Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
442: Panggilan Baru


__ADS_3

Episode 442: Panggilan Baru


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Seusai pemakaman dilakukan, hujan turun dengan deras hingga membuat niat Luna yang ingin periksa ke rumah sakit diurungkan. Kini Vay, Valen, juga Luna sudah berada di rumah dengan perkarangan yang masih dihiasi bunga dukacita. Keduanya berada di ruang sofa seraya meminum cokelat panas yang Luna buat beberapa menit yang lalu.


"Pai tinggal di sini mau gak?" tawar Valen setelah beberapa menit dalam suasana hening. Pertanyaan yang lolos dari mulut suaminya membuat Luna menghela nafasnya cukup panjang.


Semalam, saat Luna sudah sadar, mereka membicarakan perihal bocah lelaki itu. Terlebih pada Luna yang juga merasa bersalah karena memanfaatkan seorang ibu yang sudah melahirkan Vayleen. Mereka ingin mengangkat Vay menjadi anak mereka atas dasar rasa peduli, kemanusiaan, juga tulus hati.


"Iya Pai, gimana? Biar rumah ini rame, kamu juga gak kesepian lagi. Mama juga pernah titip kamu sama Kakak 'kan? Sekarang Kakak mau jalanin amanah itu, mau ya?" pinta Luna berharap.


Sang empu terdiam dan merenung sejenak. Walaupun fisiknya kecil, pikirannya harus dapat mengatur matang-matang di usia sekecil ini. Dia harus dapat mengambil keputusan menurut pemikirannya sendiri.


Vay sangat mengerti apa maksud dari ucapan kedua pasutri yang menatapnya penuh harap. Memang sebelumnya Mama nya-Felicia pernah menawarkan diri sebagai pendonor untuk Henny sebagai permintaan maaf yang tulus agar hubungan Felicia dengan Luna tak merenggang seperti pada saat ini.


"Tapi Vay gak mau gantiin posisi orang tua kandung Vay, Kak." lirih Vay. Valen tersenyum simpul dan mengelus anak rambut Vay dengan lembut.


"Pai tau? Posisi kedua orang tua Pai udah ada di hati Pai, di dalam hati ini, di dalam memori yang Pai punya, Pai masih bisa ingat dan rasain kehadiran mereka." ucap Valen seraya menunjuk ke arah dada Vay. "Pai juga gak usah takut, di sini juga kita gak maksa." lanjut Valen lagi.


"Vay mau, tapi kalian bisa terima apa yang Vay suka dan apa yang Vay gak suka?" tanya Vay dengan raut wajahnya yang ragu-ragu. Sontak senyum Luna mengembang dan antusias meletakkan gelas yang dia pegang ke atas meja sofa.


"Pai suka apa? Bola? Robot?"


Sang empunya panggilan hanya menggeleng pelan dengan tebakan Luna yang melenceng dari apa yang dia suka. Bukan ada masalah apapun, tetapi Vay hanya mau kedua pasutri itu menerima kehadirannya tanpa rasa keterpaksaan ataupun rasa bersalah pada mendiang Mama nya. Dia mau rasa tulus dari hati.


"Atau Pai suka main komputer kayak waktu itu? Mau dibeliin gak?" tawar Valen ikut menimbrung. Vay mengangguk dan memberikan kedua jempolnya pada Valen yang mudah menebak apa yang dia suka. Wajar, mereka sudah beberapa kali bermain keluar bersama Luna juga.


"Good job, Vay mau jadi anak kalian, mau tinggal di sini, Vay juga sepi di rumah sendirian, jadi Vay minta syarat beli teknik komputernya yang keluaran terbaru, boleh?" pinta Vay berharap.


"Oke deal!" cepat Valen.


"Resmi ya? Oke, selamat Pai, kamu udah resmi jadi anggota baru keluarga kita, yeyyy! Besok urus surat-suratnya ya, Yang?" girang Luna yang langsung melompat-lompat layaknya anak kecil.

__ADS_1


"Iya-iya besok diurus, tapi kamu duduk dulu, malu sama Pai yang baru resmi nih." tegur Valen membuat Luna terhenti dan segera duduk di sebelah Vay. Alhasil, tubuh kecil Vay sudah diapit oleh kedua pasutri yang belum genap satu tahun itu.


"Panggil apa ya enaknya? Mom-Dad atau Papi-Mami?" bingung Luna menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Vay mengangkat wajahnya sedikit dan menatap raut wajah bingung dari Luna.


"Kenapa enggak Papa-Mama?"


"Soalnya Mama Felicia udah ada panggilan Mama, sama kayak Papa Revion, jadi maksudnya kita buat panggilan baru tanpa geser panggilan orang tua Pai, ya?" ucap Luna yang sekejap bersikap menjadi dewasa.


Spontan Vay tersenyum simpul seraya mengangguk paham saja. Begitu paham dan pedulinya kedua orang yang kini menjadi orang tua barunya. Entah bagaimana kehidupannya selanjutnya, Vay tak memusingkan hal itu. Jika masalahnya untuk esok, ya esok. Jika masalah hari ini, lebih baik dipikirkan.


"Bunda-Ayah, gimana?" usul Valen.


"Masa ngikutin alur Tante May sih? Be yourself, biar kreatif mending buat panggilan sendiri." balas Luna memanyunkan bibirnya ke depan.


Valen menepuk keningnya pelan. Memang di dunia ini panggilan Ayah-Bunda hanya digunakan orang tua dari ketua gangster nya? Masih banyak orang menggunakan, tetapi biasa saja tuh. Sungguh, alasan yang di luar nalar.


"Yaudah, maunya apa?"


"Mamsy-Papsy aja gimana?" usul Vay membuat pandangan Luna dan Valen beralih padanya. "Kalau biasanya 'kan Mamsky-Papsky, nah tapi katanya tadi mau buat panggilan sendiri, kalau Papsy-Mamsy gimana?" lanjut Vay ragu.


"BUSET, PINTAR BENER ANAK GW!"


Vay dan Valen hanya dapat menutup telinga mendengar pekikan Luna yang begitu bangganya menyebutkan jika Vay adalah anaknya. Mereka berdua beralih bersikap biasa saja di saat tatapan bingung Luna mengarah pada mereka.


"Suara Mamsy jelex ya?"


Valen dan Vay menggeleng cepat melihat raut wajah Luna yang sudah berkaca-kaca. Sebelum Luna menangis, Valen lebih dahulu memberi alibinya agar sang istri tak menangis. Sayangnya, sebelum ucapannya selesai, Luna justru lebih dahulu menangis histeris.


"Enggak, enggak jelex kok, bagus banget! Tapi ... eehh kok nangis sih?" panik Valen kebingungan sendiri dan menarik Luna ke dalam pelukannya. Luna kembali menangis kencang karena merasakan tersindir dengan ucapan suaminya.


"Tuh kan ada tapinya, hiks, aku cengeng ya?" isak Luna sesegukan tanpa mengubah posisi duduknya yang masih setia memeluk Valen. Vay yang di sana dengan tanggap menepuk-nepuk punggung Luna agar lebih tenang.


"Enggak! Enggak cengeng kok Mam, tapi aneh aja biasa Mam galak bukan cengeng." alibi Vay ikut mencari alasan tepat. Bukan lebih tenang, Luna justru semakin histeris mendengar ucapan Vay.

__ADS_1


Vay melotot karena kebingungan dengan apa yang salah di ucapannya. Valen yang paham hanya menyuruh Vay menutup mulut saja. Tak ada habisnya jika berdebat kecil dengan wanita nya.


"Aku galak ya?" cicit Luna sesegukan.


"Enggak." jawab Valen.


"Aku cengeng ya?" tanya Luna lagi.


"Enggak, Sayang."


"Aku jelex ya?"


"Enggak-enggak, kamu gak galak, gak cengeng, gak jelex juga, makanya aku mau sama kamu karena kamu cantik, oke?" hibur Valen yang cukup frustasi dengan pertanyaan konyol Luna.


"Huwaaa ... berarti kalau aku jelex kamu gak mau sama aku ya? Hiks, Mama... "


Luna justru kembali menangis kencang membuat Valen menghela nafas setelah mengacak rambutnya frustasi. Berbanding balik dari Valen, Vay justru menahan tawa karena kesalahan bicara pada lelaki yang menjadi Papsy nya.


"Enggak gitu maksudnya."


"Ya terus gimana, hiks,"


"Maksudnya Papsy, Mamsy itu orang yang tercantik deh di dunia ini, gak ada yang lain. Jangan nangis ya Mam?" hibur Vay menepuk-nepuk pundak Mamsy nya.


"Bener?" tanya Luna memastikan.


"Iya bener, Sayang. Udah ya jangan nangis, mending kita tidur atau main game, gimana?" tawar Valen yang cukup lega dengan hiburan yang Vay lontarkan.


"Main game di PS aja, Pai tau 'kan?"


Sang empunya nama mengangguk dan ikut bermain di televisi pintar milik orang tua barunya. Vay sangat berharap jika pilihannya akan berdampak baik bagi kehidupannya. Selama ini, dia selalu menginginkan hubungan yang dibilang harmonis seperti Luna juga Valen.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2