Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
21: Lupa jalan


__ADS_3

Suasana ruangan kepsek menjadi tegang. Aura yang dipancarkan oleh Elvan dan Angga membuat bulu kuduk yang ada di sana naik. Tapi itu tak berlaku untuk Lesya.


Pak Rio sendiri heran kepada Lesya. Sebenarnya Lesya memakai jurus jitu apa supaya tak takut dengan aura yang mencekam? Pikirnya.


Angga bukannya marah dengan Lesya karena sikapnya. Begitu pula dengan Elvan. Menurut pemikiran Elvan, mengapa dia harus marah? Toh dia tak ada hubungan dengan perdebatan mereka.


Elvan hanya kesal saja. Sekolah milik ayahnya tampak sedikit berantakan karena ulah Lesya. Itu saja tak lebih.


Pak Rio mencoba membuka suara untuk menegaskan Lesya. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Dia takut dirinya akan dipecat karena tak becus bekerja.


Pak Rio duduk di bangku kebesarannya. Keluarga Elvan termasuk Elvan berada di sofa yang disediakan. Sementara Lesya duduk di bangku depan pak Rio.


"Ekhemm... Jadi gini kamu tau sikap kamu bikin malu sekolah ini? " tanya pak Rio tajam menatap Lesya.


"Pak santai loh ya, ku tau ku cantik tapi liatnya jangan kayak gitu nanti bu bunga marah loh" Benar saja bu bunga membuka pintu dan menutup kembali ruangan kepsek.


Pak Rio gelagapan saat tahu istrinya menatapnya tajam. Lesya malah tersenyum sendiri melihat interaksi kedua gurunya.


"Ekhem... Ini maksudnya apa ya? " Lesya dan bu bunga menoleh. Ternyata sumber suara adalah Angga yang tak mengerti situasi.


Lesya mengalihkan pandangannya. Dia cukup malu saat tahu perilakunya dilihat oleh kedua mertua dan kakak iparnya. Telat!


Haduh malu gw, kenapa gw gak sadar ya ada mereka? Gobl*k lo Sya! Siapapun tolong, gw mau pergi ke lautan ke tujuh! —batin Lesya histeris.


"Ke-kenalkan pak, dia istri saya namanya bunga. Dia sudah lama bekerja di sini dan dia menjabat sebagai ketua BK" Bu bunga sendiri gelagapan saat pertama kali bertemu pemilik tempatnya bekerja.


"Salam kenal" ramah Mayang.


Bu bunga menatap Lesya tajam. Sebelumnya dia di chat oleh Lesya untuk segera pergi ke ruang kepsek karena suaminya sedang berduaan dengan wanita lain.


Sakit? Iyalah masa enggak! Dia merutuki kebodohannya yang mengikuti kemauan Lesya. Lesya yang ditatap hanya memancarkan wajah watadosnya.


"Ekhem.. jadi mana wali yang kamu bawa? " Lesya teringat akan hal itu. Memang otaknya selalu mudah lupa sesuatu yang tak penting menurutnya.


Lesya menunjuk Mayang sebagai Wali nya seperti kesepakatan mereka. Pak Rio melihat ke arah tunjukkan Lesya. Lesya menurunkan tangannya setelah merasa pak Rio melihat Mayang.


"Saya walinya Lesya menggantikan orangtua Lesya" ucap Mayang.


"Ta-tapi bu... "


Pak Rio berbisik ke telinga Lesya, "Kamu yakin? Masalahnya dia istri pemilik sekolah ini"

__ADS_1


Lesya mengangguk membenarkan ucapan pak Rio, "Yakin kok pak, kenapa bapak gak percaya? "


Pak Rio menggeleng tak percaya. Lesya mendengus sebal melihatnya, "Setiap saya kasih jawaban yang benar dan jujur pun bapak gak akan percaya"


Setelah perbincangan atas kedua pihak guru dan wali, Mayang keluar dari ruangan kepsek. Lesya berdiri dan menghampiri Mayang diikuti Elena.


Setiap pertemuan panggilan orangtua atau wali, Lesya harus menunggu di luar. Elvan sudah pergi ke ruang OSIS sementara Elena berbincang dengan Lesya.


"Udah kelar bund? " tanya Lesya tak enak. Mayang mengangguk.


"Ayah mana bun? Masih di dalam? " tanya Elena. Mayang menunjuk ruang kepsek yang masih dihuni oleh suaminya.


"Oh iya, lain kali jangan kayak gitu ya Sya, kasian loh tadi dia kesakitan sampe teriak-teriak" Lesya menyengir.


"Dia gpp kok Bun, tenang aja. Justru dia harus dapet itu karena sikapnya dulu semena-mena sama aku" Elena mengangguk setuju walau tak tahu permasalahannya.


"Klo ada orang gangguin kamu duluan gebukin aja Sya! " Mayang memukul lengan Elena pelan.


"Aduhh, sakit Bun! "


"Ajaran sesat! "


"Haha, iya kak tenang aja nyampe tulang mereka remuk aku bikin" Mayang menggelengkan kepalanya.


"Klo gak kelepasan ya Bun, hehe... " Mayang menepuk jidatnya pelan.


Elena bertos ria dengan Lesya. Dari dulu dia ingin mempunyai teman seperti Lesya. Jika di rumah, terkadang dia kesepian karena Elvan yang kutub susah diajak bercanda.


...~o0o~...


Angga, Mayang dan Elena sudah pulang ke rumah. Tujuan mereka berbeda-beda. Elena akan pergi ke rumah sakit karena tugasnya sebagai seorang dokter.


Angga akan kembali ke kantornya dan mengurus berkas-berkas penting. Sementara Mayang kembali ke butik miliknya dan melayani pelanggan nya.


Luna terus mencecar banyak pertanyaan hingga telinga Lesya merasa panas. Luna ingin tahu bagaimana dan apa hukuman yang dijalani Lesya.


Saat Lesya kembali ke kelasnya, banyak pasang mata tertuju kepadanya. Iri, takut, kagum adalah tatapan mata mereka. Sedangkan mulut berkata lain. Mulut mereka menyindir, mengolok, dan sebagian kecil membela Lesya.


Lesya duduk di bangkunya dengan banyak pertanyaan yang terlontar dari mulut Luna. Letha dkk berbalik dari bangku mereka dan berhadapan dengan Lesya.


"Tadi lo dihukum? Siapa wali lo? Berat kagak hukumannya? " Lesya mengusap telinganya mendengar pertanyaan Luna.

__ADS_1


"Kak, tadi aku udah telfon mami katanya kakak gak ngasih tau ya klo mami di panggil? " tanya Letha.


Lesya terdiam sedetik. Otaknya berputar mencari alasan yang cukup masuk akal, tapi apa?


"Hehe, mami sakit makanya gak gw kasih tau. Klo gw kasih tau yang ada makin parah ya kan? " Letha mangut-mangut paham saja.


"Mamangnya mami sakit apa kak? Udah dibawa ke rumah sakit? " Lesya mengangguk.


"Hari ini mami bisa pulang tapi harus istirahat total kata dokter, mami cuman kecapean aja kok" jawab Lesya.


Letha menghela nafas lega. Terjawab sudah satu pertanyaannya. Luna menyimak saja obrolan saudara kembar di depannya ini.


"Di hukum? " Lesya menggeleng, "Kagak cumen diingetin aja sih" Luna menggeleng pelan, "Ya elo sih, anak orang lo bikin lumpuh xixi! " sahut Amel.


Nayla dan Amel ikut serta dalam pembicaraan. Mereka sempat kagum dengan tindakan Lesya tadi yang cukup berani.


"Walinya siapa? " Lesya tak menjawab pertanyaan Luna. Dia hanya menenggelamkan wajahnya di meja dan tertidur.


"Haha, gak dianggap! " Luna mendengus sebal akan ejek kan Amel. Dirinya tak apa sebenarnya, namun tawa itu menular ke Nayla dan Letha.


Seperti biasanya pelajaran kembali dimulai dengan tenang tanpa halangan hingga pulang sekolah. Saat pulang sekolah, Lesya menunggu Elvan selesai bertugas di atas motornya.


"Huh! Klo bukan karena gw gak tau jalan dari sekolah ke rumahnya, gw pulang duluan! " gerutu Lesya.


Siswa-siswi lainnya sudah pulang. Sekolah sudah tampak sepi kecuali anak-anak OSIS yang masih di dalam ruangan. Tak lama Elvan datang ke parkiran dengan gaya biasanya, kutub dan datar.


Lesya menatap tajam Elvan, "Lama lo! Gw karatan nungguinnya! " Elvan mengangkat bahunya acuh.


"Ngapain nungguin gw? " Okeh! Kali ini Lesya harus terbiasa mendengar ucapan datar Elvan.


"Gw gak tau jalan dari sini ke rumah lo" Elvan mengerutkan keningnya binggung.


Sebelum dia diberitahukan oleh Valen tentang kejadian di kantin, dia sempat ditelfon oleh mang Adit, kepala satpam rumahnya.


Mang Adit melaporkan tentang kejadian Lesya pulang ke rumah dengan kecepatan di atas rata-rata. Mengapa tiba-tiba dia lupa jalannya?


"Bukannya tadi lo ke rumahnya? " tanya Elvan. Fiks, kali ini Lesya beg* ke ubun-ubun.


"Gw lupa lagi jalannya! " Elvan memutar bola matanya malas. Dia tahu Lesya tipikal orang yang mudah lupa sesuatu yang tak penting menurutnya.


Elvan masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai dengan kecepatan normal. Lesya hanya mengikuti dari belakang sambil bersiul.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2