
Episode 430: Hubungan
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Dua hari setelah kejadian tahu menahu nya mengenai kehamilan Letha membuat gempar para orang tua yang merupakan sahabat dari mendiang Mila karena tak menyangka kejadian yang terulang.
Luna yang menjelaskan solusi yang diperintahkan Lesya, semuanya hanya menurut saja. Mungkin ini menjadi solusi terbaik saat ini. Jika pemilik nama tahu, mungkin kejadian masa lalu bisa kembali lagi dengan alur yang entah bagaimana.
Tak hanya para orang tua saja, Amel dan Nayla sebagai sahabat cukup terkejut dan tak menyangka dengan kabar itu. Begitu juga Vay dan Felicia, mereka tampak hanya diam karena kabar yang cukup membuat mereka sakit hati juga tertampar tanpa serangan fisik.
Terlebih pada Vay yang sangat kaget dengan kabar tersebut. Setelah kepergian mendiang papanya—Vion, Vay sedikit kurang terima jika harus mendapatkan adik beda ibu walau sedikit kecewa pada mendiang papanya.
Dan setelah dua hari di rumah sakit, akhirnya Letha diperbolehkan pulang ke rumah. Setibanya di rumah, kedua saudara kembar itu disambut dengan sangat ramah oleh banyaknya orang.
Ada Mayang, Mily, Sella, Gilang, Galang dan teman-teman mereka. Tak tertinggal, tentunya ada Felicia juga Vay di sana karena ingin menjenguk sekaligus memastikan kondisi Letha yang notabenya belum mengetahui apapun.
Letha cukup tak menyangka jika dia akan disambut dengan pesta kecil-kecilan. Dan pada kebenaran, Lesya lah yang menyuruh mengadakan pesta kecil-kecilan agar Letha tak curiga.
Selain itu, Lesya sendiri juga tak mau jika adik kembarnya merasa kesepian. Sesuai dengan prinsip juga janjinya dahulu pada mendiang papi. Kini Lesya setidaknya ingin berubah menjadi pribadi yang dapat membagi waktu, pikiran, pendapat juga keputusan.
"Kak?"
Lesya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis melihat raut keterkejutan dari adiknya. Tangannya yang lain masih tetap setia menenteng tas ransel yang berisikan pakaiannya yang dia gunakan saat menginap di rumah sakit.
"Makasih semuanya… " tulus Letha berucap seraya tersenyum manis.
Para gerombolan muda yang ada hanya membalas dengan anggukan dan sorakan heboh masing-masing karena tak sabar merusuh di rumah mewah yang mereka pijaki. Alat dan bahan juga sudah mereka bawa sendiri sebelum pergi ke rumah mewah tersebut.
"Dah, bakar-bakar yokk!" ajak Luna beralih merangkul pundak Lesya dari samping. Sang empu menatap Luna dengan datar dan segera menepis tangan Luna pelan dari pundaknya.
"Gw masih marah loh ya sama lo!"
Luna melotot dan memasang wajah memelasnya. "Yang itu kan udah lewat Sya, please lah maapin, ya-ya?" melas Luna bertingkah imut dengan tangannya yang menyatu di depan wajah Lesya.
"Kalau gw maapin, gw dapet apa?"
Luna sontak menetralkan kembali ekspresinya. Sudah tahu dari ucapan Lesya yang ingin mendapatkan keuntungan di balik sikap acuhnya.
"Gak mau? Yaudah, lo kasar gw gak like!"
Lesya segera menyelenong pergi ke arah belakang karena ingin meletakkan tas ransel yang dia bawa ke ruang cuci rumahnya. Namun, pergerakan Lesya terhenti di tengah jalan saat mendengar tawaran Luna yang begitu menggiurkan baginya. Lagi pula, dia juga tak bisa marah-marah terlalu lama dengan sahabat yang paling dekat dengannya.
"Gw traktir motor incaran lo, gimana?"
"Deal!"
Luna melotot kaget. Habis tabungannya sebentar lagi hanya karena tawarannya yang asal ceplos. Ayolah, motor incaran Lesya itu harganya tak main-main. Bisa saja dia beli mobil biasa dibandingkan motor incaran Lesya yang seharga ratusan rupiah. Anehnya, hingga saat ini Lesya menunggu orang membelikannya bukan beli sendiri walau dia mampu.
__ADS_1
"Lesya lo lagi meras gw tanpa malak ya?" kesal Luna ngegas.
"Kagak ada! Gw gak suka meras punya lo, gw gak belok." balas Lesya enteng kembali berjalan ke arah belakang.
Mata Luna mendelik dengan ucapan frontal Lesya yang kelewat enteng diucapkan. Terkadang sahabatnya err.. rada-rada begitulah. Sungguh, Luna saat ini malu dengan dirinya yang ditertawakan oleh yang lainnya di sana.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Halaman belakang kini sudah diisi oleh banyaknya orang yang hadir. Letha tak ada di sana karena dia diperintahkan ke kamar untuk tidur agar lekas pulih. Kini semua duduk meminta penjelasan pada Lesya mengenai kondisi Letha.
Lesya sedari tadi hanya diam tak menanggapi karena pusing. Rasa bersalah dan gagalnya sebagai seorang kakak kembali keluar saat ini. Dia sangat takut mengulang kisah yang sama.
Lantas jika di masa lampau korbannya adalah papi kesayangannya, di masa saat ini siapa korbannya? Cukup sekali saja, tanpa korban lainnya. Pikir Lesya.
"Seriusan gw nanya ya bocah! Lo diem gw geplak pala lo mau hah?" geram Mily sekaligus gemes karena sama sekali tak mendapatkan jawaban yang pasti dari keponakannya. Sang empu hanya berdehem pelan sekaligus mencomot kentang goreng yang ada di sana.
Lesya memutar bola matanya malas dan mengangguk pelan saja. "Iya, dan lo bakal jadi nenek Aunty, yeyy! Puas hah?" jawab Lesya mendengus jengah.
Mily terdiam mencerna jawaban keponakannya. Dia bukan takut, hanya saja tak percaya jika Letha mengalami hal yang sama dengan jalan yang berbeda seperti mendiang kakaknya.
"Ya terus gimana sekarang?"
"Ya gak gimana-gimana lah! Emang bener kata pepatah: yang kamu tanem, itu juga yang dituai. Mau diapain lagi emangnya? Udah kejadian gini juga, mending mikir solusi bukan cara seolah buat dia gak dianggep." ucap Lesya sekaligus menyindir orang yang berada di samping Mily juga Sella.
"Nyindir lo?" sinis Gilang.
Lesya masih punya dendam tersendiri pada uncle nya walau seperti ini. Hanya saja, dia mencoba menenangkan dendam tersebut agar tak membuat suasana yang mulai damai kembali kacau balau karena tak terima kehadiran mereka yang mengacaukan masa-masa kecilnya. C'mon, Lesya tak sekanak-kanakan seperti itu!
"Kenapa gak aborsi?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Felicia membuat semua menoleh. Lesya berdecak kesal dengan ucapan Felicia yang sama seperti menyindir dirinya.
Lesya juga sangat paham seberapa sakit hatinya Felicia mendengar kabar yang cukup menghebohkan ini. Tak ada yang terima, begitu juga dia. Hanya saja, dia juga harus terpaksa menerima kenyataan tersebut dan mencoba menerima kenyataan dengan ikhlas.
"Kalau Vay gw bunuh hidup-hidup di depan lo, gimana?" sinis Lesya mengepalkan tangannya geram. "Nyari mati lo sama gw? Gimana pun juga salah suami lo itu yang udah death, malah ninggalin masalah di dunia." ketus Lesya.
"Bener juga sih, tapi salah! Dari pada dia ngerusuh di dunia, mending dia nambah masalah di dunia waktu pergi. Gini-gini kita masih punya hati buat gak telantarin si Letha." sahut Luna melahap tiga tusuk sate bakar sekaligus tanpa canggung.
"Gobl*k! Mana mau si Lesya biarin adeknya ditelantarin sama orang, yang ada diajak babak belur. Dia kan kakak yang baik yang sayang sama adeknya." sahut Lisa dengan penuh wajah sok polosnya seolah secara langsung menyindir Lesya yang duduk di sebrang.
"Lo punya masalah sama gw hah? Sini bye one sekarang!" galak Lesya menggulungkan lengan bajunya. Bersiap berdiri, Lesya kembali jatuh dan duduk di tempatnya karena tangan Elvan yang lebih dulu menariknya agar kembali duduk di tempat tanpa membuat ulah.
"Lisa, Tante bawa kamu ke sini bukan untuk ribut ya!" peringat Mayang yang berada di sebelah Lisa. Sang pemilik nama hanya berdehem pelan saja seolah mengiyakan ucapan adik dari papanya.
"Terus gimana dong kuliahnya, Letha?" tanya Nayla angkat suara.
Semua menoleh dan mengangguk setuju. Letha tak tahu mengenai kehamilannya. Pasti karena ambisi sebagai seorang pelajar, dia ingin masuk kelas designer sesuai impiannya.
__ADS_1
Jika ditolak atau ditahan, kecurigaan mulai muncul dan didasari dengan berbagai pertanyaan. Jika salah menjawab, dugaan juga kemungkinan besar, rasa penasaran sekaligus curiga muncul di benak perempuan tersebut.
"Iya, gimana kuliahnya? Soalnya sebelum masuk ke rumah sakit waktu itu, kita udah daftarin Letha ke universitas di kelas designer karena dia yang minta sama kita. Bahkan barengan sama Nayla." sahut Amel ikut-ikutan bertanya.
"Buset, udah nyerepet aja anak kebanggaan sekolah! Terpintar, terpandai juga terpopuler di kelas B, gak sabaran amat sih kalian buat kuliah." kaget Valen menyahut dengan geleng-geleng kepala.
"Daftar ulang aja ke universitas punya saya. Nanti saya bicarain dengan ke rektornya." ucap Galang angkat suara.
Lesya menjentikkan dan menganggukkan kepalanya setuju saja. Lebih aman melanjutkan perguruan tinggi di kawasan yang merupakan daerah milik keluarga dibandingkan daerah asing. Setidaknya masih dapat dipantau oleh yang bersangkutan.
"Ikut dongg! Kelas designer, tapi biayanya ditanggung Echa." sahut Luna ikut-ikutan. Sang pemilik nama mendelik tak terima dengan ucapan sahabatnya.
"Gw bukan bapak mamak lo yang harus tanggung biaya hidup lo!" ketus Lesya.
Luna tampak tertawa pelan dengan mulut penuh makanan. Gadis itu sama sekali tak tersinggung mendengar mendiang sang papa kembali disebut. Dia bercanda dan pastinya dibalas candaan oleh lawan bicaranya.
"Sekalian boleh lah kita-kita juga, ya gak gays?" usul Revan yang tiba-tiba juga ingin ikut-ikutan masuk perguruan tinggi.
Valen juga Elvan saling berpandangan dan mengangguk mengiyakan saja. Pintu solusi di mana mereka akan menimba ilmu sudah terbuka saat ini. Tak mungkin mereka menolak. Mereka juga butuh tempat suasana baru tanpa harus pergi ke luar negeri. Setidaknya dapat menjangkau mereka berenam.
Anyway, di tempat ini Frans, Ken, juga Farel tak hadir karena tentunya harus menjaga Farel yang masih sakit.
Sementara Frans sengaja menghindar dari Amel karena tahu jika kekasihnya itu sedang masa-masa mengambek padanya. Jika Ken, dia sedang dalam mode lebih sayang sahabat dibandingkan makanan, wkwk :D
"Kamu gak sekalian, Sya?" tanya Galang seraya mengetik pesan pada asistennya.
Sang empu hanya melambaikan tangannya seolah mengatakan ‘tidak’ ke arah daddy kandungnya. "Enggak deh, 'kan boros namanya! Gw udah pinter, gak perlu sekolah lagi." jawab Lesya enteng juga sekalian membanggakan diri.
"Mana boleh gitu! Tan, emang Tante May mau punya menantu lulusan SMA doang? Aduh Tan, enggak usah deh ya, malu sama anak tetangga yang punya gelar sarjana." ucap Lisa sengaja memanasi Mayang agar sesekali berada di pihaknya bukan Lesya.
"Enggak juga sih, kalau udah pinter ngapain juga kuliah ya gak ya gak?" Mayang kini ikut menyahut dengan tatapan usil bagaikan zamannya dahulu. Melihat interaksi para muda-mudi di sana membuat jiwa mudanya berkoar-koar.
"Woiya jelas! Sayang banget lo harus masuk juga Sya, soalnya gw gak mau punya keponakan lulusan SMA kayak lo. Kalaupun lo kuliah 2 jam doang sambil kerja terpenting lo punya gelar sarjana gw udah sujud syukur!" sahut Mily.
"Tapi bisa juga loh sukses tanpa gelar sarjana. Terpenting bisa buktiin ke orang lain kalau dia mampu bangkit tanpa gelar sarjana juga bikin bangga!"sahut Valen ikut-ikutan yang merasa seru dengan pembicaraan yang berlangsung.
"Anjayyy, quotes hari ini dimenangkan oleh Bapak Alien kita, ayo tepuk tangan yang meriah sodara-sodaraku!" canda Revan bangkit dari duduknya dan memperagakan layaknya seorang pembicara sebuah acara. Sorakan dari Lisa, Luna, Amel, Nayla begitu menggema seolah menyoraki Revan.
"Eleh-eleh, sok lo Rep!" ledek Lisa keras membuat sang empu memegang dadanya seolah sakit hati dengan ucapan Lisa. Namun, itu hanyalah sebuah candaan saja. Semua tertawa melihat raut wajah Revan di sini.
Lesya tersenyum melihat interaksi di taman itu dan memandang langit-langit. Walaupun ada duka dalam hatinya mengenai kabar sang adik kembarnya, tetap ada yang mensupport dirinya dalam hal-hal terpuruk seperti ini.
Dia sadar jika dia selama ini selalu menganggap remeh kedekatan sebuah hubungan. Nyatanya, dari hubungannya mulai terciptanya warna kehidupan yang terlukis di memori otak seseorang.
Terlebih hubungan persaudaraan, persahabatan, juga keluarga. Semua saling melengkapi dan mendukung di saat salah satu dari mereka melemah.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1