Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
151: Ngantuk!


__ADS_3

Lesya menyatukan jari telunjuk dan jempol nya membentuk huruf 'O' sebagai jawaban menanggapi penuturan pak Raka. Praktek kembali dimulai, Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal di saat tak mengerti cara kerja praktek. "Kimia bangs*t njem! " gumamnya kecil hampir tak terdengar.


Lilin sudah nyala, mangkuk besi tak dapat berdiri di atas lilin tersebut hingga Lesya frustasi memikirkan caranya. Tiba-tiba saja, satu tangan terulur memegang tangan Lesya dan tangan yang satunya memegang ujung mangkok.


"Eh? " Lesya berbalik dan terkejut melihat jarak dirinya dan Elvan lumayan dekat. Yap! Elvan sudah malas melihat Lesya yang tertinggal jauh cara tugas praktek. "Ekhem! " Lesya melirik Luna yang berdehem keras hingga mereka menjadi pusat perhatian.


"Ohok! Ternyata ada yang lebih jago uwu-uwu di depan gw! " cibir Luna. Lesya yang kembali menatap Luna memutar bola matanya malas. "Iri? Noh Valen stoknya! " santai Lesya menunjuk Valen dengan dagunya.


Valen yang disebut menatap dan menjauhkan diri dari Luna. "Gw? Sama dia? Iuhh! Gak level! " ucap Luna. Valen memasang tampang jij*knya. "Siapa juga yang mau sama lo? "


Lisa ikutan mencibir Luna. "Ya kasian gak laku! Kayanya cantik! " Luna memutar bola matanya malas. "Lanjutin uwu nya! Btw serasi demi alex! " Lesya menjauhkan tangannya melepas pegangan Elvan. "Gw sama dia? Hoekk! Bukan tipe gw! "


"Trus tipe lo siapa Sya? " Lesya berpikir sejenak. "Gw dah pernah bilang! Yang pasti bisa nafas, kagak dingin, yang terutama harus laki-laki! " Luna menoyor kepala Lesya kecil. "Emang lakikkk echhaa! "


Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal itu. "Lah iya ya?! " molog Lesya. Pak Raka berdehem kembali sudah mulai frustasi mendengar suara ribut dari meja pojok karena ulah Lesya dan Luna saja. "Ekhem! Sudah jangan ribut atau mau bapak hukum? "


Mulai kembali fokus praktek, Lesya masih tak mengerti cara kerja yang diajarkan oleh pak Raka kembali. "Ck! " Elvan kembali menahan tangan Lesya dan memegang kembali ujung mangkok.


"Gini? " tanya Lesya melirik sekilas Elvan. Elvan mengangguk dan mengambil sabun padat yang ada dan memasukkannya ke dalam mangkuk berisi beberapa es batu dan air.


Seketika sabun tersebut menghasilkan suara yang membuat Lesya terkejut hingga melepas mangkuk. "Aaanj--- Emmm! " Tahu arah pembicaraan, Elvan dengan cepat menutup mulut Lesya dengan tangannya.


Banyak pasang mata kembali menoleh dan terkejut melihat mulut Lesya yang dibekap oleh Elvan. Kutub disatukan dengan api? Pikir mereka.

__ADS_1


Letha melotot tak percaya diikuti Nayla dan Amel yang berada di samping nya. "Nay, cubit gw! Arhh! Nyata! " ringis Letha saat dirinya justru mencubit diri sendiri.


"Gak mungkin! " gumam Letha serak tak terdengar. Dirinya yang sudah lama bahkan hingga 3 tahun mengejar Elvan sama sekali tak pernah sedekat itu.


Kembali kepada Lesya yang menatap wajah Elvan dekat. Merasa kehabisan nafas, Lesya menepuk punggung tangan Elvan dan akhirnya menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. "Ngapa lo? " tanya Luna dengan kagetan Lesya tadi.


"Kaget gw sama suaranya njir! " Lesya mengusap wajahnya dan menoleh ke arah pak Raka yang memanggil dirinya. "Lesyaa! "


Lesya menutup kupingnya mendengar ceramahan yang  sangat malas dia dengar. "Ini udah ketiga kalinya kamu ngerusuh di kelas saya! Kamu tau? Anak-anak lain terganggu tiga kali berturut-turut! Saya gak mau tau bersihin lapangan sekarang! "


Lesya melotot dan melirik jam tangannya. Terlintas ide di benaknya seraya mengulur waktu. "Lah kok gitu pak? Bapak gak kasian nanti saya bersihin, nanti kotor lagi! Mending gak usah pak! " usul Lesya.


Pak Raka menggeleng dan melotot mendengar bunyi bell sudah berbunyi. Lesya tertawa kecil dan menarik Luna pergi dari laboratorium. "Byee pak Raka! " kompak Lesya diiringi tawa dari Luna yang baru paham alur sahabatnya itu.


"Lah? Oy tunggu gw! " Leon menarik pergelangan tangan Lisa dan menyusul dua sahabatnya itu yang kelakuannya membuat orang lain pusing kepala. "Pusing saya hadepin nya! " gerutu pak Raka memijit keningnya.


Elvan sama sekali tak peduli dirinya menjadi topik pembicaraan. "Van, tuh anak(Lesya) kagak dihukum? " Elvan menatap Valen lalu menggeleng sebagai jawaban. "Udah biasa! " Valen mangut-mangut paham saja.


"Trus ini siapa yang beresin? " Amanda yang menyimak pembicaraan akhirnya angkat suara. "Gw aja! Semua biar gw yang beresin! " Valen menatap Elvan yang masih terdiam seolah meminta jawaban. "Terserah! "


Dengan cepat Elvan berlalu pergi diikuti Valen yang mengikutinya. Amanda hanya menatap kepergian ketua dan wakil ketua OSIS itu. "Kalo bukan buat ambil hati lo, gw juga ogah kali! " gerutunya.


Di saat satu siswa terlewat, Amanda dengan cepat menahannya. "Eeeh! Boleh minta tolong gak? " Siswa tersebut mengangguk sebagai jawaban. "M-minta tolong apa? "

__ADS_1


Amanda tersenyum miring. "Nah tolong simpanin! Semuanya! Jangan sampe ada yang kotor! Kotor dikit, lo. . . " Siswa itu meneguk salivanya melihat Amanda mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan ke arah jidat dirinya.


Akhirnya Amanda keluar meninggalkan siswa tersebut dan menyembunyikan pistolnya. Beruntung tak ada yang berada di laboratorium saat ini kecuali siswa tersebut. "Ck! " gumam Amanda melirik ponselnya yang berisi notifikasi.


~o0o~


Lesya sama sekali tak makan di kantin saat ini. Tak ada angin ataupun hujan, Lesya sama sekali tak ada semangat. Bahkan untuk duduk saja terasa sulit baginya.


Mulut Lesya ingin sekali memuntahkan isi perut yang tadi dia makan. Kepala nya terasa pusing berdenyut. Hingga Luna yang melihat wajah pucat Lesya melotot. "Omaigad! Sya, lo sakit ya? Demi apa muka lo pucet! "


Leon dan Lisa melirik Lesya yang membenamkan wajahnya di meja kantin. Karena menghadap sebelah, alhasil sedikit wajah Lesya terlihat sedikit. "Bukannya tadi lo sehat aja ya? "


Lesya menggeleng. "Gw gak papa! " lirihnya pelan. Lisa menyenggol Luna yang disebelahnya sementara Leon berada di samping Lesya. "Pstt! Oy si kacang ngapa sih? "


Luna menggeleng tak tahu. "Mana gw tau! Kalo gw tau, gw gak nanya kali! " Leon menempelkan telunjuknya ke arah bibirnya. "Shhuut! Diem! "


"Sya, lo serius gak papa? " Lesya mengangguk dan mendongkak duduk tegap. "Gw mau tidur ke UKS dah! Ngantuk! " kata Lesya yang tak sanggup menahan kantuk nya.


Leon dan Luna hanya membiarkan saja. Berbeda dengan Lisa yang justru hendak mengoceh. Namun dengan tanggap Luna memasukkan satu roti ke dalam mulut Lisa hingga Lesya dapat kabur dari ocehhan Lisa.


Tidur? Hal yang penting dilakukan untuk setiap manusia salah satunya Lesya. Jika kekurangan waktu tidur, kesehatan dapat terganggu. Begitu yang dialami Lesya saat ini yang memang kekurangan tidur.


Kemarin malam, Lesya menghabiskan waktu mandi yang cukup lama ditambah angin malam yang menerpa dirinya saat di balkon. Elvan yang baru saja pulang membantu Angga mengurus masalah perusahaan hingga malam hari pukul 9 malam, menyuruh Lesya agar cepat tidur saat itu.

__ADS_1


"Huuaahhh! Ngantukk njem! " gumam Lesya setelah tiba di UKS dan merebahkan dirinya di salah satu kasur yang ada.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2