
Setelah pelayan tersebut pergi, Mayang memegang tangan Lesya dan menyerahkan paper bag yang berisi satu set perhiasan tadi. "Kalo Elen yang ini, kamu yang itu oke? "
Lesya mengangguk pasrah saja mendengarnya. "Yaudah Echa terima, makasih ya bun" Mayang mengangguk.
Mereka kemudian melahap makanan yang sudah disajikan di meja mereka. Tiba-tiba saja suara bariton dari belakang mengagetkan mereka yang sedang asik makan berdua.
"Ekhem.. Oh jadi ini alasan jarang pulang? " Mereka menoleh. Lesya yang sudah tahu siapa orang yang berbicara, menatap datar Gilang. "Iya, kenapa? "
Mayang sedikit terkejut dengan nada bicara Lesya yang terkesan dingin. Gilang menyunggingkan senyumnya miring. Saat ini, dia tak bersama wanita yang dia bawa.
Geram, Gilang menarik paksa Lesya secara kasar keluar dari cafe tersebut. Dengan sekuat tenaganya Lesya memberontak. Tak tinggal diam, Mayang menarik Lesya kearahnya.
"Lepasin dia! " Gilang menatap remeh Mayang. "Heh! Inget ya May, lo itu cumen cewek feminim! Kalo gak mau kena masalah jangan ikut campur oke? "
Lesya tak terkejut mendengar Gilang dan Mayang saling kenal. Akar masalah kedua orangtuanya saja dia tahu. "Lepas gak! " berontak Lesya.
"Yo.. Inget ya kalo sempet berontak, kedua orang yang lo sayang termasuk dia(Mayang) gak segan-segan terlibat! " Lesya tersentak mendengar Mayang yang ikut terlibat dengan masalahnya.
Mayang semakin menarik Lesya semampu-nya. "Denger ya Gil, lo sama kakak lo itu sama-sama bejat tau gak?! Dan gw Mayang, bukan cewek feminim yang lo kenal waktu itu! "
Gilang terkekeh sinis dan menatap Lesya yang menggeleng tahu maksudnya saat ini. "Tapi maaf sebelumnya! Karena dia(Mayang) ngehalangin saya, mau gak mau ikut saya"
Mayang tersentak, "Apa maksud lo Gil? " Gilang terkekeh pelan mendengar pertanyaan Mayang yang terkesan sinis. "Seperti apa yang dilakukan abang gw sama sahabat lo mungkin"
Lesya memutar lengan Gilang hingga Gilang menjerit kesakitan. "Heh! Inget bukan? Kalo lo ngelibatin orang-orang gw, apa yang terjadi? "
Gilang membulatkan matanya. Dia ingat betul penyiksaan Lesya di saat dirinya ingin melukai Luna yang menghalangi dirinya. Sakit? Lebih dari pada itu!
__ADS_1
"Arrgghh! Shit! Inget ya kalo sempet kamu(Lesya) Arrgghh! " Lesya semakin mengeraskan tenaganya. "Gw kenapa hah?! "
"Bun, Sya! " Mereka semua menoleh ke asal suara. Gilang yang merasakan dirinya mendapatkan celah, memputar lengan Lesya dan mencekiknya segera.
Angga yang memanggil Lesya dan Mayang tadi, segera menghampiri mereka. Dengan cepat dia menarik Gilang agar tak mencekik Lesya.
Terlepas, Lesya terbatuk-batuk memegangi lehernya. "Uhuukk! " Mayang dengan sigap menepuk-nepuk punggung Lesya pelan.
"Mau kamu apa sekarang Gil? Apa belum puas lo hah? " Gilang terkekeh sinis. "Gw gak peduli"
Di saat dirinya ingin menghajar Gilang, Mayang dengan cepat menghentikan Gilang. Dia menyadari jika mereka semua berada di pusat perhatian pelayan cafe. "Ga, berhenti! "
Mendengar sang istri hanya menyebutkan namanya saja tanpa embel-embel, Angga menurut saja. Dia berusaha menahan emosinya yang memuncak kali ini.
Angga mengajak Lesya dan Mayang keluar dari mall tersebut. Belanjaan mereka dibawa oleh dua bodyguard keluarga Grey. Sementara urusan Angga sudah selesai sedari tadi.
Lesya menyempatkan diri agar menoleh ke belakang. Dia mengepalkan tangannya erat-erat melihat orang tersebut menatap dirinya remeh. "Heh! " gumamnya kecil.
...~o0o~...
Di sisi lain, berbeda dengan Luna yang berlarian di sepanjang koridor rumah sakit. Dirinya bahkan tak bersekolah mendengar Lesya yang tak masuk akibat skorsing yang diterimanya.
Ramalan doa terus dipanjatkan gadis tersebut agar satu-satu keluarganya itu selamat. Saat dirinya kembali dari supermarket, dia mendengar kabar dari tetangganya jika mamanya dilarikan ke rumah sakit.
Dia yang sudah tahu dimana rumah sakit ditempati makanya itu, dengan cepat pergi ke rumah sakit TW. Elous segera. Dia tak tahu mengapa mamanya dapat berada di sana.
Dia berdiri melihat pintu IGD masih tertutup rapat. Lampu masih bewarna merah menandakan jika mamanya masih dalam proses operasi di dalam.
__ADS_1
Wajahnya sudah basah sejak tadi. Dia dengan cepat menghubungi Lesya dengan aplikasi komunikasinya. Dia tak tahu siapa yang membuat mamanya seperti ini hingga dia membutuhkan bantuan Lesya.
Setelah menemukan kontak Lesya, dengan cepat dia meneken tombol 'call' di layar ponselnya. Tak lama Lesya yang sudah berada di kediaman Grey menjawab panggilan Luna.
📞 Halo Lun,
📞 Sya *serak
📞 Lun, lo gak papa kan? Lo kenapa? Lo baik-baik aja kan? *panik
📞 I'm not okay Sya *menahan tangis
📞 Lo kenapa? Cerita sama gw.
📞 Sya, mama..
📞 Mama kenapa? Mama baik-baik aja kan?
📞Mama.. Mama masuk rumah sakit Sya, rumah sakit TW. Elous *nangis
tuuuutttt!
Luna menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya. Dia tahu dan yakin jika Lesya saat ini tergesa-gesa pergi ke rumah sakit ini. Lesya dan mama Luna sudah lama dekat.
Bahkan Lesya tak jarang berkunjung ke rumah Luna sebelum dirinya menikah. Dan mama Luna tak dapat menyempatkan diri agar melihat Lesya menikah karena dia sakit.
Lesya tak masalah karena menurutnya kesehatan mama Luna jauh lebih penting bukan? Cukup Luna yang datang saja dia sudah bahagia. Dia tak ingin jika kesehatan mama Luna memburuk karena dirinya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗