
Mata Mayang dan Angga membulat bersamaan. Lisa mendengus kesal mendengarnya. Beberapa asisten rumah tangga, tukang kebun, bahkan satpam yang mendengar ikut tergelak.
Angga yang menyadari itu, menatap tajam sekitarnya. Alhasil mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka seolah tak tahu apa-apa. Mayang mengeruncutkan bibirnya. "Gak ada! " cebiknya menatap Angga kesal.
Angga melotot. "Kenapa? Kemaren kan gak jadi keganggu sama Lisa! " Mayang bertolak pinggang mendengarnya. "Enggak mau! Malu diliat mantu! "
Angga mendengus pasrah melihat Mayang pergi berlalu seraya menghentakkan kakinya. Walaupun umur mereka setengah abad, tak dipungkiri jika wajah Mayang masih terlihat imut di pandangan Angga.
"Hahhh! Sabar ... Bun, tunggu Ayah!" Angga mengejar Mayang yang berjalan terlebih dahulu. Angga terus merengek membuat Mayang sendiri tak tega. Alhasil mereka melakukan olahraga pagi di kamar mereka.
Berbalik kepada Lisa dan Lesya yang terus berdebat hanya karena masalah tinggi badan. Lesya yang pasalnya lebih tinggi dibandingkan Lisa mengejek Lisa mula-mula.
Mulai dari sanalah mereka memulai perdebatan mereka. Tak ada yang ingin menghentikan ataupun mengalah. Bahkan selama mereka berjalan menuju taman komplek, mereka menjadi pusat perhatian.
"Tapi lo masih jauh pendek dari gw!" ejek Lesya.
Lisa menghentakkan kakinya kesal. "Hehh tapi lo masih masuk kategori pendek ya!" Lesya menepis tangan Lisa yang menunjuk dirinya.
"Masih mending gw! Dari pada lo? Secara lo pendek dibandingkan gw, dan lo nyebut gw pendek, gak sadar diri? Kalo gw pendek, lo lebih pendek!" jelas Lesya diakhiri dengan tawanya.
Lisa mendengus malas mendengarnya. Kalah telak? Tentu saja! Dia bingung akan berkata apa karena benar adanya jika dirinyalah lebih pendek di bandingkan Lesya. Walau berbeda tujuh centi saja!
"Btw, mana utang lo! Cupu lo kalo gak bayar! " Lisa memutar bola matanya malas. Dia tahu jika Lesya menggunakan kata 'cupu' karena dia mau emosinya terpancing saja. "Gw transfer sekarang! "
Lisa mengambil ponselnya dan mentransfer uang janjiannya lewat aplikasi di ponselnya sesuai nominal yang dijanjikan. "Tuh! Gw bonusin 10 juta! Puas lo"
Lesya tersenyum penuh kemenangan melihatnya. Dia tak membawa ponsel nya saat ini karena tertinggal di nakasnya secara sengaja.
Brruuukk!
__ADS_1
Di saat Lesya hendak melangkah menyusul Lisa di depannya, tanpa sengaja dia tertabrak dengan seorang lelaki. "Sst!" ringis nya kecil seraya memejamkan matanya.
Perlahan Lesya membuka dan betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang menabraknya adalah orang yang menyukai dirinya. Rio!
Lesya bangkit dari pelukan Rio dan menatap tajam lelaki itu. Rio adalah siswa pintar dari sekolah Flondey. Flondey, nama sekolah yang pernah menampung Lesya saat SMP dahulu.
Sekolah Flondey angkat tangan jika Lesya terkena masalah. Tak ada satupun orang yang ingin berteman dengannya selain Luna. Yah, Luna dan Leon bersekolah di sana saat itu.
Luna dan Leon sudah tahu tentang perihal Rio yang tak menyerah dalam mengambil hati Lesya. Namun, Lesya bersikap dingin dan cuek tentang Rio.
Rio, siswa goodboy yang selalu friendly bahkan ramah terhadap banyaknya siswa-siswi sekolah Flondey. Tak hanya itu saja, Rio juga dikenal sebagai makhluk yang dermawan dan tampan.
Namun tanpa sengaja Rio bersikap kasar terhadap Lesya yang sudah mulai membuka hati terhadap Rio hanya karena tuduhan jika Lesya menjebak temannya hingga tiada.
Teman satu-satunya Rio! Jika ingin tahu siapa pelaku aslinya, Dila! Yap, Dila sangat suka terhadap Rio. Dila juga tak menyangka akan bertemu dengan musuh sekaligus mantan sahabat kecilnya di sekolah GG—sekolah Gregus.
Lisa menutup mulutnya di saat berbalik dan melihat itu semua. "Les-Lesya? Kamu apa kabar? Baik? Maaf ya, aku tadi gak sengaja," Senyum Rio mengembang di saat melihat wajah pujaan hatinya di depannya.
Lesya yang ingin berlalu begitu saja tiba-tiba tangannya di cekal oleh Rio. "Sya, a-aku minta maaf sama kamu, oke? A-aku gak sengaja serius! Aku baru tau sekarang kalo pelakunya Dila, maafin aku, oke?"
Lesya menatap tajam Rio dan menepis tangan Rio yang bersentuhan dengannya. "Bacot! " Lesya kembali pergi berlalu, tapi Rio tetap kekeh mencekal tangan Lesya.
Lisa hanya terdiam dan akhirnya memutuskan untuk menghampiri keduanya. "Yoo~ Ini, siapa lo?" tanya Lisa bingung karena tak mengenali Rio yang terus berusaha mendapatkan kata maaf dari Lesya.
Lesya tersadar dan menepis kasar tangan Rio. "Kuman anj*ng!" Rio tersungkur beberapa langkah ke belakang di saat ditepis oleh Lesya.
Lisa berdiri dan melipat kedua tangannya di dadanya. "Siapa?"
Rio mengulurkan tangannya seolah mengajak Lisa berkenalan. "Aku Rio. Pacar Lesya."
__ADS_1
Lesya membulatkan matanya mendengar lontaran Rio. "Bang*t! Sejak kapan hah?" marahnya tak terima.
"Aku suka sama kamu, Sya! Sampai kapanpun, aku akan buat kamu kembali jatuh ke pelukkan aku lagi!" tekad Rio sungguh-sungguh.
Lesya menatap dingin Rio. Dirinya bersiap akan memberi Rio pelajaran, tapi ditahan oleh Lisa. "Gw Lisa! Sepupu Lesya! "
"Ha? Kamu punya sepupu? Sejak kapan? Kok aku gak tau? " Rio yang memang tahu tentang pribadi Lesya walau hanya tiga persen dari seratus persen terkejut dengan adanya sepupu Lesya.
"Lo mungkin gak tau. Ayo, Sya!"
Rio menahan tangan Lesya kembali hingga Lisa berbalik dan menatap Rio bingung. "Kenapa? Kita mau pergi loh?" heran Lisa menatap Rio aneh.
Rio tersenyum manis sebagai jawaban. "Aku mau ngomong sama Lesya. Soalnya ini pentinggg banget!"
Lisa berpikir sejenak. "Oke. Gw tunggu lo di rumah, ya, Sya. Bye...." pamit Lisa berjalan menjauhi mereka. Tangannya melambai-lambai karena ingin melanjutkan acara jogging-nya.
Lesya justru mendengus kesal melihat Lisa justru meninggalkan nya dengan Rio di sana.
"Duduk dulu Sya, "
Lesya menatap tajam Rio dan kembali hendak pergi. Sayangnya, Rio kembali mencekal tangan Lesya. "Sya, pliss maafin aku, yahhh? A-aku tau kalo aku salah, tapi plis lah maafin aku,"
Lesya tak menjawab. Dia terlanjur kesal dengan tingkah Rio yang menurutnya sangatlah menjengkelkan. Bagaimana tidak? Dia dikurung tiga hari di dalam gudang yang sama sekali tak ada celah sedikit pun hingga dia merasa sesak nafas.
Tiba-tiba saja suara bariton membuat Lesya menepis kasar tangan Rio dan berlari ke pemilik suara. "Lepasin dia!" dinginnya.
Lesya menyembunyikan wajahnya di balik punggung Elvan dan menatap sinis Rio. Sungguh, dia tak menyukai sosok pemaksa akan suatu hal hingga seperti Rio.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1