Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
125: Foto bareng!


__ADS_3

Angga yang membawa dua botol aqua menyodorkan kepada mereka berdua. "Nih minum dulu! " Dengan cepat Lesya dan Lisa menyambar dan meneguk botol aqua pemberian Angga.


"Kamu bisa main pedang ya sya? Kok bunda gak tau ya? " Lesya mengangguk kecil dan menyegir setelah meneguk tandas minumannya. "Hehe.. Gak cuman itu sih bun,! Pistol, pedang, bom, senjata api yang lain juga bisa! "


Angga dan Mayang tercengang. "Sejak kapan? " Lesya mengangkat satu tangannya dan memamerkan ke empat jarinya. "Waktu umur 4 tahun! Walaupun agak cupu! "


Mereka tercengang dengan jawaban jujur Lesya. Memang benar jika Lesya berumur 4 tahun dapat memainkan senjata api walaupun agak cupu dan tak gesit.


"Sekarang aja lo masih cupu! " Lesya menatap tajam Lisa. "Come on! Gelud lah njeng! " Lisa dan Lesya sudah duduk dan menatap sengit satu sama lain.


Jika tak ada Mayang mungkin mereka akan bertengkar kembali kali ini. "Shutt! Udah! Kita makan siang dulu! Ributnya ditunda aja dulu! " Dengan kompaknya Lisa dan Lesya berbicara. "Makan sore bun, tan! "


Mayang terkikik geli melihatnya. Lisa dan Lesya menatap sinis satu sama lain. Angga yang melihat itu terkekeh. "Udah berantemnya! Kita makan dulu! Sya, kamu tolong panggil Elvan dulu ya! "


Dengan kompaknya mereka mengangguk cepat karena mereka memang sudah kelaparan. Lesya segera beranjak dan mencari keberadaan Elvan. Berbeda di sisi Elvan yang masih sibuk mengasah kemampuannya menggunakan pedang.


Srak! Sreng! Srak!


Dengan lincah dan langkah gesit Elvan menggunakannya dan menusuk tiang besi yang memang digunakan menjadi sasaran. Tiba-tiba saja Elvan memberhentikan aktivitasnya karena suara Lesya yang terdengar. "Woah! Kenapa ruangannya beda? " tanya Lesya menghampiri Elvan.


"Ini ruangan khusus! " Lesya mangut-mangut mengerti. "Kata bunda makan dulu! " Elvan mengangguk saja mendengarnya. "Nah! Haus kan lo? "


Lesya mengambil botol yang tersedia di sana dan memberikannya kepada Elvan. Elvan menerima saja dan meneguk tandas botol pemberian Lesya itu. "Woah! Lengkap bener alat-alatnya! Pan kita duel yok! "


"Kapan-kapan! Sekarang makan dulu! " Lesya mengangguk saja. Elvan mengambil kain dan menge-lap keringatnya. Lesya yang melihat itu mengalihkan pandangannya. "Gw kenapa? " gumamnya kecil.


Lesya kembali menoleh kepada Elvan. Dia menghela nafas lega melihat Elvan sudah tak menge-lap keringatnya. "Pan! Ayok! "


Ruangan tersebut kembali sunyi. Baik Lesya, Lisa, dan Elvan sudah tak menempati ruangan tersebut lagi. Tiba-tiba saja terdengar suara deringan telepon yang berasal dari laptop Lesya yang tertinggal.


Entah dari siapa itu, orang yang berada di seberang merintih kesakitan. Mencari bantuan kepada Lesya namun teleponnya sama sekali tak diangkat. Kebenciannya terhadap Lesya semakin bertambah.

__ADS_1


Dia mendapat siksaan dari orang yang sangat dia benci ditambah Lesya yang tak mengangkat ponselnya membuat dirinya mengepalkan tangannya erat. Dia menyesal sudah menghadirkan Lesya di dunia.


Sementara di saat dia menghubungi Letha, di seberang sana Letha mengangkat telepon dari orang tersebut. Entah apa yang membuat Letha di seberang sana menemui orang yang menghubunginya dengan segera.


~o0o~


Setelah acara makan sore sekaligus makan malam, Lesya segera pergi menuju kamarnya. Entah apa yang membuat dirinya gelisah, dia berusaha agar menutup itu semua di hadapan Mayang dan Angga selama acara makan tadi.


Lesya membersihkan dirinya dan keluar dengan pakaian serba hitam nya. Sweater hitam, celana levis hitam ditambah snacker hitam menambah kesan badnya.


Elvan yang sudah terlebih dahulu mandi dibandingkan Lesya, tak menggunakan baju tidurnya membuat Lesya mengerutkan keningnya bingung. "Bok, lo mau kemana? "


"Kepo! " Lesya mencebik mendengar Elvan yang bermain rahasia dengannya. "Gak seru lo mah! Main rahasia-rahasiaan! " Elvan menggedik-kan bahunya acuh.


"Btw, kapan hape baru gw nyampe? " Elvan teringat dengan hal tersebut. Di saat dia ingin menghubungi Revan, pintu kamar mereka diketuk. "Siapa? " tanya Lesya membuka pintu.


Bi Lilis yang berada di luar tersenyum ramah kepada Lesya yang keluar membukakan pintu. "Bibi? "


"Iya, makasih ya bi " Bi Lilis mengangguk saja. "Iya Sya, kalo gitu bibi permisi dulu ya! " Lesya mengangguk lalu masuk dan menutup pintu kamar setelah melihat kepergian bi Lilis.


Lesya mendudukkan b*kongnya di sofa yang ada dan memberikan box yang ditujukan untuk Elvan yang berada di sebelahnya. "Nih paket lo dari si Razia! "


Elvan mengambil dan membuka box tersebut. Karena Lesya yang fokus menonton film di televisi, dia tak melihat Elvan yang kembali menutup box tersebut.


Elvan dengan cepat menyerahkan kembali kepada Lesya box tersebut. Lesya bingung sendirinya. "Lah kok ngasih balik? " Elvan menunjuk box tersebut dengan dagunya. "Buka aja! "


Lesya membuka dan melotot melihat isi box tersebut adalah ponsel bewarna hitam dan berlogo apel. "Woah! Hape dong! Punya siapa? "


Mendadak otak Lesya nge-bug sejenak lalu tersadar. "Punya lo! " jawab Elvan malas. Lesya terperangah melotot. "Serius? Ikhlas gak nih? " Elvan menghela nafasnya lalu mengangguk. "Ikhlas Le! "


Lesya mengembangkan senyumnya dan memeluk Elvan tanpa sadar. "Aaa.. thanks! Gak nyangka gw! " Elvan menepuk-nepuk punggung tangan Lesya yang mencekik lehernya.

__ADS_1


Lesya yang tersadar melepaskan pelukkan nya. "Maap-maap! " Lesya menghilangkan kegugupan nya dengan melirik isi dalam ponselnya. "Kok semua nomor sama dokumen di nomor gw dulu masih ada? " bingung Lesya.


Elvan mengangguk dan mengelus lehernya. "Itu nomor lama lo! " Lesya bingung sendirinya. "Tapi bukannya udah pecah ya? " Elvan mengangguk kecil. "Layarnya emang pecah! Nomornya enggak! "


Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Dia tak paham bagaimana cara Elvan menemukan nomornya dengan kondisi ponsel lamanya yang hancur belebur. "Gimana ceritanya nomor lama gw ada sama elo? "


"Waktu temen lo asik nontonin lo debat tadi, gw diem-diem nyolong hape lo yang lama! Nih! " Elvan justru menyerahkan ponsel lama Lesya yang sudah hancur.


Lesya mangut-mangut paham dan mengambil ponsel lamanya. "Trus ini gak guna lagi dong? Buang aja dah! " Lesya melempar ponsel lamanya ke dalam tong sampah kecil yang ada tak jauh dari sana.


Blablang! (Gak tau suaranya)


Berhasil masuk! Lesya menatap Elvan seolah membanggakan dirinya. Elvan memutar bola matanya malas saja melihatnya. "Oke sebagai bentuk terimakasih dari gw, yok foto bareng di hape baru gw! "


Lesya mengarahkan camera phone nya ke arah mereka berdua. Namun jengkel bagi Lesya yang justru Elvan mengalihkan pandangannya. "Lah? Masih untung lo foto bareng bidadari kek gw! Dan masih mending gw mau foto sama lo! " jengkel Lesya.


Elvan menatap malas Lesya. Setelah dibujuk dengan banyak rayuan oleh Lesya dan berakhir dengan Elvan tetap tak ingin wajahnya dipotret.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


Hai gays! Kembali dengan author yang ingin mengucapkan kembali terimakasih untuk yang memberikan like, komen, ataupun memasukkan novel author di rak buku kalian🙏🏻


Sebelumnya author meminta maaf karena mungkin akan kembali jarang update setiap harinya karena author kembali daring.


Tentunya kalian tahu bukan? Daring, kerjaan rumah, tugas guru, dan menyusun alur yang tepat untuk novel itu tak mudah?


Jika masalah alur dan akhir cerita author sudah tahu! Namun, membagi waktu untuk pekerjaan author yang memang sibuk itu tak mudah. Mohon maaf sekali lagi jika saya sebagai author akan mulai lama update 🙏🏻


Sekian, see u🌹

__ADS_1


__ADS_2