
Selama belajar kelompok, sedari tadi Lesya hanya melamun saja. Hingga Luna yang menyenggolnya, Lesya tersadar dari lamunannya. "Sya, lo kenapa? Sakit? Mending balik deh yok, " ajak Luna digelengi oleh Lesya.
"Enggak, gw cuman kepikiran aja kenapa gw niat ya kerja kelompok? Biasa juga gw asal bolos! " bohongnya mengangkat satu alisnya.
Lisa menggelengkan kepalanya. "Keliatan banget lo bohong! Semenjak lo dipanggil sama bokap gw lo begini! Apa bokap gw ngomong sesuatu yang buat lo gak nyaman gitu? " tebak Lisa.
Lesya menggeleng kecil seraya menyalin jawaban dari buku Leon. "Enggak juga sih, gw baru nyadar aja kalau bokap lo itu ternyata kerabat dekat mendiang papi gw! Kami cerita dikit aja gitu doang! " katanya.
Mata Leon dan Luna terbelak lebar. "Hah? Jadi, itu om Arya?! " kompaknya diangguki oleh Lesya. "Iya, salah satu sahabat dekat mendiang papi! " balas Lesya enteng seraya tersenyum simpul.
Lisa hanya membuka mulutnya tak paham maksud dari pembicaraan ini. "Hah? Maksudnya gimana? Jadi mendiang papi lo sama papa gw dulu sahabatan gitu? Dan sekarang, kalian baru nyadar? " tanya Lisa mengernyitkan alisnya.
Mereka bertiga hanya mengangguk menanggapinya. Sementara Lisa hanya mangut-mangut paham saja mendengarnya. "Oh gitu toh! Oiya Yon, gw mau ngomong sebentar sama lo tapi berdua aja! " ucap Lisa tiba-tiba.
Dengan cepat Luna dan Lesya berjalan meninggalkan kedua pasangan itu dari kamar Lisa dan menunggu di balkon kamar saja. Di sana, mereka tak dapat mendengar pembahasan Lisa dan Leon.
"Sya, gw ngerasa bakal ada peristiwa besar yang terjadi! "
Ucapan Luna tiba-tiba itu membuat Lesya hanya diam menatap langit cerah. "Ya, gw juga ngerasa begitu! Selain kak Feli yang kirim lo pesan, Vion kayaknya udah kembali! Dia kirim gw pesan akan balas semua yang terjadi! " tambah Lesya dengan raut wajah datarnya.
Luna menghembuskan nafasnya. "Gw harap, gak ada sesuatu besar yang memakan banyak jiwa! Dan semua masalah besar nanti gak akan terjadi dan apa yang ada dipikiran Vion, kak Feli, dan lainnya gak akan terjadi! " harap Luna mengadahkan wajahnya ke langit cerah.
Lesya tersenyum simpul. "Semoga aja! " balasnya. Mereka berbincang kecil dan bercanda satu sama lain layaknya sahabat pada umumnya.
Sementara Lisa dan Leon, mereka duduk di meja sofa kamar Lisa. Akhirnya setelah keheningan yang tercipta, Lisa angkat suara. "Sorry Yon soal kemarin! Gw tau lo sakit hati kan sama sikap papa gw? Gw mohon lo ngerti! " lirih Lisa.
__ADS_1
Leon tersenyum simpul dan menggeleng. "Don't worry Lis! Harusnya gw yang minta maaf yang akhirnya buat hubungan kita begini! " ucap Leon membelai pipi Lisa.
Lisa menggeleng cepat. "Tapi gw gak mau kita putus! Gw udah mikir soal ini! Gw dan lo gak akan putus! Kita masih berhubungan di luar dan itu masih boleh kan selama papa gw gak tau? " molog Lisa.
"Gak boleh gitu Lis, tetap aja dia papa kamu! Orang yang besarin kamu, yang nafkahin kamu, yang menjadi kepala keluarga kamu, yang nemenin mama kamu juga kan? " kata Leon.
Lisa mengangguk menyetujui ucapan Leon. Mau bagaimana kerasnya Arya, dia tahu jika Arya sangat menyayangi semua keluarganya. Dan bagaimana pun juga, Arya tetaplah papanya. Salah satu orang yang menanam benih untuk menghadiri dirinya selain mamanya, Maurine.
"Lo benar, gimana pun dia tetap papa gw! Tapi, gimana dengan kita nanti? "
Leon menggedikan bahunya tak tahu. "Mungkin, saat ini kita berhenti dulu dan komunikasi lewat pesan aja gimana? Tunggu waktu tepat, kita akan seperti biasanya! " saran Leon.
Lisa mengangkat satu alisnya bingung. "Hubungan virtual gitu? " tanyanya tak paham. Leon hanya tertawa receh dengan kalimat ‘virtual’ yang diucapkan Lisa. "Haha, mungkin begitu maksudnya! "
"Lis..
"Kenapa? Ada yang salah? " polos Lisa mengerjapkan matanya imut. Leon mengalihkan pandangannya dan menutup erat matanya. Dia tahu jika Lisa sengaja mengimutkan wajahnya agar dirinya yang merasa salah tingkah. "Kenapa sih beb?! " kesal Lisa sengaja memayunkan bibirnya.
"Aaaa.. Jangan senyum, jangan imut, jangan begini pliss! Gak kuatt aku sayang.. " rengek Leon yang tak tahu harus bagaimana. Lisa tertawa puas mendengarnya. "Ahaha.. Emang kenapa? Terlalu imut ya? " tanya Lisa dengan tawanya yang berhasil menggoda Leon.
Dengan cepat Leon menggeleng kecil. "Bukan beb, tapi terlalu manis sampai akunya diabetes kamu bikin! " ucap Leon melengkungkan bibir ha ke bawah seolah dia merasa dipojokkan.
Lisa tersipu mendengarnya. Dia memukul pelan lengan Leon yang merasa seolah tak ada apa-apa. "Apaan sih pake diabetes segala?! " kesalnya. Leon tertawa receh. "Emang gitu sayang! Kan kamu pabrik gulanya dan aku konsumen gulanya! "
"Haha.. Ada bae pabrik sama konsumennya! "
__ADS_1
"Ya ada dungs! "
Di saat Lisa dan Leon justru tertawa lebar saling melempar candaan, Lesya dan Luna yang sudah malas menunggu kedua teman mereka akhirnya menyusul. Betapa terkejutnya mereka karena justru pasangan itu saling melempar candaan.
"Woeee.. Enak lo pada ya?! Kita karatan nungguinnya sementara kalian di sini berdua asik ketawa-ketiwi gak jelas! Gak ngajak-ngajak lagi?! " kesal Luna malas seraya menghentakkan kakinya dan duduk di antara Leon dan Lisa seolah dia menjadi tembok pemisah keduanya.
"Heh Lunanj* ngapain sih lo di sini?! Ganggu pemandangan tau gak?! " malas Lisa. Luna menyenye kecil. "Nyenye.. Alah, bicid lo! Mending gw balik dah, mumpung tugas gw udah kelar! "
"Gw juga dah! Udah sore gini kan? " timpal Lesya mengemasi peralatannya. Ralat, mengemasi perlatan belajar Lisa karena dia hanya meminjam saja. Pinjam? Ya, dia meminjam peralatan Lisa karena dia hanya membawa satu lembar folio saja.
Setelah pamit kepada Lisa, baik Leon, Luna dan Lesya mulai melangkah. Lisa yang mengantar mereka berjalan di depan dan berhenti tepat di pintu gerbang saja menatap kepergian tiga motor besar dengan tujuan berbeda. "TIATI KALIAN! "
Setelah melihat pergi, Lisa masuk dan tak sengaja berpas-pasan dengan Maurine di tangga. "Loh Lis, temen-temen kamu mana? " tanya Maurine. Lisa hanya melihat ke arah pintu sekilas dan beralih menatap Maurine. "Udah pulang mah! "
"Loh kok udah pada pulang sih? Kan mama niatnya mau ajak mereka makan bareng! " ujar Maurine. Lisa hanya menggedikan bahunya tak tahu. "Biarin dah! Sekalian kita hemat beras mah! "
"Hust, kamu gak boleh gitu ih! "
"Iya mamaku yang cantikk tapi sayang masih cantikan aku haha... "
Maurine hanya geleng-geleng kepala melihat kepergian anak bungsunya. Lisa berjalan melangkah menuju kamarnya dan meninggalkan Sang ibu yang hendak turun tangga. "Haiss, awas kamu ya Elisa! Ada-ada aja! " gelengnya.
Jika kalian bertanya dimana Arya, kebetulan Arya ada meeting penting yang tak bisa di tunda di kantornya. Sementara jika Elita, kakak dari Lisa, dia masih memiliki kelas sore di kampus.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1