Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
315: Permintaan Pertemuan


__ADS_3

Setelah kegemparan berita itu di forum sekolah, Lesya masih tak nyaman saat lontaran kalimat terdengar jelas mengejek dirinya. Ada juga yang membelanya namun hal itu hanya sedikit saja.


Lesya saat ini berjalan dari kantin ke arah UKS. Dia belum makan sedari tadi dan bahkan tak ingin makan karena rendah n*fsu makannya. Ketiga teman-temannya juga mengikuti Lesya dari belakang dan berjalan menuju UKS beriringan.


"Sya, are you okey? " tanya Luna menepuk-nepuk pipi Lesya. Saat ini Lesya duduk di tepi brankar yang ada. Lesya hanya mengangguk pelan saja menanggapinya. Sementara Leon menempelkan punggung tangannya ke arah kening Lesya. Panas!


"Eh, Sya lo sakit ya? " tanya Leon sedikit cemas. Lesya mengangguk pelan. Kepalanya pusing dan tangannya sedikit bergetar. Luna dan Leon dengan tanggap menepuk-nepuk pundak Lesya bersamaan. Sementara Lisa masih bingung apa yang harus dia lakukan.


"Beb, tolong panggilin anak PMR dong atau dokter di sini! " pinta Leon. Lisa hanya mengangguk kecil saja. Namun dengan cepat Lesya menahannya.


"Jangan Lis! Gw gak mau diobatin sama anak PMR, mending bawa makanan deh gw laper. " ucap Lesya yang justru merequest. Lisa memutar bola matanya malas dan menurut saja. Sebenarnya bukan hal ini yang Lesya maksud, dia lapar namun dia juga membutuhkan kedua teman-temannya saat ini. Lisa memanglah temannya namun dia hanya ingin Luna dan Leon saja, sahabatnya!


"Tarik nafas Sya biar tenang! " usul Leon yang tak sengaja mendengar deru nafas Lesya yang tersengal-sengal. Lesya mengangguk dan perlahan mulai menarik nafasnya. Dia bukannya mengingat lintasan perlakuan keji kedua orang tua kandungnya namun rasa sakit yang membuatnya kesepian. Hanya itu saja!


Lesya memegang dadanya yang sakit. Tangannya sekarang menjadi lebih bergetar hingga Luna dan Leon panik. "Sya, tenang ya.. Ada kita di sini! " bisik Luna mengelus punggung Lesya. Namun hal itu tak dijawab oleh Lesya. Gadis itu tetap diam menahan sakitnya. Rasanya sangat kelu meringis kesakitan dengan rasa kesepiannya yang menumpuk.


"Apa gw telfon Elvan aja ya? " usul Leon yang dibalas gelengan cepat kepala Lesya. Luna berdecak kesal mendengar usulan Leon yang justru sangat Lesya tolak. "Anj*r Yon, jangan woy! Nanti bukannya adem malah runyem akhirnya. " ujar Luna seraya menatap tajam Leon.


"Ya maap! " cicit Leon.


Lesya saat ini perlahan mulai tenang. Tangannya sekarang sudah tak gemetar lagi. Bukan apa-apa Lesya sedikit tertampar dengan kata-kata Elvan tadi. Apa kali ini dia yang salah? Egoiskah Lesya jika memilih Letha yang tak ada saat butuh sementara dia mengabaikan Elvan saat tak butuh. Bukankah itu sama saja dia orang munafik?


"I'm fine cuman laper doang! Cape olahraga sama beresin setengah lapangan basket tadi. " ucap Lesya mencoba berkilah agar kedua sahabatnya tak mencemaskan dirinya. Luna hanya tersenyum tipis saja. Dia tahu jika Lesya tak ingin orang lain khawatir.


"Nah makanannya gw bawa! " ucap Lisa setelah tiba di UKS dengan nampan di tangannya. Nasi goreng bu kantin dan es alpukat pesanan Lesya sudah tiba. Dengan tenang Lesya beralih mengambil nampan dari Lisa dan menyendokkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Kringg!


"Gak pada masuk? " tanya Lesya menatap ketiga temannya. Bell sudah berbunyi dan jam istirahat sudah habis. Itu artinya mereka akan lanjut melakukan aktivitas belajar mengajar lagi di kelas. Luna yang mendengar mengerucutkan bibirnya manyun. Luna tak rela meninggalkan Lesya di UKS sendirian tanpa adanya dokter ataupun anak PMR yang bertugas.


"Eng---"

__ADS_1


"Lun, jangan jadiin alasan gw buat kalian bolos! " sela Lesya sengaja. Luna mendesis kecil saja dan akhirnya mengangguk pelan. Setelah pamitnya Leon dan Luna, Lisa diam-diam terakhir keluar karena ingin mengobrol sejenak oleh Lesya.


"Tenang aja Sya, gw pastiin nanti Elvan bakal diomelin sama tante May di rumah! Oke baik-baik lo di sini sisanya sama gw! " kata Lisa dengan semangat yang menggebu. Lesya hanya cengo saja dan menatap kepergian Lisa dengan tatapan bingungnya. Apa maksud Lisa? Pikirnya.


"Lah jambu?! " cengo Lesya.


Setelah menghabiskan makanan dan minuman yang dibawa Lisa, Lesya duduk bersandar di brankar yang ada. Tiba-tiba saja satu dokter yang bertugas datang ke UKS. Bukan hal yang mengejutkan bagi sang dokter melihat kehadiran Lesya. Sudah biasa baginya jika Lesya datang untuk bolos! Padahal kan Lesya bener-bener lagi sakit, wkwk..


"Bolos lagi kamu Sya? " tanya dokternya.


Lesya mendelik tak terima. Buyaran lamunannya hilang begitu saja mendengar ucapan dokter yang bertugas di UKS. "Enak aja bu, saya beneran sakit nih! Mual lagi. " keluh Lesya menahan rasa sakit perutnya yang ingin memuntah. Dokter tersebut geleng-geleng kepala mendengarnya. Rupanya sakit toh!


"Bisa sakit juga kamu Sya? Yaudah kalau mual pergi ke toilet aja noh ada. " saran dokter itu lalu berjalan santai ke arah ruangannya. Lesya mengangguk pelan saja. Dia juga merasa aneh pada perutnya sekarang ini. Mual, pusing, panas, gemetar? Ini gejala traumanya tapi tak begini juga juga rasanya! Seperti ada yang ganjal di benaknya entah apa itu.


Drrttt..


Lesya merogoh sakunya dan mendapati nomor yang tak dikenal masuk ke dalam ponselnya. Itu seperti nomor Mily. Dia memang tak sengaja membawa ponsel lama bukan barunya. Tentu saja dia menggeser tombol hijau di layar ponsel dan menempelkan ke telinganya.


+6282693****** calling you..


📞 Sya, lo dimana? Gw dikejar nih sama Galang, bokap lo!


📞 Hah?! Serius aunty?


📞 Yakali gw bo'ong! Eh, GALANG?! Apa? Saya cuman minta nomor anak saya bukan niat lain!


📞 WHAT FUC*K?!!


Lesya tentunya kaget karena Galang terlebih dahulu terdengar merebut ponsel Mily. Alhasil dia bingung dengan kata-kata Galang yang meminta nomornya tanpa niat lain pada Mily.


📞 Halo, Sya ini daddy mau minta nomor kamu gak masalah kan? Ada hal penting yang mau daddy omongin sama kamu!

__ADS_1


📞 Daddy? Idih, kalau mau minta nomor gw jangan minta aunty masuk geng abdrul lo itu, paham? *mengancam


📞 Iya, gak ada yang mau maksa dia kok!


📞Terserah lo!


Tuuttt!


Lesya berdecak malas mendengar panggilan lagi yang masuk di ponselnya. Dia yakin Galang sudah mengirim nomornya melalui ponsel Mily dengan cepat. Terpaksa Lesya harus mengangkat telepon dari nomor yang tak dia kenal itu.


+6281279****** calling you..


📞 Halo, gak usah basa-basi!


📞 Istri saya lagi ngidam! Dia minta ketemuan sama kamu juga adik kamu.


📞 Ogah!


📞 Lesya?! Please bantu saya, istri saya udah marah-marah di rumah minta ketemuan sama kamu!


📞 And than, I don't care..


📞 Hahh, bunda kamu kalau saya mainin enak gak ya?


📞 Bangs*t lo njing! Kirim alamatnya keburu gw tolak!


📞 Ma---


Tuutttt!


Lesya dengan kesalnya menutup sambungan telepon. Malas dia berbicara dengan Galang yang mengancam dengan nama bundanya. Berdecak malas, Lesya beranjak pergi dari sana setelah pamit kepada dokter yang bertugas di sana. Pesan dari Galang yang mengirim lokasi sudah terkirim di ponsel Lesya.

__ADS_1


* Aelah, males banget sum-pah ketemu tuh orang! Kalau sendiri gw masih bisa maklum, lah ini pake nyuruh Letha ngikut. Males nanti gw di sana ketemu istrinya lagi ck, sial*n! * batin Lesya berdecak malas.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2