvan hendak beranjak membersihkan diri melihat dirinya hanya memakai kaus hitam oblong dengan kemeja sekolahnya yang bercak darah. Namun tangan Lesya dan gumaman kecil Lesya membuatnya terhenti. "Don't go, please... " racau Lesya samar-samar.
Elvan menautkan alisnya dan kembali tertidur di samping Lesya saja. Sepertinya, Lesya bagaikan bayi besar saat bersamanya. Dia dapat menyadari hal itu karena di saat dirinya dan Lesya di luar, Lesya tak pernah bergantung pada orang lain. Sementara di rumah dan saat bersamanya, sikap Lesya berubah menjadi gadis yang manja. Maybe~
~o0o~
Matahari hampir tenggelam dan Elvan yang baru saja membersihkan dirinya masih melihat Lesya diam tertidur sangat pulas. Dengan perlahan dia keluar kamarnya dan menutup pintu. Saat dia berada di ruang makan, pandangan mengarah padanya. Bahkan di sana sudah ada Elena, Luna, Alam, Angga, Mayang, dan Letha tentunya.
"Loh, Lesya mana Van? " tanya Mayang hati-hati. Padahal dia sudah menunggu Lesya untuk memberi jawaban tentang ucapannya tadi. Begitu juga dengan yang lainnya kecuali Luna dan Alam.
Elvan menggeleng kecil dan mengangkat bahunya. "Tidur bun, dia kecapean nangis mulu. " jawabnya. Luna menggebrak meja pelan namun menimbulkan bunyi lumayan keras di meja makan keluarga yang cukup terpandang itu.
"Nah, dengerkan?! Tuh udah tua juga masih aja nyari ribut! Kalau bukan karena Lesya juga gw gak bakal colok matanya! " kesal Luna gemes ingin mencakar-cakar wajah Galang hingga tak terbentuk.
Elvan tak menanggapi dan duduk di salah satu kursi kosong yang masih tersedia. Sementara Letha yang sedari tadi diam memicingkan matanya ke arah Luna. Apa maksud dari perkataan itu? Apa Luna juga tahu mengenai masalah ini hanya karena Luna adalah sahabat dari Lesya?
"Kenapa? Mau nanya-nanya? Mon maap nih, gw gak cocok jadi narasumber lo! Mending biar asli tanpa hoax tanya sama Lesya. " ucap Luna yang seolah tahu arti dari tatapan aneh Letha untuknya.
"Apa nyebut gw? "
__ADS_1
Suara dengan nada datar itu membuat semua orang menoleh dan sedikit terkejut melihat kedatangan Lesya. Yah, gadis itu merasa kedinginan di kamar hingga memilih bangun dan beberapa menit membersihkan diri lalu pergi makan malam. Dia tak sengaja mendengar Luna menyebut namanya. Dia sudah tahu jika dirinya akan mendapatkan banyak pertanyaan dari mereka yang bingung.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗