
Lesya menetralkan wajahnya dan turun mengikuti acara makan malam dengan keluarga Grey. Seperti biasanya setelah makan, mereka mengerjakan tugas mereka dan tertidur.
Namun tidak bagi Lesya yang tidak bisa tidur entah kenapa. Dia merasa akan ada sesuatu esok hari. Hingga pukul dini tepatnya jam setengah tiga subuh, Lesya baru tertidur.
Keesokkan harinya, Lesya berdiri hormat tiang bendera. Telat? Yap! Dia merutuki matanya yang tak ingin tertutup semalam.
Bukan hanya Lesya saja namun ada Leon dan Luna yang telat. Hukuman mereka sama, hormat pada tiang bendera. Panas matahari menembus kulit mereka.
Hingga satu satpam dan kurir memberikan paket khusus untuk Lesya. Lesya yang merasa namanya dipanggil menoleh ke arah sumber.
"Nak Lesya ada paket buat kamu nih" ucap pak satpam tersebut. Pak satpam sangat kenal dengan Lesya.
Terkadang Lesya memohon dibukakan gerbang olehnya. Dan Lesya juga merupakan pemanjat pagar belakang yang handal.
"Ha? Buat saya? " Lesya menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. Luna sempat ragu jika paket tersebut untuk Lesya.
"Tapi saya gak mesen paket kok" Luna tersadar dan membisikkan sesuatu di telinga Lesya.
Lesya sempat terkejut dan menetralkan wajahnya kembali., "Mana paketnya? " datarnya.
Leon menyenggol bahu Luna meminta penjelasan. Luna mengkode agar tetap diam dan nanti saja bertanya-nya.
Leon diam saja dan menyaksikan Lesya dengan ragu menerima paket aneh itu. Lesya langsung mengambil dan mengocok-ya. Ringan!
Kira-kira apa isi paket ini? Pikir Luna, Leon, dan Lesya bersamaan. Jika kalian ingin tahu, di sana ada Elvan dkk yang menatap mereka. Tujuan mereka satu, menjaga agar mereka tetap hormat tiang bendera!
Lesya menatap bingung kedua temannya. Dia masih berpikir apakah dia membuka paket atau tidak. Leon mengangguk saja. Dia cukup penasaran dengan isi paket tersebut.
Luna melotot dan menggeleng. Dia takut kejadian akan terulang kembali. Dia memang penasaran. Tapi rasa penasarannya jauh lebih tak penting dibandingkan keselamatan sahabatnya.
Lesya bingung. Di satu sisi dia ingin tahu apa isi paket tersebut. Dan di satu sisi dia tak mau kejadian itu terulang. Cukup sekali saja. Pikir Lesya.
Pak satpam sudah pergi bersama kurir paket. Sebelum pergi, kurir paket mengembangkan senyumnya dibalik maskernya yang cukup ketat.
__ADS_1
Elvan melihat itu. Disebabkan masker yang cukup ketat digunakan oleh kurir, membuatnya peka keadaan apa. Namun dia tak yakin jika kurir itu adalah seseorang yang berada di masa lalu Lesya.
Setelah kurir dan pak satpam benar-benar pergi, Lesya sudah menentukan pilihannya. Dia akan membuka paket misterius tersebut.
Paket itu lumayan besar. Saat dibuka, paket itu terbungkus hingga berlapis-lapis. Lesya membuka semua hingga lapis terakhir.
Luna dan Leon mendekat. Begitu juga dengan Elvan dkk. Namun, Elvan dkk menjaga jarak lumayan jauh. Mereka sangat penasaran dengan isi paket tersebut.
Lesya membuka paket tersebut dan membulatkan matanya. Hanya kertas yang sedikit bersimbah darah setetes. Lesya membalikkan kertas dan membaca isi kertas di dalam hatinya.
"Mami-mu ku culik! Jika ingin mendapatkannya kembali, tukar dengan nyawa adikmu! Alamat ***** atau mami-mu mat*?! " Lesya membaca pesan tersebut dalam hatinya.
Matanya membulat seketika. Benar saja! Kejadian yang sama terulang kembali. Dimana Letha harus dipaksa infus, alat medis lainnya dan nyawanya sekarat.
Untung saja dia hanya koma beberapa minggu. Tetap saja itu membuat Lesya benci akan dalang tersebut. Dia tersenyum jahat dan membiarkan dalang melakukan semaunya.
Maminya? Dia tak peduli. Ada sebuah rencana yang sudah disusun dengan matang-matang oleh Lesya. Lesya meremas kertas dan membuang ke sembarang arah.
"Lagi? " tanya Luna memastikan. Lesya mengangguk kecil. Mata Leon dan Luna membulat seketika, "So, pantau aja? " Lesya mengangguk lagi.
"Serah lo dah Sya! " Percakapan singkat itu selesai. Mereka kembali hormat tiang bendera hingga istirahat tiba.
...~o0o~...
Lesya, Luna, dan Leon kini makan satu meja dengan Letha dkk. Mereka hanya menyimak pembicaraan kecuali Luna yang memang dekat dengan Amel.
Lesya memainkan ponselnya. Letha melihat Lesya hati-hati. Jujur saja, dia ingin berbicara kepada Lesya namun takut. Tatapan tajam Lesya bagaikan elang menurut Letha.
"Ngomong aja" ucap Lesya tanpa mengalihkan pandangannya. Luna yang berbicara dengan Amel dan Nayla terhenti.
Letha menghembuskan nafas gusar, "Kakak kemaren aku ke rumah, kenapa kakak gak ada? "
Lesya terdiam. Tak mungkin dia jujur bukan? Tapi apa sekarang sudah waktunya? Pikir Lesya. Luna dan Leon sama-sama terdiam dengan ucapan Letha.
__ADS_1
Lesya berpikir mencari alasan yang tepat supaya tak ditanya lagi. Luna yang sudah menemukan jawaban, angkat suara.
"Seminggu ini, Lesya nginep di rumah gw" bohongnya. Lesya melotot dan menghembuskan nafas lega melihat Letha mengiyakan saja.
Luna memang dapat diandalkan kapanpun. Dia bersyukur mempunyai teman yang rada sint*ng dan rada pinter seperti Luna. Pikir Lesya.
Lesya menaikkan jempolnya ke atas kepada Luna. Tentunya dari bawah kolong meja. Posisi mereka bersebelahan jadi mudah.
Luna tersenyum dan mengangguk mengiyakan kode-an Lesya. Kebanyakkan kode! Leon menggelengkan kepalanya.
Luna pinter sekali mencari alasan. Bahkan di saat mereka perang sekalipun, dia mengelabui musuh dengan alasannya. Ampuh mujarab!
"Kiw cowok! " goda Nayla yang terpana dengan ketampanan yang dimiliki Leon. Memang tampan tapi tak setampan Elvan ferguso! Pikir Letha.
Nayla pecinta cogan! Bahkan, dia rela menjadi yang terbelakang asal bersama dengan cogannya. Banyak cogan yang dia suka entah dari luar negara bahkan dalam negara.
"Di sini banyak cowo, manggil siapa? " tanya Leon polos. Luna yang minum minumannya hampir tertawa mendengarnya.
"Kamu lah siapa lagi? " Luna memutar bola matanya malas. Banyak orang bilang Leon tampan, menurutnya dan Lesya tidak! Pemikiran yang berbeda!
"Gw? Gw emang cowok ya kali cewek! " jawabnya. Lesya dan Luna tertawa. Bisa sekali Leon membuat Nayla terdiam.
"Ish! Sya lo mungut dia di mana sih? Kok ganteng sih? " Lesya mengedikkan bahunya acuh tak acuh, "Mungut di kolong jembatan! "
Luna tertawa. Itu pertemuan di mana Leon yang hampir kenc*ng di celana. Leon yang mengingat malu sendiri. Kejadian yang tak penah di lupakan.
Itu kejadian dimana dirinya pertama kali bertemu dengan Lesya dan Luna. Mereka membantunya yang kesusahan alias diculik preman dan dipaksa mengemis.
"Serius Sya" Lesya mengangguk serius. Luna melirik Leon yang kupingnya bewarna merah. Tak kuasa menahan tawa, dia tertawa.
"Bwahahaha, gak kuat gw serius" Matanya berkaca-kaca akibat tawanya yang tak mau berhenti.
Leon memeriksa telinganya. Begitu juga dengan Lesya. Biasa Luna akan tertawa jika telinga Leon memerah. Leon tambah malu dan berusaha menetralkan wajahnya.
__ADS_1
Kini bergantian dengan Lesya yang tertawa dibarengi Luna. Perut mereka terasa menggelitiki mereka agar tertawa terus.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗