Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
352: Akal Sehat Letha


__ADS_3

"Apa? Lupa? Ahh, jangan-jangan memang ingatan lo yang dangkal! " tajam Letha.


Lesya berusaha mencerna maksud kalimat yang dilontarkan Letha. Sedetik dia sadar jika Elvan lah pelaku dibalik peristiwa yang Letha bicarakan. Pantas saja dia tak ingat apapun sama sekali. Rupanya karena ini ulah dari Elvan. Dan itu artinya Elvan melihat tubuh bagian atasnya? Ohh shitt, dia malu sekaligus kesal. Orang dingin pikirannya sangat berbeda yah!


Lesya memijit kepalanya yang terasa pusing. Pandangan matanya berkunang-kunang. Namun begitu, dia mencoba untuk tetap kuat berdiri.


Menatap kembali lawan bicaranya, Lesya berdecak pinggang dan menghela nafasnya. Di sinilah yang membuat posisi sebagai seorang kakak lebih rumit. Dia harus dapat menahan emosionalnya dan menahan perlakuan tangannya. Dia tak boleh gegabah karena poin pentingnya adalah mendengarkan keluhan adiknya.


"Gak usah basa-basi, udah basi! Mau lo apa sekarang?! " tanya Lesya pada intinya karena malas membahas mengenai hal yang menurutnya tak penting. Letha menyeringai tipis dan menggeleng pelan seolah tak mempedulikan pertanyaan Lesya yang langsung pada intinya.


"Calm down, gw masih belom kelar ngomong. Lo pernah rasain gak gimana sakitnya gw di saat kepergian papi sama mami? Gw kesepian dan lo yang harusnya memenin gw pada kakak adik pada umumnya dengan kejamnya justru tak pernah sekedar mencari tau gimana kabar gw. Uppss, selama ini juga lo keliaran ke mana-mana kan ya sama temen-temen berandalan lo? Hemm.. Coba tebak deh, apa yang gw lakuin setelah lo cuekin keberadaan gw di bumi! " ledek Letha menampakkan raut wajahnya yang sok sedihnya tepat di hadapan Lesya.


"Langsung pada inti Tha! Gw gak punya banyak waktu lagi buat dengerin keluh kesah lo. Sekarang gw balik tanya, ada lo sekedar chat dan tanya keadaan gw? Jangan salah Tha, gw udah siapin berapa orang buat ngawasin lo dari belakang! Makanya gw gak nanya keadaan lo gimana karena gw udah tau duluan lo gimana, Tha! " datar Lesya dan membuat Letha hanya diam dengan pandangannya yang menyipit tak percaya.


"Gw tanya lagi, apa lo tau berapa kali gw keluar masuk rumah sakit atau keluar masuk psikolog? Atau lo pernah koma sama kayak yang gw rasain? Gw tau perasaan lo Tha, tapi gw juga ngerasa kesepian apalagi setelah kepergian papi! Jadi bukan cuman lo doang, gw juga gak kalah beda! Walaupun gw banyak yang nemenin, rasa kangen gw sama papi dan mami masih ada!  " datar Lesya lagi yang membuat Letha lagi-lagi terdiam.


"Pada inti yang tertunda tadi, balikin kalung gw sebelum gw kembali tindak kasar sama lo! " datar Lesya memutuskan pandangannya dari arah sang adik ke arah pohon tua yang ada. Gadis tinggi dengan seragam sedikit teracak itu berbalik dan menghirup udara sebagai peredam amarahnya yang tersimpan rapat. Dia memejamkan matanya seolah begitu menikmati semilar angin walau dalam kondisi yang tak dapat dibicarakan lagi.


Letha yang melihat hanya menyeringai samar lalu mengambil dahan kayu yang berbentuk balok sekitarnya dan mengangkat ke atas. Lesya yang masih berbalik tanpa menoleh karena dia memang tak curiga. Entah ide dari mana, Letha tak peduli resiko apa yang akan dia terima kedepannya. Bahkan dia tak sadar jika dia sedang melakukan hal apa.

__ADS_1


"Woy! " panggil Letha.


Lesya masih tak menoleh. Menurut gadis itu percuma jika menoleh namun kalung miliknya tak dikembalikan. Kalau dapat jujur, Lesya ingin melepas dengan paksa saja dibandingkan menyelesaikan dengan kepala dingin. Selama ini jika lawannya tetap tak ingin menyelesaikan dengan halus, dengan tak segan Lesya menyelesaikan tanpa kata halus lagi.


Letha tersenyum penuh makna dan tangannya dia layangkan ke arah Lesya. Namun sebuah suara pekikan yang cempreng dan tangan yang menahannya, justru membuat kayu balok yang dia pegang jatuh begitu saja ke tanah.


Sosok yang memegang dan menahan dirinya adalah sosok Farel dan Revan. Mengapa tiba-tiba ada Revan? Tanpa sengaja saat pencarian kedua kakak beradik itu mereka bertemu dengan Revan. Dan lelaki itu juga lah yang memberikan usulan untuk memeriksa sinyal GPS yang terpasang di gelang tangan Lesya oleh Elvan.


Dan itu sebabnya mereka yang mencari keberadaan kedua kakak beradik itu dengan cepat mencari di arah mereka sekarang. Di taman belakang sekolah. Dan bahkan yang membuat mereka terkejut adalah dimana Letha dengan siapnya memukul kepala Lesya dengan kayu balok. Tentu saja Luna yang tanggap dengan cepat memekik sementara para anggota osis berlari untuk menengahi.


"LESYAAA AWASS?!! " pekik Luna.


Lesya menoleh dan terkejut di saat tubuhnya direngkuh erat oleh seseorang. Dapat dia simpulkan orang itu adalah Elvan setelah menghirup aroma mint khas lelaki itu. Dia bahkan sangat terkejut melihat sang adik yang menjatuhkan kayu balok ke tanah. Jadi saat dia berbalik, adiknya merencanakan hal ini? Wah?!


"Ada yang sakit hem? " lembut Elvan dibalas gelengan kepala Lesya. Dapat dia lihat jika lelaki tegap di depannya ini sedang mengkhawatirkan dirinya. Apalagi nada lembut yang terlontar dari mulut Elvan membuat dirinya sedikit tersentil dengan ucapan Letha sebelumnya.


"Syaa?! Anj*r lo gak papa kan? Atau perlu gw pesenin tiket ke Belanda siapa tau otak lo ke geser?! " cemas Luna menyeleneh.


Lesya hanya berdecak pelan mendengar lontaran kalimat dari Luna. Sangat mengganggu situasi. Namun tak urung, ucapan Luna sebagian besar benar. Lisa dengan cepat menjitak kening Luna hingga sang empu mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Lo bisa serius dikit gak sih Luna?! Anak orang hampir masuk peti masih lo nanya lagi! " gerutu Lisa tak habis pikir. Luna hanya meringis kecil saja dan mengerucutkan bibirnya manyun. Mereka sama-sama menoleh ke arah Letha yang memberontak ingin dilepaskan.


"Gakkk?! Gak bisa, dia harus tanggung jawab! Karena dia, gw gak bisa bahagia selama ini! " berontak Letha berusaha lepas dari halangan Farel dan Revan yang menahannya. Valen yang menjauhkan Lesya ke arah pohon tua dengan para teman-temannya hanya mengacak rambutnya frustasi. Sementara Ken berusaha mencoba untuk membuat Letha kembali tenang agar dapat kembali membicarakan masalah tanpa kekerasan.


"Ya masa bu boss lo suruh tanggung jawab sih? Emang dia hamilin lo apa Tha? Mending lo ikut aba-aba gw ya, tarik nafas terus jangan dibuang mubazir! " ucap Ken dengan tampang sok seriusnya.


Revan hanya dapat menendang pelan kaki Ken kesal. Bisa-bisanya humor receh Ken dikeluarkan di saat waktu seperti ini.


"Tha, lo kenapa sih?! " cemas Nayla membawa temannya itu ke dalam pelukannya. Amel yang tak tega juga ikut menenangkan temannya itu. Letha hanya dapat terus geleng-geleng kepala dan menutup telinganya.


Tahanan Farel dan Revan mulai merenggang karena mereka berdua tahu jika Letha memang butuh sandaran yang tepat. Lagi pula tak baik memegang seorang gadis yang seperti orang sedang kehilangan kesadarannya. Seperti Nayla dan Amel selaku teman dekatnya!


"Enggakkk?! Dia harus pergi Nay, Mel! Gara-gara dia gw selalu gak tenang! Dia penyebab semua masalah gw! Aaakhh, sakitt! " ringis Letha dengan suara parau menjambak-jambak rambutnya sendiri.


"Tha, jangan begini dong! " lirih Amel tak tega dan mengusap punggung Letha yang masih terlihat tak tenang itu.


Sementara Nayla menepuk-nepuk punggung Letha dan menoleh pada Farel yang menyodorkan botol minuman dingin entah dari mana. Tak urung, Nayla tetap menerima dan memberikan pada Letha agar kembali tenang.


Letha tak menerima sodoran Nayla yang berasal dari Farel itu. Justru karena sudah terlepas tahanan, Letha kembali menatap penuh dendam ke arah Lesya dan hendak melangkah maju. Namun langkahannya terhenti karena Frans yang dengan sigap menghadang di depan Letha.

__ADS_1


"Jangan liat-liat dosa! " larang Frans.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2