
Berbeda di sisi lain dua kubu sedang beradu lawan dengan yang lainnya. Sedari tadi sebuah gedung yang sudah tak layak digunakan namun tetap kokoh berdiri terus menimbulkan kericuhan.
Ya, mereka itu adalah kubu Tiger Wong dan kubu Lion Claws yang hendak menyelesaikan pertarungan akhir mereka dengan cara kasar pada gangster Ice Blue, musuh bebuyutan mereka.
Suara dentingan pedang dan suara pelatuk pistol yang lepas terus menggema di gedung itu. Mereka tak menyangka jika empat gangster ikut membantu pihak Ice Blue. Dan mereka juga tak menyangka jika pihak Ice Blue cukup pandai bersenjata.
Sesuai rencana mereka yang disusun oleh para ketua secara dadakan, mereka semua akhirnya melancarkan aksi mereka. Saat lengah bantuan terus datang dan yang lainnya berlari masuk ke tempat lebih dalam lagi agar mudah.
Pertama diawali oleh tim Luna dan Lisa, kedua tim Angga dan Arya, ketiga Elvan dkk, keempat Galang dan Gilang dan yang terakhir belum masih bersembunyi alias sedang belum beraksi.
Cakra sudah menelepon anak buahnya untuk turut ikut turun tangan kembali dengan beberapa pihak Tiger Wong. Mereka tahu jika kali ini lawan mereka lebih dari 200 orang bahkan sangat lebih dan berinisiatif lebih dahulu membuat tim baru sebelum mereka beraksi.
"Oke let's goo! " ucap Alam tegas memimpin tim nya. Leon dan Cakra mengangguk siap diikuti yang lainnya lalu berlari mengepung yang lain. Jangan lupa jika mereka juga sudah memberitahukan rencana metode serang berlapis agar mereka juga berbagi tim.
Peperangan tampak ricuh kali ini. Luna yang tampak lengah saat bertarung dengan Amanda akhirnya digantikan oleh Elvan. Amanda terkejut pada awalnya karena dia sendiri tahu siapa ketua Tiger Wong, tak lain adalah sang pujaan hatinya sendiri. Namun dia tetap tak lengah namun pada akhirnya Amanda perlahan mulai tumbang karena serangan Elvan yang tak terbaca.
Di saat itulah Vion baru saja turun dengan gaya khasnya dan menyerang yang lainnya. Para pemimpin gangster lain yang bekerja sama dengan Vion guna untuk menghancurkan dua gangster terkenal itu pun ikut dalam perang tersebut. Tak heran jika beberapa banyak anggota TW dengan LC sedikit lengah.
"Woww, excellent! Tunangan saya sendiri kamu berani tumbangkan." datar Vion berpura tekerjut pada aksi Elvan. Sang lawan bicara menoleh sekilas disertai beberapa orang lainnya pada sumber suara. Elvan bersmirk mendengarnya lalu menunjuk ke arah Amanda dengan pedang yang sedang dia pegang.
Author: Seruan perang pake pedang kan ya? Lebih terkesan cool gitu kan keren :>
"Tunangan? Ckck, sangat murah harga lo! " pelan Elvan datar dan mengarahkan pedangnya ke arah leher Amanda.
Dengan segera dia mengayunkan pedangnya hingga kepala Amanda terpisah dari tubuhnya. Sontak saja beberapa banyak orang terkejut melihatnya. Darah Amanda begitu mengucur deras hingga bertumpahan di lantai gedung kotor itu. Bahkan beberapa dari mereka yang disekitar Elvan berhenti perang satu sama lain karena bersimbah darah milik Amanda.
Author: Huhu... Berasa mafia ga sih🗿
Ericko yang melihat itu menggeram marah. Dia sebagai sang ayah tak terima putrinya diperlakukan demikian. Harga dirinya merasa anjlok melihatnya. Terlebih selama ini Amanda adalah anaknya yang mudah diperalat gunakan.
__ADS_1
Vion menatap datar Elvan. Dia sangat tak tersinggung dengan kema*tian Amanda namun dia tersinggung dengan ucapan Elvan. Dengan cepat dia melirik Gratara yang menggunakan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Memang sengaja Barata menutup sebagian wajahnya agar karena dia akan membuat suprise besar di perang ini.
"Semuanya berhenti! " ucap Gratara dingin setelah tahu apa yang akan dibuat oleh Vion walau dari tatapan matanya. Tentu saja mereka semua berhenti dan membiarkan anggota TW dan LC mengatur pasokan oksigen sejenak sebelum kembali memulai perang lagi.
"Nyalakan layarnya! "
Vion berucap datar menyuruh salah satu anggota kepercayaannya untuk menuruti perintahnya. Faris, selaku orang yang diperintahkan Vion tentu saja menyalakan layar yang dimaksud oleh boss nya. Semua mata memandang ke arah layar yang perlahan menyala.
Mata mereka terkejut melihat seorang gadis yang mereka cari sedang duduk sedikit membungkuk. Vion tersenyum smirk melihatnya. Namun sedetik Vion bertambah senyum physio di saat tiba-tiba layar menampilkan Lesya yang mulai terbangun. Ini yang dia tunggu!
"Faris, nyalakan mikrofon nya! " lanjut Vion lagi dengan tegas. Sang pemilik nama hanya mengangguk singkat dan melaksanakan perintah sang pemimpinnya. Menekan tombol yang ada di sana, Vion bertepuk tangan dengan singkat agar memecah keheningan.
"Okey, lady did you sleep very well? (Nona, apakah tidurmu nyenyak?) " tanya Vion dengan smirk khasnya. Cukup kagum Vion saat Lesya sama sekali tak terlihat panik dan justru menjawab pertanyaan dengan tenang.
"No mattresses and bolsters here. So, my head hurts when I fall asleep sitting like this. (Gak ada kasur dan guling di sini. Jadi kepala gw bisa sakit kalau gw tidur duduk kayak gini) " ucap Lesya dari seberang sana dengan tenangnya.
"You are so stu*pid, Relifon Scheinen! (Anda sangat b*doh, Relifon Scheinen!). Kaki gw gak lo ikat? Waw, terimakasih banyak! " ucap Lesya lagi dari layar.
"Hay Vay, lagi cari mama mu ya? " tanya Lesya ramah. Vay mengangguk dengan sebuah kode di matanya. Tentu saja Lesya paham akan kode itu. Gadis dengan penampilannya yang acak-acakan tersenyum samar, dengan entengnya gadis itu meletakkan satu kakinya di atas kakinya yang lain.
"Kata papa mu, mama mu di dalem ruangan itu! " ucap Lesya menunjuk ke arah satu ruangan yang dimaksud dengan dagunya. Vayleen mengangguk kecil seolah paham saja melihatnya.
"Vay, kalau mau mama mu bebas, ikat dulu kaki dia(Lesya) atau mama mu yang saya taruhkan! " ucap Vion mengancam. Vay yang mendengar hanya menggeleng dengan wajah datarnya. Tentu saja Gratara dan Vion merasa curiga sekaligus kaget. Pasalnya Vay selalu menuruti jika nyawa sang mama terancam.
"Gak mau! "
Lesya tertawa mendengarnya. Di dalam ruangan khusus yang dia tempati, gadis itu tampak terlihat bagaikan physio. Sebuah layar besar yang ada di samping gadis itu sama sekali bukanlah sebuah ancaman untuknya. Dengan tampang polos dia bersender menyudahi tawa tanpa candaannya. Dasar aneh!
"Hahaa.. Anak lo aja nolak, terlalu banyak nganggurin anak sih makanya gini! Oh iya btw mau gak pasang ikatan di kaki gw? Mumpung gw lagi baik loh." polos Lesya menawarkan diri. Vay yang di sana hanya diam dan berjalan sedikit cepat ke arah ruangan sang mama saja.
__ADS_1
Di sisi lainnya semua dibuat bingung dengan ucapan Lesya. Terlebih pada Vion yang mulai hendak melangkah kembali ke atas. Namun langkah tersebut terhenti dan beralih menatap tajam Lesya yang berada di arah layar.
"Ehhh, jangan deh! Gw kasian sama lo kalau sekali injek tangga, kena bom! Yeyyy, ahaha... Are you ready to start game? (Apakah kamu siap untuk memulai permainan?) " lanjut Lesya dengan datarnya. Vion dibuat geram oleh Lesya hingga mengepalkan tangannya.
"Tapi kan gw di sini ya? Ckck, sayang banget itu cuman ucapan karena gw aja sendiri belum pasang bom di sana." tambah Lesya lagi dengan nada sedihnya.
Vion hanya berdecih sinis mendengarnya. "Ngaku juga lo! " ucap Vion sinis sekaligus merasa menang.
Lesya kembali tertawa pelan dan kembali datar lagi. Sangat sulit membaca ekspresi gadis itu sekarang. Sangat mirip dengan seseorang mengalami gangguan mental. Luna yang melihat dari layar sangat khawatir akan itu. Ini kembali terjadi setelah sekian lama Lesya bersikap normal layaknya tak memiliki masalah.
"Tapi kalau lo injek beneran tangganya, bom nya meletus! Jadi gw saranin jangan aja ya, takutnya lo tinggal nama kan kasian." ucap Lesya dengan tampang polosnya. Vion menautkan alisnya bingung. Dengan segera dia menyuruh satu anak buahnya menjadi pencobaan.
Dorrr!
Di saat anak buah Vion tersebut diinjak, suara bom meletus dari sana. Tak hanya itu, anak buah Vion juga kejang-kejang lalu tumbang karena merasakan aliran saluran listrik. Vion dan Gratara sedikit menjauh dan melangkah ke belakang melihatnya. Bagaimana bisa ini terjadi?!
"Sudah dibilang jangan injek masih aja ngeyel! Kasian, anak buah dijadiin kelinci pencobaan sama bosnya sendiri." ledek Lesya dengan nada datarnya hingga mengundang emosi Vion.
"Lo mainin gw ya?! " geram Vion.
"Aaa, yeah! It's right, keren kan permainan gw ini? " tanya Lesya kembali ceria mendengar tebakan Vion. Sang lawan bicara dari balik layar mengepalkan tangannya kuat. Rupanya dia sedang dimainkan oleh Lesya.
Si*al!
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Wah, udah tahun baru ehh malah dapet begini. Gak papa deh, semoga suka ya alurnya.. Sedikit diubah ya alurnya biar enak nantinya.
__ADS_1
Happy new year again all.. 🎉
Salam hangat dari author kalian ini yang selalu imut tiada tara, luv u gays😍😘