Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
2: Pergi ke Cafe


__ADS_3

"Rencananya sih kagak mau ngasih tau dulu ke dia, takut diembat hehe... Tau kan dia bening sekali langsung ngap-ngep." kata Lesya berbisik.


"Bener juga, sih. Tuh liat si Letha dia ke sini, Sya!" celetuk Luna yang melihat kedatangan Letha ke meja mereka.


Tanpa basa-basi, Lesya menoleh ke arah Letha yang benar-benar ingin menghampiri mejanya. Senyum tipis namun tak terlihat terbit di wajah nan indah milik Lesya. Sama sekali tak ada yang tahu apa arti dari senyuman Lesya itu termasuk Luna, sahabatnya.


"Kakak, aku boleh numpang makan sama yang lain?" ramah Letha dan dibalas senyum palsu juga anggukan kepala dari Lesya.


Jadi, jangan pada salah paham dulu ya semua! Sebenarnya Letha itu adik/kembaran dari Lesya dan mereka cuman beda 10 menit saja. Banyak yang tak tahu jika mereka berdua kembar karena muka mereka yang memang tak mirip. Namun, sedikit mirip jika diperhatikan dengan seksama. Mereka hanya tahu jika Lesya dan Letha adalah adik-kakak.


Luna yang mengerti akan situasi, ingin mengajak sahabatnya untuk pergi. Sayangnya, ia bingung untuk mencari alasan yang tepat. Dilihatnyalah bahwa makanannya yang tadi sudah habis, ia langsung berbinar karena sudah menemukan ide.


"Sya, temenin gw ke toilet, dong!" Luna memelas agar permintaannya diturutin oleh sahabatnya yang dia anggap bagai saudaranya.


Lesya menganggukkan kepalanya setuju saja. Dia bersyukur jika Luna adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya. Dia juga bersyukur kepada Tuhan sudah mengirimkannya seorang sahabat yang dianggap saudaranya.


Tahu bahwa sang kakak akan segera pergi, Letha pun bertanya kepada sang kakak, "Kenapa sih setiap kita makan disini kalian mau pergi? Kenapa gak nanti aja?"


"Kita udah selesai dan gw mau ngajak Lesya ke toilet," jawab Luna segera.


"Oh ... yaudah deh tapi kali ini aja, ya? Gw mau makan bareng sama kalian." balas Letha.


Merasa diperbolehkan, Luna menarik Lesya agar pergi meninggalkan Letha dan kawan-kawan. Letha sendiri merasa ada yang janggal akan sikap kakaknya yang berubah.


Di sisi lain, Luna membawa Lesya ke toilet dan benar saja bahwa Luna benar-benar ingin pergi ke toilet. Lesya sudah tak heran lagi. Sahabatnya itu terkadang suka main-main dengan perkataannya dan terkadang serius dengan perkataannya.


Ceklek...


"Maaf lama. Ada panggilan alam, gak sengaja." Luna yang baru keluar menyengir kuda kepada Lesya yang menunggunya.


"Iya gak papa. Ayo, ke kelas!" kata Lesya. Selepas itu, dia dan Luna melangkahkan kakinya ke luar toilet dan menyusuri koridor sekolah.


"Tumben, kesambet apaan lo?" tanya Luna saat sudah menyusul Lesya.


"Kesambet set*n alim." ngawur Lesya.


"Wah ... mana set*nnya? Sini biar gw bunuh!" Luna memutar-balikkan badan Lesya, seolah omongan Lesya nyata.


"Eh, gw bercanda Lun." sahut Lesya dan Luna memberhentikan aktivitasnya yang membuat Lesya merasa pusing.

__ADS_1


"Ya, mangap. Gw kira lo beneran kesambet set*n alim,"


"Bodolah!"


Saat Lesya ingin melangkahkan kakinya karena malas berdebat dengan Luna, dia tak sengaja menabrak seseorang yang bertubuh tegap. Mendadak siswa/i yang berada di koridor pun heboh.


Bagaimana tidak? Yang Lesya tabrak adalah idola sekolah mereka, si ketua Osis yang dibencinya. Lesya sendiri bingung apa yang patut diidolakan dari musuhnya.


Hap!


1 detik..


Dugh!


"Adoh, encok pinggang gw lama-lama!" gerutu Lesya memegangi pinggangnya.


Sementara pelaku hanya menatapnya datar tanpa rasa bersalah. Niat menolong Lesya saja tak mau. Luna yang melihat itu ikut membantu Lesya berdiri. Dengan bantuan dari Luna, Lesya berdiri dan menatap kesal ke arah orang yang dibencinya itu.


"Jalan tuh pake mata! Jatoh kan gw," judes Lesya.


"Jalan tuh pake kaki, mata buat ngeliat. Gak belajar, ya?" balasnya datar.


"Lo liat gw ke sekolah buat ngapain?" tanya Lesya tak mau disalahkan.


"Luna, cabut aja, yok! Bosen gw liat mukanya si Papan setiap hari." sindir Lesya menatap tajam ke arah Elvan.


Tiba-tiba nyalinya menciut saat melihat tatapan tajam milik Elvan. Tanpa ba-bi-bu, Lesya langsung menarik Luna ke arah kelas mereka.


"Lele sial*n!" batin Elvan menahan geram.


...~o0o~...


Detik berganti detik, menit berganti menit, dan jam berganti jam, sekolah Gregus akhirnya selesai melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kelas Lesya yang sedang bersiap untuk segera pulang bergegas meletakkan semua alat mereka ke dalam tas mereka.


Satu per satu murid sudah keluar untuk pulang ke rumah lalu berlari menghampiri kasur kesayangan mereka.


"Kak, jalan bareng yuk! Bareng yang lain juga." tawar Letha.


"Iya, Sya. Udah lama gak ngumpul-ngumpul lagi." pungkas Nayla.

__ADS_1


Lesya menatap Luna seolah meminta persetujuan, di sini yang diajak adalah mereka berdua, bukan dia sendiri. Luna yang paham akan kode dari Lesya menganggukkan kepalanya setuju.


"Okeh, tapi kemana dulu?" tanya Luna.


"Ke cafe yang baru buka aja, gimana?" usul Amel.


"Yang pemiliknya ganteng?" tanya Luna antusias.


"Iya, baru buka tiga minggu yang lalu, loh!" jawab Nayla.


"Kuy lah capcus, gak sabar gw." Luna antusias berdiri sambil menenteng tasnya.


Dengan kompak, Letha, Amel dan Nayla berdiri dan berjalan bergandengan dengan Luna mendahului Lesya yang terbengong menunjuk dirinya sendiri.


"Gw ditinggal? Gw diajak 'kan tadi?" bengong Lesya.


"Tauk ah, WOY TUNGGUIN ELAH!" panggil Lesya menyusul mereka yang pergi mendahuluinya.


Sebelum itu...


Luna berhenti merasa ada yang tertinggal. Sontak Letha, Amel, dan Nayla ikutan berhenti.


"Kenapa, Lun?" tanya Nayla


"Gw ngerasa ada yang ketinggalan deh, tapi apa ya?" tanya Luna mengingat-ingat.


"WOY TUNGGU ELAH!" teriakan Lesya menggema sampai ke lantai bawah dan atas. Lesya lari menyusuri koridor sampai ke tangga lantai bawah.


Banyak pasang murid yang belum pulang menoleh ke arah sumber suara dan menatap tajam Lesya. Sayangnya, nyali mereka menciut melihat wajah garang Lesya yang bagaikan singa yang siap menelan mereka kapanpun.


"LESYA!" kompak mereka bersamaan. Di waktu itu juga, Lesya datang dengan wajah kesal menahan amarah.


"Apa?" kesal Lesya


"Hehe ... jangan marah Sya! Gw traktir deh, tapi jangan marah, ya?" Luna menyengir kuda sambil menggoda Lesya yang menahan kesal itu.


"Hihi, jingin mirih syi. Btw, boleh juga tuh lo traktir gw." sindir Lesya.


"Nah kalau gitu, ayo berangkat!" antusias Letha.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke cafe tersebut dengan Lesya, Letha dan Luna memakai mobil Lesya. Sedangkan Nayla dan Amel memakai mobil Amel.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2