
"Di rumah gw ceritain! " Lesya mengangguk. Mereka meloncat dari tebing menuju rooftop lagi dan menemui sahabat mereka yang menunggu dengan perasaan cemas. "Sya! "
"Yo.. Gw balik dengan utuh dan selamat! " Luna menatap aneh Lesya seolah bertanya. "Ngapa tiba-tiba lo loncat? Kaget gw! "
"Ada tikus sama kucing berantem di tebing! " Luna yang masih tak paham bertanya kembali, "Tikus? Kucing? Itu doang? " Leon mengetuk kepala Luna agar tak lemot. "You know kucing and tikus? "
Luna meringis kecil. "Iya gw tau elah! " Valen teringat dengan kejadian semalam yang tak terduga itu. "Bentar! Kalian beneran yang kema-ren? "
"Menurut lo? " Valen meringis kecil mendengar suara sinis Luna memekik-kan telinganya. Entah mengapa jika mereka dipertemukan, akan ada suara sinis atau ngegas dari salah satu mereka. "Ngegas amat mba! "
Luna menyinyir tak jelas di sudut bibirnya. Lesya menggedik kan bahunya acuh, "Ngapain di sini? " Ken angkat suara, "Kata bu Lina cari kelompok masing-masing baru tugasnya boleh dikasih! "
"Oh.. What?! " Amel menerka-nerka dengan kekompakkan di antara Luna dan Lesya yang sama-sama terkejut. "Jangan bilang kalian belom kelar? "
Luna meneguk ludahnya sendiri melihat tatapan tajam Elvan yang mengarah kepada dirinya dan Lesya. "Sayangnya itu benar! " gumam Lesya lirih.
"Gimana dong? Letha sama Nayla marah gak ya? " gumam Amel. Lesya terdiam sejenak, "Kalian aja dulu yang kumpul gw nyusul nanti"
"Sama! " Lisa memijit pelipisnya pening. "Udah nyontek! Nih buku gw! " Luna mengambil dan mulai menyalin jawaban Lisa.
Berbeda dengan Lesya yang masih sibuk menghitung jumlah rambutnya. "Sebelas.. Dua belas.. Tiga isshh! Apaan sih? "
Lesya menatap Elvan yang justru mengacak rambutnya hingga hitungannya kembali terulang. Leon duduk dan memainkan ponselnya. "Lo gak kerjain Sya? "
"Gak bawa buku! " Amel menepuk jidatnya pelan. "Trus lo ke sekolah bawa apaan? " Lesya merogoh sakunya dan mengeluarkannya. "Kunci motor, handphone, duit, udah! Sama bawa diri doang"
"Nyeh! Terus lo belajar gimana? Nyolong buku orang hah? " tanya Lisa. Lesya mengangkat bahunya, "Kagak nulis gw! Paling cuma masuk kuping keluar lagi! Kelar dah"
__ADS_1
Leon, Farel, Frans, Ken, Valen, Amel hanya geleng kepala saja mendengarnya. "Meh! Pantes nilai lo anjlok kek telor! " Luna mengangguk. "Diantara gw, Leon sama lo Sya, gw paling pinter! "
"Nilai 7 doang kan? " Luna mengangguk lagi membanggakan dirinya. "Dari pada Leon 6 sementara Lesya 4,3,5,2? " Lesya tak mempedulikan sindiran Luna padanya.
Lisa tercengang dengan salah satu teman musuhnya itu alias sepupu iparnya. "Kagak marah ortu lo nilai lo jebol kek telor gosong? " Lesya mengangkat kedua bahunya, "I don't care! "
"Parah emang lo sya! Harusnya banggain orang tua lo yang berjuang biayain uang sekolah lo! " bijak Frans yang membuat Lesya terdiam. "Meh! " gumamnya kecil hampir tak ada yang mengengarkan.
Lesya mengangkat bahunya lagi. "Oh! " Luna geleng-geleng kepala saja mendengarnya. "Selesai! Noh buku lo! " Lisa dengan cepat mengambil bukunya kembali.
Luna menyimpan bukunya ke dalam tas ranselnya yang dia bawa. Tiba-tiba saja Letha, Nayla, bu bunga datang ke tempat itu. "Kalian semua ngapain di sini? Kalian juga kan anggota OSIS! Jaga sikap dong! "
Valen menyiyir tak jelas. "Ibu, kita tuh ke sini justru mau nyari ini dua(Lesya dan Luna) " Bu bunga menatap Lesya bergantian dengan Luna. "Bolos lagi kalian? "
"Kalo gak bolos gak di sini saya bu! " jawab Luna santai memainkan pulpen di tangannya. Lesya tak menjawab dia asik memainkan kakinya dan menatap langit biru.
Dengan cepat Elvan pergi dari sana tanpa satu kata patah pun yang keluar dari mulutnya. Sementara mereka semua hanya menatap kepergian Elvan saja.
Lesya tiba-tiba teringat dengan ucapan Elvan yang dirinya berada di tebing bersamanya tadi. Dia mengacak rambutnya frustasi dan menarik Luna pergi dari sana diikuti Lisa dan Leon.
"Pamit ya bu, " pamit Farel menatap sekilas Letha dkk dan bu bunga lalu mengajak tema-temannya pergi dari sana menyusul Elvan.
Bu bunga juga sudah pergi dan tersisa Letha dkk di sana. Letha menatap Amel seolah bertanya, "Kenapa lo ikut mereka? Lo sebenarnya dukung gw atau kakak gw sih? "
Amel menghela nafasnya panjang. "Gw gak dukung siapa-siapa Tha! Cuman gw mau kasih saran sama lo buat jangan pernah benci Lesya yang gak salah! "
"Maksud lo? " Amel menatap Letha lekat. "Lo tau? Gw pernah ngalamin hal yang sama kayak lo sama adik gw sendiri? Gw dan adik gw sama-sama suka sama satu cowok yang malah memilih gw! "
__ADS_1
"Dan waktu dia nembak gw di hadapan adik gw, dia nangis dan bilang kalo dia benci sama gw yang udah rebut kebahagiaan dia! Hingga dia lari dan jatuh terguling-guling ketimpa pohon besar! Lo ingat? "
Letha dan Nayla terdiam mendengar penuturan Amel yang membawa mendiang adiknya itu. "Gw sedikit kecewa sama lo Tha! Lo gak bisa benci kakak lo sendiri! "
Amel memang memiliki adik perempuan yang sangat mencintai orang yang disukai Amel. Karena orang tersebut juga mencintai Amel kembali, orang itu memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Amel.
Amel terkejut dengan kehadiran adiknya saat itu yang memang mendengarkan pengungkapan isi hati orang tersebut. Hingga adiknya berlari dan berkata jika dia membenci kakaknya itu.
Dalam dirinya yang lari, kebetulan awan sedang menitikkan air hujan yang sangat deras. Bahkan kilat yang menyambar dahan pohon, jatuh menimpa adik Amel itu.
Amel dan keluarga menangis atas kepergian adiknya itu. Itu sebabnya saat ini Amel adalah anak satu-satunya di keluarganya. Orang tersebut juga merasa kehilangan sosok cerianya saat itu.
Letha yang tadinya menunduk, mengangkat dagunya menatap Amel sahabatnya itu. "Kalo lo ngebelain kakak gw, kita gak usah sahabat lagi Mel! Karena sahabat itu gak kayak gini! "
"I know and your way is wrong! Gw gak mau kejadian itu terjadi lagi sama sahabat gw sendiri! " Letha tersenyum mendengarnya. "Thank! Gw gak berharap banyak cuman dengan perubahan gw esok, gw harap Elvan ngeliat gw! "
Amel membulatkan matanya tak percaya. Memang dia dan Nayla sudah diberitahukan oleh Letha dengan perubahan dia nanti. "Tha! Jangan macem-macem lo ya! "
"Kalo lo milih kakak gw, kita harusnya gak sahabatan lagi aja! " Amel menghela nafas pasrah mendengar ancaman Letha.
Letha dengan cepat meninggalkan tempat itu yang menurutnya sangat tak patut dihuni. Dia sedikit merinding dengan rooftop sekolah. Ini adalah pertama kakinya dia menapakkan kaki di rooftop.
Nayla menepuk pundak Amel seolah memberikan dukungan. "Sabar Mel! I know how you feeling now! " Amel tersenyum. "Thank! "
"Yok ke kantin! " Dua gadis itu pergi menyusul keberadaan Letha yang sudah jauh di sana.
Setelah rooftop sudah sepi tak berpenghuni, tiba-tiba saja sosok berjubah hitam keluar dari tempat persembunyiannya. "Letha udah besar ya! Dia persis dengan sikap mily! "
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗