
Episode 422: Attaque
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Sesuai dengan rencana sekolah, kini sekolah sedang mengadakan potret kenangan untuk generasi ke -18 mereka. Kini para siswi kelas 12 sudah berkumpul di lapangan luas milik sekolah Gregus. Guru-guru yang mengajar kelas senior itu juga ikut turun untuk turut andil dalam acara moment kenang-kenangan.
Angkatan junior mereka memang masih belum diperbolehkan bersekolah alias masih dalam tahap libur. Semua sudah berkumpul dengan kelasnya masing-masing. Dan kini, mereka semua mendengarkan baik-baik nama mereka yang akan dipanggil wali kelas mereka.
"Nayla?"
"Hadir bu!"
"Yanto?"
"Hadir ibuuu!"
"Zelara Aleetha?"
Semua terdiam dan celingukan mencari keberadaan nama tersebut. Bahkan wali kelas mereka yaitu bu Bunga terdiam menunggu jawaban dari pemilik suara. Hingga suara dari Luna yang memekik mengalihkan pandangan mereka.
"Lesya!" panggil Luna.
Sang pemilik nama yang baru saja bergabung hanya berdehem singkat. Dengan penampilannya yang kembali acak-acakan membuat wali kelasnya tepuk jidat untuk menghadapinya dengan bagaimana lagi. Beruntung beberapa hari akan libur sekolah jadi, bu Bunga tak perlu repot-repot memberi skorsing untuk Lesya. Namun, semakin dekat langkah Lesya, semakin terasa bagi mereka hawa dingin yang terpancar.
"Lesya, kenapa bajumu jadi berantakan lagi? Kapan tobatnya kamu ini hah? Tinggal nunggu kelulusan loh." ucap bu Bunga dengan nada galaknya.
Walaupun bu Bunga tahu tatapan muridnya saat ini lebih tajam daripada biasanya, tetap saja dia harus dapat menjalankan tugasnya tanpa pandang sebelah-sebelah secara profesional.
"Lo tawuran, Sya?" tanya Luna polos.
Sang empu hanya menggeleng dan duduk di rerumputan lingkaran kelas mereka. Bilang saja Lesya sedang menjauh dari kedua sahabatnya. Kini dia duduk di antara Revan dan yang satu lagi teman sekelasnya. Namanya, tak tahu siapa. Lesya sama sekali tak kenal.
"Letha mana?" tanya bu Bunga.
"Gak masuk, sakit!" bohong Lesya begitu lancarnya. Wali kelas MIPA XII-B itu hanya mengangguk-angguk paham dengan jawaban muridnya. Lagipula, toh Lesya juga benar jika berada di markas Tiger Wong, adiknya pasti sakit.
Setiap sesi pergantian potret mereka berlangsung dengan baik. Kini satu per satu kelas sibuk memotret entah diri mereka dengan teman, pacar, bahkan guru mereka. Namun, bagi Luna dan Lisa ini adalah sebuah keanehan.
Sedari tadi, mereka ingin mendekati Lesya namun sang empu justru seolah menghindar. Seperti sekarang ini, Luna yang duduk di rerumputan dengan Lisa juga Valen mengajak Lesya agar bergabung. Namun, saat setelah bergabung, Lesya sama sekali tak terlalu berbicara kecuali memang diharuskan.
Anyway, persoalan Luna dengan Valen juga sudah selesai. Katanya sih Luna maafkan asal lelaki itu tidak menerima lagi pemberian dari perempuan lain selain Luna. Dan Valen pun menyetujuinya saja dibandingkan masalah mereka berkepanjangan.
"Oitt, kalian liat si Farel gak?" tanya Ken yang ikut duduk di rerumputan sekitar mereka. Rasanya lelah setelah ber-swafoto dengan fans nya di angkatan yang setara dengannya.
"Lah iya-ya? Tumben tuh anak ngilang?" heran Valen tanpa melirik ke arah Ken.
"Ya mana gw tau, makanya gw nanya." ngegas Ken mendengus sebal. "Dahlah biarin nanti juga dia balik." sambung Ken memainkan rumput-rumput lapangan sekolah yang mulai tumbuh sedikit panjang. Ken aneh. Dia yang tanya, dia juga yang jawab, wkwk..
Lesya diam-diam mengepalkan tangannya kuat. Cukup kesal dia mendengar pembahasan Ken yang baginya kurang berguna. Di sampingnya sudah ada Revan juga Elvan yang duduk di sebelahnya. Sejenak pikirannya sedikit kacau mengenai mendiang sahabat lelakinya yang kembali terlintas.
__ADS_1
"Rep, Leon pernah nitip salam buat lo sebelum meninggal," jeda Lesya. "Jaga Lisa baik-baik kalau lo emang suka sama dia!" lanjut Lesya sedikit berbisik.
Sang empu yang dipanggil hanya terdiam dan mengangguk tipis. "Ya, tapi tanpa lo suruh pun, gw tetap jaga dia kok! Walau orangnya gak sadar sama perasaan gw." balas Revan ikut-ikutan berbisik.
"Baguslah"
Elvan masih bisa mendengarkan pembicaraan keduanya. Selain Luna, dia juga merasakan perubahan diri Lesya. Saat tangannya terangkat untuk memainkan rambut panjang yang tergerai lurus milik istrinya itu, dia merasakan tepisan dari sang empu.
"Masih marah?" tanya Elvan.
Lesya hanya membalas dengan gelengan kepala. Elvan yang melihat hanya tersenyum kecil dan segera mendekap tubuh gadisnya dari samping. Lesya sendiri tak dapat menolak karena dia sendiri tahu jika menolak, Elvan mungkin saja akan curiga padanya.
"Imut banget sih!" bisik Elvan merasa gemes. Hingga saat ini, dia masih belum sadar jika Lesya marah karena hal lain. Bahkan lelaki itu sama sekali tak curiga karena memang jika Lesya marah, terkadang akan menyuekinya seperti ini.
"Yaudah maap kemaren kan gw kaget lo ada di resto. Sebenernya gw juga pengen telfon lo cumen handphone lo kan tinggal." ujar Elvan menjelaskan seraya mengurai dekapannya. Kini dia sibuk membuat kepanhan dengan beberapa helai rambut Lesya yang tergerai lurus.
"Bucinnn huuu..." cibir Ken.
"Daripada playboy jomblo karatan kayak lo haha…" ledek Luna dari samping.
Ken yang mendengar hanya mendengus sebal saja. Memang anjuran dari sang wanita yang melahirkannya menyuruhnya agar berhenti memainkan hati perempuan. Demi sang ibu yang melahirkannya, Ken rela dimaki saat memutuskan beberapa perempuan yang sempat beberapa kali dia kencani.
Drrrttt…
Deringan ponsel Elvan membuat pandangan sang pemilik teralihkan. Melihat siapa nama kontak di layar ponselnya, dengan segera dia mengangkat sambungan telepon. Matanya membulat seketika mendengar kabar dari orang di seberang yang memberitahukan mengenai kondisi temannya--Farel.
"Ngapain dia di UKS? Bolos?"
Pertanyaan polos dari Ken itu dihadiahi jitakan dari Revan. Wakil Elvan di dunia gangster kini tahu walau hanya menebak dari nada bicara ketuanya. Pasti Farel--temannya sedang dalam kondisi tidak baik hingga harus berada di UKS alias Unit Kesehatan Sekolah.
Kepergiaan para lelaki itu menyisakan tanda bingung di benak Luna juga Lisa. Mereka cukup tak curiga di saat Lesya yang tiba-tiba saja pamit ke toilet. Seharusnya, jam saat ini sudah mulai diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Dan Lesya memanfaatkan waktu ini untuk tancap gas ke markas Tiger Wong.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Sebuah ruangan di sekolah dengan bercatkan warna putih sedang diisi oleh enam lelaki dengan postur tubuh tegap. Salah satunya sedang dalam kondisi tidur alias sedang dalam keadaan pingsan. Tak lupa ada dokter cantik yang berada di sana tuk menjalani tugasnya.
Sudah sekitaran hampir setengah jam mereka di sana. Mereka tahu jika sekolah mulai sepi karena memang jam pulang sudah lewat. Tak lama dari sana, dua gadis datang dan masuk ke dalam ruangan kesehatan itu. Siapa lagi kalau bukan Lisa dan juga Luna.
"Van, Lesya hilang!" panik Lisa.
"HAH?! HILANG?" kompak mereka kaget.
"Iya! Tadi pas kalian pergi, dia izin ke toilet. Tapi sampai sekarang dia belum balik-balik. Kita cariin di seluruh toilet sekolah juga gak ada. Kita cek rooftop adanya darah doang." cemas Luna menceritakan kronologinya.
Cukup tahu akan masalah muridnya, dokter yang bekerja separuh waktu di sekolah mereka itu beranjak berdiri dan pamit pergi. Awalnya dia terkejut dengan kabar hilangnya satu langganan berbolos di UKS tersebut. Namun karena tahu seberapa liarnya tingkah murid itu, dia tak terlalu heran. Nanti juga balik, pikir dokter tersebut tak memusingkan.
"Eghh…"
Mereka semua sontak menoleh pada sumber suara. Rupanya lelaki yang wajahnya penuh memar itu kini sudah tersadar. Lisa dan Luna cukup terkejut melihat kondisi tubuh Farel yang bagian atas sangat banyak didapati luka.
__ADS_1
"Kata dokter, ada tiga orang yang bawa Farel ke sini dalam keadaan begini. Salah satu di antara mereka ngaku kalau mereka ketemu Farel di rooftop waktu pengen ngadem diri." jelas Revan yang paham dengan raut wajah bingung dua gadis yang baru saja datang.
"Rel, lo kenapa bisa nyampe luka begini sih? Siapa yang tega lukain lo begini Rel?"
Ken yang memang keberadaannya dekat dengan Farel dengan segera membantu lelaki dengan perban di kepalanya untuk duduk. Tak lupa Ken memberikan minum agar tenggorokan temannya tak kering.
Sang pemilik suara tak menjawab. Dia hanya berusaha menggerakkan tangan kirinya namun tak bisa. Dapat dia lihat juga beberapa luka dibadannya sudah diplaster dan diperban. Dan untuk di luka kaki hanya terdapat luka kecil saja.
"Tangan kiri lo patah, makanya dikasih perban sama penyangga biar gak lepas nanti. Kata dokter tadi sekitar 7 mingguan lo baru bisa normal lagi." tutur Frans angkat suara karena paham dengan kebingungan Farel.
"Pararel cayang, lo belom jawab pertanyaan gw loh!" kesal Ken yang merasa diabaikan. Tak lupa nada suaranya yang dia buat alay namun terkesan menahan kesal.
"Gw t-tadi jatoh," jawab Farel akhirnya.
"Jatoh sampai begini?" telisik Elvan.
Farel terdiam. Kelemahannya adalah berbohong pada sang ketua. Dia tahu jika Elvan bukanlah tipikal orang yang mudah ditipu walau itu untuk kebaikan. Begitu juga temannya yang lain, semua menanti jawabannya termasuk Lisa juga Luna.
"Jawab aja, Rel! Jangan takut semuanya bakal kita urus kok! Kalau yang buat lo nyampe begini cowok, bakal kita-kita bales, kalau cewek lawan si Lisa sama Kak Lita aja nanti." ujar Frans yang menyadari raut wajah masam dari wajah memar temannya yang terdiam.
Farel menatap semua yang berada di ruangan kesehatan itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sejenak dia terdiam dan menatap pemilik nama Elvan dengan tatapan lekat. Sang empu yang ditatap merasa sebuah kejanggalan. Dapat dia tebak jika masalahnya tak sesederhana yang dia kira. Dengan segera dia berjalan perlahan mendekat ke arah brankar yang di tempati oleh rekan setimnya.
"Kenapa? Ragu sama kita?"
"Lesya." ucap Farel.
"What? Apa hubungannya Lesya sama lo begini?" bingung Ken yang masih tak paham dengan apa yang dia dengar. Begitu juga dengan yang lainnya termasuk Elvan. Wajar saja, karena ucapan Farel hanya satu kata tanpa penjelas apapun yang menyertai.
"Lesya… sst, d-dia yang buat gw begini."
Semua terdiam mendengarnya. Mereka menyangka telinga dan pendengaran mereka salah. Sejenak semua yang berada di sana terdiam mendengarkan kekehan pelan dari mulut Farel.
"Gw suka Letha dan Lesya tau itu. Dia datangin gw, pukul gw waktu di rooftop dan tanya tentang keberadaan Letha di markas kita, jadinya begini." jujur Farel akhirnya mengaku. Semua terdiam berpandangan karena tak menyangka setelah mendengar pengakuan dari mantan kapten basket sekolah mereka.
"Gw bakal susul Lesya ke markas!"
Lisa angkat suara pada akhirnya karena perbuatan sahabat barunya itu termasuk tindakan criminal. Luna yang mendengar, dengan segera menahan tangan Lisa yang hendak pergi. Luna menggeleng cepat karena dia saat ini mulai paham bagaimana watak sahabatnya.
"Jangan gegabah! Coba telfon satu orang di markas lo terus tanyain kondisi markas, bukan Letha." suruh Luna yang dengan segera dilakukan oleh Revan. Saat mendengar kabar dari seberang telefon yang mengatakan jika markas diserang, Revan mulai panik.
"Cabut-cabut! Markas diserang katanya."
"What?!"
Elvan mendelikkan matanya melotot. Sebagai seorang ketua, dia harus cerdas jika perihal membagi waktu pribadi dengan urusan gangsternya. Segera mereka berbagi tugas dengan Frans dan Ken yang tetap siaga menjaga Farel.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1