
Lesya menyumpah serapahi Vannya yang berani mengurung dirinya. Setelah beberapa menit kemudian Lesya mendongkak melihat pintu yang terbuka.
Wajah yang pertama kali dia lihat adalah wajah tampan Elvan. Dengan cepat Lesya keluar dan mencari oksigen udara.
"Lesya!! " pekik Luna cemas. Luna memeluk Lesya hingga Lesya mementok dada bidang Elvan.
Lesya berusaha untuk tak melepaskan pelukkan Luna. Namun, tangannya menegang. Dia sadar jika tangannya menegang akan menyakiti Luna, "Lun, lepas! "
Luna melepas pelukkan nya karena tak mau Lesya kembali menyakiti dirinya sendiri. Dapat dibilang jika tubuh Lesya menegang, dia akan menyakiti dirinya sendiri.
Lesya memasukkan tangannya ke dalam sakunya dan mengepalkan tangannya kuat, "Siapa yang bikin? " tanya Luna.
"Vannya! Wah, nyalinya gede juga ya" Lesya keluar dari toilet dan mencari keberadaan Vannya. Luna menyusul Lesya keluar.
"Maen pergi aja tuh anak! Kagak bilang makasih gitu ya? " ucap Frans cengo. Elvan mengangkat bahunya acuh.
Valen menyenggol bahu Elvan, "Kayaknya bakal ada perang Van" Sontak mereka menatap Valen, "Kenapa? " tanya Farel.
"Coba kalian pikirin! Lesya tadi sempet keluar nyebut nama Vannya! Kayaknya dia mau nyamperin Vannya terus ribut deh" jelas Valen.
Mereka membenarkan ucapan Valen, "Susul! " datar Elvan keluar toilet diikuti teman-teman nya.
Lesya berjalan dengan geram ke arah Vannya yang berada di kantin. Tadi, dia sempat mencari Vannya hingga satu siswi mengatakan bahwa Vannya berada di kantin bersama Lisa.
Tentu saja dengan cepat Lesya pergi tanpa berucap satu kata patah pun. Luna juga begitu! Salah satu orang yang berani mengusik hidup mereka harus dimusnahkan.
Jika Luna terlibat masalah, Lesya pun ikut terseret karena tak terima sahabatnya diusik. Begitu pun juga dengan Luna yang tak terima sahabatnya diusik oleh Vannya.
Di saat Lesya sudah berada di kantin, tangannya dicekal oleh Elvan yang berusaha menghentikan keributan yang akan terjadi.
Sementara Luna, dicekal oleh Valen. Teman-teman Elvan yang lain, pergi menghampiri Vannya yang asik makan dan menghibah-kan Lesya.
"Lepas gak! " Elvan menarik pergelangan tangan Lesya tanpa satu kata patah pun, "Cabut! " Valen mengangguk.
Lesya dan Luna dibawa menuju ruang OSIS oleh Elvan dan Valen. Begitu juga dengan Frans, Farel dan Ken yang menyeret Vannya menuju ruang OSIS.
__ADS_1
Awalnya Vannya panik karena dia berpikir bahwa dia akan dihukum. Namun, Ken mengubah kenyataan jika Elvan ingin bertemu dengan Vannya. Hal itu membuat Vannya segera ingin ke ruang OSIS.
...~o0o~...
Di sinilah Lesya dan Luna dilepaskan cekalannya, ruang OSIS. Elvan masih memikirkan hukuman yang pantas untuk Vannya kali ini.
Jika kalian mau tahu sekarang dimana keberadaan Leon, dia berada di kantin seraya melirik orang yang dia sukai. Sksk, kurang kerjaan!
Vannya menatap sengit ke arah Lesya. Sementara Lesya yang ditatap menatap Vannya tak kalah sengit dari-nya.
Valen mulai mencairkan suasana, "Mon maap, kapan mulai sidang nya? " Nihil! Tak ada satu suara pun yang membalas ucapan Valen.
"Nasib-nasib! " gumam Valen kepada dirinya sendiri. Elvan menunjuk Luna untuk segera keluar, "Lo keluar! "
"Gw mau nemenin Lesya di sini! " Elvan menatap tajam Luna. Dengan takut dan cepat, Luna segera keluar. Menurut pemikiran Elvan, Luna tak terlibat di sini.
"Yang lain ke luar! " Mereka mengangguk dan keluar saja dengan segera. Kini ruangan OSIS hanya terisi tiga manusia saja.
Elvan mulai menunjuk Vannya, "Apa maksud lo ngurung dia (Lesya) " Lesya menepis jari Elvan yang berani menunjuk dirinya.
"Ish! Elvan sayang, gini loh ya! Karena dia (Lesya) aku tuh jadi dimarahin sama bokap aku! " Lesya bergidik ngeri melihatnya.
Elvan dengan kasar melepaskan gandengan Vannya hingga Vannya tersungkur di lantai. Lesya hampir tertawa melihat penolak kan itu.
"Masalah keluarga gak boleh di bawa ke dalam sekolah! " datar Elvan. Kemudian dia menunjuk Lesya, "Lo ngapain mau--- " Lesya segera memotong ucapan Elvan.
"Tapi gw gak jadi kan? Jadi gw gak dapat hukuman! " Elvan menatap tajam Lesya. Berani juga Lesya memotong ucapannya? Pikir Elvan.
"Lo (Vannya) bersihin toilet cowok lantai 2 ! " datarnya.
Vannya beranjak dan menghentakkan kakinya keluar dari ruangan. Dia menatap sengit Lesya sebelum ke luar. Elvan menyuruh Arman untuk mengawasi Vannya.
Sisa Lesya dan Elvan yang berada di ruang OSIS, "Udah kan? Gw gak dihukum kan--- " ucap Lesya terpotong.
Elvan sengaja memotong pembicara-an Lesya, "Kata siapa? " tanya-nya datar. Wajah Lesya masam kali ini, "Gw gak ada salah! "
__ADS_1
"Ada! " Lesya melotot. Dia berpikir sejenak mencari apa kesalahannya hari ini. Apa karena dia tak fokus belajar di pelajaran pak Rio kah? Pikir Lesya bingung.
Elvan yang melihat raut bingung di wajah Lesya, tersenyum miring. Dia bangkit dari duduknya dan mulai mendekati Lesya.
Kebetulan, di ruang OSIS sama sekali tak ada kaca jendela hingga mereka tak akan di lihat. Lesya mulai mundur perlahan, "Pan! I-ini sekolah ya! " peringat-nya menunjuk wajah Elvan.
Elvan menangkap jari telunjuk Lesya dan memasukkan ke dalam mulutnya. Lesya melotot tak percaya. Dia terdiam kaku melihatnya.
Sebenarnya Elvan hanya memancing Lesya saja. Di saat Lesya berusaha ingin memberontak, Elvan langsung mengeluarkan jari telunjuk Lesya dari dalam mulutnya.
"Jangan motong pembicaraan gw! " tegas Elvan. Lesya menurunkan jarinya dan menyembunyi-kan nya di belakang celananya.
Lesya juga paham apa kesalahan kali ini. Elvan meniup wajah Lesya hingga Lesya membeku. Rasanya ingin sekali Lesya menggampar mulut Elvan namun, tubuhnya menolak itu semua.
Kriingg...
"Balik ke kelas! " datar Elvan. Dengan cepat, Lesya ke luar dari ruangan OSIS. Dirinya masih menatap tak percaya jari telunjuknya.
"Haiisss... Gw kenapa sih?! " Lesya mengelap jarinya dengan celananya.
Dia bergidik ngeri mengingat dimana Elvan memasukkan jari telunjuknya tadi ke dalam mulut Elvan. Dia memukul kepalanya yang bod*h tak melakukan perlawanan.
"Gobl*k lo Sya! " runtuknya. Dia kembali ke kelas nya dan mengikuti acara belajar mengajar walau dirinya hanya meng-absen muka.
Selama pembelajaran, Lesya hanya tertidur saja. Dia tak memikirkan perutnya yang belum melahap makanan sedari tadi. Sarapan saja tidak!
Lesya terbangun di saat semua anak diperbolehkan pulang. Pembelajaran hari ini berasa lebih cepat.
Itu karena guru-guru mempersilahkan anak-anak muridnya untuk bersiap ke acara ulang tahun Nayla nanti.Jujur saja kepala sekolah menolak permintaan dari orangtua Nayla.
Namun karena permohonan dengan lapang dada kepala sekolah dan guru-guru menerima permintaan orangtua Nayla. Dengan syarat pembelajaran besok lebih lama.
Mereka setuju saja asal keinginan anak mereka terpenuhi. Itulah prinsip orangtua Nayla yaitu kebahagiaan anak tunggal mereka.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1