
Leon menggeleng, "Kalo lo gak ungkit mungkin Lesya sadar dalang di balik semua ini! Karena waktu di susun bang Alam dan bang Candra, nama dia ke ungkit"
"Sial*n! Dia masih hidup dong? " kesal Luna bercampur sedih.
Leon menggeleng lalu mengangguk, "Gw gak tau pasti! Pertama, gw liat wajah dia terakhir. Kedua, gw pernah liat wajah dia waktu gw lagi di minimarket! "
"Serius? " Leon mengangguk yakin. "Gw sempet gak yakin tapi, dari cara berpakaian, wajah, suara, tingginya ngebuat gw yakin! "
Luna mengeratkan rahangnya keras. Dia tak menyangka setelah mendengar penjelasan dari Leon. "Kalo ketemu, bakal gw hajar dia! "
Leon mengangguk setuju mendengar gumaman Luna. "Sekalian kasih sama Lion biar mamp*s! " Luna mengangguk, "Tenang aja! Gw bakal bikin dia tersiksa di dunia nyampe dia ngerasa gak pantas hidup di dunia! "
"Jangan! Masalah penyiksaan, biar Lesya yang tanggung semua. Kita cuman denger nyanyian merdu dia! " Luna mengangguk dan tersenyum miring diikuti Leon.
...~o0o~...
Kini rooftop kedatangan langganan mereka, Lesya! Lesya mengepalkan tangannya kuat mendengar nama yang begitu dia benci di sepanjang hidupnya.
Ralat! Bukan nama yang disebut. Walau hanya kata 'dia' saja yang disebut, itu membuat jiwa psycho Lesya kembali bangkit.
Benci? Lebih dari pada itu! Dapat dibilang Lesya masih belum puas menyiksa orang itu. Orang yang amat Lesya benci, dapat kabur dari rumah tua yang dahulu Lesya gunakan.
Hingga dirinya tiba-tiba kecelakaan, akhirnya dia dinyatakan tiada. Di saat itu emosi Lesya sangatlah meledak. Dalam 1 bulan, tak ada yang berani menghentikan aksi Lesya dalam membunuh manusia lain secara kejam.
Luna saja merasa bersalah karena tak becus menjaga orang tersebut. Bukan hanya Luna! Namun Cakra, Alam, Candra, Leon, Sarah, dan Lion sangatlah bersalah.
Dan selama 1 bulan itu, Lesya tak makan. Dia hanya sibuk dengan dunia gelapnya. Bahkan, dalam 1 bulan, dia mampu membunuh puluhan manusia.
Setelah kejadian di mana Lesya dinyatakan koma, emosinya sudah mulai membaik. Itu yang membuat Luna, Leon, Cakra, Alam, Candra, Sarah dan Lion bersyukur.
Dan mereka mulai membenci nama tersebut karena sudah berani mengusik ketenangan Lesya. Dan mereka mengira jika penyebab Lesya koma karena nama itu.
Lesya menatap langit dengan tatapan geramnya. "Langit, matahari, awan! " panggil Lesya lirik namun penuh penekanan.
__ADS_1
"Kenapa kalian senang ngeliat gw menderita? " Lesya tak menangis. Matanya memerah karena geram.
"Tak ada hujan yang menghiasi dunia! Apa kalian senang melihat diri gw yang menderita? " Lesya tersenyum kecut mendengar suaranya sendiri.
Dia duduk dan menyusun kertas-kertas yang ada di dalam box tersebut. Setelah merasa pas, Lesya menatap benci arah kertas-kertas tersebut.
Terampang lah kata 'GW VION! ' di kertas tersebut. Lesya menyimpan kembali kertas ke dalam box, lalu berdiri tegap. "Heh! Selalu main kertas! " sinis Lesya bergumam kecil.
Lesya menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Dia menetralkan emosinya karena tak mau meledakkan emosinya sekarang.
Setelah merasa tenang, lesya beranjak berjalan menuju kelasnya. Namun, sebelum dia benar-benar tiba di kelas, Amanda mendatangi dan membisikkan sesuatu di telinga manisnya.
"Inget, bendera perang lo yang kibarin duluan! " Lesya tak menanggapi peringatan Amanda padanya.
Dia langsung masuk ke kelas dan meninggalkan Amanda di pintu kelas yang sudah mengepalkan tangannya erat-erat.
Lesya dengan malas duduk dan membenamkan wajahnya di meja. "Sya.. " Lesya berdehem pelan menanggapi ucapan Luna.
Luna tersenyum mendengar dan melihat Lesya lagi-lagi merespon ucapannya. Lesya menatap Luna dengan tatapan seperti biasanya. "Bukan salah lo! Semua salah dia! "
Di saat Luna ingin memeluk Lesya, dia kembali mencibir melihat Lesya yang langsung kembali membenamkan wajahnya di meja.
"Bod* lah! Yang penting dia maapin gw! " gumam Luna kecil dan bertepuk tangan kecil.
Lesya yang mendengarnya tersenyum geli. Bahkan Leon geleng-geleng kepala dari depan mendengar girangan Luna.
Sangat sulit mendapatkan maaf dari Lesya. Dan Luna bersyukur dirinya dimaafkan. Jika tidak? Dirinya sendiri akan merasa sangat bersalah membuat Lesya mengingat kejadian itu.
Lisa yang mendengar berbalik menatap Lesya yang membenamkan wajahnya di meja. Namun matanya melihat ke arah kaca jendela.
Bu Rena masuk dengan kaca mata yang melekat di wajahnya. Wajah galaknya membuat dirinya terkenal menjadi salah satu guru killer.
"Pagi semua! Em, itu anak baru ya? " Amanda yang ditunjuk mengangguk sebagai jawaban dan tersenyum manis.
__ADS_1
Lisa kembali menatap Amanda yang berada di samping depannya. Bu Rena mulai menjelaskan materi pelajarannya dengan tenang.
Selang beberapa menit berlalu, Lesya mendongkak dan baru sadar jika bu Rena sudah tiba. Dia mengambil tasnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Luna.
"Gw bolos ya ada kerjaan! " Luna mengangguk dan mengancungkan jempolnya satu sebagai jawaban.
Lesya berdiri membuat semua orang di kelas bingung termasuk bu Rena. "Kamu ngapain berdiri? " galak bu Rena.
Lesya menggedik-kan bahunya acuh. Dia berjalan dan melewati bu Rena begitu saja. "Pamit bu! "
Amanda menatap sinis Lesya. Kini dia tahu mengapa adiknya dapat benci dengan sosok Lesya. Dirinya tak tahu saja jika adiknya meminta maaf sebelum menghembuskan nafas terakhirnya kepada Lesya.
Bu Rena medengus geram, "Lesyaaa...!!! Kamu saya skors besok! " Dengan santainya Lesya membalas teriakkan bu bunga.
"Bu Renaaa...!!! Dengan senang hati saya menjalankannya" Bu Rena mengelus dadanya lekas bersabar.
Lesya yang tadi gembira karena dia akan diskors oleh bu Rena, kembali datar tak berekspresi. Dia berjalan dengan langkah cepatnya menuju arah parkiran.
Dirinya menaiki motor sport-nya yang tadi dia bawa. Dia melirik ke arah samping motor sport-nya. "Motor gw masih ada? Kapan ya gw bawa? "
Apa kalian masih ingat? Salah satu motor sport-nya masih tertinggal dikarenakan pulang bersama Elvan atas permintaan Mayang sewaktu itu.
"Em... Mangap ya gw gak bisa bawa lo! Tapi tenang aja, gw pasti bakal bawa lo balik lagi! Cuman gak sekarang"
Lesya berbicara seraya mengelus motor kesayangannya itu. Dia memakai helmnya lalu melaju pergi melewati salah satu jalan pintas sekolah.
Jika tak mampu melewati pagar depan dan belakang sekolah, Lesya pasti akan melewati jalan pintas lain yang hanya dapat digunakan oleh keluarga Grey.
Sebenarnya dia tak peduli jika itu dikhususkan untuk keluarga Grey. Toh dia sering menggunakan jalan itu walau akhir ini tidak.
Bahkan dirinya saja tak tahu jika itu dikhususkan untuk keluarga Grey. Dia asal saja memakai jalan tersebut di saat keadaan genting.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1