Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
217: Kepergian Mila!


__ADS_3

Sementara Lesya kembali duduk di kursi rodanya karena merasa nyeri pada kakinya. Berbeda dengan Letha yang sudah tak paham ke mana arah pembicaraan. "Mami. . . " panggil Letha.


"Mami tau kamu bingung kan? Tapi mami mohon, jauhin Elvan karena dia bukan punya kamu lagi! Mami cuman minta itu dari kamu Ar, mami mohon kamu ngerti! Sekarang kamu memang bingung tapi, nanti kamu bakal ngerti semuanya! "


Letha hanya diam. Penjelasan itu tak masuk akal di benaknya. Namun, dia benar-benar ingin menjauhi Elvan entah kenapa. Seperti ada dorongan yang menyuruhnya menjauh dari sosok Elvan.


Pandangan matanya dan Elvan bertemu sekilas karena Elvan kembali menatap sekeliling ruangan di belakangnya. Mila meremas selimutnya karena merasa dadanya kembali sakit lagi. "Ma-mami? " panik Letha memegang tangan Mila.


"Mi? Mami? Mami bangun mih! " panggil Lesya. Dia tak menyangka akan begini. Bahkan, dadanya terasa sesak seperti ribuan jarum menusuk dirinya.


Mila memegang dadanya yang terasa sakit dan nafasnya perlahan terengah-engah bagai baru selesai melakukan olahraga. "Ma-mami. . . Sa-yang kali-an ber-dua arkhh!! "


Dengan cepat Elvan keluar memanggil dokter yang menangani Mila. Sementara di saat dokter sudah datang, mereka menunggu kembali di ruang tunggu. Suasana tampak menegangkan karena hal ini menyangkut pautkan nyawa.


Lesya menggigit jarinya menunggu kabar dari dokter. Wajah setengah pucatnya memancarkan raut wajah yang cemas akan kondisi Mila. Dia senang di saat Mila mengucapkan kata maaf padanya dan dia juga sedih akan kondisi Mila saat ini.


Pandangan mata antara dirinya bertemu kembali dengan Gilang dan Galang. Gilang yang seolah menatap sinis dan mendecih kecil ke arah Lesya sementara Galang menatap Lesya dengan tatapan sulit yang diartikan. Berbeda dengan Lesya yang menatap tajam kedua orang itu.


Letha saat ini ditenangkan oleh kedua temannya yang tak lain, Amel dan Nayla. Mayang masih menunggu kabar dari dokter dengan Angga di sampingnya. Bagaimana pun juga, Mila itu adalah sahabat mereka.


Sementara Mily, dia menatap kosong arah depannya. Dia sayang pada kakaknya itu namun tidak pada anaknya. Kebutuhannya, selalu dipenuhi oleh kakaknya sementara ketika dia pendidikannya sudah lulus, dia mulai membiayai kehidupannya sendiri. Dengan usaha kerja kerasnya sendiri. Dan saat ini, dia tak menyangka jika sang kakak sedang menghadapi penyakitnya sendiri. Asma!


Luna dan Elvan yang ada di situ hanya diam menunggu kabar dari dokter yang menangani. Tiba-tiba saja banyak suster yang datang dengan membawa alat-alat medis yang dibutuhkan. Dengan cepat Luna yang melihat satu suster menahannya dan bertanya. "Sus, kenapa banyak yang masuk ya? " tanyanya.

__ADS_1


"Itu.. Pasien di dalam kritis! Permisi, " pamitnya sopan.


Letha yang mendengar jawaban suster itu justru semakin histeris terisak. Sementara yang lain hanya tak menyangka saja. Tanpa Mily sadari, lelehan bening sudah jatuh di pelupuk matanya. Sementara kedua lelaki kembar hanya terdiam saja.


Lesya mendongkak menatap langit-langit ruangan menahan keras agar tetap tegar di saat seperti ini. Dia yang melihat Amel dan Nayla kesulitan menenangi adiknya, beralih menyuruh adiknya ke arahnya.


"Sini! " ucap Lesya. Letha tak menjawab namun dirinya dengan cepat memeluk sang kakak dan menumpahkan semua kesedihannya. Lesya hanya terdiam sesekali mengelus rambut sang adik.


"Shutt! Tunggu kabar dari dokter yah! Jangan nangis, jelek tau! " hibur Lesya mengusap pipi Letha yang basah. Perlahan Letha mulai tenang dan akhirnya memutuskan untuk menunggu kabar dari dokter saja.


Ting!


Mily dengan cepat menghampiri dokter yang keluar. "Bagaimana dok keadaan kakak saya? " tanyanya cemas. Dokter tersebut menghela nafas dan menggeleng kecil. "Maaf, kami sudah berusaha namun Tuhan berkehendak lain! Beliau, sudah pergi selama-lamanya! " ucap dokter itu.


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, mereka terdiam dan tak bisa berkata-kata dengan kenyataan pahit yang mereka dengar. Letha dengan cepat masuk ke dalam ruangan dan menemukan Mila yang sudah tertutup kain putih. Persis seperti yang dia lihat di alam mimpinya!


Mily terjatuh lemas di tempatnya. Dia tak punya siapa-siapa lagi menurutnya. Ayah dan ibunya sudah tiada sejak dirinya dan Mila berumur 3 tahun. Mereka dirawat oleh nenek tua namun sekarang, nenek tua itu sudah meninggal dunia.


Galang menyuruh Gilang untuk menenangkan Mily. Dengan malas Gilang menurut dan menenangkan Mily. Tiba-tiba saja Mily pingsan dalam pelukan Gilang dan dibawa ke ruang inap yang ada di rumah sakit tersebut.


Lesya hendak menyusul adiknya di dalam ruangan. Dengan rasa peka yang tinggi, Elvan mendorong kursi roda ke dalam ruangan dan mereka berdua melihat Letha kembali terisak seraya memeluk Mila. "Tha, " panggil Lesya kecil.


Letha menoleh dan mengusap pipi basahnya ke arah sang kakak. "Kak, lo tau? Semalam, gw mimpi begini! Mami. . . Mami hikss--- " Dengan cepat Lesya membawa Letha kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Ketbok, lo keluar dulu! " pinta Lesya menatap sekilas Elvan. Elvan hanya mengangguk dan keluar memberikan waktu untuk kedua saudari kembar itu.


Lesya melepaskan pelukannya dan mengusap pipi basah adiknya. "Lo tau? Gw juga gak nangka kalau mami akan pergi secepat ini! Tapi, gw bisa apa? Gw sebagai anaknya cuman bisa mendoakan yang terbaik semoga mami bertemu papi di alam sana dan bahagia! Begitu juga dengan lo Tha! " ujar Lesya mengelus pucuk kepala sang adik.


Perlahan Letha mulai tenang dan mengangguk menyetujui ucapan Lesya, kakaknya. "Sekarang kita ikutin acara pemakaman mami! Ingat? Mami bilang apa tadi? " tanya Lesya menahan tangisnya.


"Mami mau susul papi! Itu artinya, mami kangen sama papi dan dia mau sama papi selamanya! Sekarang kita kabulin permintaan mami buat ketemu papi dengan tenang! Kita mending ikut acara mami sebagai salam perpisahan kita sama mami gimana? " usul Lesya.


Letha mengangguk setuju atas usulan dari Lesya dan perlahan mengatur nafasnya. "Gw sayang kakak! " polosnya tersenyum manis. Lesya tersentak dan ikut tersenyum mendengar ucapan Letha. "Me too Tha! " balas Letha.


____________


Suasana acara pemakaman tampak hitam. Dibawah rumah mewah, sudah banyak orang berkumpul untuk mendo'akan Mila yang sudah pergi jauh. Bertengger kaca hitam yang terus melekat di hidung mancung seorang gadis yang kerap dipanggil Lesya, tiba-tiba saja menoleh ke arah Gilang. "Lyra! "


Lesya menoleh ke arah sumber suara. Elvan yang selalu berada di sampingnya ikut menoleh dan menatap tajam Gilang. "Paan? Mau hina gw? Jangan sekarang, gw masih mau urus mami! " jawab Lesya yang sudah tahu arah pembicaraan Gilang.


"Saya gak bahas soal itu! Saya mau bahas masalah karyawan yang banyak undur diri! Karena kamu sebagai 80% pemegang saham jadi kamu urus semua masalah! Setelah itu, saya bisa aman kerja di sana lagi! " ucapnya lalu pergi dari hadapan pasangan remaja itu.


Lesya tertawa sinis. Rupanya dia hanya guna pemanfaatan oleh Gilang. Miris! Hatinya menertawakan dirinya yang terlihat lemah di hadapan Gilang dan Mily seolah dirinya adalah boneka yang dapat dimainkan. Sial*n! Dia ingin ikut kedua orang tuanya! Namun, bagaimana Letha?


Elvan menghela nafasnya dan membawa Lesya menuju kamarnya. Mendorong kursi roda yang digunakan Lesya, Elvan tak merasa keberatan melakukannya. Setiba di kamar, Elvan mengunci pintu kamar dan mengaktifkan kedap suara yang ada.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2