Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
362: Saudara


__ADS_3

Di bawah jurang sana, sebuah kumpulan anak muda dengan jaket kebanggaan mereka masing-masing terlihat berkumpul di sana. Bahkan ketua mereka masing-masing juga ada di sana setelah bicara empat mata tanpa pengintai.


"Semuanya makasih banyak ya atas bantuannya, gw gak tau cara balesnya yang penting gw makasih banyak-banyak buat kalian yang nolongin gw dari serangan maut dadakan." tulus Lesya lalu membungkuk sebagai rasa hormatnya. Dia tak peduli lagi dengan kedudukannya di Lion Claws yang sebagai queen di sana.


Revan yang berada di sebelah sang ketua reflek memajukan sedikit wajahnya melihat sang ketuanya ingin mendekatkan dirinya. Dengan tanggap dia memasang telinganya agar lebih jelas mendengar bisikan sang ketuanya.


"Cari pelakunya! " bisik Elvan tegas.


Revan mengangguk saja. Di saat dirinya hendak pergi, tangannya dihentikan oleh Elvan lagi. Ketuanya itu selain banyak perintah hanya dapat memberi kode yang harus mereka pahami dengan segera.


"Husst, jangan lupa suruh yang gak masuk gangster pulang! " datar Elvan melirik Letha dkk sekilas yang berada di sebelah Farel. Revan mengerutkan keningnya bingung lalu mengangguk paham saja. Mungkin saja Elvan tak mau masalah gangster membuat Letha dkk menjadi kalang kabut nantinya. Kan mereka masih belum tahu alias terkadang lola!


Revan mendekati Farel dan sedikit berbisik. Em ralat lebih tepatnya bersama Frans juga. Mendengar ucapan Revan yang meneruskan pesan dari Elvan, Frans dengan segera menawarkan diri tuk mengantar ketiga gadis itu pulang ke rumah dibandingkan dengan Farel. Why? Karena Frans sendiri dapat menjamin terlebih Amel adalah sang kekasih.


"Kalian gw anter balik yuk dibanding di sini rame banyakan cowo." tawar Frans beralih pada Letha dkk. Ketiga gadis itu menoleh dan saling pandang. Letha tentu saja dengan cepat menyetujui perkataan Frans yang mencoba membujuk.


"Nah bener tuh! Yok balik lagian ngapain sih ke sini gays, buang-buang waktu tau gak sih! Mending di rumah, lebih adem tau! " sebal Letha ketus lalu mengibaskan tangannya di wajahnya. Nayla mengangguk setuju juga. Berbeda dengan Amel yang lebih waras jika menyangkut hal berbau kerukunan antar saudara.


"Dih, kita gak minta ya lo ke sini! Gak mau gak usah kalee! " sewot Luna ketus. Lesya menghela nafasnya. Dia juga agak kaget dengan kehadiran Lesya dkk di sana. Ini kali pertamanya dia kesulitan dan itu disertai Letha dkk yang menengoknya.


"Pulang aja kalau mau, " ucap Lesya.


Nayla mengangkat satu alisnya. Mendengar nada bicara Lesya yang tenang begitu membuatnya semakin malas jika melihat Lesya dan Letha berbaikan. Anggap saja dia pemeran antagonis di sini. Namun dia juga merasa tak ada sebuah rasa seorang kakak pada adiknya di dalam diri Lesya. Dan dia sebagai teman dekat yang baik, dia tak mau jika Letha ujungnya merasakan sakit hati. Apalagi dengan status Lesya kali ini.


"Oke kalau gitu, karena kakaknya gak nerima adiknya sendiri di sini, so kita balik aja yuk Tha daripada di sini, panas tau! " ajak Nayla dibalas anggukan cepat kepala Letha. Amel saja menahan nafas mendengar ucapan Nayla. Dia sebagai teman Letha dan salah satu orang yang pernah saling tukar sapa dengan Lesya sedikit tak enak mendengarnya.


"Bye-bye! "


Kedua gadis remaja itu pamit lalu berjalan sedikit angkuh dari sana. Mereka hanya menatap aneh saja tanpa raut kesal sama sekali. Karena bagi mereka tak ada gunanya meladeni sikap asli seseorang yang berbeda. Ujungnya juga pasti tak akan ada habisnya. Jadi tatepin aja dulu.


Amel yang merasa tak enak dengan Lesya tersenyum canggung saja. Lalu dirinya pamit untuk menyusul kedua temannya. Begitu juga dengan Frans yang ikut berpamitan karena diharuskan menjadi supir untuk ketiga gadis remaja itu.


Setelah kepergian mereka, Elvan beralih menatap Lesya dari samping. Karena anak buah yang dibawa oleh Revan hanya 10 saja dan anak buah dari pihak Cakra juga hanya 10 orang, maka wajah mereka semua tak terlalu dapat dilihat oleh banyak anggota gangster mereka.


"Mau sodaraan? " tawar Elvan.


Alis Lesya mengerut bingung.


Saudaraan?


Maksud Elvan adalah pihak kedua gangster besar ini menyatu begitu? Atau membentuk sebuah organisasi baru lagi? Otak kecil nan jenius Lesya kali ini sedang malas berpikir. Sudah berdenyut nyeri begitu jika diajak untuk berpikir maka hasilnya tak efesien nantinya. Dan bagi Lesya lebih baik bertanya dibandingkan memaksakan diri untuk berpikir.

__ADS_1


"Maksud lo? " tanya Lesya.


"Nyatuin LC sama TW! Markasnya pisah tapi saling berkaitan." jelas Elvan menatap para anggotanya dan anggota pihak Lesya secara bergantian. Lesya menautkan alisnya lalu beralih menatap Cakra dan Luna seolah meminta pendapat mereka.


Dan keduanya mengangguk cepat.


"Yaudah, deal! " jawab Lesya mengulurkan tangannya. Elvan menatap sekilas lalu menjabat tangan sang istri di sampingnya. Anggota mereka saling bertepuk tangan, bersorak lalu ikut menjabat satu sama lain sama seperti ketua-ketua mereka.


"Widih, ada bu boss baru nih! "


"Cakep lagi ya gak? "


"Jaga mata woy takut dimakan pak boss! "


"Adehh, adek tatut liatnya! "


"Haha, sodaraan nih jadinya! "


"King baru, saingan baru! "


"Keep smile liat saingan ya gak? "


"Salam kenal broo! "


Sorakan mereka begitu menggema. Bahkan Lesya yang mendengar kata 'saingan' dan 'bu boss' membuat hatinya menghangat. Tadi dia sudah menjelaskan kepada Elvan dan lelaki itu hanya mengangguk antara percaya atau tidak dengan kandungannya. Sepertinya lelaki itu merespon dengan sikap biasa saja.


"Widih, sodaraan nih kita! " kata Revan lalu menjabat tangan Luna. Gadis yang tiba-tiba dijabat sedikit tersentak dan tersenyum geli. "Yoi bro, kan ada Queen El ya gak? " goda Luna beralih pada Lesya.


"Dih? Mirror mbak, lo juga kan tunangannya wakil ketua kalee! " ledek Lesya memberi sebuah boomerang balik kepada Luna. Tentu saja gadis itu terdiam membenarkan perkataan Lesya. Telinganya yang ditutupi rambut diam-diam saja memerah malu.


"Udah jabatan tangannya, tunangan gw nih Rep! Makanya mending lo cari cewek lagi sono! " sewot Valen lalu beralih merangkul pundak Luna mesra. Ayolah, Luna bertambah malu saat ini. Apalagi dengan posisi tangan Valen.


"Haha.. Malu gak tuh dek? " goda Cakra yang sendari tadi diam. Luna hanya menggerutu sebal mendengarnya. Berbeda dengan Revan yang menatap tak bersahabat Valen. "Wah gak hoki lo Val! " cibir Revan mendengus sebal.


"Dih gak nyambung beg*o! " semprot Ken dari belakang. Ya, perusuh datang maka suasana akan terlihat lebih rusuh. Dan Farel yang sedari tadi diam hanya menyimak saja perdebatan unfaedah ini.


"Lah loh dateng nih perusuh! " cibir Revan bergumam. Ken mendengus sebal mendengarnya. Em, pemberitahuan sebelumnya ya. Walaupun Ken terkadang rusuh, telinganya ini sangat berguna bagi kepentingan gangster loh. Why? Walau kadang sering error, saat di situasi penting telinga Ken bahkan dapat mendengar suara gumaman seseorang.


"Gw denger loh Rep! " sebal Ken.


Revan hanya menyengir dan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf 'V' pada Ken. Beralih pada Elvan, Revan kembali angkat suara. "Pak boss ini markasnya pindah kagak? " tanya Revan yang lebih paham dengan dunia gangster dibandingkan dunia pelajaran.

__ADS_1


Elvan hanya mengangguk saja.


"Emang mau pindah ke mana Rep? " tanya Ken kepo. Revan menggeleng pelan saja dan mengangkat bahunya. "Enggak tau sih, tapi biasa kan deketan gitu! " kata Revan. Ken hanya mengangguk antara paham dan tak paham saja.


"Sesuai yang gw kasih kemarin Rep. " ucap Elvan angkat bicara. Revan mengangguk paham dan mengancungkan jempolnya siap saja. Berbeda dengan yang lainnya hanya menyimak saja karena tak paham.


"Balik? " tanya Elvan pada semua temannya. Tentu saja mereka semua mengangguk sebagai jawaban. Toh langit sudah hampir gelap. Dan mereka tak ingin membuat orangtua mereka khawatir.


"Kalau gitu semuanya saya pamit lebih dulu ya! Di mohon jangan mengumbar wajah ataupun identitas kami di sini ya! ' ucap Lesya yang ingin hendak pulang.


"Siap bu boss! " serempak mereka.


"Dih nambah gelar nih ceritanya ya gak Lun? Dari Queen El jadi bu boss ketua Tiger? " tanya Cakra meledek. Luna hanya mengangguk setuju saja dengan ledekan Cakra yang menang benar.


"Bod*amat, gw balik ya byee.." pamit Lesya melambaikan tangannya lalu menarik tangan Elvan agar mengikuti dirinya yang akan hendak pulang.


"Jangan lupa Rep! " peringat Elvan.


Revan hanya mendengus sebal saja. Dia mengangguk malas menanggapi ucapan Elvan yang di mana punggungnya akan segera menghilang dari pandangan mereka dengan Lesya.


"Kalau gitu gw juga balik ya gays, makasih banget nih buat bantuannya buat nyelamatin Queen El, kalian baik banget padahal gak kenal! " sopan Luna lalu sedikit membungkuk sebagai ucapan rasa tulusnya berterimakasih. Para anggota dari kedua belah pihak hanya berdecak kagum dengan kesopanan dan kecantikan kedua Queen yang ditakuti di dunia gangster mereka. Jarang ditemui!


"Hati-hati kalian ya! " ucap Cakra menepuk pundak Valen. Luna menaikkan satu alisnya bingung. "Lah bang, kan gw sendiri kali baliknya! Ngapain nepak-nepuk Alien? " bingung Luna polos.


"Kan gw nyuruh dia nganter lo dek biar aman! " santai Cakra. Kedua mata Luna membola. Jika Valen mengantarnya pulang, dipastikan lelaki itu juga ikut menginap di rumahnya. Memang sudah sering kali Valen menginap di rumahnya. Namun walau berbeda kamar, tetap saja Luna merasa seolah terasingkan karena Henny—mamanya lebih memperhatikan Valen dibandingkan dirinya.


"Yaudah kalau gitu, yok lah gas keun haha... " girang Valen tanpa rasa bersalah lalu kembali merangkul Luna agar kembali ke rumah. "Rel, pinjem mobil lo ya! " lanjut Valen lalu mengambil kunci mobil Farel yang dipegang lelaki itu.


Farel hanya mengangguk singkat. Revan yang melihat punggung Luna dan Valen perlahan menghilang, beralih menatap Lisa yang sedari tadi terdiam. "Lis, lo mau gw anter gak nih? " tawar Revan. Lisa menoleh dan hanya mengangguk saja.


"Bang, Leon gak ada ya? " tanya Lisa pada Cakra sebelum kembali. Lelaki yang di tanya itu hanya menautkan alisnya bingung. Sejenak dia menatap Lisa dari atas hingga bawah. Sedetik dia tiba-tiba teringat jika Lisa adalah pacar dari Leon, sang adik angkatnya.


"Oh Leon nya gak ada! Dari tadi pagi udah pergi nyampe sekarang gw gak tau dia udah balik atau enggak tapi akhir ini dia berubah, jadi lebih sering pulang malem." jujur Cakra menjawab. Lisa yang mendengar hanya mendesis kecewa saja. Lengkungan bibirnya ke bawah terlihat jelas hingga Revan tak tega melihatnya.


"Yah, yaudah deh bang titipin salam buat dia ya sekalian bilang 'jangan jauhin gw dan yang lainnya, Lisa' ! " ucap Lisa lalu menarik Revan agar segera kembali. Nada bicaranya yang sendu membuat Cakra merasa ada sesuatu yang ganjal di benaknya. Apa mereka bertengkar? .


"Rel, titip markas ya! " ucap Revan.


"Gw kelamaan ngejomblo kali ya makanya diem mulu? " lirih Ken yang sedari tadi tumben saja tak merusuh.


Cakra hanya tertawa garing dan beralih menepuk pundak lelaki yang meratapi nasib itu. "Karma mainin cewek makanya lo ngejomblo! Dah lah, gayss balik ke markas! " ucap Cakra beralih pada pasukannya dan mengajak mereka kembali ke markas karena matahari yang tampak hampir tenggelam.

__ADS_1


"Siap pak ketua! '" serempak mereka.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2