
Lesya tersenyum sumigrah saat tiba di kediaman Grey. Dia memarkirkan di halaman depan dan turun dengan senang hati.
Dia bisa lihat mobil Elvan mulai memasuki perkarangan kediaman Grey. Dia menatap sekilas Elvan yang turun dari mobilnya.
Sedetik pandangan mereka bertemu hingga Lesya mengalihkan pandangannya dari sana. Dia langsung masuk begitu saja meninggalkan Elvan.
Lesya yang tiba di kamar langsung saja masuk dan segera beranjak membersihkan dirinya. Hari sudah sore, entah apa yang membuat Lesya betah tinggal di sekolah lama-lama adalah suasana yang sepi!
Dapat dibilang jika Lesya adalah pecinta suasana yang sepi dikarenakan dirinya dapat menikmati hembusan angin tanpa adanya orang lain.
Elvan yang baru saja masuk mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi. Dia meletakkan tas nya di atas meja belajarnya dan mengisi baterai ponsel nya.
Dia menoleh ke arah Lesya yang keluar dengan menggunakan baju piyama kemeja tidur. Lesya segera merebahkan dirinya di kasur.
Giliran Elvan yang membersihkan dirinya. Lesya hanya menatap sekilas. Entah kenapa dia kepikiran dengan dua foto yang dilihatnya tadi.
"Udah Cha! Jangan dipikirin! Anggap aja gak ada apa-apa! " gumam Lesya.
Ting!!
Ponsel milik Lesya berbunyi nyaring. Lesya mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel nya.
Rupanya nomor yang tak dikenal nya yang mengirimnya sebuah pesan. Lesya bingung sendiri. Siapa dia? Hingga kenal dengan dirinya?
📩+62812********
P
Sya...
^^^📩Lesya^^^
^^^Siapa?^^^
📩+62812********
Elena sya..
Lesya bingung dari mana Elena mendapatkan nomornya. Yang dia inget hanya Angga, Mayang, dan Elvan yang mempunyai nomornya.
Tapi dia tetap menyimpan nomor Elena di kontaknya. Tapi, dia sempat terkejut dengan Elena yang langsung memblokir nya.
Lesya juga mengingat jika dia dan Elena sudah pernah bertukar nomor ponsel. Lesya sadar jika itu hanyalah teror-an lagi.
__ADS_1
Dia mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya. Elvan yang baru saja selesai mandi, menatap bingung Lesya yang duduk di ranjang.
Dia berjalan ke arah Lesya dan melirik ponsel Lesya yang masih menyala. Dapat dia baca pesan tersebut yang mengakui jika dirinya Elena.
Dengan cepat Lesya yang menyadari keberadaan Elvan yang membaca pesannya menutup ponsel nya, "Lo udah baca? "
Elvan mengangguk pelan. Dia mengambil kembali ponsel Lesya dan mengetik nomor Elena yang baru.
"Nah! " Lesya menerima itu. Dia melihat nomor Elena sudah masuk di kontaknya, "Nomor kak Elena udh ganti? "
Elvan mengangguk saja. Dia berjalan ke arah kulkas yang ada di sana. Tangan-nya terulur mengambil dua minuman kaleng dingin di sana.
Dia berbalik dan menghampiri Lesya yang berada di ranjang. Lesya yang melihat minuman kesukaannya ada di tangan Elvan mengulurkan tangannya, "Bagi! "
Elvan menyodorkan satu minuman kaleng tersebut kepada Lesya. Lesya yang melihat sikap baik Elvan bingung sendiri.
Saat dirinya ingin mengambil kaleng tersebut, rupanya Elvan mengangkatnya lebih tinggi. Sontak Lesya tersadar dengan akal-akalan Elvan.
Dia turun dari ranjang dan berusaha menggapai minumannya itu. Nihil! Justru Elvan malah berdiri di ranjang dan mengangkat minumannya.
"Ish! Mana kagak! " Lesya kembali berdiri di ranjang dan berusaha menggapainya.
Dia tak sadar jika tangannya tergulung di leher Elvan. Saat dirinya melompat, tak sengaja dirinya terjatuh hingga Elvan juga ikut terjatuh.
Lesya terdiam tak percaya dengan posisinya sekarang ini. Elvan yang lebih tinggi dari Lesya, tanpa sengaja menci*m kening Lesya lama. Hal ini sudah terjadi dua kali bagi Lesya.
Jujur saja Elvan sempat terkejut sejenak dan bersikap biasa saja. Tapi tidak dengan Lesya yang terdiam kaku. Bahkan tangan Lesya masih terggulung di leher Elvan.
Elvan melepaskan bibirnya yang menempel di kening Lesya dan beranjak terduduk di ranjang. Begitu juga dengan Lesya karena tanpa sengaja dia masih menggulung-kan tangannya.
"Eeh, maap! " spontan Lesya melepaskan galung-an tangannya. Elvan tersenyum tipis dan membuka satu kaleng strawberry.
Lesya yang melihat minuman kesukaannya dibuka memelas, "Bagi pan!" ucapnya mengulurkan tangannya.
Elvan memberikan minuman strawberry itu kepada Lesya. Dia juga membuka minuman kaleng miliknya. Coca cola kesukaan Elvan!
Mereka meneguk minuman mereka masing-masing. Elvan melirik Lesya yang masih meneguk minumannya, "Emang enak? "
Lesya mengangguk, "Cobain aja kalo mau" ucapnya menyodorkan minuman kesukaannya itu.
Elvan langsung mengambil minuman kaleng itu dari tangan Lesya. Dia langsung meneguk sedikit minuman tersebut.
Lesya melotot, "Pan. . . " Elvan menoleh dan langsung memberikan minuman kaleng tersebut kepada Lesya, "Kenapa? "
__ADS_1
"Ini kan bekas gw minum pan! " Elvan mengangguk. Dia tahu jika dirinya meminum bekas dari mulut Lesya, "Hm. Trus? "
Lesya memukul lengan Elvan, "Pake nanya! " sewot nya. Elvan tak meringis. Pukulan Lesya rasanya tak berasa sama sekali, "Gak papa! Manis kok"
Lesya terdiam sendiri. Dirinya merasa aneh mendengar ucapan Elvan yang menyebutnya manis. Elvan menepuk pundak Lesya pelan, "Oy! "
Lesya tersadar, "Ha? Apa? " polosnya. Elvan tersenyum tipis. Dia tahu jika Lesya membegong-kan ucapannya barusan.
"Ke bawah! Makan! " Elvan beranjak dari ranjang dan melangkahkan kakinya ke ruang makan.
Lesya mencibir, "Heran gw! Dikit-dikit baik, dikit-dikit datar, dikit-dikit ngeselin! Kek bunglon! " cibir Lesya beranjak ke ruang makan.
...~o0o~...
Lesya dan Elvan menikmati hidangan yang ada. Suasana di sana sepi karena mereka sibuk melahap makanan mereka.
"Pan, lo udh kagak alergi lagi kan? " Elvan menggeleng, "Alergi gw masih ada" datarnya.
"Maksud gw, lo itu udah enakkan belom?! " tanya Lesya sedikit kesal. Elvan mengangguk saja.
Lesya kembali angkat bicara, "Tadi itu beneran lo? " Elvan melirik Lesya sekilas, "Yang? "
"Nembak itu loh! " Elvan memberhentikan makannya dan mengangguk, "Kenapa? Takut? " Lesya menggeleng kecil.
"Enggak sih! Cuman sedikit" bohongnya. Elvan mangut-mangut mengerti saja. Tak tahu saja Elvan jika Lesya adalah Queen Ellion!
Data yang kemarin hanya tentang sebagian data Lesya bukan seluruhnya! Karena seluruhnya, dipegang kendali oleh Lesya sendiri!
Elvan menyendokkan satu sendok ke mulutnya, "Lo besok ikut? " Lesya mengangguk kecil, "He'em! Kalo gw kagak ikut, sia-sia makanannya! "
Elvan menatap Lesya tak percaya saja. Dia tahu itu hanya akal-akalan Lesya saja. Jujur saja, jika itu benar akal-akalan Lesya.
Sejujurnya, Lesya tak ingin datang ke acara karena dipastikan Vannya akan mencari masalah dengannya.
Namun, bagaimana lagi? Jika dia tak datang, Letha pasti akan dijadikan korban oleh Vannya! Jadi, dia datang saja ke acara sekaligus menjaga adiknya itu!
Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar dan melakukan aktivitas mereka. Elvan yang belajar dan mengerjakan tugasnya.
Sementara Lesya memainkan games online seperti Mobile Legends dan Free Fire. Dia sama sekali tak menyentuh bukunya.
Setelah selesai, mereka tertidur di ranjang dengan tiga bantal pemisah. Kira-kira pukul jam setengah dua belas mereka baru tertidur.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1