
Lesya menghampiri Luna yang sedang berjongkok di bawah pohon yang rindang. Memang pohon-pohon di hutan tersebut sangatlah lebat dan dipenuhi dedaunan. "Apaan nih? " tanya Lesya saat ikut berjongkok menyetarai Luna.
Luna menunjukkan kelinci putih yang berubah menjadi kelinci bewarna merah terkena darah kelinci itu sendiri. "Ini kelinci kan? " tanya Lesya memastikan.
Luna mengangguk. "Gw curiga ini perbuatan. . . Vion atau Amanda? Atau jangan-jangan anggota Sakh! " molog Luna. Lesya mengambil alih kelinci yang sudah tiada itu dan membolak-balikan tubuh hewan itu.
Lesya sama sekali tak menemukan petunjuk dari tubuh kelinci itu. Kembali menurunkan kelinci tersebut dengan hati-hati. Tiba-tiba saja pandangan matanya mengarah kepada tutup botol yang ada di permukaan tanah.
Dirinya seketika curiga karena pinggiran sekitar tutup botol tersebut seperti baru saja digali. Dengan cepat dirinya mengangkat tutup botol tersebut namun sulit. Benar saja jika tutup botol tersebut baru saja digali oleh seseorang.
"Kenapa? " tanya Luna tak paham.
Lesya menunjukkan telunjuknya ke arah tutup botol tersebut. "Gali nyampe botolnya keluar! " Luna yang tak paham maksud Lesya memilih menurut karena dia tahu ada sesuatu yang Lesya sadari.
Dia sedikit terkejut jika galian botol tersebut lumayan dalam. Bahkan dirinya yang terlebih dahulu berada di sana tak melihat adanya tutup botol di permukaan tanah. "Galiannya dalem! " gumam Luna.
Setelah beberapa menit berlalu, Lesya dan Luna berhasil menggali dan menemukan botol putih yang berisi kertas di dalam botol tersebut. "Buka gak nih? " tanya Luna memberikan botol tersebut.
Lesya mengangguk dan memulai membuka botol lalu mengeluarkan isi kertas tersebut. Dapat dia baca tulisan tersebut salah satu tulisan yang familiar di matanya. Itu.. Seperti tulisan Mily!
Membaca satu kalimat itu, Lesya meremas dan beranjak berdiri melemparkan kertas tersebut jauh dari sana hingga Luna beranjak berdiri karena terkejut. "Sya? Kok dibuang sih?! Isinya apaan? Lo tau kan? " tanya Luna penasaran.
Lesya tak menjawab. Isi dari surat tersebut membuatnya hanya menatap manik mata sahabatnya saja. Sementara Luna yang ditatap bingung sendiri. "Ada yang salah? " tanya Luna.
Lesya menggeleng dan mengatur nafasnya sejenak. Kata-kata di surat tersebut terngiang-ngiang di otaknya. "Gak papa! Gw kesel aja bacanya! " bohong Lesya.
__ADS_1
Luna mengernyitkan alisnya bingung. "Emang isinya apaan nyampe lo kesel begitu? " Leysa bingung harus menjawab apa. Karena sedari tadi dirinya diberikan pertanyaan dari Luna, sahabatnya. "Seperti biasa! " bohong Lesya.
Luna paham maksud dari ucapan Leysa. Sedari dirinya satu SMP dengan Leysa, dirinya selalu dikejutkan dengan banyak nya surat yang datang entah itu dari siapa.
Saat dirinya memaksa Lesya agar jujur, akhirnya dia tahu. Entah dari Mily, Gilang, ataupun beberapa surat dengan ancaman dan darah hewan dari Vion.
Dia yang merupakan salah satu sahabat Vion dahulu tak menyangka bagaimana sifat asli sahabatnya itu. Mulai dari sanalah Luna membenci sahabat lamanya lebih tepatnya mantan sahabat!
"Kali ini siapa? Gak guna banget main surat-suratan! Di kira kita zaman mereka kecil apa?! Nulis surat, kirim surat pake perangko, habis tuh nunggu nyampe dibales! Kita tuh udah gak gitu lagi! Mereka gabut atau kenapa sih?! Heran gw apa isi pikiran mereka selama ini?! " kesal Luna terus menyerocos.
Lesya tertawa kecil dengan perjalanan menulis surat yang Luna ucapkan. "Pake sahabat pena-an gak tuh? " Luna tertawa receh. "Tapi kata nyokap gw seru weh bikin surat kek gitu! Emang apa ya? "
"Mana gw tau! Gw aja lahir pas acara balas-berbalas surat udah jarang kepake! Jadi mana gw tau rasanya! " Mereka mulai berbincang sesekali melempar candaan satu sama lain. Sejenak mereka melupakan masalah perkara surat tadi.
Kelas 12 IPA B sedang berjalan menelusuri hutan tersebut. Tenda mereka dibiarkan di kemah karena mereka akan kembali ke kemah nantinya. Kelas per kelas dipisahkan penelurusuan mereka karena perbedaan penelitian yang disepakati.
Kelas 12 IPA B berjalan dan berhenti tepat di sekitar air terjun. Ada yang mulai berselfie ria, memainkan air dari atas bebatuan, ada juga yang memfoto air terjun dan mencatat apa yang dia temukan di tempat tersebut.
Mereka dituntun oleh satu guru wali kelas mereka, yaitu bu bunga dan ditemani pak Rio dan pak Bayu. Mereka mengawasi gerak-gerik banyaknya siswa-siswi kelas 12 B dan menghela nafas lega setidaknya tak ada kejadian yang membuat mereka panik lagi seperti kemarin kali ini.
Luna mencebik dan menerima ponsel Leon. Sebelumnya Leon meminta tolong kepada Luna agar mengambil fotonya dengan Lisa. "Siap-siap ya! Satu, dua, tiga! "
Cekrek!
Dalam gambar, Lisa tersenyum manis dengan memegang buket bunga yang Leon petikkan untuknya hingga terkumpul banyak di tangannya. Sementara Leon yang berada di samping Lisa merangkul pujaan hati dengan mesra dan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Udah belom? Bagus gak? Awas kalau hasilnya gak bagus ya Lun! " tanya Lisa mengancam. Luna menyenye tak jelas saja. "Iwis kili hisilnyi gik bigis yi lin! Banyak cot kalian! Mending ganti gaya gih! " balas Luna malas.
Kedua pasangan baru jadian itu hanya menurut. Banyak pose yang sudah mereka tampilkan hingga Luna berdecak sebal tak kunjung berhenti. "Ck! Woii udah dong! Cape tau gw yang foto! Ini gw ganti profesi apa ya jadi photograper?! "
Leon tertawa kecil mendengarnya. "Yaudah sini ikutan foto! Ajak queen juga noh yang dari tadi mirip patung megang tas kita beb! " ledek Leon.
Yap! Memang Lesya hanya menyaksikan seraya membuka galeri foto ponsel Lisa agar tak gabut. Dirinya terdiam melihat satu foto dimana Lisa berdiri memegang piala di tangannya dengan wanita paruh baya di samping kanannya yang Lesya dapat tebak adalah mamanya. Sementara pria paruh baya di sebelah kirinya seperti dia kenal tapi siapa?! Pikir Lesya.
"Oy Sya! " ucap Luna yang membuyarkan lamunan sahabatnya. "Hah? kenapa? Udah kah? " tanya Lesya polos.
Lisa mengernyit bingung. "Lamunin apaan lo? Itu handphone gw balikin! " Lesya menyimpan ponsel Lisa ke dalam tas kecil Lisa dan melemparkannya ke arah pacar sahabatnya. "Tangkep! "
Hap!
Dengan mudahnya Lisa menangkap karena jarak mereka tak terlalu jauh. "Fotbar kuy! Dah lama gak pajang foto! " ajak Luna. Lesya mengangguk setuju saja. "Siapa yang fotoin? " tanya Leon.
"Lisa! " kompak kedua gadis itu membuat Lisa melotot. "Enggak! Ogah gw! " Lesya mendelik. "Dari tadi kita yang foto sekarang lo lah! " Lisa mendengus pasrah. "Iya dah! Mana cameranya? "
Luna memberikan camera bukan ponselnya kepada Lisa. Luna memiliki salah satu kemampuan yaitu sebagai photograper. Itu sebabnya Leon meminta tolong kepada Luna bukan Lesya. "Siap? "
Cekrek!
Terus berpose sesuka mereka dengan bergantian, mereka tak menyadari jika mereka diharuskan mencatat beberapa peristiwa praktek yang dilakukan dan dijelaskan secara rinci oleh bu bunga.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1