Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
78: Kerja kelompok 2


__ADS_3

"Udah jangan berantem, oh iya ini nak Luna bukan? Yang waktu di pernikahan Elena? " Luna mengangguk dan menyalimi punggung tangan Mayang diikuti Lesya.


"Yoi tan, kirain udah lupa sama Luna yang cuantek ini" narsis Luna. Valen mencibir, "Cantik kagak nyebelin iya"


Luna menatap malas Valen, "Ganteng kagak ngeselin iya" cintanya. Mayang terkekeh, "Kalian cocok! Jadi jangan ribut kalo gak mau tante jodohin"


Lesya bertepuk tangan, "Ide bagus bunda! Kan Lesya ada temen nya kalo gini"


Luna melotot tak percaya, "Noo! Okeh Luna gak berantem sama dia(Valen) " Mayang mengangkat jempolnya, "Good! "


Lesya tertawa kecil melihat wajah masam Luna, "Ututu.. Jangan ngamuk bocil" Luna mendelik, "Gw bukan bocil ya"


"Tapi lebih bocil diantara kita bertiga iya kan Sya! " Lesya mengangguk mendengar pertanyaan Leon. Mereka tertawa bersama bertiga saja diikuti Mayang.


Mayang tersadar, "Oh iya, kalian ngapain kumpul kayak mau perang aja" Elena menyahut, "Mau arisan kali bun"


Farel menggeleng, "Enggak kok tan, kita mau kerja kelompok doang" Mayang mangut-mangut paham saja mendengarnya.


"Yasudah sana kerjain tugasnya yang benar, Elvan ajak ke ruang perpus ya" Elvan yang dari tadi tak dianggap bundanya itu mengangguk saja lalu pergi.


Elena meledek adiknya itu, "Huu.. BONTOT KUTUB IRIII! " Elvan tak menggubris ledek kan sang kakak membuat Elena mendengus malas.


"Huss, yang udah kasian adek kamu noh! " Elena terkikik mendengar nasihat Alam.


Mereka semua pamit ke perpus dan berjalan menyusul Elvan. Begitu juga dengan Letha yang memasang tampang sedihnya di saat kedua orangtua Elvan tak melirik nya.


Bahkan di kedua otak twin girl tersebut mengingat dimana Lisa mangaku sebagai adik sepupu Elvan. Letha cemas jika dirinya tak direstui oleh Lisa.


Dalam pemikiran Lesya, jika Lisa sepupu Elvan, maka Lisa juga sepupu iparnya bukan? Mengapa tak di duga sekali? Pikirnya.


Berbeda dengan kedua twin tersebut. Lisa justru memikirkan wajah cantik sepupu iparnya itu. Dia tak sempat datang ke pernikahan Elvan karena berada di luar kota.


Dan dia terus mencari keberadaan sepupu iparnya yang tak lain adalah Lesya. Bahkan, Lisa menahan pertanyaannya tentang kedekatan Lesya dan Mayang.

__ADS_1


Setibanya mereka di perpustakaan, mereka terkagum dengan interitor desain perpustakaan di kediaman Grey. Bahkan Lesya tak menyangka ada perpustakaan di rumah mewah ini.


Begitu juga teman-teman Elvan yang tak pernah berkunjung ke kediaman Grey yang mewah ini. Biasanya jika mereka kerja kelompok, mereka menyelesaikan di cafe milik Elvan.


"Baru tau gw ada kayak gini" gumam Lesya pelan. Ken mengangguk, "Gw sebagai teman, pertama kali nya masuk dan menginjakkan kaki di sini"


"Seriously? " tanya Luna. Mereka berempat mengangguk, "Dua rius malah" sahut Farel.


Lesya langsung duduk di salah satu bangku dan menatap mereka. Elvan juga duduk di samping Lesya diikuti Letha di samping Elvan. Alhasil Elvan berada di tengah-tengah twin tersebut.


Lisa yang tak terima sepupunya didekati, menunjuk wajah Letha dengan telunjuknya, "Lo--- "


Lesya dengan cepat beranjak dan menepis tangan Lisa dengan kasar yang sudah berani menunjuk wajah adiknya, "Jangan sentuh adek gw! "


Lisa tersenyum sinis, "Heh! Main kakak? Yaudah ayok gw bakal bawa kakak gw nanti! " Letha menggeleng cepat. Dia tak mau ada keributan lagi di sekolah seperti hari itu.


Dengan cepat Letha berdiri, "Lo mau di sini? Duduk aja" Lesya melotot, "Ara! " Letha menggeleng, "Gak papa kak! Asal dapet restu" senyumnya.


Lesya kembali duduk dan menatap tajam Lisa, "Heh! Urusan kita blom kelar"


Lesya mendengus kesal, "Cinta membutakan segalanya" gumamnya pelan.


Elvan mengabaikan gumaman Lesya. Bahkan dia sengaja tak turun tangan dengan keributan tadi. Karena dia mau melihat sikap dari Letha, Lisa dan Lesya.


Mereka mulai larut dalam pembelajaran namun tidak dengan Lesya yang bingung. Elvan yang melihat itu, mengambil pulpen Lesya dan mulai mengajarinya.


Bahkan Letha sempat terkejut dengan tindakan Elvan kepada kakaknya. Begitu juga dengan semua yang ada di sana. Seorang kutub mengajari lele yang nakal? Impossible!


"Paham? " Lesya menggeleng kemudian mengangguk, "Iya paham" Elvan memberikan kembali pulpen Lesya kepada pemiliknya.


Valen yang melihat sorot mata Letha yang menandakan ke-tidak sukaan-nya menggoda Elvan, "Cie.. Tumben akur! Biasa kayak air sama minyak"


Elvan mengangkat bahunya acuh. Ken menimpali ucapan Valen, "Milih adeknya atau kakaknya bro? "

__ADS_1


Luna yang tampak bingung dengan satu soal di depannya ini menggaruk tenguk lehernya, "Susah amat sih! "


Valen yang mendengar menoleh ke arah soal Luna, "Jawaban nya A! " Luna bingung, "Yakin lo? " Valen mengangguk, "Liat noh! "


"Maksud dari soalnya bukan jawabannya dong*! " Valen menjelaskan maksud dari soal yang Luna keluhkan, "Oh, jadi jawabannya A nih? "


Valen mengangguk saja, "Iya alun-alun" Luna segera mengisi dengan jawaban A di soalnya itu.


"Katanya masalah pacar sama hati tunggu kelar sekolah" sindir Leon. Lesya menimpali, "Katanya nunggu mama bahagia"


"Nyatanya enggak! " kompak Lesya dan Leon lalu tertawa mengejek, "Awokawok... Mulut manis, hati kagak"


Luna melempar bolpoin nya ke arah Leon hingga Leon meringis karena tepat sasaran, "Tentuin dilapangan apa kita bacok? "


"Ouch! Bercanda Lun, ilah! " Letha terkikik kecil, "Sekalian lempar-lemparan bom" Amel menyahut, "Auto sirene polisi dateng! "


"Tinggal kabur apa susahnya? " Amel melongo mendengar jawaban Luna, "Pernah? " Luna mengangguk, "Jangankan gw, noh ratu sirene polisinya noh"


Mereka menatap Lesya. Lesya merasa risih ditatap bagai narapidana angkat suara, "Why? There something wrong? " tanyanya.


"Hilih! Inggris aja lancar nilainya merah semua" cibir Ken. Lesya justru membanggakan dirinya, "Nilai doang hitam, akhlak merah"


"Nyeh! " gumam Ken final. Mereka kembali larut dalam kerja kelompok hingga suara imut Letha, membuat pekerjaan mereka terhenti, "Van, bantu aku dong yang ini"


Elvan melirik sekilas lalu kembali ke dalam buku nya, "Tanya Farel! " Farel yang disebut melongo, "Gw? "


Letha menatap Elvan penuh harap, "Van, gw mau nya kamu bukan Farel" rengek-nya. Elvan menatap tajam Letha hingga Letha ketakutan.


"Van, kamu kenapa sih gak pernah lirik aku? Kurang aku apa? Kakak bisa dekat sama kamu tapi kenapa aku enggak? Bahkan kamu turun tangan buat nangkep kakak! Tadi, tanpa kakak minta, kamu bisa ajarin kakak! Tapi kenapa? Aku minta sekali doang kamu nolak? Udah banyak tawaran yang aku tawarin tapi kamu tolak semua! Mau kamu apa Van? " tangisan Letha pecah begitu saja.


Lesya yang dilibatkan membeku seketika. Dia mengangkat suaranya, "Ar--- " Letha beranjak dan malah membentak Lesya, "Kakak mending diam deh! "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2