Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
26: Keributan


__ADS_3

Matahari sudah memancarkan sinarnya. Kali ini Elvan sudah selesai melakukan ritual mandinya dan membuka gorden serta jendela kamar. Lesya masih terlelap hingga suara dering ponselnya mengangetkannya.


drrttt.... drrttt...


Lesya mengulurkan tangannya mencapai asal suara tanpa membuka mata cantiknya. Lesya membuka satu matanya dan tertera nomor yang tak dikenalnya.


Dengan cepat Lesya membanting ponselnya ke bawah dengan kasar. Lesya terbangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia sama sekali tak peduli dengan pecahan ponselnya.


Di dalam handphonenya sama sekali tak ada yang penting. Lesya hanya mengambil nomornya dan membiarkan begitu saja.


Elvan hanya melirik sekilas dan mengarahkan pandangannya ke arah langit pagi. Dia sedang berdiri di balkon kamarnya. Tangannya memegang pagar balkon kamarnya.


Tak butuh waktu lama Lesya keluar dengan celana cargo dan atasan hijau lumutnya. Lesya keluar dan menatap bingung ke arah Elvan yang tumbenan tak memainkan laptopnya.


"Pan, gw izin keluar ya. Jangan khawatirin gw" pamit Lesya. Elvan menoleh. Dia melihat punggung Lesya yang menjauh dan tak terlihat.


drrttt... drrttt...


Elvan mengangkat telefon nya. Rupanya Valen mengajak dirinya ke cafe tongkrongannya. Elvan memutuskan sambungan telefon setelah menyetujui ajakkan Valen.


Elvan bersiap dengan atasan oblong putih, celana jeans dan jaket yang berbuat jeans. Setelah pamit kepada Bunda Mayang, Elvan membawa mobilnya menuju cafe tongkrongannya.


Setelah berkendara membelah keramaian jalanan kota, Elvan sampai di cafe tongkrongannya sekaligus tempat bisnisnya. Hanya keempat temannya saja yang tau jika cafe tersebut miliknya.


Elvan berjalan ke arah meja VVIP dan menemui keempat temannya yang sudah berkumpul.


Ada Valentino Clarence, dia waketos sekolah GG. Dia cukup populer karena ketampanannya. Walaupun begitu, dia rivalnya Luna. Cukup cerewet dan terkadang tak berani menatap mata tajam Lesya yang seperti ingin memangsanya.


Selain itu ada Farellio Vlorans, kapten basket yang cukup populer karena kemanisan nya jika tersenyum. Dia lumayan kalem dan dia merupakan anggota OSIS. Dia menyukai satu siswi sekolah GG namun dia pendam.


Ada juga Kenneth Dayfino, sekretaris yang populer dengan ketampanannya. Selain itu, dia merupakan pemikat hati wanita biasa disebut dengan playboy. Banyak wanita yang sudah menjadi mantannya.


Yang terakhir, ada Frans Aboriza. Anggota OSIS yang memiliki tampang badboy nya. Walaupun demikian, Frans merupakan orang yang paling dewasa pemikirannya di antara mereka semua.


Elvan duduk di bangkunya dan meletakkan laptopnya di meja. Dia menyalakan dan memulai mengerjakan bisnisnya.


"Gak pesen minum dulu El? " tanya Frans. Elvan mengangguk menyetujui ide Frans.


"Boleh, boba aja" Valen segera menghubungi pelayan supaya ada yang mengantarkan pesanan Elvan ke ruangan.


Sementara di sisi Lesya, Lesya sudah selesai mencuci piring hingga bersih. Bertumpuk-tumpuk piring yang dia kerjakan akhirnya selesai.

__ADS_1


Dia izin pulang karena jadwalnya sudah selesai. Sebelum dia pulang, Lesya dipanggil oleh kepala pelayan yang baru saja di telefon oleh Valen.


"Sebentar, ini gaji kamu yang bulan lalu. Oh iya, ini tolong antarkan ke ruang VVIP 1 ya" Lesya menerima satu amplop hasil kerjanya.


Dia mengangguk setelah diberikan nampan yang berisi boba yang lumer hingga membuatnya mengiler. Namun dia sadar jika itu milik orang lain bukan dirinya.


Lesya menyimpan amplop di sakunya dan mengangkat nampan. Dia berjalan menuju ruangan VVIP 1 sesuai pesanan.


Canda dan tawa dihasilkan di ruangan VVIP 1. Semua karena berkat candaan dari Valen dan Kenneth. Frans dan Farel hanya menanggapi sekali-sekali saja.


Lesya bingung, ada apa di dalam hingga suasana ramai seperti itu? Pikirnya. Namun semua ditepis nya karena dia harus mengantarkan pesanan bukan mengikut campurkan masalah orang lain.


tok... tok... tok..


Lesya mengetuk pintu dan ternyata dibukakan oleh Valen. Lesya terkejut dengan orang yang membuka pintu. Sedetik dia tersadar setelah selesai mengantarkan pesanan, dia akan segera pulang.


"Loh-loh, troublemaker in school ada gerangan apa ke sini? " tanya Valen sedikit mengejek Lesya.


Lesya menginjak kaki Valen dan tersenyum penuh makna, "Gw kerja gak kayak lo yang nganggur! "


"Argh! Huh, galak banget si mbak! " Lesya mengacuhkan omongan Valen yang tak berunfaedah. Dia melepaskan kakinya yang menginjak Valen.


Elvan, Farel, Kenneth, dan Frans terkejut dengan kedatangan Lesya. Bahkan sempat-sempatnya membuat onar.


" 'KETOS' boba lo udah nyampe dianter sama troublemaker in school" Elvan melirik Valen yang tampak mengejek Lesya.


"Bawa ke dalem! " datar Elvan lalu fokus ke dalam tugasnya.


Lesya gelagapan. Dia tak tahu jika boba yang dia bawa milik Elvan. Namun saat dirinya ingin masuk, namanya dipanggil oleh satu musuhnya.


"Woy chili! " ucap orang itu. Lesya geram namanya berubah menjadi chili.


Lesya berbalik dan tersenyum semanis mungkin, "Apa sih gorila?! " ledek nya.


Gloria yang biasa dipanggil Ria geram dengan panggilan Lesya terhadapnya. Valen hanya masuk dan menyaksikan perdebatan di cafe sahabatnya itu.


Tak lupa dengan Kenneth, Frans, Farel dan Elvan ikut menyaksikan perdebatan yang akan terjadi.


Gloria tetap tenang karena dia tahu dirinya sedang ditatap oleh pemilik cafe. Lesya tahu jika dia ditatap oleh Elvan dkk. Namun dia tak peduli mau dirinya dihukum apa tidak.


"Lo kenapa baru dateng heng? Bukannya harusnya kemarin ya? " polos Ria.

__ADS_1


Lesya menyunggingkan senyumnya. Dia masih setia memegang nampan di tangannya, "Bukannya gw udah izin ya? Dan gw juga udah nuker shift kerja gw"


Ria terdiam. Dirinya kalah telak namun dia tak pantang mundur. Dia sebagai atasan Lesya ingin Lesya segera mengundurkan dirinya.


"Tapi kenapa lo gak izin sama gw? " tanya Ria berusaha sabar.


"Buat apa gw izin sama lo? Sementara gw udah izin sama yang lebih teratas dibandingkan lo? " lugu Lesya.


Si*lnya, Ria tersulut emosi. Dia menjambak rambut Lesya ke belakang hingga nampan yang Lesya pengang terjatuh dan pecah. Lesya menjambak rambut Ria hingga tak sadar dirinya mengenai serpihan kaca.


Lesya tak suka jika tubuhnya disentuh orang asing. Lesya menjambak rambut panjang Ria hingga rontok ke bawah.


"Stop! Ini tempat kerja bukan berantem! Kayak anak kecil tau gak?! " Lesya melepaskan jambakkannya dan mendorong Ria ke belakang.


Ria terduduk lemas memegang kepalanya yang berdenyut. Lesya menggelengkan kepalanya dan menatap serpihan kaca. Dia membereskan serpihan kaca dan membawa ke tempat sampah.


Namun saat dia ingin berjalan, suara bariton Elvan menghentikan langkah Lesya, "Ikut gw! "


Lesya mendengus. Dia harus mengikuti Elvan dari belakang.


Satu pelayan mengambil alih nampan dan membersihkan bekas tumpahan boba milik Elvan.


...~o0o~...


Elvan menatap tajam gadis di depannya ini. Otaknya pusing memikirkan hukuman yang pas untuk gadis pembuat onar itu. Lesya santai-santai saja berdiri seraya melihat kukunya dan memainkan kakinya.


"Ngapain lo ke sini? " tanya Elvan seperti nada biasanya.


Lesya menunjuk dirinya sendiri, "Gw? Kerja lah!" jujurnya.


"Emang kayak lo yang nganggur? " lanjut Lesya bergumam.


Elvan menyunggingkan senyum miringnya, "Lo tau ini tempat siapa? " Lesya menggeleng.


"Cafe gw! Dan lo bikin udah masalah di cafe gw" tajam Elvan.


Lesya terkejut. Cafe yang ramai pengunjungnya milik Elvan?


"Dan lo udah ngehancurin barang gw! " Lesya menunduk.


Dia tak takut dengan Elvan namun ini memang kesalahannya yang tak sengaja melepaskan nampan akibat dijambak oleh Ria.

__ADS_1


Jujur saja, Elvan tak masalah dengan barangnya. Namun dia menyayangi barang itu karena barang pertama yang dia beli dari hasil kerja kerasnya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2