
"Ehemm.. A-anu boleh dilanjut? " ucap Valen canggung. Lalu para pemegang saham menoleh dan mengangguk saja. Mereka satu per satu akhirnya memperkenalkan diri dengan beberapa sorakan dari para siswa-siswi. Dan Lesya juga dapat mendengar bisikan-bisikan para siswa-siswi yang menyangkut nama dirinya yang terseret.
"Lo ngomong lagi gw cabut gigi lo nyampe mamp*s, mau lo hah?! " ketus Lesya berbalik ke belakang. Siswa-siswi itu menggeleng cepat dan diam saja menutup mulutnya. Sella yang melihat hanya geleng kepala saja.
"Kamu tuh ya..." geleng Sella.
"Cantik kan tan? " tanya Lesya mengibaskan rambutnya percaya diri. Sella terkekeh mendengarnya. Dalam lubuk hatinya dia sangat menunggu kata-kata gelar 'mommy' dapat Lesya ucapkan untuknya. "Iya deh, percaya kamu paling cantik di sini! " balas Sella.
Lesya hanya tersenyum penuh prcaya diri mendengarnya. Mereka sama-sama menoleh saat Galang yang memperkenalkan diri justru dipertanyakan oleh salah satu calon ketua OSIS. Dan Lesya agak tersentak mendengarnya.
"Mohon bertanya, kenapa wajah anda terlihat mirip dengan salah satu siswi di sana? Bukannya kembaran anda adalah ayah tirinya? Lalu mengapa dia mirip dengan anda? " tanya Rika secara beruntun, salah satu calon OSIS yang berstatus seorang perempuan.
Galang terdiam bingung dengan menatap Lesya yang ditunjuk oleh Rika. Berbeda dengan Lesya yang menatap tajam Rika. Please deh, dia tak ingin semua terkuak di sekolahnya dan mengakibatkan banyaknya tatapan kasian padanya!
"Apa maksud lo sat?! " gumam Lesya kesal.
"Hayoloh, ditanya nih! Mau jawab apa lo eh maksudnya kamu? " ledek Mily dari samping dengan nada sedikit berbisik. Lesya menyenggol sikit Mily dan memberikan senyum paksa padanya. "Liat aja nih jawaban etis gw! " sombong Lesya lalu menetralkan suaranya.
"Ekhemm, ya karena kan gw tuh miripnya dari uncle gw bukan bokap gw! " bohong Lesya tersenyum polos dari bawah. Rika menatap tak percaya ke arah Lesya. Jujur saja jika Rika sangat tak menyukai Lesya yang sok berkuasa di sekolahnya.
"Tapi kan lo anak bokap lo! Dan setelah bokap lo mati bukannya baru nyokap lo nikah lagi? Dan di situ bukannya lo udah lahir? Uncle dari mananya? " tanya Rika cermat. Lesya tersedak salivanya sendiri. Otaknya berpikir mengenai cara jawab yang membuat Rika kalah telak.
* Wah-wah, pinter juga ya nih bocah nyampe niat banget nyelidikin gw segininya! * batin Lesya sedikit bingung harus menjawab apa.
"Dia tu--- "
"Ya karena... Kan bokap gw tuh adeknya mereka! Nah, karena bokap gw udah gak ada jadinya posisi sebagai bokap gw diganti dan jadinya ayah tiri deh! " ceplos Lesya tanpa sadar mengungkapkan sebuah kebenaran. Lesya menutup mulutnya sejenak karena ceroboh jujur di depan banyaknya orang. Kan dia risih!
"Hah? Jadi mereka berdua uncle lo gitu? Lah bukannya keluarga Erthan itu cuman punya dua pewaris ya? Kan yang satu hilang? Trus yang satu lagi pewaris angkat? " tanya Rika lagi dengan polosnya. Namun hal itu membuat tiga sorot kata menatap tajam dia. Siapa lagi kalau bukan Lesya, Galang dan Gilang? Alhasil Rika terdiam melihat ketajaman silet ketiga mata ayah, anak dan uncle itu.
"Ya kan maksud gw yang hilang itu tuh bokap gw sendiri beg*o! Jadi tuh orang yang hilang tuh dulu bokap gw dan papa tiri gw tuh uncle gw sendiri! Maksud gw tuh gimana ya? Eh salah! "
Lesya yang tak sengaja membongkar satu rahasia menutup mulutnya reflek lagi. Tatapan bingung terlempar ke arahnya. Tentu saja dia bersembunyi di balik punggung Sella. Kenapa tak di punggung Mily? Karena Mily sendiri menatapnya bingung.
* Gobl*k, gobl*k, gobl*k! Kan jadi bocor sh-ittt?! Mulut gw gak bisa kompromi! * batin Lesya memejamkan matanya erat.
"A-anu ini boleh lanjut lagi? " canggung Valen karena setiap pengenalan selalu dipotong oleh sebuah keributan. Galang yang melihat Lesya bersembunyi dibalik punggung sang istri hanya menatap tajam Lesya.
"Tan, tan liat tuh suami tante natap saya gitu bener! " bisik Lesya. Sella beralih menatap Galang tajam seolah mengisyaratkan tak boleh demikian lagi dengan Lesya. Tentu saja orang yang bersembunyi itu tertawa pelan dalam hati melihat wajah masam Galang.
__ADS_1
* Hoho.. Emang enak! Aelah lagian mulut lo Sya ember banget! Ngatain anak orang ember tapi lo sendirinya ember, gobl*k sih! * batin Lesya merutuki kebodohannya.
"Tan, Justine mana? " tanya Lesya setelah keluar dari punggung Sella. Sang empu yang ditanya hanya menggeleng pelan. "Dia gak ikut soalnya masih kecil takutnya nanti nangis-nangis kan repot. Lagian dia udah dijaga sama baby sister" ucap Sella menjawab.
Lesya hanya mengangguk paham saja. "Di rumah dong? " tanya Lesya polos. Sella tersenyum kecil dan mengangguk saja. Melihat Lesya yang mengerucutkan bibirnya manyun, Sella dibuat gemes oleh sikap anak tirinya.
"Kalau lo aunty, kapan lahirannya dah? " tanya Lesya beralih pada Mily. Sang empu yang menatap Lesya penuh tanya hanya memicingkan matanya curiga saja. "Lah gw hampir 4 bulan, harusnya nunggu 5 bulanan lagi lah." jawab Mily.
"Ouhhh.. Natapnya jangan gitu dong, dikira gw narapidana! ' sebal Lesya menggerutu. Mily hanya berdecak malas saja dan mengibaskan rambutnya karena panas matahari yang membakar kulitnya.
...〰〰〰〰〰〰〰✍...
Lesya yang sedang duduk santai di kursi pojok tempat dagangnya melotot melihat kedatangan uncle nya dengan pandangan mata yang tajam. Dengan cepat dia berlari kecil dan bersembunyi di bawah meja kolong milik ruang dagang kelasnya. Tentu saja para siswi yang sedang membuat papeda terkejut dan menghentikan pergerakan mereka.
"Sya? " kaget mereka.
Lesya menempelkan jari telunjuknya di bibirnya seolah mengisyaratkan mereka agar diam. Tentu saja teman-teman kelasnya itu terdiam dan tersentak melihat kedatangan Gilang dengan Galang di ruang dagang mereka yang belum selesai mendekorasi total. Ah mereka juga bersama Sella dan Mily juga.
Tok.. tok.. tok..
"Gak usah sembunyi sebelum keseret ke gudang." ucap Gilang mengetuk meja yang di atasnya sudah ada peralatan memasak. Lesya berdecak kesal dan keluar saja. Toh juga kepalanya merasa sakit di tempat yang sempit-sempit begitu.
"Gilang, jangan ditarik?! " peringat Sella lalu beralih menyusul Lesya dan Gilang diikuti oleh Mily dan Galang. Namun sepertinya sang empu nama tak peduli dengan perkataan kakak iparnya.
Kejadian itu dilihat oleh dua kelas di sana. Bahkan Luna dan Lisa yang hendak menyusul tertahan karena dihalangi Leon. Lelaki remaja yang berubah sikap itu, tahu bagaimana kondisi saat ini. Dan mereka pasti membutuhkan waktu bicara. Toh tak jauh-jauh amat, mereka dapat lihat dari jauh karena Gilang membawa Lesya ke depan saja. Eum, lebih tepatnya di balik tembok sekolah saja. Mereka dapat lihat dari jarak mereka sekarang.
Dan kejadian itu juga dilihat oleh Mayang, Angga, Elena, Alam dan Elvan yang hendak mampir sejenak ke ruang dagang di samping kanan sekolah itu. Em, ralat! Ada Arya dan Maurine juga. Sebenarnya mereka sudah keliling hanya tersisa di sana saja mereka belum. Alam yang tak terima melihat Lesya hendak menyusul. Namun suara Leon yang menghentikanya.
"Bang, jangan! " cegah Leon.
Alam menoleh dan mengernyit. "Tapi kalau tangannya merah gimana Yon?! " ucap Alam beralih menatap Leon yang terlihat tenang itu.
"Mereka butuh waktu ngomong bang setelah ceplosan Lesya tadi! " kata Leon bijak. Alam hanya menghela nafasnya saja. Dia beralih melihat Lesya dan akhirnya memilih memantau saja dengan yang lainnya dari jarak jauh.
"Apasih?! " kesal Lesya memberontak dan menghempaskan tangan Gilang kasar. Karena geram ditepis, akhirnya Gilang mengangkat tangannya guna memukul Lesya. Namun sepertinya keponakan ahh bukan, maksudnya anak tirinya melotot menantang seolah tak takut.
"Gilang turunin tangan lo dari anak gw! " peringat Galang setelah datang disertai Sella dan Mily. Dengan cepat Sella membawa Lesya ke sampingnya dibandingkan dihadapi oleh emosi Gilang yang akan mudah meletus-letus.
"Wahh Lang?! Lo sadar gak sih, nih anak sial*n siapa? Bukannya harusnya dia babu lo sekarang? Kenapa lo jadi berubah gini sih?! Karena Sella hah?! Wah-wah, dulu lo sangar sana-sini ngapa sekarang jadi gampang leleh sih? Otak lo dicuci ya sama Sella?! " kesal Gilang menurunkan tangannya dan menatap berontak Galang.
__ADS_1
"Jangan bawa istri gw?! " datar Galang menatap tajam sang kembarannya. Sella yang dilibatkan hanya diam saja dengan tangannya yang sedikit memegang pundak Lesya. Mily di sana beralih menahan tangan Gilang agar tak berbuat sekenanya pada Lesya, keponakannya.
"Nyatanya kan? Tadi dia bawa-bawa Gatara enteng, sekarang ditanya malah gak mau! " kesal Gilang. Lesya menyenye pelan saja tanpa rasa takutnya. Buat apa dia takut? Toh dia pernah diperlakukan layaknya bahan pelampiasan amarah oleh Gilang. Namun itu dulu, sekarang jarang.
"Ohhh? Lo mau tau? Emmm, lo ingat kan dad? Adik lo yang udah dewasa cumen, satu anak kecil menusuk dia dalam keadaan hujan deras. Dan waktu itu, usia adik bungsu lo itu belasan tahun. Dia nikah muda karena satu tragedi bahkan sudah punya anak. Sayangnya dia harus pergi selamanya. Anaknya juga melihat kejadian itu cumen, dia hanya bisa diam karena waktu berjalan terasa lebih cepat. Dan dia meninggal dunia karena tusukan itu? Lo mau tau siapa anaknya? "
Lesya yang muak akhirnya memilih jujur saja. Letih memang memendam segalanya. Dia terlalu banyak memendam perasaan hingga kesehatan mentalnya terkadang terganggu. Terbukti dari mood Lesya yang kadang naik turun.
Pandangan mata mengarah pada Lesya yang menahan matanya yang berkaca-kaca. Bagi Lesya, sulit mengungkapkan ini semua. Namun dia ingat pesan Luna dan Leon yang berkata: 'semua pasti terbongkar pada waktunya.'
Dan mungkin, ini waktunya!
Dia hanya bisa menerima keadaan saja!
Jika fine, okey itu baik.
Dan jika justru menimbulkan rusuh?
Lesya harus dapat terima itu.
"Lo tau? Adik lo yang meninggal, yang punya anak, dan anaknya justru pengen nyusul dia ke surga! Karena perlakuan orang-orang keji yang di depan matanya, KARENA DUNIA GAK ADIL SAMA DIA! Dan lo tau? ORANG ITU GW! GW SENDIRI! " berontak Lesya meminta dilepaskan dari tangan Sella.
"Dan adik kalian yang hilang itu adalah papi! Sadar gak? Pernah baikan gak sama papi? Pernah tau papi dimana dan ngapain? ENGGAK KAN?!! Memang pantes kata-kata orang tua kalian buat kalian berdua! KALIAN GAK PANTES DISEBUT ABANG SAMA PAPI! "
Hah?
Hanya satu kata tak percaya itu membuat Mily, Sella, Galang dan Gilang terkejut. Namun yang lebih terkejutnya adalah dimana Gilang justru menampar Lesya. Namun pandangan mata lelaki itu seperti orang yang sama sekali tak sadar.
Plaaakkk!
Wah?!
Lesya reflek memegang pipinya yang terasa panas. Hatinya bergelojak merasakannya. Gilang, lelaki itu memegang tangannya. Sedetik dia sadar dan seolah menolak semua informasi yang lesya bicarakan. Wajar saja dia menolak karena Lesya berbicara tanpa bukti.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Semoga makin greget oke. Semua bakal terkuak perlahan-lahan. Kalau masih bingung boleh tanya kok di kolom komentar. Ini udah panjaaanggg partnya kayak kereta. Mohon maaf kalau ada salah kata atau ketikan yang kurang mengenakan. Thankss all🌻
__ADS_1