
Elvan menghela nafas dan akhirnya mengiyakan ucapan Lesya. "Oke! Dengan satu syarat! " Wajah Lesya masam bak lemon. "Gak seru lo mainnya syarat-syaratan! "
"Gak ada yang gratis di dunia! " Lesya menyenye malas dan bertanya apa syarat Elvan. "Nye nye nye! Yaudah apa? " tanya Lesya sukses membuat Elvan tersenyum miring.
Lesya yang menyadari senyum miring Elvan bergidik ngeri sendirinya. "Jangan macam-macam lo! " ancam nya. Elvan menggeleng dan mengeluarkan satu pakaian dari lacinya. "Pake! "
Mata Lesya membulat sempurna melihat barang yang diambil oleh Elvan. "Nih! " Lesya mengangga tak percaya. "What the fck?! Lo nyuruh gw make itu? " Elvan mengangguk tanpa dosanya.
Lesya menatap kesal Elvan dan akhirnya mengambil barang itu. Entah apa barang yang membuat Lesya kesal, yang pasti Elvan hanya berniat mengerjai Lesya saja.
"Ganti di mana?! " Elvan menunjuk arah kamar mandi pribadinya yang berada di dalam ruangannya itu. Lesya menghentakkan kakinya berjalan dan menenteng barang pemberian Elvan.
Karena kesal, Lesya membuka dan menutup kasar pintu kamar mandi tersebut. "Kena lo! " gumam Elvan lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.
Beberapa waktu terselang, akhirnya suara pintu terbuka terdengar di ruangan tersebut. Elvan mengedarkan pandangannya ke arah sumber dan mendapati Lesya yang terlihat imut dengan bibir yang dimoyongkan.
Mata Elvan tampak tak berkedip melihat penampilan Lesya saat ini. Tadi, dia memberikan costum bergambar beruang cokelat kepada Lesya dilengkapi dengan sarung tangannya. Imut!
Lesya menepuk tangannya keras di depan wajah Elvan yang melamun. "Oyyy! Lah ngapa lo?! " Elvan tersadar dan menggeleng singkat saja. "Gak! "
Lesya menarik turunkan alisnya berniat menggoda Elvan. "Oh... Gw tau! Lo pasti terpesona sama kecantikan alami dari seorang Aleesya kan? " Elvan menggeleng. "Enggak! Lo gak cantik! "
Lesya memutar bola matanya malas. Senyum yang dia ukir luntur begitu saja. Entah mengapa hatinya ingin jika Elvan menjawab iya. "Cuman orang bu-ta yang bilang gw gak cantik! Itu pun satu persen doang! "
"Lo gak cantik! Tapi. . . " Lesya mengerutkan keningnya heran dengan Elvan yang sengaja menjeda ucapannya. "Tapi? Tapi apa? " tanya Lesya.
__ADS_1
Elvan mendekatkan wajahnya ke samping telinga Lesya hingga Lesya dapat mendengar nafas Elvan. "Imut! " bisiknya kecil. Lesya terdiam dan telinganya memerah mendengarnya.
Elvan kembali berdiri menatap Lesya yang tak bergeming. Tangannya terulur mengambil ponselnya dan memotret Lesya lagi. Seulas senyum tipis terbit terukir di sudut bibir Elvan.
Di saat Lesya tersadar, dengan cepat Elvan menutup ponselnya dan menetralkan wajahnya. "L-lo? Lo foto gw ya?! " Rasa gugup Lesya lenyap dengan suara ngegasnya seperti biasanya.
Elvan menggeleng sebagai jawaban tanpa satu kata patah pun. Dia menyimpan ponselnya di saku celana dan melirik Lesya yang menatap kesal arahnya. "Ganti lagi! "
Mulut Lesya tercengang kaget. Baru saja dia gunakan sudah disuruh ganti? Kini dia tahu jika Elvan hanya dikerjai oleh pria di depannya ini saja. "Lo? Lo ngerjain gw ya?! Sial*n! Is! "
Lesya memukul pukul dada bidang Elvan tiga kali dan berlalu pergi ke kamar mandi. Elvan yang dipukul, tak merasa sakit sama sekali. "Lah? " gumamnya kembali mengerjakan pekerjaan nya.
~o0o~
Siang yang panas sudah sedikit reda karena menjelang sore. Lesya yang sudah selesai mengerjakan pekerjaan nya menghela nafas. Saat ini dirinya berada di dapur cafe. "Huft! "
Lesya mengangguk dan melipat tangannya di dada. "It's ok! But, your way is wrong! Harusnya lo gak nekat korupsi uang modal cafe! " Setelah berucap itu, Lesya pergi meninggalkan orang tersebut.
Orang tersebut terdiam dan menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal bukan karena dia merasa semakin bersalah. Namun karena dia tak paham dengan kalimat Inggris Lesya tadi. "Yang pertama dia ngomong apa ya? " gumamnya bingung.
Lesya yang berjalan keluar dari cafe milik Elvan tak sengaja bertemu dengan ke empat kawan suaminya yang hendak berjalan masuk. "Kalian?! "
"Yo.. Penyebab kita libur ada di depan mata guys! " sindir Ken menatap ketiga temannya. Lesya memutar bola matanya malas. "Gak peduli! Bye"
Lesya meninggalkan keempat kawan Elvan itu di pintu masuk dan tanpa sengaja bertemu dengan Letha, adiknya. "Tha? " Letha menarik tangan Lesya masuk ke dalam taxi yang terlintas.
__ADS_1
"Kenapa? Kok ke sini? " Letha menatap kesal Lesya yang masih dapat bertanya santai padanya. "Hape lo aktif gak sih?! " kesal Letha di dalam taxi.
Lesya mengangguk. "Aktif! Ngapa? " Letha berdecak kesal mendengarnya. "Lo kenapa sih ditelfon gak diangkat?! Lo tau gak mami sakit?! Dan lo sebagai anak malah kelayapan gak jelas!! Lo tau gak kalo mami sakit?! "
Lesya tersentak membulatkan matanya mendengar jika sang mami nya sakit. Mami nya sakit? Mengapa tak ada kabar dari anak buahnya? Pikir Lesya menerawang.
"Ma-mami sakit? " Letha berdecak malas. "Iya! Gw gak punya waktu lagi! Pak tolong pergi ke RS ******* ya! " Supir taxi tersebut mengangguk dan segera melajukan ke arah yang Letha beri.
Lesya menggigit kukunya selama perjalanan. Tak ada pembicaraan antara saudara kembar itu. Hingga tiba di rumah sakit, Lesya mengikuti Letha dari belakang menuju kamar rawat inap Mila.
Ceklek!
"Mami, apa kabar? Baik? Udah mendingan kah? " tanya Letha setelah tiba di kamar inap Mila. Mila mengangguk lemah saja. Pandangannya teralih kepada Lesya yang menatap dirinya dengan pandangan menyipit.
*Ini mami? Mami beneran sakit? Kenapa anak buah gw gak guna sih cari info begini?! Apa mereka mata-matanya? Tapi, gak mungkin! Udah lama mereka gw awasin dan tiba-tiba aja jadi gak becus begini?! * batin Lesya bingung.
"Kak?! " sentak Letha menatap sang kakak yang tengah melamun. Lesya tersadar dan menyapa Mila yang terbaring lemah. "Mami? Mami sakit apa? "
Mila menatap langit-langit kamar inapnya tanpa melihat kedua anak-anaknya. Bayang bayang masa lalunya terlintas begitu saja. Bahkan kenangan dirinya dengan Arga juga ikut terlintas.
Lesya yang seolah paham hanya dengan menatap lekat Mila, mengelus punggung tangan Mila lembut. "Siapa yang bikin mami kayak gini? Biar Lyra hajar orangnya! "
"Mami masih sakit! Jangan ngomong gitu! Sombong amat! Tau gak mami sakit apa? " Lesya menggeleng tak tahu. "Asma! Mami sakit asma! "
Lesya mengerutkan keningnya heran. Kepalanya sedikit menunduk melihat seluruh tubuh Mila yang diperban dengan banyaknya luka. "Kok diperban? "
__ADS_1
Letha menghela nafas panjang. Rupanya sang kembaran tak tahan dengan sikap Lesya. Padahal Lesya hanya bertanya saja. "Mami kemaren kecelakaan! Ada truk lewat terus menimpa mami yang gak sengaja jalan akhirnya masuk rumah sakit! "
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗