Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
80: Sisi lemah!


__ADS_3

Lesya duduk di atap rumah sakit yang ada dan mengusir semua anak buahnya yang ada di sana. Dia menatap langit-langit dengan senyum kecut mengingat betapa bencinya Lesya pada dirinya.


Elvan melepas jaketnya setelah tiba di sana dan memasangkannya di tubuh Lesya dari belakang. Lesya terkejut dengan perlakuan Elvan setelah tahu pelaku yang meletakkan jaket ke tubuhnya.


"Gak baik melamun terus! Nanti kesambet" Lesya menatap sinis orang yang disampingnya itu. Keadaan lagi genting namun masih saja kutub. Pikir Lesya.


Lesya menatap langit sore yang hampir terbenam. Dia ikut berdiri di samping Elvan yang menatap langit. Dia merasa tak becus menjadi seorang kakak setelah mendengar unek-unek Letha tadi.


Dia tak pernah menangis atau terlihat lemah dimata orang lain. Baik abang angkat bahkan sahabatnya, dia tak pernah terlihat lemah.


Namun, kali ini setetes cairan bening di pelupuk matanya jatuh begitu saja, "Ngapa melow sih! " gumam Lesya mengusap air matanya kasar.


Elvan memegang tangan Lesya memberhentikan aksinya menghapus air matanya, "Sini! "


Lesya tak mengerti dengan maksud Elvan yang merentangkan tangannya. Dengan cepat Elvan membawa Lesya ke dalam pelukkan nya, "Nangis aja kalo itu bikin lo puas"


Lesya langsung membalas pelukkan Elvan dengan erat dan mengeluarkan cairan bening dari matanya, "Hikss.. Gw gak guna ja-jadi ka-kakak" lirih Lesya lalu berjongkok.


Elvan tetap memeluk Lesya seraya mengelus rambut dan punggung agar Lesya lebih merasa tenang. Dia juga ikut berjongkok di saat Lesya berjongkok.


Elvan sadar jika Lesya lebih banyak terpuruk dari kecil hingga sekarang. Namun dia menutupi semua itu dengan sikap bad girlnya.


Dari sini dia bisa melihat betapa lemahnya seorang bad girl yang menyandang status Nyonya Gregorius Grey.


Lesya makin menangis di saat dirinya sadar jika dirinya tak menggunakan alas kaki, "Huwaaa.. Gw lupa make sepatu lagi! "


Elvan mengernyit keningnya heran. Bisa-bisanya Lesya mengingat dirinya tanpa alas di saat begini? Langka memang! Pikir Elvan sedikit takjub dicampur heran.


Elvan mengelus rambut panjang acak-acakkan milik Lesya yang terasa lembut itu, "Husstt! Nanti dibeli"


Lesya makin menangis histeris, "Gak mau! Maunya sepatu yang dibeli sama bunda kemarin! " Elvan bingung sendirinya. Dia langsung menghubungi anak buahnya untuk memenuhi keinginan Lesya.


Bahkan Elvan harus menenangkan Lesya yang makin histeris seraya bertelepon dengan orang yang berada di sebrang tak lain Revan.

__ADS_1


📞Halo Van? Eh ngapa nangis lo?


📞Ambil sepatu yang gw kirim!


📞Di mana? Itu siapa yang nangis?


📞Rumah bunda! Istri gw!


tuttt...


Lesya terdiam saat suara datar Elvan menyebut dirinya sebagai 'istri' tadi. Lesya juga tersadar jika dirinya sangat erat memeluk Elvan. Bahkan dirinya menangis di hadapan pria tembok ini.


Setelah mengirimkan gambar sepatu dan lokasi nya saat ini, Elvan beralih menatap Lesya yang terdiam. Dia tahu apa penyebab yang membuat Lesya terdiam.


Lesya yang ingin melepaskan pelukkan nya, terperanjat kaget kembali. Elvan kembali mendekap Lesya dengan hangat membuat Lesya tak bisa menolak.


Dia kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Elvan, "Ngapa gw jadi gini ya Lord? " lirih nya kecil.


Tak lama Revan datang dengan box ditangannya. Dia terdiam melihat seorang Elvan yang terkenal kejam dan begis memeluk seorang wanita.


Lesya terkejut melihat keberadaan Revan di sana, "Siapa lo? " dingin Lesya. Elvan menoleh ke arah Revan yang berdiam diri, "Mana? "


Revan menghampiri mereka berdua dan menyerahkan box tersebut, "Gabut lo ya nyuruh cuman ngambil ini doang? "


Lesya melirik isi box tersebut. Mereka kembali berdiri di rooftop. "Itu apa? " tanya Lesya. Elvan tak membuka isi box tersebut, "Hm, boleh pergi"


Revan melotot, "Heh gw baru nyampe trus lo suruh pergi? Beh, terlalu lo! " Elvan tak mempedulikan Revan yang memprotes.


Lesya menatap aneh Revan, "Lo siapa sih? " Revan tersenyum melihat bidadari cantik di depannya, "Kiw ada bidadari cantik bener neng! Kenalan dong gw Revan, orang kepercayaan Elvano"


"Kok stress ya? " polos Lesya tak berdosa. Wajah Revan masam bagai tomat mendengarnya. Elvan tak berekspresi sama sekali, "Jangan denger orgil! "


Revan melotot, "Heh! Untung lo bos sekaligus temen gw! Kalo gak? Bacok kita" Lesya memicing, "Bos apaan? "

__ADS_1


"Gak papa" jawab Elvan cepat. Revan memicing, "Istri lo? " Elvan mengangguk dan berdehem pelan. "Cantik bener, sama gw aja yuk! Tenang gw gak gigit dan gak dingin kok"


"Siapa lo? Kenal kagak! " ketus Lesya. Elvan tersenyum tipis bahkan tak terlihat. Revan mengelus dadanya sabar, "Ya udah, neng geulis namanya siapa cantik? "


"Lesya! Sejak kapan lo di sini? " Revan melirik jam tangannya, "Baru aja dateng, kenapa mau ngusir? "


Lesya mengangguk polos, "Papan! Usir gek dia(Revan) eneg gw liat dia stress" Revan melotot, "Gak bini gak suami sifat 11/12 semua"


Lesya menendang kaki kanan Revan hingga Revan terdorong beberapa langkah, "Ngomong apaan lo ha? "


"O*su! Galak bener pawangnya, dah lah gw sibuk! Bye" pamit Revan lalu berjalan pincang menuju pintu keluar.


Lesya dan Elvan menatap kepergian orang itu saja. Lesya berbalik dan melirik isi kotak yang sudah kosong, "Kosong? "


Lesya menatap Elvan yang memegang kedua sepatu miliknya dari Mayang kemarin, "Itu kan sepatu gw? Balikin sini! "


Elvan tak mengembalikan sepatu tersebut kepada Lesya justru berjongkok ke arah Lesya. Lesya terkejut sedetik sadar, "Ngapain? "


Elvan menarik kaki Lesya yang sedikit luka. Dia memegang luka tersebut yang membuat Lesya merintih kesakitan, "Sttss! Sakit"


Elvan mengambil salep di sakunya dan mengoleskan ke luka-luka Lesya dengan telanten. Setelah selesai dia memasukkan kembali salep ke sakunya.


Elvan memasang-kan kaki Lesya dengan sepatu yang baru saja diantar Revan. Karena kurang keseimbangan, Lesya memegang rambut hitam Elvan agar tak jatuh.


"Pan! Papan, gw bisa make kok" ucapnya. Elvan tak bergeming mendengarnya.


Kini sepatu Lesya sudah terpasang cantik di kaki manis Lesya. Elvan berdiri menatap Lesya dan Lesya melepaskan tangannya dari rambut hitam Elvan.


"Gw udah bilang gw bisa sendiri! " Elvan mengangkat bahunya acuh tak acuh mendengarnya. Lesya memicingkan matanya, "Thanks! And, don't do it again"


"Why? Isn't that natural? " Lesya menatap Elvan lekat, "Tapi gw gak mau kalo Letha nyampe kayak gini"


Elvan mengusap kepala Lesya lembut, "Dia beda! We're legal! And no problem understand? " Di saat Lesya ingin angkat suara, Elvan terlebih dahulu memotong pembicaraan-nya.

__ADS_1


"Masalah Letha biar dia sendiri yang mencari kebahagiaan dia oke? " Lesya mengangguk dan sedikit menunduk, "Tapi kalo Letha benci sama gw gimana? "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2