Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
388: Pendonor


__ADS_3

Ceklek!


Mereka semua dengan kompak menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Elvan yang keluar dari ruangan Lesya. Seketika suasana asik yang mereka bangun tersingkir dahulu. Luna, gadis itu juga sudah melupakan rasa salah tingkahnya dan menatap serius Elvan yang terlihat sedikit lebih lega. Maybe~


"Eh pak Ketos, gimana keadaan my prend? " tanya Luna penasaran. Elvan perlahan duduk di satu kursi yang ada dan menatap sekilas Luna kemudian beralih lagi menatap lurus arah tembok.


"Awalnya kaget dan dia lepas kendali. Subuh tadi, dia goresin tangannya pake beling dan balik infus lagi. Gw lega dia sekarang udah mau minta minum." kata Elvan. Luna menghela nafasnya dan kembali menatap Elvan saat lelaki itu angkat suara kembali.


"Lo tau gimana cara buat Lesya normal lagi? " lanjut Elvan bertanya.


Luna berpikir sejenak dan mengangguk pelan saja. "Self healing mungkin, " jawab Luna sedikit ragu. Bukan apa-apa namun itu hanya satu cara yang terpikir di benak Luna dan itu berhasil membuat Lesya kembali normal dahulu walau sikap sahabatnya kembali kaku.


"Tanya sama kak Sarah lah! Kalau dulu sih kita pake teori Self healing ke rumah Lesya di Prancis karena di sana asri banget. Di sana juga ada Lion, mungkin aja Lesya jadi lebih terbuka sama Lion secara dia sayang banget sama peliharaannya itu." saran Luna.


"Seriusan lo? Tapi kan tiga minggu lagi ujian woy! " cengo Valen menyahut. Luna kembali berpikir lagi. Untuk jangka waktu yang singkat tak terpikir untuk dirinya membuat Lesya kembali normal.


"Home schooling aja gak sih? "


"Gimana mau home schooling kalau tadi aja gak mau di deketin! " ucap Elvan mengacak rambutnya frustasi. Luna mengangguk setuju dan kembali berpikir lagi. Mereka layaknya dipaksa mencari solusi yang tak memaksa waktu panjang.


"Menurut gw aja sih, cuman Lesya sendiri yang bisa normalin diri sendiri! Tau lah ya kalau orang sadar tuh pasti bisa ngendaliin diri, eh— "


Valen yang sedang iseng memainkan rambut Vay terus berceloteh hingga menyadari ucapannya. Karena tatapan tajam dari Luna dan Elvan, dia menghentikan ucapannya. Dia mengira ada yang salah dari kata-kata nya.


"Bener, semua bisa dikendaliin kalau orang itu sendiri dalam keadaan sadar! Gimana kalau kita bawa Lesya ke Prancis dan karena di situ luas, CCTV-nya lengkap dan pengamanannya juga ketat, mungkin di situ kita bisa rubah pemikiran Lesya, begitu? " usul Luna.


"Harus? Di Indonesia juga banyak kok yang begitu! " kata Elvan yang menolak usulan Luna secara halus. Jujur saja Elvan ragu bukannya tak mau. Luna berdecak mendengar penolakan halus Elvan. Dia tahu lelaki itu ragu sekaligus khawatir dengan keadaan Lesya.


"Gw gak tau berhasil atau enggak tapi yakin deh di situ semua berasa di dunia teknologi semua! Desainnya bagus, alat-alat kesehatan juga lengkap, gak selengkap di sini. Bukan ngehina atau gak suka produk lokal tapi gw jamin Lesya bisa fresh kalau dibawa jauh dari negara yang buat dia traumatis! "


Luna meyakinkan Elvan agar menyetujui ucapannya. Valen dan Vay hanya diam menyimak saja. Namun pandangan mereka beralih menoleh pada suara langkah kaki yang mengejutkan mereka. Dia Sarah dan Candra. Oh iya, jangan lupakan juga di sana juga ada Andre!

__ADS_1


"Gw setuju! " kata Sarah mengagetkan.


"Yap, gw juga! Kebetulan tadi gw sempat cek kondisi Leon, kayaknya kita butuh alat pernafasan yang ada di Prancis itu Lun, " kata Candra. Luna mengernyitkan alisnya bingung.


"Kok malah izin ke gw sih bang? " bingung Luna. Candra memutar bola matanya malas. "Ya karena bukannya lo punya kuncinya selain Lesya? " tanya Candra malas. Luna menggeleng pelan mendengar ucapan Candra barusan.


"Mana ada! Orang udah sempat diganti sama pemiliknya, cara di dompetnya aja noh mungkin ada." kata Luna. Mata Candra membulat lebar karena kaget mendengarnya. "Loh kok diganti?! " kaget Candra bercampur bingung.


"Gak usah kaget atau panik, kartunya ada di gw soalnya tahun terakhir gw pake! " kata Sarah membuat mereka lega mendengarnya. Beralih menatap dan meyakinkan Elvan agar membawa Lesya ke negara asalnya untuk menjernihkan pola pikir Queen mereka.


"Kalau memang itu yang terbaik, gw izinin dengan syarat, gw harus ikut! " final Elvan memutuskan pasrah saja. Toh dia tahu seberapa dekat dan kenalnya Lesya pada dua dokter dan Luna. Tak mungkin di saat begini berpaling.


...〰〰〰〰〰〰〰✍...


Matahari sudah berada di puncaknya. Dan hari ini mereka yang ikut peperangan kemarin tak masuk ke sekolah. Di depan ruangan Lesya tampak sepi karena Luna sudah kembali. Tak lama dari sana tiba-tiba seorang lelaki remaja menoleh di saat langkah kaki mendekat. Oh, dia Elvan!


Elvan beranjak berdiri dari duduknya dan menatap kedatangan Galang dan Sella di sana. Oh, mertuanya itu juga membawa Justine ke rumah sakit juga. Walau tak kenal dengan Justine, Elvan dapat menebak itu anak kedua pasangan itu. Lesya pernah bercerita dan memberitahu namanya padanya. Jadi dia tak perlu kesulitan mengetahui siapa Justine.


"Saya mau diskusiin sama kamu tentang donor Lesya," kata Galang menjeda ucapannya. Alis Elvan reflek tertarik satu mendengarnya. Sella pun yang tanggap dengan segera berpamitan menjenguk Lesya agar memberi keduanya waktu mengobrol dengan santai.


"Duduk dad, biar enak ngobrolnya" tanggap Elvan lalu mempersilahkan Galang duduk. Mereka dengan kompaknya menempatkan bok*ng mereka di kursi yang ada agar mereka dapat mengobrol dengan nyaman.


"Saya mau jadi pendonor Lesya! "


"Hah? "


Mata Elvan melotot mendengarnya. Baru saja mereka duduk, Galang sudah membuka suara. Sungguh terkejut mendengar jika lawan bicaranya ingin menjadi pendonor. Lalu kehidupannya bagaimana? Pikir Elvan bingung.


"Maksud saya, saya ingin jadi pendonor Lesya. Tak peduli dampak apa yang terjadi, saya hanya mau anak itu baik-baik saja! " santai Galang secara terang-terangan. Alis Elvan berkerut mendengar hal itu. Namun dia dapat rasakan ketulusan yang mendalam saat Galang bercakap walau ditutupi wajah datar nan sangar sang pemilik.


...〰〰〰〰〰〰〰✍...

__ADS_1


Sella yang sudah memasuki ruangan Lesya mengetuk pintu sebelum benar-benar masuk. Naluri keibuannya merasa iba melihat keadaan Lesya yang duduk di kursi roda dengan mata yang menatap lurus pemandangan dari kaca. Sebelumnya Lesya dipindahkan di ruangan samping lagi karena kaca yang dihancurkan gadis itu saat baru pertama kali bangun sudah hancur.


Lesya sengaja dipindahkan saat gadis itu tertidur setelah kehilangan sedikit besar darahnya karena aksi bunuh diri. Dan saat ini gadis itu berada di sebelah ruangan Lesya yang sebelumnya ditempati oleh Luna sebelum pindah.


Sebelumnya setelah menyegarkan tenggorokannya dengan air, Lesya juga diangkat agar duduk di kursi roda oleh Elvan. Lalu gadis itu meminta agar dibawa ke arah kaca ruangan.


Cukup penat jika harus tetap di brankar terus menerus. Elvan juga menyetujui dengan syarat tak bertingkah aneh-aneh dan Lesya hanya mengangguk setuju saja. Tujuannya hanya satu yaitu, agar kulitnya mengenai sinar cahaya matahari. Alhasil di sinilah dia berada.


Sella berjalan mendekat ke arah Lesya. "Sya, ini saya, Sella, " kata Sella perlahan berjalan mendekat dan mengambil satu kursi agar mendekat ke arah Lesya.


Sang pemilik nama hanya mengangguk paham saja karena dia hafal bagaimana logat bicara Sella. Wanita itu sepertinya perlahan duduk setelah mengambil kursi di sampingnya. Suara gerangan bayi membuat alis Lesya berkerut bingung.


"Justine dibawa ya Tan? " tanya Lesya.


"Hehe... Iya soalnya dia dari tadi nangis karena gak mau ditinggal, akhirnya kita bawa ke sini deh sekalian jenguk kakaknya." kata Sella lalu menggendong Justine keluar dari stroller nya. "Gimana kabar kamu? " lanjut Sella bertanya.


Lesya hanya berdehem pelan saja. "I'm always fine! " jawabnya datar. Sella mengangguk paham saja. Seraya menepuk-nepuk bok*ng Justine agar anak itu kembali terlelap, wanita yang berkepala dua itu kembali angkat bicara.


"Kalau ada pendonor, kamu mau apa? " tanya Sella penasaran.


Lesya mengangkat bahunya acuh. Dia tak tahu bagaimana nasibnya setelah kembali membuka mata dan melihat dunia. Kembali menentang maut seperti sikapnya. Kembali membuat hari dan warna baru. Kembali membuat kenangan indah sepanjang masa. Dia tak tahu bagaimana lagi menghidupi dirinya agar kembali normal jika dia hanya dapat melihat hitamnya semua warna.


"Mungkin, berterimakasih! Mungkin juga, secara pribadi gw bakal sering jengukin dan bantu dia sekalih kali. Tapi, mana ada orang yang mau relain kornea matanya secara cuma-cuma padahal mata yang cocok buat gw langka! " kata Lesya. "Dan itu yang buat gw bakal bantu dia kalau dia minta sesuatu sama gw." lanjut Lesya lagi dengan yakin.


Sella tersenyum tipis mendengarnya. Dia juga tak menyangka jika anak tirinya(eh benar kan anak tiri?) memiliki kisah hidup yang rumit. Seumur hidupnya, Sella hanya kritis dalam keuangan. Dan setelah mengetahui keadaan dan bertemu Lesya, dia tahu jika Lesya yang memiliki segalanya justru memiliki lika-liku hidup yang lebih rumit.


Benar kata pepatah: “Uang bukanlah segalanya tapi segalanya butuh uang!”


Penerapan itu terjadi. Sejujurnya Sella iba dengan nasib Lesya. Dia juga sengaja tak menyentuh Lesya karena tahu jika sang pemilik tak mau disentuh. Alhasil dia hanya mengajak Lesya berbicara santai saja dibanding berdiam diri. Hitung-hitung sebagai penghiburan.


"Kalau boleh pulang ke rumah, Lesya milih gimana? " tanya Sella lagi. Sang pemilik nama terdiam. Dia memikirkan itu sebenarnya. Apa mau keluarga Elvan menerima kondisinya? Tak mungkin jika dia diterima. Terlebih pada sikapnya terkadang membuat mereka kecewa.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2