
Lesya membanting, memiting, memukul, menepis serangan dari lawannya. Sesekali dia membantu Angga berdiri. Mayang sudah dibawa masuk ke dalam mobil Angga.
"Ayah, ayah masuk aja biar aku sama Elvan yang lawan! " Angga menggeleng cepat. "Enggak ayah ikut! "
"Argh! " Lesya mundur beberapa langkah ke belakang. Luka di bagian perutnya mulai terbuka kembali.
Geram, Lesya mulai membab* buta beberapa orang yang mengeroyoki nya. Sesekali dirinya dibantu oleh Elvan hingga mereka banyak yang tak berdaya. Gilang sudah pergi dengan membawa mobilnya.
Angga menghela nafas lega melihat jika banyak pria suruhan Gilang yang sudah terkapar lemah di tanah. Angga berlari menuju mobilnya dan mengecek kondisi Mayang yang rupanya masih utuh.
"Huft syukur lah kamu baik-baik aja! " Mayang mengangguk. Dia keluar dan berlari menuju Lesya dan Elvan. "Kalian gak papa kan? "
Dengan kompak mereka menggeleng. "Syukur deh! Ayok kita pulang takut ada yang keroyok lagi! " Mereka mengangguk dan masuk ke dalam mobil mereka masing-masing.
Memang jalanan yang mereka lewati itu adalah jalanan yang cukup sepi. Di sore seperti ini, jarang kendaraan lewat karena waktu pulang kerja para karyawan belum tiba.
Lesya yang berkaca di mobil tak sengaja melihat memar di jidat mulusnya itu. "Sial*n! Jidat gw sst! " gumam Lesya kecil.
Elvan memberhentikan mobilnya ditengah jalan yang lumayan ramai. Dia mengambil kotak P3K di dalam laci mobil dan memberikannya kepada Lesya. "Nah! "
Lesya menoleh dan mengambil salep yang ada. Begitu juga dengan Elvan yang mengobati luka nya yang berada di wajahnya. Tanpa sengaja Elvan menyadari jika luka perut Lesya mulai terbuka kembali. "Haiss! "
Lesya terkejut di saat Elvan membuka dua kancing seragam bawahnya. "Diam! " Lesya menurut saja dan diam menatap Elvan mengobati luka nya.
Dia tersenyum kecil menyadari jika lelaki di hadapannya ini sangatlah tampan. Hidung yang mancung, rambut sedikit berantak-kan, alis tebal, mata hitam membuat dirinya terpaku sejenak. "Gw tau gw ganteng! "
"Ha? Apa? Ganteng? Muka kek sendal jepit aja bangga! " Elvan tersenyum tipis melihat Lesya yang mengelak tentang dirinya yang terpaku dengan ketampanan yang dia miliki.
__ADS_1
Elvan mendekatkan wajahnya menatap Lesya membuat Lesya harus memundurkan wajahnya. Dengan sengaja Elvan membuat Lesya justru menyender bahkan tertidur di bangku samping kemudi.
Lesya memejamkan matanya lalu membuka matanya dengan cepat. Dia baru menyadari jika dirinya berada dibawah Elvan dengan posisi yang ambigu. "P-pan! Bangun ish! "
Elvan tak bergeming justru dia menyentuh memar di jidat gadis itu membuat Lesya meringis kecil. "Sstt! " Elvan menatap Lesya. "Sakit? "
Lesya mengangguk kecil. "Bangun ngapa! Lo berat tauk! " Elvan masih diam menatap manik Lesya lekat.
Lesya dengan cepat menutup matanya karena tak ingin berlama menatap bahkan ditatap oleh Elvan. Beberapa menit dengan posisi yang masih sama, akhirnya Elvan berdiri mendengar ketukkan dari kaca mobilnya. "Shit! Ganggu aja! "
Lesya membuka matanya dan menghela nafas lega melihatnya. Dengan cepat dia bangkit dan mengkancingkan dua kancing seragam di bawahnya.
Elvan membuka kaca mobil nya dan menongolkan kepalanya dari kaca mobil. Rupanya satu polisi yang mengetuk kaca mobilnya. "Kenapa? "
Raut wajah Elvan kali ini kembali datar seperti biasanya. Pak polisi saja hampir meneguk ludahnya kasar. "Mohon maaf, anda berhenti di area yang terlarang. Bahkan pengendara lain sulit untuk lewat karena terhalang mobil anda! "
Elvan melirik kaca spion mobilnya. Benar saja banyak mobil dan motor yang berhenti di belakangnya bahkan membunyikan klakson kendaraan mereka masing-masing. "Em! "
Dalam perjalanan pulang Lesya hanya melihat ponselnya saja. Tak ada satupun suara yang keluar dari mulut pasangan itu. Canggung, bagi Lesya saja namun tidak bagi Elvan yang notabenya jarang berbicara.
Merasa bosan dengan ponselnya, Lesya memasukkan kembali ponselnya dan menatap jalanan saja. Hingga dirinya tak sadar jika mereka sudah tiba di kediaman Grey. "Turun! "
"Ha? Udah nyampe? " Lesya membuka seatbeltnya dan turun dari mobil. Dia segera melenggang pergi terlebih dahulu meninggalkan Elvan di sana.
Lesya yang melihat Mayang di ruang tamu seraya mengobati luka Angga karena tadi memanggil nama Mayang. "Bunda? "
Mereka menoleh dan melirik Lesya yang menghampiri mereka. "Udah sampe? Mandi dulu gih habis itu turun makan malam"
__ADS_1
Lesya mengangguk dan pamit menuju kamarnya. Dia dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya yang terasa lengket.
Beberapa menit usai, Lesya keluar dengan memegang perutnya yang terasa sedikit nyeri. Dia mendapati Elvan yang membuka kaos bawahnya dan mengobati luka di bagian perutnya. "Pan? "
Elvan yang menyadari keberadaan Lesya dengan cepat menutup luka nya dan menatap datsr Lesya. "Hm? " Lesya memiringkan kepalanya menatap Elvan aneh.
"Lo kenapa sih? " Dengan cepat Lesya duduk di sofa samping Elvan dan mengambil kotak P3K di meja sofa.
Lesya menyingkapkan kaos Elvan sedikit ke atas dan mulai fokus mengobati luka di perut Elvan. Dia tak tahu saja jika luka tersebut berasal dari salah satu pria yang ingin meninjunya dari belakang.
Elvan pasrah saja jika luka nya disentuh ataupun diobati oleh Lesya. Dengan telanten Lesya membersihkan lalu membalut luka dengan perban yang ada. "Sst! "
"Sakit ya? Tahan bentar! " Elvan hanya menatap manik Lesya dan mengelus rambut basah gadis itu. Lesya yang fokus mengobati lekas bertanya mengenai kemaren. "Lo kemaren ketua dari TW? "
Elvan mengangguk. Lesya tercengang tak percaya. "Jadi bener? " Lesya dengan cepat kembali duduk menatap Elvan. "Iya! "
"Woah! Keren! Yok lah gabung sama gw di LC! " Elvan mengacak rambut Lesya gemes. "Bukannya kita musuhan? " Lesya berpikir sejenak. "Iya ya kita musuhan! Jauh-jauh dari gw lo! " sewot Lesya.
Elvan tersenyum tipis melihat Lesya yang justru memukul lengannya. "Btw, kemaren yang bawa gw ke apart lo siapa? Perasaan gw lagi ngehajar orang deh"
"Gw! " Lesya tercengang dengan jawaban singkat Elvan. Jika Elvan yang membawa dirinya kembali ke apart, berarti dia melihat tingkah kekanak-kanakan dia bukan? Pikir Lesya.
Lesya sudah tahu jika dirinya dalam kondisi mabuk, dia akan bertingkah bak anak kecil umur 3 tahun. "Ja-jadi lo bawa gw waktu gw mabuk? " Elvan mengangguk.
Lesya dengan sontak berdiri dan menunjuk ke arah Elvan panik. Dia berharap jika Elvan tak mengetahui sikapnya di saat mabuk. Di mana harga dirinya nanti? Pikirnya.
"Si-sikap gw gimana? Waktu mabuk! " Elvan ingin sekali mengejek Lesya yang terlihat gugup itu. "Kenapa? "
__ADS_1
"Y-ya ja-jawab aja apa susahnya?! " Elvan mengangkat alisnya. "Kemaren, lo gigit jari gw! " Hening, Lesya ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam dasar samudera Hindia saat ini.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗