
Sementara di sisi lain, mereka yang berusaha pergi sebelum setelah meledaknya markas Ice Blue. Bahkan hanya tersisa satu atau dua orang saja yang tertinggal di sana. Karena kekompakan mereka yang saling membopong satu sama lain, akhirnya mereka lebih dahulu keluar dan disusul para petinggi mereka.
Saling menjabat satu sama lain, mereka melihat ke arah gedung tua di depan mereka yang sedang bergoyang. Dan setelah gedung tua di depan mereka tiba-tiba saja meledak, mereka terkejut karena pasalnya Queen Ellion dan Ketua Tiger Wong masih belum datang.
"Semua mundur! " titah Luna.
Mereka yang mendengar hanya menurut mundur sesuai perintah Queen Allion. Dan di saat mereka membuka mata, mereka sedikit tersentak dan lega melihat Queen Ellion sudah datang namun digendong ala bridal style oleh ketua Tiger Wong. Mungkin, pingsan!
"Loh, Queen kenapa? " tanya Cakra.
"Ke pukul kayu dibikin Vion." ucap Elvan.
"Anak dajj*l! Udah meledak juga markasnya masih sempat bikin anak orang pingsan! Udah deh yang luka-luka diobatin dulu, yang butuh penangan boleh ke rumah sakit LC. lyzya dan biayanya gratis ditanggung pemilik! " ucap Luna tegas lalu diangguki serempak dengan pelan oleh yang lainnya.
"Saya hubungin yang perempuan dulu! " ucap Arya beralih mengambil ponselnya di dalam mobilnya. Ya, mereka semua sudah berkumpul di tempat terparkirnya semua mobil mereka sebelum berlari ke dalam medan perang. Dan para anggota dari kedua belah pihak juga bertambah dengan bantuan tim tambahan.
"Iya, eh bang angkatin Leon ke mobil biar otw ke RS! " ucap Luna di angguki oleh Alam dan Cakra. Leon dan Lesya sudah masuk ke dalam mobil yang berbeda namun satu tujuan. Namun keduanya tetap sama yaitu, tak sadarkan diri.
"Kak Luna, "
Vay, bocah itu menahan tangan Luna untuk hendak pergi. Luna yang melihat segera berjongkok menyetarai tinggi Vay agar dengan mudah memahami maksud bocah itu.
"Bukannya mau cari mayat papa? "
"Iya, anggota kak Luna yang cari sekarang ya. Kita mau pergi ke tempat uncle Leon dulu! Yakin deh, pasti mayat papa ditemuin sama anggota kak Luna." ucap Luna memberi pengertian.
Vay menganggukan kepalanya paham saja. Setelah melihat Luna yang menyuruh beberapa anggotanya untuk mencari keberadaan teman-teman mereka yang gugur di medan perang, barulah Vay bernafas lega. Setidaknya, Luna ingat janjinya padanya.
"Ericko, Amanda, Faris, sama si Gratara juga jangan lupa dibawa biar gak kabur mereka! " pinta Luna lagi dan diangguki paham oleh beberapa anggota suruhannya.
Memang biasanya Lion Claws mengumpulkan anggota petinggi gangster yang menjadi lawan mereka agar tak kabur jika sudah gugur. Bisa saja setelah beberapa tahun kemudian kembali muncul, mereka tak mau itu!
"Ma, ayo! " ajak Vay menggenggam tangan sang mama yang asik menatap lekat tembok gedung tua yang sudah hancur. Vay paham dengan perasaan sang mama. Namun ada uncle yang harus mereka perhatikan sekarang.
Felicia tersadar dan mengangguk saja. Dengan berat mereka berjalan masuk ke dalam mobil yang berisi sang adik. Mereka semua yang luka-luka pun saling mengobati sementara yang luka parah dibawa ke rumah sakit LC. lyzya dengan biaya pengobatan yang gratis.
__ADS_1
...〰〰〰〰〰〰〰✍...
Di rumah sakit LC. lyzya, sudah banyak orang berkumpul di tiga ruangan berbeda. Bahkan kali ini dokter yang menangani adalah dokter kepercayaan. Siapa lagi kalau bukan Candra, Sarah, dan Andre? Untuk yang terluka lebam juga sudah diobati oleh para suster di sana karena tak mengalami luka serius.
Hanya kesunyian yang timbul di sana. Mereka semua dilanda cemas, khawatir dan resah menunggu kabar dari para dokter yang bertugas. Bahkan mereka tak mempedulikan perut mereka yang lapar meminta diisi makanan.
Ceklek!
Henny, wanita paruh baya itu berdiri dan menghampiri Candra yang baru saja keluar setelah menangani sang anak. Diikuti yang lainnya juga, mereka menantikan informasi dari dokter yang menangani Luna. Candra melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya lalu menggeleng pelan.
"Luka tembaknya udah dibalut, nanti juga dia bangun sendiri dan pastikan Luna jangan terlalu banyak gerak sebelum luka tembaknya kering! " ucap Candra. Mereka menghela nafasnya lega. Setidaknya, ini bukan masalah serius.
"Boleh Mama masuk? " tanya Henny.
"Nanti Luna boleh dijenguk ya Ma, setelah dipindahin ke ruang perawatan." jawab Candra mengelus punggung Henny dengan lembut. Wanita itu hanya mengangguk pasrah saja mendengarnya.
Ceklek!
Lagi-lagi pandangan mereka semua teralihkan pada satu ruangan yang terbuka dan menampilkan sosok Andre yang baru saja keluar. Dan kali ini, Andre adalah dokter menangani Leon. Melepaskan maskernya, dapat Andre lihat jika semuanya diam karena sedang menunggu dirinya angkat suara.
"Saat ini, pasien koma." ucap Andre.
Henny mendudukan dirinya di bangku mendengarnya. Dia sudah menganggap Leon sebagai anaknya. Tak sanggup dia mendengarkan berita buruk ini. Sangat lama dia mengenal Leon yang baru kali ini masuk perang hingga koma begini.
Tak jauh dari Henny, Felicia merosot dan menangis sejadi-jadinya. Belum lama mereka saling tahu, Leon sudah lebih dahulu koma alias tak sadarkan diri. Vay hanya dapat memeluk leher sang mama dengan tangan mungilnya agar kembali tenang. Dia juga sedih karena uncle nya mengalami koma. Dan pada artinya, mereka tak dapat saling bermain lagi.
Cakra, lelaki itu terdiam kaku. Jika tak ada Alam yang menepuknya seolah menahannya melampiaskan emosi, mungkin saja dia akan menghantam kuat tembok dinding rumah sakit.
"Cakra, tenang! " kata Alam menahan tubuh Cakra yang hendak menghantam dinding tembok di sebelahnya. Cakra menghempaskan tangan Alam dan mengusap wajahnya kasar. Jika seorang Cakra resah sekaligus marah begini, butuh pelampiasan fisik seperti memukul atau menghancurkan benda.
Lisa, gadis itu terduduk diam di samping sang papa. Dia menangis terisak dan menyalahkan dirinya sendiri. Jika kalian membaca dengan baik, gadis itu memang menyerang anggota Vion dengan mendorong agar terjungkal jatuh dari dinding besar yang berlobang dibuat Lesya. Siapa sangka ternyata Vion yang mengangkat tombak ke udara ikut terdorong ke samping hingga tombak itu lepas dan mengenai perut Leon.
"Hikss, semuanya salah Lisa! Lisa tadi gak sengaja dorong anggotanya Vion jadinya gini! Hikss, papa... "
Lisa menangis terisak di pelukan sang papa. Tangannya begitu bergetar dan menyalahkan dirinya sendiri. Sementara sang mama yang ikut pergi ke sana untuk memastikan hanya berkaca-kaca melihat keadaan putri bungsunya yang tampak berdukacita. Maurine hanya dapat mengelus punggung tangan sang putri agar merasa lebih tenang.
__ADS_1
Braakkk!
Mereka semua terhenti menangis dan menoleh ke arah sumber suara. Sarah, dokter cantik dengan jas putihnya tiba-tiba keluar dengan tangan yang berusaha melindungi wajahnya dari pecahan kaca. Ya, itu suara kaca yang hancur. Entah dari siapa dan ulah siapa kaca itu hancur, terpenting mereka semakin dilanda kekhawatiran.
"By, " panggil Candra pada sang kekasih hingga membuat Sarah menutup pintu ruangannya. Dokter cantik itu menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri seolah mengisyaratkan agar semua tetap diam. Mereka hanya menurut saja dan menutup mulutnya agar tak menimbulkan suara.
"Mau dijelasin pribadi atau langsung di sini? " tanya Sarah ragu karena tak mau mengganggu privasi lainnya. Terlebih di saat Sarah melihat wajah Galang, dokter itu dibuat ragu untuk menjelaskan bagaimana kondisi Lesya. Ya, kali ini Sarah sendiri yang menangani Lesya.
"Di sini! "
"Pribadi! "
Sarah menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Jawaban Galang yang ingin dijelaskan langsung sementara Elvan ingin dijelaskan pribadi. Namun sejenak setelah kecanggungan itu berlangsung, Elvan akhirnya kembali angkat suara dan meminta dijelaskan langsung di tempat itu juga sama seperti Galang.
"Oke, ada 3 berita buruk dan tak ada berita baiknya! " ucap Sarah mula-mula dengan tiga jari yang terangkat.
Hening!
Tiga?
Banyak ya?
Perasaan mereka tak enak!
"Pertama, janin pasien dinyatakan keguguran! " ucap Sarah mengangkat satu tangannya ke atas. Semua dibuat terkejut dan masih tetap diam karena Sarah belum selesai menjelaskan.
"Kedua, karena benturan keras dikepalanya tak sengaja mengenai matanya, pasien mengalami kebutaan! Dan itu artinya, butuh donor yang tepat karena mata pasien yang cerah harus sesuai dengan kemampuan mata cerah pasien. Jika pihak keluarga bersedia dan ada yang sama berkemampuan, kita dapat melakukan operasi setelah persetujuan dari kedua belah pihak." jelas Sarah melirik sejenak Galang.
"Maksudmu saya? " tanya Galang menunjuk dirinya sendiri dengan alis terangkat. Semua menoleh. Sarah hanya menggeleng tak tahu saja.
"Saya kurang yakin, tapi kita bisa lihat kecocokan keduanya! " kata Sarah. Galang tak menanggapi. Dia hanya diam saja seolah membiarkan Sarah kembali menjelaskan. Begitu juga dengan yang lainnya. Hanya diam dan menunggu informasi dari dokter yang bertugas.
"Ketiga, "
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1
>>><<<
Kira-kira, ketiga apa hayoo? Jangan lupa tunggu terus yaa😄