Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
143: Kedatangan Mily!


__ADS_3

Elena mengeluarkan alat make up nya yang dia bawa di dalam tasnya. Kebetulan Elena membawa tasnya kemanapun dirinya pergi. Kecuali mandi dan tidur :v


"Sini! Biar dibenerin! Biar makin fresh! " Lesya menggeleng dan menutup mukanya agar tak mengenai alat make up Elena. "Enggakkk! Gak mauuu... " tolak Lesya.


Elena mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa? Biar makin cantikk! " Lesya menggeleng cepat. Dia mengintip di celah telapak tangannya yang dia buka sedikit. "Enggak mau! Tanpa make up juga Lesya cantik! "


"Iya-iya tau tapi biar makin cantik sini ish! " Lesya berusaha menutup wajahnya sementara Elena meletakkan alat make up nya dan berusaha membuka wajah Lesya.


Sudah beberapa selang waktu berlalu Lesya tetap kekeh menutup wajahnya dan Elena berusaha membuka wajah Lesya namun nihil! Alam yang melihat perdebatan mereka geleng-geleng kecil saja melihatnya.


"Udah-udah! Jangan berantem! Kayak anak kecil tauk! " Lesya dan Elena tak mempedulikan leraian Alam justru semakin kekeh. Alam yang melihat itu tercengang malas.


Elvan yang baru saja turun dan duduk di samping Alam, menatap kedua gadis di depannya datar. "Sini! Nanti makin cantik kok Sya! " Lesya menggeleng cepat. "Gak mau! Udah cantik kalo makin cantik dunia bisa gempar! "


Alam yang sedang meneguk minuman tersedak mendengarnya. "Ohok! " Elena berhenti dan menatap ke arah pujaan hatinya. "Kenapa? " ucapnya menepuk-nepuk pundak Alam.


Alam menggeleng dan teringat dengan kejadian dimana Luna pertama kali mendandani Lesya dan hasilnya sangatlah menggelitiki perut. Terlalu putih dan tebal!


"Pruutt! Bwahaha... Keinget gw! " Elena mengerutkan keningnya bingung melihat Alam yang tertawa. Berbeda dengan Lesya yang mengerucutkan bibirnya. "Kenapa? Ada yang salah kah? "


Alam berusaha menghentikan tawanya. "Wak-tu SMP kelas 9, Luna yang baru belajar make up justru make up-in Lesya nyampe keputihan bahkan ketebalan mirip ondel-ondel! Bwahaha! " tawa Alam kembali pecah.


Elena menatap wajah masam Lesya dan tertawa kecil saja. "Jadi ini yang bikin gak mau di make up in lagi? " Lesya mengangguk jujur saja mendengarnya.


Tawa Elena pecah. "Aduuhh Syaa.. Gak mungkin lah! Luna dulu wajar make up-in terlalu tebal karena baru belajar! Tapi kan gw udah lama gak mungkin lah! "

__ADS_1


Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Sama aja! Keliatan kayak tente girang nanti! " Mayang terkikik kecil mendengarnya. Dia baru saja menghampiri mereka yang asik berbincang memojokkan Lesya.


Elena menghentikan tawanya. "Udah sini biar makin fresh! Matanya doang kok! Yang lain enggak serius! " Lesya akhirnya pasrah saja di saat Elena mulai serius mendandaninya.


Alam, Mayang dan Elvan hanya menyaksikan dengan sedikit perbincangan di antara keduanya. "Gimana pendidikan kalian? Lancar? " tanya Mayang.


Alam dan Elvan mengangguk saja. "Kuliah lancar kok bun, kayak biasanya aja! " jawab Alam. Mayang mengangguk saja menanggapinya. "Status kalian kebongkar kah? "


Alam menggeleng. "Anak kampus cuman tau kalo Alam sama Elena pacaran kayak biasanya aja bun! " Mayang mengangguk lagi.


"Selesai! Dah buka matanya! " Mayang, Alam, dan Elvan menoleh dan melihat hasil karya tangan Elena yang membuat mata lentik Lesya semakin cantik. "Gimana? Nilai dong! " tanya Elena.


Mayang mengangkat kedua jempolnya. "Dua jempol! " Alam justru mengangkat sepuluh tangannya bahkan kakinya hendak naik namun ditahan Mayang. "Ngapain? "


"20 jari bun, " jujurnya. Lesya melihat ke arah cermin kaca dan benar saja jika hasil karya Elena tak seperti Luna. "Huffttt! Syukur deh kagak kayak ondel-ondel! " gumamnya.


"Satu dari satu! " Elena memutar bola matanya malas. "Terserah lo deh dek! " Mayang melerai perdebatan yang akan kembali timbul lagi. "Udah kita sarapan dulu! "


Mereka mengangguk kompak. Elena celingak-celinguk mencari keadaan ayahnya. "Bunda, Ayah mana? " tanya Elena bingung. Mayang menggeleng. "Masih--- "


Suara Mayang tercakat yang melihat Angga mendatangi mereka. "Di sini! " Mereka semua menoleh ke arah Angga yang baru saja tiba dengan senyum mengembang.


"Ayah kok baru pulang? Lembur lagi ya? Jangan kebanyakkan lembur dong Yah! " cembetut Elena manja.


"Iya, ada urusan kantor sedikit Elen, Ayah gak papa kok! " Angga mengkode Mayang dengan matanya seolah mengajaknya berbicara berdua. Mayang yang melihat itu mengangguk kecil. "Em, semuanya bunda sama ayah mau bicara dulu ya, kalian makan aja duluan oke! "

__ADS_1


Mereka mengangguk kompak walau merasa ada yang aneh. Mau bagaimana lagi? Seorang anak tak boleh mengikut campurkan urusan orangtua bukan?


Di saat mereka mulai sarapan, tiba-tiba saja terdengar suara teriakkan seseorang yang melengking dari luar. Hingga mereka berhenti dan menatap bingung satu sama lain namun tidak bagi Elvan yang asik melahap sarapannya.


"Siapa? " tanya Alam. Elena menggeleng tak tahu. "Enggak tau! " Lesya terdiam dan menajamkan pendengarannya mendengar teriakkan yang menggema bahkan terdengar seisi rumah. "TUNGGU TANGGAL M*TI LO ALEESYA! ANAK PEMBAWA SIA*L! "


* Tante Mily? Dari mana dia tau kalo gw di sini? Apa jangan-jangan dia tau identitas gw yang menjabat sebagai Queen Ellion?! Gak boleh! Gak boleh dia sampai tau soal itu! Dan masalah tanggal mat*, mungkin dia salah! Sebelum gw, lo akan melayang tante Mily! * batin Lesya memberontak.


Elena menatap adiknya dengan perasaan bingung sekaligus hendak bertanya. Alam bertatapan dengan Lesya seolah meminta perintah. "Awasi dia! " bisiknya tanpa suara.


Beruntung Elena melihat ke arah lain sehingga tak mendengarkan bisikan Lesya. Alam mengangguk sebagai jawaban dari perintah Lesya.


"Siapa dia? " tanya Mayang tiba-tiba datang diikuti Angga di belakangnya. Elena menggeleng tak tahu. "Enggak tau bun! " jawab Elena jujur.


Angga menatap Lesya yang terdiam dengan sorot mata yang tak dapat diartikan. Baru saja dia berbicara dengan Mayang mengenai Mily yang baru tiba di negara ini dan mengincar Lesya.


Lesya beranjak dan meninggalkan mereka di meja makan. Mayang terdiam menatap kepergian Lesya dari sana. "Lesya kenapa bun? " tanya Elena yang tak tahu apa-apa.


Mayang menggeleng dan menatap Angga dengan perasaan yang dicampur aduk. Angga menggandeng sang istri duduk dan menyuruh Elvan mengikuti Lesya. "Vano, awasin istrimu! "


Elvan mengangguk karena kebetulan sarapan paginya sudah selesai. Berjalan langkah cepat, Elvan berhasil mengikuti Lesya yang berjalan menuju arah halaman depan.


Lesya yang melihat Mily, kembaran sang mami berada di depan pintu gerbang, berjalan ke arah satpam yang berada di depan Mily dan meminta gerbangnya dibuka. "Pak, tolong buka! "


Satpam tersebut menggeleng. "Maaf non, tak bisa! Nanti saya kena amuk tuan sama den Elvano! " Lesya menatap tajam Mily yang menatapnya benci.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2