
Sesampainya di kediaman Fyo, Lesya memarkirkan motornya dan melangkahkan kakinya ke dalam rumah mewah tersebut. Begitu pula dengan Elvan.
Lesya menoleh ke sekeliling rumah dan mendapati bi Ana yang sedang mengepel lantai. Lesya menghampiri bi Ana dan menanyakan keberadaan Mila.
"Bi, mami di mana ya? " bi Ana menoleh saat dipanggil anak majikannya.
"Nyonya di kamar Non sedari tadi" Lesya mengangguk," Kalo gitu Lesya pamit ke kamar mami ya bi"
Bi Ana mengangguk saja. Dia menatap punggung Lesya yang mulai menjauh dan melanjutkan pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga.
Namun pekerjaannya sedikit terhenti saat dipanggil oleh Elvan.
"Permisi bi, kamar mami Mila di mana ya? " tanya Elvan sopan.
Walaupun dia dingin plus datar, dia tahu tata keramah dan sopan santun karena Mayang mengajarkan harus sopan dengan orang yang lebih tua.
"Di lantai dua pintu putih Den, " jawab bi Ana. Elvan mengangguk, "Mksh bi"
Setelah bertanya kepada bi Ana, Elvan melangkahkan kakinya menuju kamar yang disebut. Bi Ana juga melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
tok.. tok.. tok..
"Masuk! " Lesya memasuki kamar milik maminya. Masih sama seperti dulu! Bersih, rapi, kinclong!
Elvan ikut masuk ke dalam dan menutup pintu. Lesya masih tak sadar akan itu. Dia terlalu fokus mengamati satu per satu bingkai foto yang ada.
"Mami udh sehat? " tanya Elvan membuka suara terlebih dahulu setelah menyalimi Mila.
Lesya menoleh ke arah Elvan. Dia terkejut. Sejak kapan Elvan berada di sana? Pikirnya.
"Ngapain lo di sini?! " tanya Lesya. Pertanyaan Lesya sama sekali tak dijawab oleh Elvan.
"Mami yang suruh Ra, udah kamu ambil flashdisk yang di laci meja" Lesya menurut saja. Mungkin dirinya yang tak sadar kehadiran lelaki dingin tersebut. Pikirnya.
__ADS_1
Lesya membuka satu per satu laci meja di kamar Mila. Jika kalian bertanya dimana Gilang? Dia belum kembali.
"Warna apa mi? Hijau, merah, biru, apa kuning? " tanya Lesya seraya mengambil semua flashdisk yang disebutnya.
"Kuning" Lesya mengangguk. Dia mengambil flashdisk kuning dan menyelipkan flashdisk lainnya di sakunya. Dia juga menyimpan flashdisk kuning
Tak ada yang tahu. Jika masalah CCTV? Semua akan diatasi dirinya. Posisi Lesya membelakangi Mila. Mila juga tak tahu karena sibuk menatap Elvan.
Tanpa di sadari Lesya, Elvan mengetahui itu. Remember gays? Dia bisa merasakan pergerakkan orang di sekitarnya. Impresif!
Lesya menyodorkan flashdisk kuning permintaan Mila. Lesya sempat terkejut dengan perubahan warna paling belakang Mila. Ada warna abu-abunya.
Dalam mata orang lain, itu memang tak terlihat. Tapi berbeda dengan mata tajam Lesya. Dia bahkan bisa melihat saat gelap melanda. Mata avatar gitu loh!
Namun dia sadar bahwa tentang perubahan itu. Seraya tersenyum manis dan mata penuh makna, Lesya memperlihatkan itu kepada Mila.
Mila sempat mengernyit bingung akan senyuman Lesya. Dalam dirinya, kekhawatiran menimpanya. Bahkan terlihat di wajahnya jika dia terlihat takut.
Elvan merasa ada sesuatu tersembunyi di kedua belah pihak tersebut. Lesya tersenyum penuh makna dan Mila yang tampak merasa ketakutan.
"Ma-mi gerah doang! I-iya cuman gerah" bohong Mila.
Lesya menoleh ke Elvan yang terdiam dan menampilkan wajah yang sulit ditebak, "Tapi mi di sini ACnya udh nyala kok! "
Mila tambah gelapapan mendengar itu. Bertepatan dengan Gilang yang asal masuk tak mengetuk pintu.
"Mil! Kamu kenapa? Kok keringetan sih? " panik Gilang. Gilang tau kebenaran siapa Mila. Mila mengkode matanya kepada Gilang dan dipahami oleh Gilang.
Lesya memundurkan dirinya. Dia paham situasi kali ini. Gilang menatap tajam Lesya dan menyeret Lesya ke gudang dengan kasar. Elvan hanya menyaksikan interaksi ayah dan anak tersebut.
Dia tak paham akan situasi kali ini. Dia membiarkan saja karena menurutnya, Lesya dibawa Gilang karena Gilang ingin berbicara empat mata dengan Lesya.
...~o0o~...
__ADS_1
Seperti biasanya, Lesya disiksa digudang oleh Gilang. Lesya sama sekali tak pernah berteriak karena tahu jika Gilang menginginkan dirinya kesakitan.
Lesya tak pernah membenci orangtuanya termasuk Gilang. Karena menurut pemikirannya, ini sudah ditentukan sebagai takdirnya. Itu sebabnya dia tak pernah mengeluh ataupun menangis.
buggh!
sreeet!
kreakk!
bugghh!
plaakk!
Lesya pasrah akan keadaan. Pita suaranya tak ingin keluar. Air matanya terhenti seolah tak ingin keluar. Penyiksaan masih berlanjut dengan dirinya yang berjongkok menutup kedua telinganya.
Darahnya sudah membanjiri lantai gudang hingga sedikit becek. Kejam memang tapi itu kenyataan yang didapat Lesya. Sakit? Lebih dari kata sakit!
"KAMU APAKAN ISTRI SAYA HAH?!!?! " bentak Gilang. Lesya tak bergeming. Dia masih setia dengan posisinya saat ini.
"JAWAAB! DASAR ANAK HARAM!! " Dada Lesya naik turun saat dihina dengan sebutan anak haram.
Lesya tersenyum semanis mungkin mendengar itu. Tak dipungkiri satu lelehan air mata sudah turun tanpa diminta. Dia segera menepis air matanya dengan kasar.
Setelah mengatakan hal yang membuat Lesya tertohok, Gilang segera pergi dari gudang. Bahkan dia lupa untuk mengunci pintu gudang.
Sepeninggal Gilang, Lesya tak mengobati luka-lukanya. Justru dia hanya berdiam diri di gudang.
"Haram? Iya gw sadar kok! " lirih Lesya. Dia tak menangis hanya berdiam diri saja hingga larut malam.
Penghuni rumah sudah tau jika Lesya tak muncul, dia berarti di kurung oleh Gilang. Makan malam sudah dilewati oleh Lesya. Saat makan malam, Elvan sadar sedari tadi Lesya tak memunculkan batang hidungnya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1